
Malam pertama tanpa Delvaro sungguh membuat Alana sedikit kesal..bagaimana tidak, ia sudah berulangkali menelfon Delvaro hanya untuk mendengar suaranya...Alana keluar dari kamarnya sambil membawa ponsel miliknya dan sedikit terkejut melihat Rafael yang muncul tiba-tiba di hadapannya..keduanya saling menatap...
''Alana....''
''Rafael...sapa Alana mencoba bersikap sopan...bukankah kau berada di lantai atas...'' tanya Alana penasaran..
Rafael tersenyum...
''Aku hanya ingin mengajakmu makan malam..biar bagaimanapun kita punya hubungan sekarang...kau adalah kakak iparku...jadi...''
''Bagaimana kalau kita turun saja...terimakasih kau mengingatkan aku Rafael tapi....mungkin lain kali jangan melakukannya lagi aku tak ingin membuat kesalahan apapun...dan tak ingin ada salah paham...''
Alana melangkah lebih dahulu menuju lift dan menekan tombol di dekat pintu...
''Apakah karna kita pernah ada hubungan di masa lalu karna itu kau sedang menjaga jarak...''
Hening....
Alana tersenyum...
''Tidak....aku wanita yang sudah menikah aku hanya menjaga nama baik suamiku dan kita...''
Ting!!!!
''Ayo masuk Rafael....''
Alana kembali bersikap ramah namun kali ini Rafael enggan masuk ke dalam lift yang sama dengannya...
''Aku akan naik nanti Alana....aku tak ingin para pelayan akan salah paham dengan kebersamaan kita dan melaporkannya kepada Delvaro...dengan kondisiku...''
Rafael menyentuh lututnya seolah ingin menyadarkan Alana bahwa apa yang ia alami sekarang itu semua karna Alana...
''Rafael.....''
''Pergilah dan jangan khawatirkan aku....aku baik-baik saja...''
Alana tak bisa berbuat apapun ketika lift tertutup dan memisahkan mereka..sementara itu Rafael menoleh ke arah kamar milik Alana dan Delvaro...ia bangkit dari kursi roda dan melangkah menuju pintu kamar Delvaro dan juga Alana dan membukanya..di rumah ini ia selalu mempunyai kunci cadangan...
Ceklek...
Pintu terbuka dan Delvaro tersenyum dingin dan segera masuk...
*************
Alana keluar dari lift namun masih memikirkan perkataan Rafael kepadanya...yah...Rafael cacat karna dirinya dan Alana kembali di liputi rasa bersalah yang besar...apakah dia bersikap terlalu keras...??
Alana melangkah menuju ruang makan disana sudah ada sang Mommy yang menunggu...
''Selamat malam Mom...''
''Alana sayang...kemarilah...''
''Baik Momm.....''
Aleysa tersenyum...
__ADS_1
''Mari kita makan Alana...''
''Baiklah....tapi bagaimana dengan Rafael...''
''Dia sudah menelfon Mommy dan pelayan sudah mengantarkan makanan untuknya...''
Deg!!!!
Apakah Rafael tersinggung dengan perkataannya..
''Tapi mengapa Rafael tidak makan di bawah dan memilih makan di kamar..'' tany Alana sambil memulai kegiatan makannya..
Aleysa menghela nafas....
''Selama ini dia selalu menghabiskan waktu di kamar dan selalu berada disana..kau pasti bertanya mengapa dia melakukannuya....''
Virginia mengangguk...
Aleysa memulai cerita..
''Dia mengalami depresi pasca penembakan itu Alana...dia mengalami susah tidur dan gangguan kepribadian..dia sering mengurung diri di kamar sampai kalian datang kemari, Mommy berharap dengan adanya kalian bisa membuat Rafael kembali seperti dulu lagi...agar dia bisa menjadi putraku yang aku banggakan lagi...'' Aleysa terlihat begitu terpukul ketika menceritakan semua kisah Rafael hingga Alana ikut sedih...
''Rafael akan baik-baik saja Mommy...yakinlah suatu saat Rafael akan kembali seperti dulu...''
Aleysa menganggukan kepalanya pasrah...di saat bersamaan, terdengar bunyi klakson mobil yang cukup keras hingga membuat Aleysa dan Alana mengerutkan kening...
''Apa Mommy tau siapa yang datang...''
Aleysa menggeleng...
Alana mengangguk lalu melangkah bersama dengan Aleysa menuju pintu dan keduanya terkejut terutama Alana... melihat siapa yang datang....
Nasya dan Liam juga seorang gadis asing turun dari mobil...
Deg!!!
''Nasya...'' ucap Aleysa terkejut...
Sementara mata Alana tertuju pada Liam yang tersenyum kepadanya...
Alana menghela nafas....mengapa mereka datang ke rumah ini...??
++++++++++++++++++
Alan masih mencengkram lengan Kanaya hingga gadis itu mengerang..
''Alan....''
''Kasu menghindari pertanyaanku Kanaya..kau akan kemana hah....''
''Apakah kau jauh-jauh datang hanya untuk mengatakan hal tidak masuk akal padaku...''
''Kau tinggal menjawabnya saja Kanaya...''
''Aku tak percaya kau sekejam itu....''
__ADS_1
Kanaya mendorong tubuh Alan menjauh dan sementara itu ia melangkah meninggalkan pasir menuju mobilnya sendiri...namun belum lagi dia keluar dari pasir...Alan masih mencekal kedua tangannya kali ini lebih kuat hingga tubuh Kanaya berpindah di tubuhnya...
Deg!!!
Keduanya bertatapan tajam...yang satu penuh kebencian yang satunya penuh rasa cemburu...Alan mendekatkan wajahnya dan sesaat kemudian melum** bibir Kanaya dengan membabi buta hingga Kanaya tak mampu mengelak...
Alan mengunci pergerakan Kanaya hingga gadis itu tak mampu berkutik, Kanaya berusaha meronta namun ia kehilangan tenaga..bibir Alan menguasainya dan menciumnya dengan sedikit kekuatan....airmata Kanaya menetes...hatinya sungguh sakit dan menyesal ketika ia berharap kalau Alan akan mencintainya tidak..pria ini datang karna rasa haus..dan dia akan meninggalkan Kanaya jika dia sudah puas...
Kanaya mendorong tubuh Alan menjauh...dan ciuman mereka terlepas dengan dramatis..masih berdiri saling menantang Alan menggertakan gigi.,..
''Ciuman siapa yang lebih hebat...aku atau David...katakan padaku ciuman siapa yang paling hebat Kanaya...''
Tangisan Kanaya pecah saat itu juga tubuhnya tersungkur di pasir sementara jemarinya gemetar memegang dadanya...ia sungguh marah dan malu...Alan memperlakukannya seolah dia seorang pelacur...
Dan tangisan Kanaya membuat dada Alan seperti di hantam sesuatu yang keras..terasa menyakitkan...apakah dia sudah salah menduga,...apakah Kanaya tidak melakukan apapun...
Hening....
Alan akhirnya mendekat dan ikut tersungkur di pasir menunggu hingga tangisan Kanaya mereda...
''Kanaya....''
''Lepaskan tanganmu....'' jerit Kanaya dengan suara lantang..
Hening...
Alan berdehem...mengapa ia menjadi takut sekarang...
''Kanaya...''
Ketika ia hendak menyentuh rambut Kanaya, gadis itu menepis pegangan tangannya dan melirik tajam..Kanaya bangkit dari pasir dan berusaha menenangkan dirinya sendiri...
''Kanaya,...jika perkataanku salah aku minta maaf...''
''Minta maaf...apa kau sedang bercanda denganku, kau menuduhku tidur dengan pamanmu sendiri dan kau bilang itu candaan....apa kau sudah gila...atau aku yang gila..'' Kanaya menatap Alan dengan segenap kekuatannya yang tersisa..
''Kanaya...aku menyesal...anggap saja aku bodoh...aku...''
''Aku mau pulang...sekarang...'' isak Kanaya melangkah melewati Alan yang berdiri dengan kaku...
Mengapa dia jadi takut dengan kemarahan Kanaya...??
Alan segera mengikuti langkah Kanaya dan membimbingnya masuk ke mobil..sepaanjang perjalanan hanya keheningan yang mencekam hingga Alan semakin putus asa...
Mobil akhirnya memasuki kediaman Darren Hugo...Kanaya turun dari sana..dan disaa bersamaan Alea sedang duduk di taman....
Kanaya segera berlari menuju taman dengan Alan yang mengejar di belakangnya..
''Mengapa kau menangis Kanaya..''
''Mom...aku ingin pulang...aku ingin pergi dari rumah ini..aku tak mau tinggal bersama Alan...dia sangat kejam..'' ucap Kanaya penuh dendam..
Alan menghela nafas...ketika kedua wanita itu menatapnya tajam...
''Alan....'' desis Alea menggertakan gigi....
__ADS_1