
“Maafkan
aku putraku, tapi ibu menetapi janji ibu padamu kan? Ibu harap kamu berubah,
semua manusia itu berhak untuk menentukan hidup mereka. Ibu sudah melakukan
semuanya untukmu, sekarang ibu harap kamu memperbaiki hidupmu di dunia ini”,
“Ibu, aku
kan sudah janji padamu bahwa aku akan memperbaiki hidupku. Aku tidak akan
menyakiti mereka, Bu!”,
“Bagus,
sekarang apa kamu ingin pergi keluar? Tapi ibu harap di malam hari saja, ibu
takut kamu melakukan hal di luar dugaan. Dengar Yoong, di luar sana banyak
manusia yang suka mengoda. Jadi ibu harap kamu tidak tergoda oleh mereka
apalagi dengan darah segar itu”,
“Ya bu
aku mengerti!”, Lalu Emelia pergi meninggalkan tempat itu. Sementara Yoong
hanya tersenyum manis. Ia mulai mempersiapkan dirinya untuk menyambut malam.
Emelia pergi menemui seseorang di sebuah rumah misterius. Ia menemui seorang pria.
“Kenapa lama sekali, Bu?,”tanya pria itu
“Maafkan aku putraku, tapi ibu menetapi janji ibu padamu kan? Ibu harap kamu berubah,
semua manusia itu berhak untuk menentukan hidup mereka. Ibu sudah melakukan
semuanya untukmu, sekarang ibu harap kamu memperbaiki hidupmu di dunia ini”,
“Ibu, aku kan sudah janji padamu bahwa aku akan memperbaiki hidupku. Aku tidak akan
menyakiti mereka, Bu!”,
“Bagus, sekarang apa kamu ingin pergi keluar? Tapi ibu harap di malam hari saja, ibu
takut kamu melakukan hal di luar dugaan. Dengar Yoong, di luar sana banyak
manusia yang suka mengoda. Jadi ibu harap kamu tidak tergoda oleh mereka
apalagi dengan darah segar itu”,
“Ya Bu aku mengerti!”, Lalu Emelia pergi meninggalkan tempat itu.
Sementara Yoong hanya tersenyum manis. Ia mulai mempersiapkan dirinya untuk menyambut malam.
Menjelang malam, cahaya bulan mulai datang dan orang-orang mulai berjalan keluar rumah.
Ada yang pulang dari tempat kerja dan ada yang jalan-jalan. Cahaya bulan yang
begitu mengoda dan mengundang orang-orang dari kegelapan untuk keluar mencari
mangsa selayaknya manusia.
Selamat datang dalam dunia kegelapan dan semua manusia itu tahu bahwa malam hari bahaya
__ADS_1
di luar rumah lebih besar di banding siang hari.
Yoong pergi keluar rumah dan mencari mangsa, raus akan darah manusia itu bisa saja
akan menjadi rasa haus terakhir kalinya atau pertama kalinya.
***
Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi, menghubungi kakaku begitu sulit.
Ia tidak mengangkat telpon dariku. Aku hanya menatap piring kosong dengan
secangkir air putih. Ya bagaimana lagi, perutku lapar dan persedian makanan
telah habis. Biasanya seminggu sebelum akhir bulan kakak datang atau
mengirimkan uang. Tapi sekarang aku merasa dia tidak akan datang atau
mengirimkan uang. Aku sedih sekali. Menatapi handphone yang ada di meja dan
berharap dalam beberapa menit lagi kakak akan menghubungiku. Tidak apa jika ia
tidak mengirimkanku uang, aku sudah bahagia mendengar kabar darinya. Tapi….
5 menit
berlalu, kakak tidak menghubungiku juga. Tiba-tiba saja aku mendapat telpon
dengan nomor tak dikenal. Segera kuangkat dan berharap itu dari kakak. Namun,
ternyata itu bukan dari kakak melainkan sebuah kabar buruk untukku.
“Selamat
malam, apa benar ini dengan keluarga Sha?”,
“Iya saya
“Maaf
kami dari rumah sakit umum Borneo telah menemukan Sha dalam keadaan tak
bernyawa. Kami turut berduka cita”,
Aku pun
meneteskan air mata, aku tidak pernah tahu akan secepat ini. Secepatnya aku
mengambil mantel, memasukan handphone di saku dan pergi ke rumah sakit. Tak ada
yang bisa aku gunakan untuk pergi ke sana selain berjalan kaki. Meski jauh, aku
akan tetap berjalan untuk menemui kakaku, Sha. Dalam keluargaku, aku hanya
memiliki dia. Dia yang selalu menjagaku selama ini hingga menyekolahkanku di
sekolah elite. Aku sangat sedih dan terpukul.
Dalam
perjalanan, tiba-tiba handphoneku berbunyi. Kulihat dari panggilan dari nomor
tak di kenal. Secepatnya kuangkat dan menghapus air mataku agar tidak diketahui
bahwa aku sedang sedih.
“Hallo,
ini siapa?”,
“Hey, kau
lupa denganku ya? Aku temanmu di sekolah”,
__ADS_1
“Aksara?”,
“Ya
benar! Kau dimana sekarang?”,
“Aku di
jalan, kenapa?”
“Aku juga
di jalan, kamu dekat mana dan dimana?”,
“Maaf aku
tidak bisa memberitahumu sekarang! Aku harus pergi”, menutup telpon dan
mempercepat langkah.
***
Setiba di
rumah sakit, aku segera meminta seorang suster untuk mengantarkanku menemui
kakak. Di ruang jenazah, aku diperlihatkan dengan kakak. Suster yang
mengantarku pun pergi dan kini aku sendirian. Melihat wajahnya yang pucat. Air
mataku kembali menetes, dan kucoba memegang tangannya tapi saat itulah aku
menemukan keanehan padanya. Ada berkas cakaran hewan besar didadanya, lengan
dan perut. Sepengetahuku kakak tidak pernah bekarja di malam hari atau bahkan
memelihara binatang besar.
Tiba-tiba
cristal biru yang berada di saku mantel mengelurkan cahaya, kuambil dan ia
menunjukan sesuatu yang telah terjadi menimpa kakaku. Aku melihat kakak di
serang oleh sekelompok orang tak dikenal. Orang-orang itu berubah menjadi wolf.
Kini aku pun tahu apa penyebab kematian kakak yang membuatku dendam pada
makhluk itu. Aku tidak akan menyangka jika makhluk itu masih ada dan kakak akan
menjadi korbannya.
Menutup
kembali kain pada tubuh kakak lalu pergi meninggalkan tempat ini. Terus
berjalan dan mencoba berpikir ada masalah apa kakak dengan makhluk besar
mengerikan itu. Kini aku pun harus mandiri tanpa kakak. Menundukan kepala di
sepanjang perjalanan menuju rumah hingga aku tidak sengaja menabrak seseorang.
“Maaf,
maafkan aku!,”ucapku sambil menundukan kepala dan pergi tapi orang itu menarik
tanganku. “Lepaskan aku!”,
“Hey,
kamu kenapa? Aku Aksara temanmu!”,
__ADS_1