
Cahaya bulan maih bersinar terang di luar, perpohonan lebat dalam hutan mencoba menolak kehadirannya, mereka lebih suka mengurung diri dalam kegelapan. Angin bertiup kencang mengarah pada vila ditengah hutan.
Angin berhembus kencang membentuk seseorang yang merubahnya menjadi dua pria. Dua pria berpakaian rapi dengan wajah putus asa. Kedatangan mereka berdua telah disambut oleh Netta dan yang lain.
“Hey, kenapa kalian? Mana dua gadis itu?”tanya Netta
“Huh…sudahlah, jangan membahas lagi!”ucap Akira kesal
Netta kebingungan, “Ada apa?”
Tanpa jawaban, dua pria itu langsung masuk ke villa. Akira segera menuju ruang dapur, ia mengambil minuman dalam kulkas. Minuman berbotol bewarna merah darah. Ia segera membukanya dan meletakan di bar. Duduk di kursi, lalu menuangkan minuman dalam dua gelas. Kemudian meminum minuman itu bersama Eren. Netta, Steven dan Roman menghampiri. Mereka duduk di kursi bar.
“Ada apa? Huh….tak dapat hari ini kan tidak masalah. Masih ada waktu 3 hari lagi kan”ucap Netta
“Hah…semua ini gara-gara gadis sialan itu!”ucap Eren dengan nada tinggi. Spontan dirinya pun melemparkan gelas ke lantai hingga pecahan beling menyebar.
Netta dan yang lain kaget melihat tingkah Eren. Spontan Akira juga melakukan yang sama. Keadaan menjadi kacau. Kedua pria ini nampak marah.
“Siapa yang kamu maksud?”tanya Steven
“Violin, dia melindungi dua gadis itu. Kami mencium aromanya, ia memasukan kedua gadis itu ke dalam buku. Lalu Violin menghilang begitu saja”ucap Akira
“Gadis itu harus kita temukan, ia tak akan membiarkan kita menemukan Gisel dan Hani”,
“Benar….ah…aroma ini”cium Akira.
Aroma manusia tercium dari dalam rumah, aroma tubuh yang sama. Roman menatap Eren dan Akira sebentar lalu dengan cepat ia berlari menuju kamarnya. Dalam sekejab mata Eren, dan Akira berubah menjadi merah darah. Kuku mereka memanjang, dan taring yang keluar dari mulut. Eren dan Akira pun mulai berlari cepat meninggalkan bar.
Tetapi langkah mereka berdua terhalang oleh Netta dan Steven yang dengan cepat menghalangi. Netta dan Steven mengubah wujud mereka menjadi vampire.
“Jadi kalian juga melindunginya?”tanya Eren
“Tidak, ini bukan waktunya untuk menemukan. Dia sakit!”
“Aku tidak peduli, dalam permainan ini tidak aturan lain selain menemukan dua gadis itu”,
“Jadi menyingkirlah!”
“Tidak, kalian tetap disini. Kita bisa menanyakan padanya baik-baik kan?”
“Untuk apa? Dia melarikan diri, dia ketakutan dan itu artinya dia tak akan membiarkan temannya untuk menjadi bagian dari kita!”
“Menyingkir!”
“Tidak!”
“Atau aku akan melakukan kekerasan padamu!”
“Hah….aku akan melawanmu!”
Akira menyentuh pundak Netta, dalam sekejab Netta langsung terdorong jauh. Tubuhnya menghantam dinding. Steven yang melihat kekasihnya terluka oleh perbuatan Akira segera membalas. Ia menyerang Akira. Perkelahian antara vampire terjadi hingga menghancurkan bar. Dalam situasi itulah Eren cepat berlari menuju kamar Roman.
Saat Eren pergi menuju kamar Roman, Steven mencoba mencegahnya tapi ia mendapat serangan dari Akira. Hingga tubuhnya terlempar jauh mengenai dinding, tepat disamping Netta. Steven terlutut, dia pun melihat tubuh Netta yang tak sunggup berdiri lagi.
Netta berusaha melihat ke depan dengan darah yang keluar dari mulutnya. Netta menoleh ke arah Steven dengan air mata yang jatuh ke pipi. Steven yang melihat Netta terluka, tidak terima. Ia pun mengejar Akira. Tapi Netta mencegahnya.
“Steven! Sudahlah…bantu aku!”
Steven menoleh ke kamar Roman, ia mengurung niatnya untuk mengejar dan membalas Akira. Steven segera menolong Netta, mengepohnya hingga menuju kamar Netta. Membaringkan Netta di kasur, lalu menyelimuti dirinya.
“Hah…ini sangat kacau! Kamu terluka, apa yang harus kulakukan untukmu?”tanya Steven sambil menyelimuti tubuh Netta.
“Tidak, aku baik-baik saja. Aku hanya perlu istirahat sebentar”,
“Hah, aku akan menyusul Roman. Aku akan mencarinya, aku takut Eren dan Akira menyakiti gadis itu”,
“Baiklah, sebaiknya cepat!”
“Tapi apa kamu akan baik-baik saja?”
“Tentu, aku akan baik-baik saja”
“Baiklah, jaga dirimu?”
“Ya”,
Steven pun pergi keluar kamar, ia tak lupa menutup pintu. Lalu mengejar Eren dan Akira. Steven menuju kamar Roman. Namun tidak mendapati Roman bersama Violin disini. Steven pun menggunakan kemampuannya sebagai vampire. Ia mencium aroma Violin yang beberapa saat yang lalu masih ada disini. Aroma tubuh Violin lah yang menuntun Steven. Aroma itu menuntun keluar dari kamar Roman lewat jendela, lalu pergi meninggalkan villa. Steven terus mengikuti aroma tubuh Violin hingga menuju hutan, menuju jalan keluar dari villa ke kota.
Di kota, tempat keramaian. Mobil dan motor berlalu-lilang. Orang-orang menyeberang jalan dan menikmati keindahan kota di malam hari. Steven memperlambat langkahnya, ia melihat Eren dan Akira yang terhenti di tepi jalan raya. Mobil yang melalu-lintas telah menghambat penciuman mereka. Kini mereka semua mengubah diri menjadi manusia. Aroma tubuh Violin telah dikelabui oleh bau asap mobil dan kendaraan. Hingga aroma itu tak lagi tercium.
__ADS_1
Steven pun cepat kembali mengubah dirinya menjadi vampire, lalu pergi meninggalkan kota ini menuju villa. Sementara itu, Eren dan Akira kesal. Mereka tak habis pikir kalau Roman telah melindungi gadis itu dan membawanya pergi.
“Sial! Kenapa begini?”ucap Eren
“Menurutmu, dia akan membawa Violin kemana?”
“Ke rumah gadis itu?”
“Tentu tidak, rumah itu mudah kita serang!”
“Lalu?”
“Ke tempat aman yang tak bisa kita lewati kecuali Roman”
“Hah, Roman! Lihat saja nanti, jika aku mendapatkannya aku akan membuat dia tak terampuni!”
“Bodoh!”ucap Akira memukul kepala Eren,
“Aaaaa….wwww..sakit! Kenapa memukulku?”
“Roman adalah pangeran, kau ingin melawannya? Yang benar saja, kita hanya menemukan Gisel dan Hani jadi perbaiki sikap kita jika ingin bertemu dengan mereka”
“Oh baiklah, itu ide yang bagus!”
“Lain kali berpikirlah yang jernih”ucap Akira yang kemudian pergi meninggalkan Eren. Eren masih memperhatikan mobil dan kendaraan di jalan raya.
Eren pun menarik napas panjang dan menghembuskannya, “Haaaahh….semua ini karena asap mobil dan motor. Semuanya menghilang!”
Karna tak aja jawaban dari Akira, Eren pun lihat kanan dan kiri. Dirinya tidak menemukan Akira. Eren kaget dan panik, ia segera mencari Akira yang mungkin tak jauh dari sini.
Di keramaian kota, orang-orang mencari hiburan di malam hari. Di setiap tepi jalan, Eren dan Akira bertemu dengan gadis, perempuan, dan laki-laki pemabuk. Perempuan yang berpakaian seksi, gadis-gadis yang suka mencari perhatian dan laki-laki hidung belang lebih banyak ditemukan disini. Akira yang melintasi mereka hanya tersenyum manis. Senyuman dan sapaan mereka begitu manis, tetapi Akira tidak menilai mereka dari penampilan yang mereka perlihatkan. Akira membaca pikiran mereka yang begitu mengoda namun dengan kegelapan yang semakin gelap dalam hati dan perasaan mereka pada laki-laki.
“Tampan, mau kah kau jalan-jalan denganku?”godanya pada Akira
“Terima kasih Nona cantik!”jawab Akira langsung pergi meninggalkannya.
Seiring perjalanannya, ia mendapatkan sapaan dan godaan yang membuatnya membuang muka dan tidak peduli.
Sementara Eren yang mendapatkan godaan itu justru melarikan diri menuju gang, ia segera mengubah dirinya menjadi vampire lalu pergi meninggalkan tempat ini.
“Sialan, tempat apa ini? Dunia memang sudah berubah, membusuk!”guman Eren yang pergi secepat kilat.
Setiba di lantai atas, kamar Roman. Ia segera membaringkan Violin di kasur empuk, menyelimutinya dengan selimut hangat. Violin belum juga terbangun setelah jatuh pingsan tanpa sebab. Roman pun segera keluar dari kamar bersama asisten rumah yang mengikutinya.
“Tolong panggilkan dokter, dan minta penjaga untuk berjaga lebih ketat lagi. Jangan biarkan Eren dan Akira masuk ke rumah ini apapun alasan mereka!”
“Baik, Tuan Roman”ucap salah satu dari mereka.
Lalu mereka pergi meninggalkan Roman, mereka mulai melaksanakan tugas yang diberikan. Roman pun mondar-mandir memikirkan keadaan Violin. Roman takut Violin terluka atau bahkan tak akan bangun untuk selamanya. Hal inilah yang membuat sakit kelapanya datang. Roman merasakan kepalanya mulai sakit. Ia pun memutuskan untuk meminum sesuatu. Ia segera ke bar, dan meminta minuman special untuknya.
Roman duduk di kursi bar dan mulai minum minuman yang telah disajikan.
“Ya Tuhan, kenapa harus begini? Apa aku harus kehilangan dia? Aku percaya dia adalah Alecia. Aku sungguh percaya dia kembali untukku!”.
Seorang pria menghampiri dirinya, ya Pak Dir. Dia datang ke tempat ini karena ini juga rumahnya namun seutuhnya adalah milik Roman. Pak Dir hanyalah orang yang diberi kepercayaan untuk memimpin perusahaan.
“Kau disini? Ada apa? Kudengar kamu membawa seorang gadis, siapa dia?”tanya Pak Dir sambil duduk disebelah Roman dan memesan minuman bir. “Ambilkan aku bir soda satu gelas”pintanya pada pelayan.
“Ya, dia adalah Violin”
“Apakah dia gadis dari Vionerina?”
“Ya, benar. Aku ingin kamu menjaga dia untukku selama aku pergi. Jangan biarkan Eren dan Akira mendekatinya atau bahkan sampai menyentuh dirinya. Pastikan dia aman!”
“Baik, Tuan Roman. Akan kulakukan. Tapi apa yang sebenarnya terjadi?”
“Ya ampun kamu memang pria yang seperti perempuan. Lakukan saja perintahku! Atau kamu ingin menerima akibatnya?”
“Ah…tidak Tuan. Aku akan melakukannya!”jawabnya dengan rasa takut.
Seorang pria di sebuah gang, berpakaian serba hitam dengan jas mantel nan hangat. Hingga angin malam pun tak dapat menusuk kulitnya. Seorang pria yang sibuk dengan handphone dan orang-orang disekitarnya berbicara dengan teman disebelah namun diam-diam telah memperhatikan tingkahnya.
Bulan masih bersinar di atas, malam ini akan menjadi malam yang panjang bagi Ethan. Pria yang berdiri di jalanan dan sibuk dengan ponselnya. Dibawah cahaya lampu yang terang, Ethan mencoba menghubungi Violin.
“Ah…nomornya adalah 08XXXXXXXXXXX, semoga saja mau tergubung!”guman Ethan mulai memanggil.
Rumah besar Tuan Roman,
Kedatangan seorang dokter telah membuat Roman menyambutnya dengan kehangatan. Ia segera menemani dan menunjukan dimana Violin. Begitu di kamar Roman, dokter pun segera memeriksa kesehatan Violin. Denyut nadi, detak jantung, dan mata. Setelah memeriksanya, dokter segera menghampiri Roman.
__ADS_1
“Dia hanya kelelahan dan perlu istirahat, pastikan dia tidak terlalu banyak beraktifitas. Beri dia makanan yang sehat, istirahat yang cukup”,
“Hanya itu? Tidak ada resep obat?”
“Tidak, dia hanya kelelahan. Dan obat tidak akan membantunya sedikit pun”,
“Terima kasih dokter”
“Semoga dia cepat sembuh!”
Kemudian sang dokter keluar dari ruangan bersama Pak Dir. Sementara Roman mendekati Violin yang masih tidur. Ia menunggu Violin hingga terbangun. Ia duduk di kursi dekat Violin. Roman pun memegang tangan Violin, lalu berkata “Violin, aku sangat berharap kamu adalah Alecia. Sampai kapanpun aku akan menunggumu kembali. Maaf…maafkan aku, Violin. Aku tidak tahu harus bagaimana, tapi aku akan menjagamu dan tak akan membiarkan sahabatku menyakitimu sedikitpun. Aku akan menasehati mereka atas tindakan yang baru saja mereka lakukan padamu hingga kamu kelelahan. Atau aku akan memberi mereka pelajaran yang berharga dan akan diingat selamanya pada mereka! Sekarang, Violin. Bangunlah untukku, Rasi dan Martha percaya padamu bahwa kamu adalah reinkarnasi dari Alecia. Aku sungguh ingin memperbaiki segalanya. Aku ingin memperbaiki masa lalu kita. Aku janji tak akan menyia-nyiakanmu sedikitpun. Tak akan pernah.”
Saat itulah terdengar bunyi handphone dari dalam tas Violin. Roman pun segera mengambil ponselnya. Ia melihat panggilan tak terjawab dari penelpon yang bernama Ethan.
“Ethan? Ini sungguh kamu? Atau hanya orang lain? Oh, jadi vampire itu juga mendekati gadis ini. Dia mencoba mencari perhatian Violin ya? Hah, lihat saja nanti apa kamu mampu bersaing denganku?”ucap Roman yang kemudian mematikan ponsel Violin agar Ethan tak dapat menghubunginya saat ini.
Ethan yang berulang kali mencoba menghubungi Violin tak kunjung juga telponnya terhubung.
“Maaf…nomor yang Anda hubungi sedang sibuk! Silahkan jomblo menyingkir!”
“Huh…apa dia sudah tidur ya? Hah..inikan hanya jam 11 malam! Ya baiklah besok aku akan menemuimu”guman Ethan mulai kesal pada ponselnya karna tak kunjung juga terhubung dengan Violin.
Ethan pun mulai memutuskan untuk pergi meninggalkan jalanan ini. Ia berjalan menuju mobilnya yang terpakir di pinggir jalan. Pergi meninggalkan tempat ini begitu saja. Tak lama kepergian dirinya, sekelompok pria yang berada di pinggir jalan itu juga ikut pergi. Mereka semua mulai berburu. Ya mereka adalah vampire dan anak buah Ethan.
Kastil Drakula, kastil yang diselimuti kegelapan malam ditengah hutan dekat dengan VA. Kini VA pun telah dipenuhi oleh murid baru. Peraturan pun masih seperti dulu untuk menarik orang-orang untuk belajar disini, atau bahkan menjaga keamanan dari serangan vampire jahat.
Marta dan Rasi mengamati kegelapan di luar kastil ini.
“Apa kita tak punya catatan tentang sihir untuk membuat Roman lebih bahagia?”tanya Marta
“Tidak ada, kecuali pejuangan cinta. Ya dia harus menemukan cinta sejati dan melupakan Alika atau bahkan gadis itu”jawab Rasi
“Kau tahu, aku merasa kehidupan ini semakin dekat semakin membuatku tak bisa bernapas. Semuanya akan sirna, tetapi aku lebih takut dengan kehidupan ratu kita. Aku takut, dia melupakan kita”,
“Kurasa mungkin dia tidak melupakan kita. Ia hanya menjauh dari kita. Kita tahu bahwa janji itu teringkari. Itu sangat menyakitkan!”
“Mengapa Roman tidak menikahi dia saja sejak awal?”
“Itu adalah….tak semudah itu!”
“Ya Tuhan, kenapa harus ada perpisahan diantara mereka? Kenapa harus ada akibat dari reinkarnasi? Mengapa akibatnya tidak dipersatukan saja dengan orang yang kita cintai?”
“Itu sudah risiko dari semua ini, dan kau tahu kita tak bisa mengalahkan waktu bahkan penyihir terkutuk sekalipun!”
“Lalu apa yang harus kulakukan? Aku yakin diluar sana akan ada banyak rintangan untuk menemukan Alika yang sebenarnya”,
“Mungkin sampai gadis itu mengaku dirinya adalah Alika”
“Ya, haruskah kita menjebaknya hingga ia mau mengaku?”
“Tidak, tapi menikahinya lebih dulu dan memberi cinta dengan tulus adalah jawaban terbaik dari masalah ini”,
“Ya benar”,
“Apa Roman akan setuju?”
“Tentu saja, dia akan melakukan apapun sebelum terlambat!.”
“Hah, Roman….Roman…sampai kapan kamu terus menantikan dia? Hah…”
“Mengapa kamu berucap begitu?”
“Hah, kau tau sendiri kan kalau dia bukanlah gadis yang diciptakan Tuhan!”
“Maksudmu?”
“Maksudku adalah dia adalah gadis reinkarnasi. Setiap reinkarnasi memiliki risikonya, dan hingga dia menemukan tubuh untuk ditinggali”,
“Tapi bukankah dia dilahirkan oleh perempuan malang itu?”
“Ya aku tahu, tapi seingatku reinkarnasi seperti itu adalah pembangkitan dan bukan reinkarnasi murni. Perjanjian itu telah terjadi, ia sekarang pasti mencari tubuh untuk ditinggali”,
“Bagaimana dengan Violin?”
“Entahlah, mungkin itu adalah dia atau dia adalah perantara!”
“Hah…ya kamu benar. Lalu apa kita harus membantunya mendapatkan tubuh Violin?”
“Mungkin! Tapi sekarang bukan waktu yang tepat. Aku ingin melihat gadis itu bertemu dengan Alika. Aku ingin tahu apakah Alika akan mengambil tubuhnya suatu saat nanti!”
__ADS_1