
Genka berdiri di depan rumah sakit tempat ibunya di rawat oleh seorang pelayan setia ibunya...wanita berusia 40 tahun itu adalah anak angkat sang ibu yang berbaik hati merawat ibunya...
''Bibi Mila.....'' desah Genka dengan suara yang bergetar.....
''Yah...Genka...''
''Apakah semua dokumen baru ibu sudah siap..''
Wanita itu mengangguk...
''Semua sudah siap Genka...jika bisa..kita harus cepat membawanya pergi sebelum kakak tirimu bisa melacak keberadaan kami...''
Genka mengangguk...
''Bibi Mila...aku telah mendapatkan cukup uang untuk kau dan ibu memulai hidup baru di kota lain dan aku harap bibi bisa menjaga ibuku...''
''Kota kelahiranmu Genka, bagaimana menurutmu...''
Genka mengangguk.....
''Beli rumah disana dan hiduplah dengan baik, aku akan mengirimkan uang bulanan, jadi bibi Tolong jangan menemui siapapun walau mereka membujukmu..jangan pernah tergoda dengan pria baru yang hanya akan memanfaatkanmu...'' ucap Genka memohon...
''Baiklah Genka...aku mengerti, mana uangmu..berikan padaku hari ini juga aku dan ibumu akan berangkat dan kau bisa tenang bekerja disini...''
''Baiklah...aku akan memberikannya kepadamu bibi, setelah aku menemui ibu..''
''Baiklah masuk saja....''
Genka menganggukan kepala........
+++++++++
Genka membuka pintu ruangan dan langsung di sambut oleh senyuman sang ibu di bawah tuanya,''
''Genka....kemarilah nak...'' bisiknya dengan nada lemah....
Genka mengangguk dengan langkah cepat dan menyambut tangan ibunya...
''Ibu.....apa kabarmu..''
''Tubuhmu lebih kurus Genka, apakah kau makan dengan baik....''bisik wanita paruh baya itu merasa bersalah..
Genka tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca....sembari menggenggam tangan sang ibu...melihat ibunya stabil membuat Genka bisa bernafas lebih baik lagi...ia bahkan bisa menginjak bara api demi melihat senyum ibunya...Genka akan melakukan apa saja demi sang ibu...walau ia sudah kehilangan kesucian...
__ADS_1
''Aku makan dengan baik ibu, tenaang saja...aku sangat sehat dan kuat..memang fisikku kurus seperti ini..ibu juga sama kan...aku anak ibu..'' Genka tersenyum...
Saat itulah airmata di wajah sang ibu menetes...
''Jangan menangis bu...'' balas Genka dengan derai airmata...
''Jangan bersusah payah demi wanita yang sudah tidak berguna ini Genka...ibu...tau jika penyakit ini sudah tak bisa di sembuhkan.....
''Sssstt....bisakah ibu tidak menyakitiku dengan ucapan itu....isakan Genka tersengar pilu ia menangis hingga merasa sesak nafas...ibu tau...meski mungkin ibu hanya bisa hidup lima menit lagi namun aku harus bekerja keras sampai batas kemampuanku,meski aku harus menginjak seribu duri, maka aku akan tetap memilih mempertahankan hidupmu yang 5 menit,....asal ibu tau jika ibu sangat berharga bagiku..sangat berharga....jangan pernah mengatakan itu...aku mohon.......'' jerit Genka gemetar.....
Sang ibu menganggukan kepala dan meraih tubuh Genka dan memeluknya dengan erat,....tangisan mereka pecah saat itu juga...
''Ibu...aku mencintaimu...aku sangat mencintaimu...''ucap Genka sungguh-sungguh..
''Ibu tau itu dan terimakasih anakku..terimakasih atas segalanya...semoga Tuhan selalu memberimu kebahagiaan...''
''Amin....'' bisik Genka terus memeluk sang ibu dengan nyaman.....
***********
Genka masih berada di rumah sakit sampai malam hari mengikuti proses pemindahan sang ibu dengan pesawat yang ia sewa, ke kota kelahirannya, ia memastikan rumah yang di belinya sudah siap di masuki sang ibu dan bibinnya, uang bulanannya sudah dia kirimkan dan di pegang sebagian oleh bibi Mila,
Akhirnya tubuh sang ibu sudah pergi ke kota lain dan saat itulah Genka bisa bernafas lega.,..ia bisa pulang dengan tenang...tentu saja...menyadari ibunya telah lepas dari cengkraman kakak tirinya membuat Genka merasa lega..ia tak ingin mengotori hidupnya dengan menjadi pembubuh atau penghancur karna Genka telah melihat bagaimana ibunya menderita karna dosa di masa lalu.
*******
''Kau sedang di tunggu di ruangan kerja tuan....''ucap penjaga itu kepadanya,....
Genka mengangguk dengan sangat gugup namun ia melangkah dengan cepat memasuki Mansion milik Kenan Renov, dan di sambut tatapan tajam sang pelayan...
''Dari mana saja kau Genka, kau tau jika tuan Kenan sangat marah kepadamu...''
Genka mengangguk gemetar namun, ia memilih diam saja dan masuk ke kamarnya yang berukuran kecil dan sederhana..statusnya di rumah ini adalah budak dan itu artinya lebih rendah dari pelayan rumah ini..meski ia mencoba bersikap baik namun ada saja yang iri kepadanya..tuan Kenan bahkan tidak menganggapya lebih tinggi dari pelayan..
Genka segera membersihkan dirinya dengan cepat sambil otaknya berpikir keras alasan apa yang akan ia gunakan ketika tuan Kenan bertanya kepadanya...apa yang harus ia jawab...??
Setelah menyiapkan diri Genka keluar dari sana mengabaikan tatapan para pelayan tua yang menatapnya dengan tajam..
Genka segera melangkah menuju lift dengan pandangan tertunduk...
Ting!!!!
Wajah Genka semakin pucat, betapa takutnya dia saat ini bagaimana kalau tuan Kenan akan marah lagi.......?? ya ampun...bagaimana ini...??
__ADS_1
Ting!!!!
Pintu terbuka dan membawa Genka ke lantai 3...pada sebuah pintu besar yang tertutup rapat..
Jemari Genka terulur dan mulai mengetuk lalu membukanya...
Genka melangkah memasuki kamar pribadi Kenan yang luas dan mewah...
Hening.......
Genka kembali gemetar ketika mendapat tatapan membunuh dari Kenan yang begitu tajam..pria itu bangkit dan mendekatinya...
''Kau tau sudah jam berapa ini...''
Genka menunduk...
''Jam 9 malam tuan Kenan, maafkan aku...aku tadi.....''
''Kau baru saja mendapatkan uang 500 juta dan kau mulai berfoya-foya di luar sana tanpa ijin dariku....??''
''Maafkan aku tuan Kenan aku......''
Suara Genka terputus ketika ia merasa lehernya di cengkram dengan kuat, Kenan mencek*knya dan menekannya ke tembok kamar... dan menatapnya tajam...
''Beraninya kau mulai bersikap seakan kau nyonya rumah.,..kau pikir dirimu siapa...? kau hanyalah budakku kau dengar itu kau hanya budak.....kau adalah milikku dan aku bahkan bisa membun*hmu kalau aku mau...kau dengar itu,....''
Beraninya gadis ini pergi sesuka hatinya, apakah dia pergi menemui Luke dan mulai menyusun rencana baru untuk membunuhnya, yang pasti Kenan tak akan memberi ampun kepadanya....
''Aaarrgghh...tuan Kenan...aku...aku mohon...aku tak bisa bernafas,....tuan.....''
''Jika sekali lagi kau pergi tanpa ijin darikku maka kau akan mati,....kau denger itu...''
''Yah......''
Seketika itu juga Kenan melepaskan cengkramannya dan tubuh Genka rubuh membentur lantai..ia pun terbatuk-batuk sembari memegang leh*rnya yang kemerahan...airmata Genka mengalir namun ia hanya diam saja dan menahan rasa sakit..jemarinya terkepal menyalurkan rasa sakit....
Kenan meraihnya berdiri dan menatap bekas kemerahan di lehernya...dengan tatapan beku...
''Kau bahkan terlihat mengenaskan...kembalilah ke kamarmu bersama para pelayan....ingat, untuk jangan pernah pergi tanpa seijin dariku....''
Genka menganggukan kepalanya dengan cepat,...airmatanya menetes di wajahnya yang tanpa ekspresi..
''Terimakasih atas kebaikan hatimu tuan Kenan.....''
__ADS_1
''Pergi dari kamarku.......''desis Kenan tajam...
Genka mengangguk, dan melangkah dengan cepat keluar dari kamar...airmatanya menetes penuh rasa sakit..