
Kenan menatap ke arah Genka yang berdiri dengan wajah tertunduk, gadis ini kmebali kepada kebiasaanya yaitu tidak mau menatap mata Kenan..
Kenan lalu menatap kuda besarnya dan merasa nyeri sendiri membayangkan jika tadi...ia tidak sampai dengan cepat dan menarik Genka maka gadis ini mungkin akan sekarat karna tendangan kudanya yang memiliki bobot luar biasa besar dan juga berat....
Hening....
Sebenarnya Kenan tak ingin mengunjungi peternakan namun ia sama sekali tak bisa tidur semalam, rasa rindunya dan sedikit bersalahnya kepada Genka memerintah tubuhnya agar sampai di tempat ini walau hari masih sangat pagii..
''Mengapa kau sangat ceroboh..kau [ikir memberi makan kuda sama dengan memberi makan ayam..'' suara Kenan meninggi sekaligus untuk membentengi dirinya..agar Genka tidak tau perasaan yang berkecamuk dalam dadanya sekarang dan ia harus menunjukan kebenciannya agar Genka tidak berharap...
''Aku minta maaf tuan Kenan....''ucap Genka menundukan kepalanya..
Genka membalikan tubuhnya hendak pergi....
''Tunggu...aku ingin bicara kepadamu Genka Rosalin...'' suara dingin itu menembus pendengaran Genka dan gadis itu menganggukan kepalanya..
''Baik tuan...''
****
Kenan duduk di dalam ruang tunggu milikknya yang biasa dia pakai untuk bersantai sambil menunggu anak buahnya menyiapkan kudanya...
Sementara Genka berdiri disana dan menunduk seolah menanti hukuman...
Kenan menatap Genka dengan helaan nafas yang berat, hatinya sungguh tidak rela melihat Genka berpakaian seperti pelayan entah mengapa....namun, membayangkan kalau Genka dan Luke memang merencanakan ini semua untu menjatuhkannya membuat dada Kenan panas..
''Bagaimana rasanya kembali ke tempat asalmu sebagai pelayan..''
Genka merasa nyeri dengan pertanyaan itu..kali ini dia mengangkat wajahnya dan tersenyum menatap mata Kenan yang tajam...
''Awalnya aku memang adalah pelayan, ketika tuan membawaku pertama kali malah aku adalah seorang budak...mata Genka berkaca-kaca...terimakasih untuk segalanya...''
''Hahahah...kau sengaja merendah untuk meninggikan dirimu..''
''Jangan memandang dari kaca mata tuan, aku tidak akan serakah untuk menjadi cindirela,...anggap saja.. kemarin adalah kesalahan terbesarku...tuan Kenan...''
Wajah Kenan berubah merah padam ketika melihat ketenangan Genka....pria itu lalu mengeluarkan satu botol berisi pil yang tidak di ketahui Genka..
''Apa ini...''
''Minumlah..itu akan membunuh janin kalau memang kau sedang akan hamil anakku....kemarin adalah kebodohanku karna bercinta denganmu dan aku tidak menggunakan pengaman.....'' Kenan mengamati wajah Genka yang terlihat...sakit....
Bukankah tujuannya menyakiti Genka berhasil...
Genka mengambil botol berisi pil itu lalu menyimpannya...
''Baik tuan......'' ucap Genka melonggarkan tenggorokannya dengan rasa sakit yang begitu kuat..
''Bagus...siang ini...calon istriku Sandra akan datang, dia adalah calon ibu dari anakku..dia sepadan denganku dan yang terlebih...dia bukan musuhku.......''
Genka menganggukan kepalanya...
''Tuan Kenan...ijinkan aku bicara...''
Keduanya saling bertatapan dengan begitu dalam...sementara Genka mengepalkan tangannya dengan kuat berusaha menyalurkan rasa sakit dalam dirinya yang tidak mampu di tanggungnya..
__ADS_1
''Jika aku memang hamil, dan obat ini tak bisa membunuhnya maka..saat itu juga aku akan pergi dari sini......''
Deg!!!!!
Airmnata Genka menetes di wajah sayunya yang pasrah oleh keadaan...
''Apakah kau akan menggunakan anak ini.....''
''Dia juga anakku tuan Kenan....aku akan hidup bersamanya di sebuah tempat yang jauh.,,dan tuan bisa tenang....kami tak akan menjadi penganggu...
Kenan menggertakan giginya...
''Bagus kalau kau mengerti posisimu..selamanya kau adalah pendosa di mataku,..hubungan di ranjang kita telah berakhir aku.....tidak membutuhkanmu lagi Genka....namun aku setuju kalau kau pergi dariku jika kau hamil anakku...''
''Yah....'' balas Genka dengan wajah yang tertunduk...
Sementara Kenan menyandarkan tubuhnya..kepalanya terasa mau pecah merasa bingung...hatinya punya keinginan sendiri sementara egonya memiliki kep[utusan sendiri....
Kenan menatap Genka lagi...
''Alana mungkin akan merengek mencarimu jadi..kau harus bersikap kasar dan sedikit menyakiti hatinya....agar dia membencimu..Genka...''
Deg!!!!
Hal yang paling di hindari Genka adalah menyakiti Alana..mana mungkin tuan Kenan memintanya menyakiti malaikat kecil itu..
Kali ini Genka menggeleng memohon sampai menjatuhkan dirinya di hadapan Kenan...
''Aku mohon tuan Kenan, aku tak bisa menyakiti Alana....aku mohon...''
''Kau tau jika kakakmu hampir saja merebut ibu Alana dan membuat rumah tangganya hampir hancur...secara tak sengaja kau juga ikut andil dalam kelicikan kakakmu...Luke memang menjadikanmu seperti rubah licik yang menyembunyikan cakarannya.....Genka kau harus membuat Alana membencimu agar dia bisa menerima kehadiran Sandra di sisihnya sebagai calon ibunya nanti..''ucap Kenan penuh penekanan...
Tubuh Genka bergetar....airmatanya menetes di wajahnya tanpa mampu di cegah, Kenan lalu pergi begitu saja meninggalkan dirinya di dalam ruangan.....
Dan tubuh Genka benar-benar tersungkur, membayangkan wajah Alana yang manis dan begitu cantik..ketika pertama kali bertemu Alana langsung bersikap hormat kepadanya ia sungguh tidak sanggup menyakiti hati Alana....
Namun..ini adalah perintah...jika Alana masih dekat dengannya maka tuan Kenan akan marah..apalagi nyonya Sandra akan datang,...
Genka memejamkan matanya memohon kekuatan.....agar dia bisa menghadapi Alana nanti..
********
Alana bangun pagi ini dengan tangisan yang pecah dan membuat heboh,...ia tidak menerima pengasuh barunya dan membuat semua pelayan ketakutan menghadapi kemarahannya...
''Aku mau bibi Genka...aku mau bibi Genka............'' jerit Alana melempar semua barang kesayangannya hingga hancur...
Kenan yang baru kembali dari peternakan langsung mendapat laporan terkait tindakan sang putri kesayangan...Kenan berlari dengan cepat dan membeku melihat wajah Alana sudah merah padam dan tangisannya begitu menyedihkan sampai sesegukan....
Begitu melihat sang Ayah, Alana langsung menghambur memeluknya..
''Ayah...dimana bibi Genka...dimana dia....aku ingin bibi Genka...''
Kenan memeluk putrinya dengan rasa cinta yang besar....
''Alana tenanglah....bibi Genka telah melakukan kejahatan besar jadi bibi kembali di tempatkan di peternakan...''
__ADS_1
Tangisan Alana seketika berhenti....
''Antarkan aku kepadanya ayah...aku mau menemui bibi Genka...'' tangis Alana semakin keras hingga membuat Kenan manjadi sedih....
''Baiklah ayah akan mengantarmu....''
Alana menghapus airmatanya lalu meraih tasnya yang berisi coklat dan beberapa biskuit dan air, untuk di bawa...
Kenan menatap Alana..
''Mengapa membawa tas....''
''Aku ingin saja ayah...apakah ayah keberatan...'' Alana memasang wajah termanisnya...
Dan seperti biasa Kenan akan menjadi lemah...lalu menyerah...
''Baiklah terserah kepadamu...''
Kenan dan Alana lalu keluar dari kamar dan melangkah menuju lift menuju lantai 1...begitu lift terbuka terlihat Mosa sedang lalu lalang memberi perintah pada pelayan yang lain dan mengawasi mereka bekerja...
''Nenek sihir itu kenapa kembali ayah...''
Kenan tertawa...
''Panggil Mosa saja sayang...''
Namun Alana memang nakal ketika melewati Mosa dia sengaja memanggilnya dengan,...
''Nenek sihir Mosa...'' ucap Alana dengan tawa kencang..
Mosa hanya membeku mendengar panggilan nona muda Alana,....bahkan para pelayan yang lain tertawa....Mosa hanya bisa pasrah saja..siapa yang bisa melawan nona Alana? bahkan keputusan nona Alana berada di atas tuan Kenan...dan sang tuan selalu berkata ya...ya..dan ya...Mosa hanya mampu mengurut dada..
''Kau tidak sopan putriku...''bisik Kenan membelai rambut panjang Alana..
''BIarkan saja dia menyakiti bibi kesayanganku..'' ucap Alana kesal..
Kenan hanya menggeleng pasrah...
**********
Pintu terbuka dan Alana masuk mendapati sang bibi sedang berdiri dengan pakaian pelayan...hati Alana sedih sekali..hingga matanya menjadi panas.....bukankah ayah sudah memebli banyak pakaian...mengapa bibi Alana tidak memakainya..
Alana melirik sang ayah dengan tatapan menuduh...
''Aku ingin bicara pada bibi sendirian ayah...''
''Hah...'' Kenan terkejut namun akhirnya menjadi pasrah...
Pintu akhirnya di tutup meninggalkan Alana dan Genka berdiri saling menatap tajam...
''Hai bibi Genka.....'' ucap Alana dengan senyuman lembutnya...
Deg!!!!!
Genka menghela nafas...
__ADS_1