
Alana begitu gugup menyadari kalau Rafael berada di atas tubuhnya, mata Rafael masih memenjara matanya dengan begitu dalam..hingga dokter yang menangani Rafael mendekati mereka dan mencoba membantu Rafael berdiri...sementara Alana sedikit tidak nyaman..
''Maafkan aku Alana....''bisik Rafael dengan nada lemah ia terlihat merasa bersalah..
''Aku baik-baik saja Rafael, tidak apa-apa...''ucap Alana pelan..
Tubuh Rafael di jauhkan sementara Alana pun mencoba berdiri dengan salah tingkah..keduanya kembali saling melemparkan pandangan dan membuat Alana lebih dahulu menghindari tatapan Rafael yang berbeda..
''Bagaimana perkebangan latihannya dokter..'' tanya Alana basa-basi sementara Dokter melirik ke arah Rafael..
''Masih perlu banyak latihan karna tembakan itu mengenai beberapa urat kakinya dan membuat tuan Rafael perlu banyak waktu....''
''Jangan kawatir Alana..aku akan baik-baik saja...''ucap Rafael tersenyum..
Alana pun lega..
''Baiklah...silahkan lanjutkan latihanmu Rafael..''
Alana membalikan tubuhnya hendak melangkah...namun Rafael berdehem di belakanganya..
''Alana...aku ingin bicara kepadamu...''ucap Rafael dengan suara yang tegas..
''Tentu saja,...kita akan bicara...setelah kau selesai latihan....''
''Yah....''ucap Rafael tersenyum....
Sementara Alana melangkah meninggalkan taman..
''Sampai berapa lama kau akan berbohong tentang kondisimu Rafael..''
Tanya sang dokter yang merupakan sahabat Rafael..ia meminta sahabatnya menyimpan rahasia kalau dirinya tidak lumpuh seperti dugaan keluarganya..
Rafael mengulum senyum...
''Aku tak akan pernah menyerah Ivan, aku akan mendapatkan Alana...''
''Tapi dia kakak iparmu sekarang kau pikir Delvaro akan membiarkannya begitu saja...kau sedang menghadapi kakakmu yang seorang Mafia kejam..'
Rafael tertawa hingga tawanya terlihat begitu mengerikan..
''Aku bahkan tidak perduli apapun...''ucap Rafael penuh dendam...
*************
Alana melangkah keluar dari rumah besarnya dan mendekati taman, hari ini dia senang sekali karna Delvaro akan pulang dan ia tak sabar lagi menanti...
Alana duduk di taman yang menghadap ke depan gerbang...sambil menunggu sementara, ia bisa melihat kedatangan Rafael dengan kursi rodanya..Alana teringat kalau Rafael akan mengbicara kepadanya..
''Rafael...''
Rafael tersenyum dan mendekati Alana menyadari kecantikan Alana yang begitu memukaunya...
''Kau sedang senang sekali yah..''
Alana menganggukan kepalanya..
''Tentu,..Delvaro akan pulang malam ini dan aku bahagia,...oya Rafael..kau ingin bicara kepadaku....''
Rafael mengangguk...
__ADS_1
''Yah...lebih tepatnya aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu Alana..''
Wajah Alana berubah menjadi tegang tentu saja..mengapa Rafael tampak serius..?? Alana pun mengangguk dan duduk kembali...
*************
''Katakan.....''
Rafael tersenyum....lalu mendekat...
''Kau tau kalau aku masih mencintaimu Alana...''
Alana terdiam. memijit pelipisnya..
''Aku pikir kata-katamu tidak tepat Alana...kau tau benar kalau aku adalah istri dari Delvaro...kau tau jika...''
''Bukankah kau hanya istri yang hanya di anggap alat untuk balas dendam padaku..''
Deg!!!
Mata Alana berkaca-kaca...ia berusaha mengabaikan rasa sakitnya karna ucapan Rafael..
''Jika kau hanya ingin bicara hal yang tak masuk akal maka...kau harus tau aku marah Rafael..'' ucap Alana mengepalkan tangannya..
Sementara Rafael hanya berdiri dan menantang...
''Kau tidak mau menerima kenyataan Alana...bagaimana kalau Delvaro sebenarnya masih mencintai mantan kekasihnya dan kau hanyalah sebagai alat...''
''Ucapanmu sangat tidak masuk akal...''
Alana berdiri dan melangkah melewati Rafael begitu saja namun jemari Rafael mencengahnya...keduanya bertatapan tajam...
''Aku bahkan tau sebenarnya kalau Delvaro sedang bersama wanita itu sekarang....''
''Apa maksudmu Rafael..''
Rafael tersenyum dingin...
''Kau tau...dia bahkan tidak terjun ke proyek namun menemani wanita itu...dia membohongimu Alana...''
Deg!!!!!
Bagai petir di siang bolong, hati Alana begitu hancur mendengar ucapan Rafael...
''Katakan padaku,....katakan yang sebenarnya...Rafael..''
Deg!!!!!
***************
Kanaya dan Alea saling menatap, Kanaya menanti isyarat mata Alea apa benar kata-kata yang di ucapkan oleh Alan...
Kanaya berdehem...
''Apa rencanamu sebenarnya apakah kau sedang ber akting...'' ucap Kanaya dengan suara yang meninggi..
Alan menggeleng tentu saja, mana mungkin dia berakting..mana mungkin...? perasaan yang di rasakannya pada Kanaya adalah murni perasaan yang sebenarnya, bukan akting..
Alan mengambil tangan Kanaya dan menggenggamnya sementara Alea ikut tersipu menyadari wajah panik Alan...ckck....kau tak bisa meremehkan kekuatan seorang wanita...
__ADS_1
''Aku mencintaimu Kanaya, yah..aku akui selama ini aku tak prnah menunjukannya aku selalu bersikap kasar di setiap perjumpaan kita tapi Kanaya..kau tau benar kalau aku hanya terlalu ego untuk mengaku perasaanku padamu...Mommy bukankan Mommy tau apa yang kurasakan pada Kanaya..Mommy akan...''
''Astaga jangan memperalatku Alan,...lagi pula Mommy tidak pernah mendengar dari mulutmu kalau kau menyukai Kanaya..kau bahkan selalu menatap tajam kepadanya..''
Alan mengerang Mommy benar-benar menyudutkannya..
''Mommy...teganya...''
''Jangan menyalahkan Mommy disini Alan..kaulah yang tidak peka..aku benci pria yang pura-pura panik ketika akan kehilangannya padahal selama ini dia selalu mengabaikan...kau seperti sedang berakting...''
Alan menjatuhkan tubuhnya dan mengeluarkan sebuah kotak cincin dari dalam saku jasnya dan memasukannya ke jari manis Kanaya...gadis itu membeku..
Siapa gadis yang tidak terharu ketika pria yang ia cintai justru melakukan hal manis untuknya...??bukankah dengan melakukan ini Kanaya akan luluh tentu saja..senyum terbit di wajahnya...
''Aku sungguh-sungguh mencintaimu Kanaya, dengan segenap jiwaku...kau tau hatiku akan hancur jika kau meninggalkan aku...jadi jangan pergi dan menikahlah denganku..jadilah istriku dan ibu dari anak-anak kita...''
Mata Kanaya menjadi panas....
Sementara Alea ikut terharu...
''Baiklah..jangan menyakitiku lagi...aku akan bersedia menikah denganmu Alan...''
Wajah Alan begitu cerah, dan tentu saja ia lega...Kanaya adalah tempatnya pulang bagaimana bisa ia hidup tanpa Kanaya..
''Jadi kau...menerima lamaranku..''
''Tentu saja aku mencintaimu Alan, hanya saja kau mengabaikan aku..''
''Mulai sekarang aku akan menyerahkan hidupku kepadamu, dan juga segenap kekuatanku..di depan Mommy aku berjanji hanya kebahagiaan yang akan kau alami Kanaya..''
''Buktikan saja kata-katamu Alan...jangan cuma janji,..'' goda Alea dengan senyuman puas..
Alan mengerang..
''Momm...hentikan, bisakah Mommy kali ini mendukungku...''
''Aku selalu mendukung agar kau membahagiakan Kanaya itu saja..awas jika kau menyakitinya...''
''Dia akan berubah Mom..'' bela Kanaya dengan senyuman...
Sementara Alana hanya menggeleng pasrah, kemudian ikut tersenyum,...
''Cincin yang indah Alan...dimana kau membelinya, kapan....''
''Aku mendapatkannya dengan susah payah Kanaya jadi....''
Kata-kata Alan terputus ketika Alea mengenali cincinnya yang hilang selama ini...
''Alan.....kau mengambil cincin Mommy...'' jerit Alea murka..
Alan menghela nafas dengan lemah...
''Aku hanya pinjam Momm,.....''
Kanaya berdecak kesal..
''Kau mencuri cincin Mommy dan kau bilang kau mendapatkannya susah payah..'' jerit Kanaya histeris,..
Dan hal itu membuat Alan panik..
__ADS_1
''Kau benar-benar....nakal...'' ucap Alea lalu menarik Kanaya masuk ke dalam rumah meninggalkan Alan yang hanya bisa menghela nafas..
''Aku cuma pinjam Mom...''