
Alana sudah bersiap dengan Liam yang sedang memakai pakaian santai mereka..koper dan barang mereka sudah berhasil di naikan di atas pesawat tinggal menunggu kedatangan mereka..
Liam menggenggam jemari Alana menuju mobil...beruntung sangat sepi dan tak ada para anak buah Delvaro yang berjaga...
Alana dan Liam masuk ke mobil dengan cepat, sementara keduanya saling menatap...
''Jangan khawatir Alana...anak buahku akan melindungi kita...''
Alana menganggukan kepala..hatinya sungguh terluka menyadari Rafael menipunya...beraninya pria itu menipu dirinya...apakah itu artinya mereka bersekokongkol untuk menekannya..? Alana tak bisa menyembunyikan rasa kecewanya...
''Tenanglah Alana kita akan pulang...jangan pikirkan Rafael lagi, itu sebabnya dari awal aku tak ingin kau pergi bersamanya...''ucap Liam menggenggam jemari Alana hingga gadis itu hanya mampu tersenyum...
''Yah...aku bahagia dan bangga padamu Liam, sudah seharusnya aku mendengarmu..'' desah Alana dengan mata yang basah..
''Aku mencintaimu ingat....''
Alana hanya tersenyum....dan mengangguk..
''Bagaimana dengan Nasya....''
''Aku sama sekali tidak merasa menyentuhnya Alana...dia keponakan Delvaro dan aku yakin kalau mereka sudah merencanakan ini Alana...''
Alana menganggukan kepala, tentu saja dan semua ini adalah perintah Delvaro...sementara mobil terus mendekati bandara namun,.....tanpa di duga...ada beberapa mobil yang menghadang mereka...dan menubruk mobil milik Liam dan Alana..hingga terjadi benturan keras..
Brughh!!!!!!!
''Aaarrggghhttt.........'' Alana menjerit ketika tubuhnya terlempar ke depan,...
__ADS_1
Liam mengeraskan wajahnya,...membuka kotak dasboar mobil dan mengambil dua buah pistol...lalu menatap Alana...
''Kau harus bisa menjaga dirimu Alana...ingat kau putri seorang Darren Hugo...''
Alana melebarkan matanya..terakhir kalinya memegang pistol ketika ia berusia 17 tahun..Daddy yang mengajarkannya.
''Liam.....''
''Aku yakin itu adalah anak buah Delvaro yang akan mencegah kita pergi....Alana...anak buahku telah menyiapkan mobil...kita akan kesana...''tujuk Liam pelan..ketika terdengar suara tembakan..
Alana menundukan kepalanya.....
''Aku takut,........'' jerit Alana mulai menangis...
Liam mengerang.....
''Tidak...tentu saja.......''
''Kalau begitu....cepat keluar.....pesawat akan segara berangkat..kita akan pulang Alana....''
Alana mengangguk.....
Mereka pun keluar dari dalam mobil yang telah di kepung dan betapa terkejutnya Alana melihat sosok yang tidak ia sangka berdiri di depannya dengan tatapan tajam..sementara pistol mengarah kepada mereka berdua,..hal yang sama juga di alami Liam..ia tak percaya bahwa pria yang menghadang mobil mereka adalah..
''Rafael.....'' ucap Alana dengan bibir yang gemetar,...
Ia sungguh tak menyangka jika Rafael adalah pria yang kejam..
__ADS_1
''Kalian pikir kalian bisa pergi begitu saja...'' teriak Rafael dengan murka..
Rafael kemudian mengarahkan pistol di kepala Liam sembari mengancam Alana...yang berdiri mematung dengan wajah syok...
''Alana...kau harus tinggal atau aku,...akan membunuhnya...'' teriak Liam dengan suara yang keras..
Deg!!!!
Alana membeku di tempatnya, airmatanya menetes...bagaimana bisa pria yang dia cintai selama 4 tahun ini tega melakukan ini kepadanya...?
Bagaimana mungkin Rafael tega....??
''Rafael...bukankah kau mencintaiku.......'' ucap Alana melangkah tanpa takut...
Meski saat ini Rafael masih mengarahkan pistol ke arahnya Alana sama sekali tidak gentar..
''Alana....bukankah kau terikat kontrak..beraninya kau ingin pergi...''
''Bukankah kau...berjanji akan membawaku pulang....lalu apa yang kau lakukan ini...beraninya kau ingin membunuh Liam......''
Alana mengeraskan wajahnya..lalu mengangkat pistol dan mengarahkannya di kepala Rafael...
Deg!!!!
Pasangan itu saling menodongkan pistol ke arah masing-masing...dan kenyataan itu membuat Rafael lemah...
''Alana........'' desahnya dengan mata yang basah....
__ADS_1