
“Jadi siapa yang akan kamu pilih?”
“Aku tetap memilih gadis itu, dan Xia. Kalau kamu sendiri siapa?”
“Aku... ya karna empat gadis sudah tidak ada maka aku memilih Violin dan dua temannya. Untuk anak perempuan, aku memilih mereka. Untuk anak laki- laki, ya aku memilih Roman.”
“Hah, jika pilihanmu adalah mereka ya tentu saja menang. Mereka tidak pernah terkalahkan. Ah ya, kalau melawan Buniv dengan VA itu siapa yang akan menang? Buniv melawan Akademi Yexiao. Atau VA melawan pengawas kita?”
“Pertanyaan yang sulit, entahlah. Tapi kita lihat saja nanti! Klan vampir akan tetap memang melawan siapapun, bukan jadi masalah.”
“Penyihir?”
“Itu sedikit masalah!”
Mendengar jawaban temannya, ia pun tertawa. Ya memang benar, jika melawan penyihir tentu akan jadi masalah. Klan vampir bukan tandingannya.
Ocehan orang- orang itu terus saja kudengar hingga aku selesai mengambar ruangan ini dengan baik. Gambaranku tidak terlalu buruk, setidaknya aku bisa mengambarkan ketepatan posisi tiap barang disini.
Tiba- tiba saat itu lah pengawas akademi datang, ya diantara mereka tidak lain adalah Violin, Gisel, Hani, Zanko dan Roman. Mereka semua berjalan mendekati kaca yang ditata rapi di dinding. Ya mereka akan pergi ke dunia Glasland.
__ADS_1
Namun langkah mereka terhenti, ketika seorang pengawas keluar dari Glasland dengan keadaan terluka. Orang itu terjatuh ke lantai dan tubuhnya di penuhi luka dengan darah yang mengalir. Roman yang melihat anggotanya terluka segera mendekatinya. Kedatangan orang itu membuat kami semua disini kaget.
Roman mendekatinya, “Apa yang terjadi?” tanya Roman sembari membantunya duduk.
Dengan napas yang terputus- putus, orang itu menjawab “A-ada orang yang menyerang Glasland. D-dia me-menghancurkan lapangan ujia-an kit-a!” seketika itu dia jatuh pingsan tak sadarkan diri.
“Ini gawat! Ada orang yang menghancurkan lapangan ujian ability magie. Violin, kamu bawa dia ke ruang kesehatan. Obati lukanya, aku dan Zanko akan ke dunia Glasland. Kami akan melihat- lihat apa yang telah terjadi” ucap Roman.
“Aku ikut!” ucap Violin.
“Ya baiklah, Hani dan Gisel. Tolong urus dia ya?”
“Ayo kita pergi ke Glasland, yang lain tolong tetap disini pastikan tidak ada yang masuk ke Glasland hingga kami kembali dan memastikan tempat itu aman!” pesan Roman pada anggota yang lain.
“Ya, serahkan saja pada kami!” jawab anggota lainnya.
Kemudian Roman, Violin dan Zanko pergi ke Glasland. Anggota pengawas akademi yang lain segera menolong pria yang terluka itu, dan mengamankan tempat ini. Demi mengamankan tempat ini, mereka meminta kami keluar dari tempat ini. Di luar gedung aula ini, kami semua menunggu kedatangan Roman dan yang lainnya.
Aku melihat semua ini dan hanya diam saja. Aku menjauhi tempat itu seperti yang mereka minta. Kepala akademi pun ikut turun tangan bersama guru lainnya. Mereka hanya bisa berharap pada Roman.
__ADS_1
Semua orang penuh harap mereka akan kembali secepatnya, waktu pun mulai terasa berjalan lambat.
Sisi lain tempat, dunia Glasland.
Roman dan yang lainnya segera bergerak cepat menuju lapangan ujian ability magie. Untuk cepat tiba di lapangan ujian ability magie, mereka menggunakan kemampuan mereka. Dari kejauhan mereka telah melihat lapangan itu telah hancur setengahnya. Mereka juga melihat pelakunya. Mereka terus menghancurkan lapangan itu menjadi berkeping- keping.
Suara keras dari lapangan yang di hancurkan, “Brushh!!!” kini lapangan ujian ability magie telah hancur. Semua telah rata menjadi tanah. Orang yang menghancurkan lapangan ujian ability magie pun terlihat. Ia tidak sendirian, ia bersama seorang pria.
Roman di buat kaget, ia tidak menyang orang yang menghancurkan lapangan ujian ability magie itu tidak lain adalah orang yang pernah di lihatnya beberapa waktu yang lalu. Wajah yang tidak asing baginya.
Roman dan yang lain pun berhenti tak jauh dari dua orang itu.
Wanita yang menghancurkan lapangan ujian ability magie tersenyum manis.
“Wah, ada tamu lagi rupanya! Sayangnya kalian semua datang terlambat ya. Sha, ayo kita pergi!” ucapnya pada pria yang ada di sampingnya mengenakan mantel bewarna cokat.
“Baiklah! Apa kamu tidak ingin bersenang- senang dulu dengan mereka? Mereka terlihat sama dengan pengecut itu!”
“Hah, aku rasa tidak. Ada orang besar disini, penyihir bulan!” jawabnya segera menggenadalikan pasir. Pasir – pasir yang ada di sekitar pun mulai mengarah padanya mengelilingi mereka berdua, dan seketika itu lah mereka lenyap menghilang.
__ADS_1
Roman dan yang lain telah kehilangan jejaknya. Roman dan yang lain tidak pergi begitu saja. Mereka mendekati hancuran lapangan ujian ability magie. Tidak ada yang tersisa disini, semuanya telah hancur rata dengan tanah. Tidak ada barang yang berharga dari semua ini tetapi bukan berarti tidak penting. Lapangan ini akan digunakan dalam beberapa hari ke depan, tetapi sekarang telah rata dengan tanah.