Jodohku Sahabat Kakakku

Jodohku Sahabat Kakakku
Pernikahan Zio dan Raya


__ADS_3

Tiga hari berlalu setelah kepergian Burhan kini semua tengah bersiap menghadiri pernikahan Zio dan Raya. Walau masih dalam suasana berkabung namun semua harus tetap berjalan sebagai mana mestinya. Zio dan Raya sebelumnya akan mengundurkan pernikahannya karena kepergian Burhan.


Namun, Semua keluarga menolak dan acara tetap di laksanakan seperti tang telah di jadwalkan. Zio dan Raya pun mengikuti saja walau terselip tak enak dari keluarga besar Raya karena keluarga Zio masih dalam suasana berduka.


Semua rangkaian acara berjalan dengan lancar. Acara resepsi pun telah usai di gelar. Kini tinggallah keluarga dekat yang satu persatu mulai berpamitan pulang. Tita dan Ken sudah lebih dulu pulang bersama Marni karena kondisi Marni yang tak memungkinkan setelah kepergian Burhan.


Marni memang tinggal bersama Tita seperti keinginan Tita dan Marni oun seolah enggan pergi meninggalkan Mansion. Karena disanalah Marni terakhir bersama Burhan. Laras pun mengalah dengan setiap hari mengunjungi Mansion.


Keina, Daren dan Daffin masih berada di tempat acara. Dan tak lama mereka pun berpamitan pulang. Di susul oleh yang lainnya. Menyisakan Zio. Karena memang acara di laksanakan di rumah Raya.


Saat dalam perjalanan pulang tiba-tiba Daffin menghentikan mobilnya mendadak. Beruntung Keina dan Daren dalam keadaan sadar dan siaga.


"Astaga Daff kenapa berhenti mendadak sih." Kesal Keina.


Bukannya menjawab Daffin keluar dari mobil dan menghampiri seseorang di pinggir jalan.


"Kamu mau kemana? Kenapa dengan Ibumu?" Daffin.


"Kakak!" Intan.


"Kau belum menjawab pertanyaan ku Tan." Daffin.


"I...Ibu sakit Kak. Intan baru saja memeriksakannya dari dokter." Intan.


"Astaga! Kamu membawanya berjalan sejauh ini?" Daffin.


"Tadi kami pergi menggunakan kendaraan umum. Tapi, tidak di sangka hingga malam begini." Intan.


"Mari Bu. Daffin antar pulang." Ajak Daffin.


"Tapi Kak." Intan.


"Sudahlah. Tidak ada tapi-tapian." Daffin.


Daffin segera membawa Intan dan Ibunya menuju mobilnya. Sampai di dekat mobil dirinya baru menyadari jika dirinya tak hanya sendiri. Daffin pun memejamkan matanya melupakan keberadaan sang Kakak.


Daffin membukakan pintu penumpang dan terlihatlah sang Kakak yang tengah menatapnya. Daffin pun menggelengkan kepalanya memberi kode pada Keina agar tak banyak bertanya dulu.


"Mari Bu silahkan masuk. Kenalkan ini Kakak Daffin dan yang di depan itu suaminya." Daffin.


"Mari Bu masuk." Keina.


"Terima kasih Nak." Ibu Intan.


Intan pun turut serta masuk kedalam mobil Daffin. Setelah di pastikan semua masuk Daffin pun segera memutar menuju pintu kemudi. Tanpa banyak bicara Daffin mengendarai mobilnya menuju rumah Intan terlebih dahulu.


Keina dan Daren hanya diam selama Intan dan Ibunya berada di dalam mobil Daffin. Hanya sesekali Keina berbincang bersama Ibu Intan.


"Kalian dari mana?" Tanya Keina.


"Kami pulang dari dokter. Tidak menyangka sampai selarut ini." Ibu Intan.

__ADS_1


"Jauh sekali dokter yang kalian tuju Bu?" Keina.


"Iya. Karena hanya di tempat dia kami bisa berobat gratis." Ibu Intan.


"Gratis?" Keina.


"Iya Kak. Beliau selalu mengadakan pengobatan gratis setiap weekend. Dan pasiennya pun tak terbatas." Intan.


"Siapa nama dokternya?" Keina penasaran.


"Dokter Harlan." Intan.


"Astaga!" Keina.


"Kenapa Kak?" Intan.


"Tidak. Hanya saja Kakak seperti pernah mendengar namanya. Apa beliau praktik di rumah sakit keluarga?" Keina.


"Iya Kak." Intan.


"Apa itu Om. Harlan?" Daffin.


"Ya, sepertinya begitu." Keina.


Kemudian Keina membuka ponselnya dan memperlihatkan gambar di layar ponselnya pada Intan dan Ibunya.


"Apa dia orangnya?" Tanya Keina.


"Astaga! Kakak rasa Yaya tidak mengetahuinya." Keina.


"Ya, karena Yaya pasti akan bercerita pada kita." Daffin.


"Pantas saja Ibu pulang hingga selarut ini karena tadi Om Harlan ada di acara Zio." Daren.


"Kau benar sayang." Keina.


"Maafkan kalian jadi menunggu hingga malam." Keina.


"Tidak masalah Kak. Kami pun berterima kasih sudah di antarkan." Intan.


Tak terasa mobil Daffin pun telah sampai di depan rumah Intan. Rumah sederhana dengan cat yang sudah memudar. Intan dan Ibunya pun berpamitan dan tak lupa mengucapkan terima kasih mereka.


Kemudian Daffin kembali melajukan mobilnya menuju mansion. Sejenak suasana hening tak ada satu kata pun terucap dari Keina, Daffin maupun Daren hingga ucapan Keina memecah keheningan.


"Kau berhutang penjelasan pada Kakak Daff." Keina.


Daffin hanya diam tak membalas ucapan Kakaknya. Karena Daffin tau pasti jika Keina tak akan membiarkannya lepas begitu saja sebelum Daffin menjelaskan siapa Intan dan apa hubungannya dengan Daffin.


Sampai di mansion Tita sudah menunggu mereka di ruang utama.


"Kenapa kalian terlambat datang?" Tita.

__ADS_1


"Sebaiknya Mommy tanyakan pada Putra Mommy." Keina.


"Ada apa Daff?" Tita.


Daffin menggaruk kepalanya yang tak gatal. Kemudian mendudukkan bokongnya di sofa tunggal. Daren dan Keina duduk bersebelahan dengan Tita menunggu penjelasan yang akan di berikan oleh Daffin.


Kemudian Daffin pun menceritakan kejadian saat mereka pulang ke mansion. Tita mengernyitkan dahinya. Bukankah Daffin mengatakan sudah tak berhubungan lagi dengan Intan lalu bagaimana bisa Daffin sedekat itu dengan Intan dan Ibunya.


"Berarti kau sudah lama mengenalnya Daff?" Keina.


"Baru satu minggu yang lalu Kak." Daffin.


"Sepertinya adik kita sudah dewasa Sayang." Daren.


"Bawa dia kerumah jangan macam-macam Daff." Ancam Keina.


"Astaga! Kenapa Kakak lebih menyeramkan dari pada Mommy." Daffin.


"Kakak rasa Daddy belum mengetahuinya." Ucap Keina menaikkan satu alisnya.


"Kak, Ayolah.." Bujuk Daffin.


"Hahahaa.... Laki-laki macam apa kamu ini Daff. Masa tidak berani mengatakannya pada Daddy?" Keina.


"Karena kami tidak ada hubungan apapun Kak. Daddy akan salah faham nantinya dan akan ribet urusannya." Daffin.


"Kakak rasa hati dan ucapan mu berbeda Daff." Goda Keina.


"Mom, Ayolah tolong anakmu ini." Rengek Daffin.


"Lihatlah sayang. Padahal di hadapan Intan tadi dia begitu bersikap dewasa tapi lihatlah dia sekarang begitu menggemaskan." Keina.


"Sudahlah sayang tidak usah menggodanya." Daren.


"Sebaiknya kalian istirahat. Ini sudah larut dan kalian pasti lelas seharian di acara Zio." Titah Tita.


"Owh! Iya Mom. Om Harlan membuka pemeriksaan gratis setiap weekend apa Mommy mengetahuinya?" Keina.


"Benarkah?" Tita.


"Ya. Kami mengetahuinya karena Intan membawa Ibunya berobat di tempat Om Harlan." Keina.


"Mommy tidak mengetahuinya. Apa kalian sudah menanyakannya pada Yaya?" Tita.


"Belum. Kein rasa nanti saja Kein tanyakan pada Yaya saat kami bertemu." Keina.


"Baiklah itu lebih baik. Mommy ke kamar dulu menyusul Daddy kalian." Pamit Tita.


Setelah Tita masuk kedalam kamarnya Keina dan Daren pun pergi ke kamar mereka begitu juga dengan Daffin. Tak menampik Daffin memang mengakui jika Intan memiliki daya tarik tersendiri yang membuat Daffin ingin selalu bertemu dengannya.


Daffin pun diam-diam selalu memperhatikan Intan dari jauh. Bahkan Daffin meminta seseorang untuk menjaganya tanpa sepengetahuan siapapun.

__ADS_1


🌻🌻🌻


__ADS_2