Mengandung Anak Psikopat Kejam

Mengandung Anak Psikopat Kejam
Restu Untuk Darius


__ADS_3

Darius menangkap tatapan berbeda dari sang putra, mereka sangat mirip dari segi fisik dan kenyataan itu membuat Darius tau apa arti tatapan Darren kepadanya...


''Duduklah ayah...''


''Baiklah Darren...''


Darius segera duduk dan kedua anak dan ayah itu saling menatap dengan tajam..Darius menurunkan pandangan pada makanan yang telah di pesan Darren untuk mereka berdua, makanan yang selalu di sukai Darius..


''Aku sangat lapar.....'' ucap Darren lalu mengambil nasi dan beberapa lauk pilihan kesukaannya lalu meletakannya di atas meja..


Darius menatap Darren dengan tajam....


''Katakan apa yang ingin kau tanyakan Darren, aku akan menjawabnya...'' tanya Darius tak sabar, tingkah Darren yang penuh teka-teki ini membuat Darius tak sabar.


''Bisakah kita makan lebih dahulu sebelum kita bicara ayah,....aku tau ayah juga sangat lapar...''tatap Darren tegas..


Darius lalu menganggukan kepalanya, ia tau benar bahwa ia harus mengikuti kata-kata Darren dengan makan, mereka berduapun makan dalam diam..


Hening yang mencekam....


Darius menyelesaikan makanan lebih cepat dari biasanya, lalu meminum segelas air, ia kembali menatap Darren...


''Jadi apa yang akan kau tanyakan Darren...''


''Apa kabarmu ayah, aku sangat merindukanmu selama beberapa hari ini...'' ucap Darren dengan senyum misterius..


''Ayah sedang ada urusan Darren tapi sekarang sudah selesai dan ayah akan pulang ke rumah...''ucap Darius tegas.


Darren menatap ke arah ayahnya dan menemukan wajahnya yang terlihat lelah dan banyak pikiran rasa iba itu muncul di dalam hati Darren, biar bagaimana pun Darius adalah ayahnya, ia mengenang bagaimana Darius telah memberikan segalanya untuknya dan sang adik, terlepas dari semua hal yang di lakukan Darius, namun satu hal yang pasti Darius rela tidak menikah demi membesarkan keduanya dalam kesendirian, meski petualangannya bersama para wanita tetap ia lakukan, jelas, ia adalah seorang pria sejati yang punya kebutuhan biologis dan Darren mengerti itu.


''Ayah...apa yang sebenarnya ayah inginkan dalam hidup.'' tanya Darren dengan tatapan serius..


Darius mengangkat wajahnya menatap lurus ke arah Darren, pria itu menghela nafas...


''Jika kau bertanya pada ayah di usia ayah saat ini Darren, bisakah aku jujur...''


''Jujurlah itu lebih baik ayah, dan aku akan coba mengerti semua keinginan ayah....''


Darius mengangguk.....

__ADS_1


''Tentang perusahaan kita aku segera ingin memberikannya kepadamu dan Erland, usia ayah sekarang sudah hampir 50 tahun, ayah pikir sudah saatnya kau dan Erland meneruskan semuanya....ayah tidak ingin lagi memikirkan hal yang berat,ayah ingin hidup dengan tenang..''


''Aku mengerti....aku tak akan memaksa ayah, tentang perusahaan dan lainnya aku dan Erland akan mengatasinya, kau bisa berhenti khawatir tentang itu... aku hanya ingin bertanya satu hal kepadamu ayah, bisakah ayah jujur kali ini...''


''Tentang apa...Darren, mengapa wajahmu begitu serius kali ini..''


Darius memajukan tubuhnya, ia menatap sang ayah dan mulai bicara...


''Aku dengar tentang keadaan Tiara dari Alea, bagaimana dia ayah...kandungannya...''


Darius mengangkat wajahnya dan menatap mata Darren, apakah Darren sedang mencurigai sesuatu, apakah itu tentang kehamilan Tiara..


''Aku telah menyelesaikan segalanya Darren, katakan kepada Alea untuk berhenti khawatir karna semua baik-baik saja.'' balas Darius menenangkan.


Darius tampak tidak nyaman dengan pertanyaan Darren dan memilih menghindar...


''Darren..ayah harus kembali ke kantor untuk menyelesaikan beberapa hal, kita bicara lain kali bagaimana Darren...''


Darius sudah berdiri dan bersiap melangkah....namun kata-kata Darren membuat langkahnya terhenti..


''Mengapa ayah tidak bisa jujur padaku bahwa Tiara sedang mengandung anakmu, itu artinya anak itu akan menjadi adik tiriku...'' seru Darren jujur.


Darius mengangkat wajahnya begitu terkejut dengan pernyataan yang di lontarkan Darren kepadanya pria itu sampai duduk kembali karna syok...jemarinya mengepal, ia merasa sungguh malu dan merasa bersalah karna itu artinya ia telah menghianati anak-anaknya, mereka akan segera membencinya...


Mata Darius menjadi basah...


Hening di antara mereka.....Darren memajukan tubuhnya...


''Sudah cukup bagi ayah selama ini ayah sudah melakukan yang terbaik untuk aku dan Erland, aku hanya ingin ayah tau....bahwa jika kau bahagia bersama Tiara...maka menikah saja,...kami akan merestuimu ayah...''


Darius tertawa....ia menatap wajah sang putra...


''Aku merasa sangat malu mengakuinya di hadapan anakku bahwa aku memang melakukan ini...yah..kau benar jika Tiara sedang mengandung anakku tapi tidak untuk pernikahan, Tiara akan melahirkan anak itu lalu dia akan di bawa kerumah kita tapi tanpa kehadiran Tiara,....''ucap Darius penuh penekanan..


''Kau akan memisahkan ibu dari anaknya..'' sambung Darren..


''Tiara tak ingin pernikahan...''


''Apakah ayah sudah bertanya kepadanya...'' tanya Darren tak sabar..

__ADS_1


''Tidak...aku tau wanita muda itu tak akan pernah mau terikat....Darren, ayah hanyalah pria yang sudah tua jadi mustahil....''


Darren tertawa lagi...


''Semua orang bisa berubah ayah...bagaimana dengan kebersamaan ayah dan Tiara memunculkan cinta, aku tau ayah tidak percaya tapi ayah bisa melihat kasusku dan Alea...aku akhirnya menyerah dan jatuh cinta kepadanya, dan aku yakin hal yang sama sedang ayah alami..''ucap Darren memberi harapan....


Darius menoleh dan tertegun meresapi betul kata-kata sang putra yang itu artinya lampu hijau untuknya, tadinya Darius pikir putranya akan marah namun...di luar dugaan, kalau Darren justru mendukungnya, hal yang sama sekali tidak di duganya..


Darius menatap kepada Darren, ia yakin di balik perubahan sang putra ada sosok Alea yang setia mendukung Darren...sungguh Darius semakin menyayangi menantunya...


''Terimakasih putraku...terimakasih Darren...''


Darren tersenyum......


**********************************


Alea keluar dari kampus dengan setumpuk buku dalam pelukannya, hari ini dia akan pulang sendiri karna Darren sedang menemui ayahnya lalu Erland ada ujian yang harus ia awasi..


Alea melangkah mendekati bahu jalan dan menunggu taxi yang lewat di saat yang sama, sebuah mobil berhenti di hadapannya dan mampu membuat jenatungnya berdebar keras, Aiden keluar dari dalam mobil dengan senyuman yang penuh arti mendekati Alea yang berdiri di pinggir jalan...


''Alea....''


Aiden hendak memluk namun, Alea menghindarinya dan membuat pria itu sedikit terkejut dengan penolakan halus yang di lakukan Alea....


''Ada apa ini..mengapa kau menolak pelukanku.''


Alea tersenyum.,...


''Maafkan aku kakak....aku sedang memegang buku-buku ini sangat sulit jika kita berpelukan apalagi di siang seperti ini,...akan ada banyak mata yang akan salah paham...''


Kata-kata Alea membuat Aiden mengerutkan kening...namun ia mencoba bersabar...


''Apa kau sudah pulang....aku akan mengantarmu...''


''Tidak.....kakak...aku sebenarnya masih ada kelas, dan akan kembali...aku sedang menunggu pesananku datang...'' Alea memilih berbohong, dan melangkah hendak meninggalkan Aiden....


Aiden menyipitkan matanya dengan tajam.....mendekati Alea dan mencekal tangannya...


''Alea...berhenti...''

__ADS_1


__ADS_2