
''Sepupu...''
Wajah Alana begitu syok dan malu...tentu saja, yang ada di dalam pikirannya adalah, Miley dan Delvaro adalah teman tidur atau apalah sesuatun seperti itu namun yang terjadi malah...mereka sepupu..??
Sepupu.......
Sepupu..........
Yah....Alana..kau sedang mempermalukan dirimu sendiri dengan semua tingkah anehmu, jelas kau menujukan perasaan cemburu dan hal itu membuat Delvaro semakin senang..
Tidak..dia tidak cemburu..perasaannya sebenarnya adalah dia sedang tidak terima karna Delvaro bilang terjadi sesuatu pada mereka di apartemen dan tiba-tiba sosok Miley muncul..wajar bukan..kalau dia merasa marah yah...dia pikir semudah itu Delvaro melempar tubuhnya pada gadis lain meski Alana pikir di jaman sekarang bergonta-ganti pasangan adalah wajar bagi beberapa orang..
Namun tidak baginya...dia tidak suka mengoleksi pasangan atau mempermainkannya..jadi ketika mendengar Delvaro menerima telp, otak Alana langsung membuat kesimpulan sendiri...dan dia menyesal sekarang..
Alana memijit dahinya yang mendadak sakit..bagaimana bisa dia seceroboh itu...??
Delvaro mendekat menekan tubuh Alana di sudut meja dan keduanya bertatapan tajam..
''Jangan bilang kau salah sangka dan menjadi cemburu pada sepupuku sendiri..''
Alana berdehem...
''Tidak..kau salah besar Delvaro aku hanya kesal karna kau masih memberi, teka-teki padaku tentang apa yang sebenarnya terjadi di Hotel..aku sangat bingung sementara itu aku pikir kau sedang mempermainkan wanita lain jadi aku.......''
''Tidak rela...'' sambung Delvaro semakin mendekatkan wajahnya..
''Aku hanya....''
Miley menarik tubuh Delvaro menjauh..dan menatap mereka bergantian..
''Kerja...''
Kata-kata Miley membuat Alana dan Delvaro tertawa,..dia gadis yang manis dan periang..
Disaat yang sama pintu di ketik dan tak lama kemudian terbuka..
Alana dan Delvaro menatap ke arah pintu dan menemukan sosok David dan juga Liam berdiri disana..
Liam sungguh kesal melihat sosok Delvaro yang kembali mendekati Alana...Liam mengenang..sebenarnya dia sedang mengerjakan proyek lain bersama Kiano namun ketika ia mendengar bahwa Alana dan Delvaro sedang menangani proyek bersama dan kenyataan itu membuat Liam tak bisa melakukan apapun...Liam terbakar cemburu dan memilih mendampingi Alana dalam proyek ini dan syukurlah para orangtuanya setuju...
''Selamat pagi...apakah kami terlambat...'' ucap Liam yang langsung bertatapan tajam dengan Delvaro..
Alana menghela nafas....mengapa Liam juga datang, yang ia tau paman David yang terjun dalam proyek ini..?
''Tuan Delvaro..perkenalkan ini adalah paman dan kau tentu mengenal Liam...''ucap Alana tersenyum..
Delvaro mendekat tak lupa menarik Miley bersamanya..
pria itu mengulurkan tangannya kepada David...
''Kita akan menjadi keluarga...jadi namaku adalah Delvaro Rule..senang bertemu denganmu..karna usiamu jauh di bawahku aku akan memanggilmu David saja...bagaimana..''
__ADS_1
David mengangguk dan membalas uluran tangan Delvaro namun matanya justru jatuh pada sosok Miley yang manis...
''Yah..itu lebih baik aku terlihat tua jika di panggil paman...dan siapa ini,....''
David tertarik pada sosok Miley...dan mengulurkan tangannya..
''Miley......''
''Aku David..dan tolong panggil hanya namaku saja aku cukup menderita di panggil paman oleh Alan dan Alana....''
Merekapun tertawa....namun tawa itu menguap ketika giliran Liam dan Delvaro saling menatap..
''Kita tentu tak perlu berkenalan bukan...tuan Delvaro Rule...''
Delvaro mengeraskan wajahnya....
''Tentu saja kita saling mengenal dengan baik...kau hampir menjadi kepnakanku Liam..sebelum kau melarikan diri.....
Hening......
Liam terkekeh...
''Benarkah...apakah keponakan tersayangmu belum mengatakan apapun, kejujuran misalnya...''sambung Liam yang mampu membuat tanya di beka Alana...
''Apa yang sebenarnya terjadi...'' ucap Alana menatap kedua pria itu dengan tajam..
Liam dan Delvaro sama-sama menoleh..
++++++++++++++++++++
Kanaya terkejut ketika Alan mentup pintu mobil dengan kasar..tatap matanya berubah menjadi sangat dingin....
''Alan.....''
''Jadi di belakangku diam-diam kau merengek pada David pamanku untuk bekerja bersama dirinya...''
Suara Alan meninggi di dalam mobil...mata Kanaya menjadi panas...
''Aku tidak pernah sengaja memintanya Alan..dia...dia bertanya dan aku hanya menjawab..tapi aku belum menentukan pilihan apapun...''
Alan menoleh...
''Benarkah...mengapa aku tidak percaya kepadamu Kanaya..bukankah kau menyukainya...jika Mommy tidak mengingatkan tentang pernikahan kita kau pasti sudah memilihnya...''
Hening lagi...
Itulah yang di benci Kanaya dari Alan dia selalu menyimpulkan sendirian dan tidak mau mendengarkan orang lain..pria yang egois dan kejam..
Mengapa Alan sifat Alan tidak seprti Daddy Darren atau seperti ayahnya Kenan yang selalu berkata lembut dan tak pernah menunjukan kemarahan seperti ini..
Kanaya rasanya sudah tak bisa menahan diri...jika hidup dengan Alan maka ia akan menderita batin selamanya..
__ADS_1
''Aku ingin jujur kepadamu Alan...bisakah kita bicara...''
Alan menoleh dan melonggarkan dasinya ia mengangguk, baiklah hari ini dia tak akan ke kantor dan Kanaya akan membolos sekolah...
Mereka akan benar-benar bicara....
Mobil milik Alan menepi di sebuah taman bunga yang indah karna hari masih pagi disana sangat sepi dan hanya beberapa pasangan termasuk mereka...
Kanaya melangkah naik ke sebuah anak tangga menuju sebuah pucak dari segala keindahan bunga disana...di atas ketinggian itu mereka bisa melihat lembah di bawah yang tertup kabut sangat indah hingga Kanaya tersenyum..
''Katakan.....''
''Aku sudah berpikir ini sejak lama Alan.....aku pikir...pernikahan kita harus di batalkan...''
Deg!!!!
Kanaya menoleh dan menatap lurus pada wajah Alan yang malah semakin dingin kepadanya..pria itu mendekat...dan mencengkram lengan Kanaya dengan rasa marah yang besar..
''Sudah aku bilang berkali-kali kepadamu Kanaya...pernikahan kita harus terjadi.,..''
''Untuk apa....jika pernikahan itu hanya membuat kau dan aku menderita,....untuk apa..pernikahan itu dilakukan karna perjanjian tanpa pernikahanpun aku tetap menganggap Moomy dan Daddy seperti orangtuaku.....aku hanya lelah menghadapimu Alan...aku sangat lelah.......''
Alan mengerang........
''Apa kau meminta ini untuk mengejar Pamanku.....''
Kanaya semakin kesal saja...
''Selalu saja itu alasanmu Alan...yah..bisakah kau melihat perbedaan besar di antara kalian,....paman David dia sangat baik padaku..dia...sangat lembut dan.......''
''Cukup...aku bukan paman David dan selamanya aku tak akan bisa menjadi sepertinya Kanaya....dan kau pikir aku perduli....jangan lupa kalau kau sudah menjadi milikku aku akan melenyapkan siapapun yang bernai kau dekati Kanaya...aku tidak akan melepaskan mereka sedikitpun....''
Tangis Kanaya pecah...
''Kau sangat kejam...dan aku membencimu...''
Alan tertawa..........
''Membenciku...silahkan saja...tapi Kanaya...persiapkan hatimu karna sebentar lagi kau akan hidup bersamaku orang yang kau benci ini....kuatkan dirimu...karna kebencianmu juga butuh kekuatan yang besar bukan..''
Kanaya mengepalkan tangannya...Alan..tidak, ia tak akan pernah mau menikah dengan pria ini tidak...tidak bisa...Kanaya harus mencari cara agar bisa melepaskan diri...
Alan merasa cukup mendengarkan Kanaya..
''Baiklah karna hari ini kita berdua libur maka....bagaimana kalau kita ke apartemen saja....aku merindukanmu Kanaya...''
Kanaya menggeleng...
''Tidak lagi Alan...''
''Kau tak bisa menolakku........'' desis Alan dengan tatapan beku..
__ADS_1