
Pesawat mendarat mulus di kota P dan Rafael tidak membuang waktu ia lalu menghampiri Alana dan Liam lalu mengulurkan tangannya agar gadis itu keluar dari sana...
Sedangkan Liam hanya bisa mengalah...memberikan jalan kepada Alana turun lebih dahulu bersama kekasihnya meski ia sedikit tidak rela..
Mereka pun turun dan langsung di sambut oleh utusan tuan Delvaro..dengan sebuah Limusin yang mewah dan siap membawa mereka langsung ke perusahaan...
Udara yang dingin menyapu kulit Alana sehingga ia sedikit ngilu...dan kedua pria di sampingnya segera membukakan jas mereka dan memberikannya kepada Alana dan membuat gadis itu bingung,...
Ia lalu mengambil jass milik kekasihnya tentu saja..tidak mungkin dia memilih Liam...?? dan Liam hanya mempu menghela nafas..
Ini akan menjadi perjalanan yang berat,...menyangkut perasaannya...
Mobil itu melaju melewati kota yang sibuk di malam hari..seolah disini tak ada kata malam hari..sepanjang jalan di penuhi lampu-lampu yang menerangi kegelapan dan membuat penghuninya tetap terjaga di malam hari...
''Woow...kota yang sibuk..'' ucap Alana dengan mata berbinar..
''Tentu saja sayang...bagaimana jika setelah kita menikah..kita pindah dan tinggal disini...kau akan menjadi model terkenal.....''
Sontak kata-kata Rafael membuat Liam menoleh..
''Maaf Rafael...tapi Alana tidak akan pergi dari kota kelahirannya walau ia menikah...yang menjadi suaminya harus rela bergabung dengan keluarga besar kami.....hanya untuk kau ingat Rafael kalau Alana adalah putri mahkota di keluargaku....''ucap Liam mengangkat alisnya..
''Oya....tapi ketika seorang wanita menikah, maka ia harus ikut suaminya..apakah itu salah....''
''Salah jika kau menikahi Alana...kurasa hubungan kalian tidak akan panjang..'' ucap Liam dengan sorot mata dingin...
__ADS_1
''Hey....mengapa kau bilang begitu, apa kau benar-benar kakaknya...astaga, tak ada kakak yang akan mengatakan hal buruk pada adiknya..'' balas Rafael tajam..
Liam memajukan tubuhnya tanpa takut...
''Jika kau mencintainya dan ingin menikahinya...maka kau harus ikut aturan keluarga besar kami...Alana harus tetap tinggal dan menjadi bunga di antara keluarga besar kami...kau mengerti.....''
Alana memijit dahinya melihat pertengkaran Liam dan Rafael...ia akan menjadi gila karna sikap mereka..
''Berhentilah....lagipula Alan,.....aku tak aan menikah dalam waktu dekat...''ucap Alana mencoba menenangkan Liam..
Liam mengangguk....
''Bagus jika kau tidak ingin menikah dalam waktu dekat Alana...jadi...sebaiknya kalian tidak boleh terlalu dekat...karna Rafael belum tentu menjadi suamimu..''
Deg!!!!
''Kau........''
''Cukup.....kita akan segera sampai ya ampun.......'' jerit Alana menatap tajam kepada keduanya,...
Mereka pun langsung saling melemparkan tatapan tajam...dan Alana memutuskan dia akan duduk di tengah antara Rafael dan juga Liam atau mereka akan saling memukul..dan kedatangannya ke negara ini akan percuma..
Mobil memasuki kawasan perusaan yang mempunyai gedung paling tinggi di antara gedung sekitar...
Mereka pun melangkah masuk ke dalam gedung tentunya dengan berbagai pemeriksaan ketat...
__ADS_1
''Silahkan naik, tuan sudah menunggu di lantai 90..'
''Hah...lantai 99 ulang.'' Alana dengan lutut yang lemas..
Liam menyentuh pundak Alana dengan posesif bahkan sampai menaiki lift...sementara Rafael menggenggam tangan Alana dengan mesra...
Ting!!!!!
Mereka melangkah keluar lift namun Liam melangkah dan berhenti di depan pasangan itu...
''Mengapa...'' tanya Rafael..
''Lepaskan tanganmu Rafael, kita akan menemui tuan Delvaro jadi aku tidak mau dia pikir..Alana dan kau.......''
Alana pun mengerti dan langsung menganggukan kepalanya...
sementara Rafael mengepelkan tanganmu...
''Awas kau Liam..''
Liam hanya tersenyum dengan dingin.....
Mereka pun masuk ke dalam ruangan mewah milik tuan Delvaro..
Pria dewasa itu bangkit dari tempat duduknya, matanya menajam kepada Alana....
__ADS_1
Delvaro tersenyum..........