Bride Of Vampire: The Revenge

Bride Of Vampire: The Revenge
Episode 104


__ADS_3

“Maafkan


aku putraku, tapi ibu menetapi janji ibu padamu kan? Ibu harap kamu berubah,


semua manusia itu berhak untuk menentukan hidup mereka. Ibu sudah melakukan


semuanya untukmu, sekarang ibu harap kamu memperbaiki hidupmu di dunia ini”,


 


 


“Ibu, aku


kan sudah janji padamu bahwa aku akan memperbaiki hidupku. Aku tidak akan


menyakiti mereka, Bu!”,


 


 


“Bagus,


sekarang apa kamu ingin pergi keluar? Tapi ibu harap di malam hari saja, ibu


takut kamu melakukan hal di luar dugaan. Dengar Yoong, di luar sana banyak


manusia yang suka mengoda. Jadi ibu harap kamu tidak tergoda oleh mereka


apalagi dengan darah segar itu”,


 


 


“Ya bu


aku mengerti!”, Lalu Emelia pergi meninggalkan tempat itu. Sementara Yoong


hanya tersenyum manis. Ia mulai mempersiapkan dirinya untuk menyambut malam.


 


 


 


 


Emelia pergi menemui seseorang di sebuah rumah misterius. Ia menemui seorang pria.


 


 


“Kenapa lama sekali, Bu?,”tanya pria itu


 


 


“Maafkan aku putraku, tapi ibu menetapi janji ibu padamu kan? Ibu harap kamu berubah,


semua manusia itu berhak untuk menentukan hidup mereka. Ibu sudah melakukan


semuanya untukmu, sekarang ibu harap kamu memperbaiki hidupmu di dunia ini”,


 


 


“Ibu, aku kan sudah janji padamu bahwa aku akan memperbaiki hidupku. Aku tidak akan


menyakiti mereka, Bu!”,


 


 


“Bagus, sekarang apa kamu ingin pergi keluar? Tapi ibu harap di malam hari saja, ibu


takut kamu melakukan hal di luar dugaan. Dengar Yoong, di luar sana banyak


manusia yang suka mengoda. Jadi ibu harap kamu tidak tergoda oleh mereka


apalagi dengan darah segar itu”,


 


 


“Ya Bu aku mengerti!”, Lalu Emelia pergi meninggalkan tempat itu.


 


 


Sementara Yoong hanya tersenyum manis. Ia mulai mempersiapkan dirinya untuk menyambut malam.


 


 


Menjelang malam, cahaya bulan mulai datang dan orang-orang mulai berjalan keluar rumah.


Ada yang pulang dari tempat kerja dan ada yang jalan-jalan. Cahaya bulan yang


begitu mengoda dan mengundang orang-orang dari kegelapan untuk keluar mencari


mangsa selayaknya manusia.


 


 


Selamat datang dalam dunia kegelapan dan semua manusia itu tahu bahwa malam hari bahaya

__ADS_1


di luar rumah lebih besar di banding siang hari.


 


 


Yoong pergi keluar rumah dan mencari mangsa, raus akan darah manusia itu bisa saja


akan menjadi rasa haus terakhir kalinya atau pertama kalinya.


 


 


***


 


 


Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi, menghubungi kakaku begitu sulit.


Ia tidak mengangkat telpon dariku. Aku hanya menatap piring kosong dengan


secangkir air putih. Ya bagaimana lagi, perutku lapar dan persedian makanan


telah habis. Biasanya seminggu sebelum akhir bulan kakak datang atau


mengirimkan uang. Tapi sekarang aku merasa dia tidak akan datang atau


mengirimkan uang. Aku sedih sekali. Menatapi handphone yang ada di meja dan


berharap dalam beberapa menit lagi kakak akan menghubungiku. Tidak apa jika ia


tidak mengirimkanku uang, aku sudah bahagia mendengar kabar darinya. Tapi….


 


 


5 menit


berlalu, kakak tidak menghubungiku juga. Tiba-tiba saja aku mendapat telpon


dengan nomor tak dikenal. Segera kuangkat dan berharap itu dari kakak. Namun,


ternyata itu bukan dari kakak melainkan sebuah kabar buruk untukku.


 


 


“Selamat


malam, apa benar ini dengan keluarga Sha?”,


 


 


“Iya saya


 


 


“Maaf


kami dari rumah sakit umum Borneo telah menemukan Sha dalam keadaan tak


bernyawa. Kami turut berduka cita”,


 


 


Aku pun


meneteskan air mata, aku tidak pernah tahu akan secepat ini. Secepatnya aku


mengambil mantel, memasukan handphone di saku dan pergi ke rumah sakit. Tak ada


yang bisa aku gunakan untuk pergi ke sana selain berjalan kaki. Meski jauh, aku


akan tetap berjalan untuk menemui kakaku, Sha. Dalam keluargaku, aku hanya


memiliki dia. Dia yang selalu menjagaku selama ini hingga menyekolahkanku di


sekolah elite. Aku sangat sedih dan terpukul.


 


 


Dalam


perjalanan, tiba-tiba handphoneku berbunyi. Kulihat dari panggilan dari nomor


tak di kenal. Secepatnya kuangkat dan menghapus air mataku agar tidak diketahui


bahwa aku sedang sedih.


 


 


“Hallo,


ini siapa?”,


 


 


“Hey, kau


lupa denganku ya? Aku temanmu di sekolah”,

__ADS_1


 


 


“Aksara?”,


 


 


“Ya


benar! Kau dimana sekarang?”,


 


 


“Aku di


jalan, kenapa?”


 


 


“Aku juga


di jalan, kamu dekat mana dan dimana?”,


 


 


“Maaf aku


tidak bisa memberitahumu sekarang! Aku harus pergi”, menutup telpon dan


mempercepat langkah.


 


 


***


 


 


Setiba di


rumah sakit, aku segera meminta seorang suster untuk mengantarkanku menemui


kakak. Di ruang jenazah, aku diperlihatkan dengan kakak. Suster yang


mengantarku pun pergi dan kini aku sendirian. Melihat wajahnya yang pucat. Air


mataku kembali menetes, dan kucoba memegang tangannya tapi saat itulah aku


menemukan keanehan padanya. Ada berkas cakaran hewan besar didadanya, lengan


dan perut. Sepengetahuku kakak tidak pernah bekarja di malam hari atau bahkan


memelihara binatang besar.


 


 


Tiba-tiba


cristal biru yang berada di saku mantel mengelurkan cahaya, kuambil dan ia


menunjukan sesuatu yang telah terjadi menimpa kakaku. Aku melihat kakak di


serang oleh sekelompok orang tak dikenal. Orang-orang itu berubah menjadi wolf.


Kini aku pun tahu apa penyebab kematian kakak yang membuatku dendam pada


makhluk itu. Aku tidak akan menyangka jika makhluk itu masih ada dan kakak akan


menjadi korbannya.


 


 


Menutup


kembali kain pada tubuh kakak lalu pergi meninggalkan tempat ini. Terus


berjalan dan mencoba berpikir ada masalah apa kakak dengan makhluk besar


mengerikan itu. Kini aku pun harus mandiri tanpa kakak. Menundukan kepala di


sepanjang perjalanan menuju rumah hingga aku tidak sengaja menabrak seseorang.


 


 


“Maaf,


maafkan aku!,”ucapku sambil menundukan kepala dan pergi tapi orang itu menarik


tanganku. “Lepaskan aku!”,


 


 


“Hey,


kamu kenapa? Aku Aksara temanmu!”,


 

__ADS_1


 


__ADS_2