Mengandung Anak Psikopat Kejam

Mengandung Anak Psikopat Kejam
Pergi


__ADS_3

Liam mengedarkan pandangan di sekitar hirup pikuk pengunjung club...ruangan seketika menjadi hening..lampu di nyalakan hingga memudahkan Liam untuk mengenali setiap pengunjung..pria itu menatap para anak buahnya yang sudah menguasai ruangan...


''Aku ingin kalian keluar dari ruangan ini satu persatu tanpa ada yang tertinggal....kalian periksa kamar-kamar atas...''


''Baik tuan...'' seru anak buah Liam patuh..


Sementara itu Elif sedang berada di bawah meja bar bersembunyi disana dengfan gemetar, ia berada di dalam lemari kecil di antara botol-botol minuman yang tersusun..badannya terasa pegal karna harus terhimpit disana namun ia sama sekali tak punya pilihan...


''Tuan Liam....kami sudah mencarinya namun jejak nona Elif menghilang...''


Liam begitu marah,.....karna semua pengujung di temapt ini sudah ia periksa dan tak ada seorang gadispun yang mirip dengan Elif...dan hal itu sanggup membuat Liam merasa geram...dan semakin marah...


''Apa kalian yakin...''


''Tentu saja tuan..kami sangat yakin...''


Liam pun tersenyum...


''Baiklah...aku ingin menguci tempat ini dan tentu saja aku ingin cctv di tempatkan di setiap ruangan...aku tak akan pernah membiarkan siapapun lolos dari sini..


Usai berkata Liam kemudian keluar dari Club dan tak lupa juga ia mulai mengunci pintu..pria itu masih yakin kalau seseorang yang ia cari sedang bersembunyi di dalam ruangan ini jadi ia tak akan kehilangan jejak sedikitpun...


Sebelum memasuki mobil seorang anak buahnya menghampirinya dan menunduk...


''Jangan sampai ada yang lolos...kau dengar itu..aku tak akan mau kehilangan jejak sedikitpun..'' ucap Liam lalu memasuki mobil..


''Baik tuan...'' ucap anak buahnya dengan patuh.


Liam akhirnya masuk ke dalam mobil. sesaat kemudian di dalam mobil..Liam memejamkan matanya sebentar ia sudah mencari sejauh dan selama ini jadi Liam tak akan membiarkan gadis itu lepas begitu saja..


Mobil meluncur menuju kembali ke rumah, Liam melonggarkan dasinya hari ini Nasya akan keluar dari rumah dan mau tak mau Liam kembali merenung, Nasya tak punya tempat tingggal lain lalu...bagaimana gadis itu bertahan...dia bilang hanya bercanda namun bagi Liam ia tak mentoleril candaan gadis itu...


Liam menoleh keluar jendela...apa yang harus dia lakukan...??


Sementara di kediaman milik Liam,...Nasya sudah berkemas, semua bajunya sudah berada di koper dan di masukan ke dalam mobil sementara itu ia tinggal menunggu kedatangan Liam untuk pamit, yah...sesungguhnya Nasya tak tau kemana dia akan pergi kali ini karna ia tak punya tempat tinggal selain di tempat Liam...bahkan orangtua mereka sudah merencanakan pernikahan, Nasya tak tau bagaimana menghadapi keluarganya..memang ini kesalahannya tapi,...ia memang hanya bercanda, walau ia tak tau kalau bercandanya sudah melebihi batas..dan Liam tak memberinya maaf sedikitpun apalagi memberinya kesempatan dan Nasya hanya bisa pasrah saat ini.


Nasya kemudian bangkit dari tempat duduknya dan menatap sekeliling kamar, dengan mata berkaca-kaca...bagaimanapun juga ia akan merindukan kamar ini dan segala kenangan disini...


Nasya lalu melangkah keluar dari kamar, ia tak ingin lagi berlama-lama disini... gadis itu keluar dari kamarnya dan menuju lift lalu masuk dan turun ke lantai 1, di saat bersamaan mobil milik Liam memasuki halaman rumah..Nasya menghela nafas, sekuat tenaga berusaha menahan perasaannya ia lalu melangkah menuju pintu ketika Liam masuk...gadis itu menundukan kepalanya memberi hormat..


Sementara Langkah Liam terhenti sebentar, ketika mereka saling menatap..


''Kau akan pergi..''


Nasya tersenyum.....

__ADS_1


''Sebenarnya aku akan pergi tapi aku tak bisa pergi tanpa pamit..bagaimanapun kau sudah menolongku sejauh ini jadi aku tak bisa mengabaikan begitu saja...


Liam terdiam sebentar.....


''Kau akan kemana Nasya...''


Gadis itu tersenyum....


''AKu akan kerumah pamanku Delvaro dn juga bibi Alan...mereka menelfonku dan memintaku kembali...bibi sedang hamil jadi,....''


''Baiklah....jika kau berada disana maka itu adalah yang paling tepat....''


Liam pun melangkah.....menuju lift dengan acuh...sementara Nasya tersenyum lalu menundukan wajahnya dalam-dalam...


''Aku minta maaf dan selamat tinggal kak Liam...''


''Yah....baiklah..sampaikan salamku pada Alana dan juga Delvaro...''


''Yah....'' balas Nasya lalu melangkah meninggalkan ruang tamu meninggalkan Liam yang berdiri masih mematung,...apakah keputusannya sudah benar...apakah melepaskan Naysa adalah pilihan terbaik..?lagi pula ia pergi ke rumah Alana jadi Liam akan menelfon atau menemui Nasya jika ia rindu,...


Nasya keluar dari rumah besar ;iam menuju mobilnya..


''Nona Nasya saya akan mengantar anda..''


''Tidak perlu, aku akan membawa mobilku segera, kau tidak perlu repot-repot..''ucap Nasya tersenyum..


Nasya kemudian masuk ke dalam mobil lalu keluar dari gerbang milik Liam West...airmatanya menetes. cukup sudah hidupnya menjadi beban selama ini...ia tak akan pernah menjadi beban siapapun...Nasya kemudiann menghentikan mobilnya di pinggir jalan lalu mengeluarkan ponselnya menelfon seseorang dan membuangnya di rerumputan lalu menyandarkan tubuhnya di dalam jok mobil.


matanya terpejam...


Selamat tinggal Liam West....


*****************


Liam turun dari mobil dan memasuki club setelah mndapat telp dari anak buahnya kalau Elif Devan ternyata sudah tertangkap dan sekarang sedang di sekap menunggu perintahnya...


Liam merasa geram, tak mampu menahan amarahnya lagi...gadis itu akan selesai...


Pintu terbuka dan Liam segera masuk...ia membeku ketika menatap seorang gadis yang sedang duduk terikat di kursi dengan tatapannya yang begitu tajam,...keduanya bertatapan tajam...


''Akhirnya aku menemukanmu Elif Devan...''


Gadis itu melirik sinis...


''Akhirnya aku bertemu denganmu Liam West...''

__ADS_1


Liam mengeluarkan pistolnya dan menodongkannya pada sosok Elif yang malah menantangnya...


''Dimana ayahmu yang pengecut itu hingga dia mengirimkanmu kemari hah....''


''Jangan menyebut ayahku dengan mulut kotormu Liam West...ayahmulah yang telah menghianati persahabatan dengan berkhianat...dan aku tak akan pernah membiarkanmu hidup tenang..''


''Oya....kau pikir aku akan melunak padamu walau kau seorang wanita hah....''


Liam terlalu marah dan sesaat kemudian ia mendekatkan wajahnya...


''Aku telah membekukan semua usahamu...dan selanjutnya aku akan melemparkanmu ke jalanan Elif agar kau tau bagaimana akibatnya jika melawan aku...


Wajah Elif begitu pucat,..ia menggeleng dengan frustasi...


''Tidak....tidak...''


''Aku tidak membunuhmu karna aku mengingat ibuku, jika tidak maka kau sudah pasti mati...kau dengar itu..''


Liam berdiri dan menatap pada anak buahnya...


''Lemparkan dia ke jalanan sekarang,....'' desis Liam tanpa belas kasih...pria itu keluar dari club dengan rasa puas..


Yah....akhirnya ia bisa melumpuhkan musuhnya, sekarang tinggal menelfon Alana,...Nasya pasti sudah sampai dan ia tak sabar lagi mendengar kabarnya...


Liam masuk ke dalam mobil lalu segera menelfon.....


Liam : Hay...Alana.....


Alana : Liam...hey,..apa kabarmu aku sangat merindukanmu Liam...


Liam : Aku juga merindukanmu, bagaimana kehamilanmu....?


Alana : Semua berjalan dengan baik Liam...sudah 4 bulan...


Liam : Bagus....aku bahagia, oya...apakah Nasya...


Alana : Bagaimana kabar Naysa hah....aku ingin mengunjungi kalian tapi Delvaro tidak mengijinkan karna kehamilanku...


Liam : ( Terkejut ) Nasya....dia sedang...


Alana : Semua keluarga merindukannya, aku harap kalian mempercepat pernikahan agar aku bisa hadir....sebelum aku melahirkan...


Liam : ( Tampak Syok ) Baiklah.....aku akan mempercepat penikahan, aku harus pergi Alana...sampaikan salamu pada Delvaro....


Alana : Baiklah....aku akan menyampaikannya...

__ADS_1


Ponsel dimatikan...dan hati Liam seperti di remas, dimana Nasya saat ini...?? Liam merasa takut sekarang....


__ADS_2