
“Apa maksudmu? Sekarang bukan waktunya untuk berdebat. Tapi waktunya bekerja sama tau!”
Tiga puluh menit di perjalanan, akhirnya mereka tiba di labirin. Mereka bergegas membeli tiket dan masuk bersamaan ke dalam labirin.
Mengelilingi labirin sembari menuju pintu keluar. Mereka semua tidak memisahkan diri.
“Ya sepertinya tempat ini tidak ada apa-apanya!”
“Hem... tapi kenapa petunjuknya meminta kita datang kemari? Apakah mungkin Akademi Yexiao salah memberi informasi?”
“Hei, itu tidak mungkin salah! Lalu bagaimana dengan Buniv, apakah Buniv juga salah? Tidak mungkin kan?”
“Ya, ucapanmu benar juga!”
“Ya ampun, sejak kapan kalian akrab? Bukannya Buniv dan Akademi Yexiao selalu bertengkar ya?”
“Apa maksudmu? Sekarang bukan waktunya untuk berdebat. Tapi waktunya bekerja sama tau!”
“Ah, ya maaf maaf....!”
Kemudian mereka melanjutkan perjalanan hingga tiba di tengah- tengah. Mereka kembali berhenti. Seseorang melihat kebelakang, ia sejak tadi berjalan dengan temannya. Temannya berada di belakang.
“Zhe.... jadi bagaimana menurutmu?” ucapnya meminta pendapat temannya yang berada di belakang.
Tidak ada jawaban, ia pun menoleh kebelakang. Ia terkejut Zhe, temannya sudah tidak ada.
Ia pun berteriak memanggil Zanko, “Zanko! Zhe tidak ada!.”
__ADS_1
Zanko pun menoleh kebelakang, ia mengarahkan pandangannya pada orang telah yang telah memanggil dirinya.
“Ya, ada apa?”
“Zhe tidak ada! Tadi dia bersama kita”
“Zhe? Apa mungkin dia ketinggaln dibelakang? Beberapa menit lagi dia akan kemari!”
“Tidak, Zhe dan aku tidak pernah terpisah. Jika Zhe ketinggalan ia pasti sudah berteriak memanggil namaku!”
“Oh, mungkin ada sesuatu yang terjatuh jadi ia tidak sempat memanggilmu!”
“Hah, begitu ya?!”
“Zanko, Yunan juga tidak ada. Dia bersamaku tadi!” keluh seseorang.
Mereka pun secepatnya menghitung, dan mulai menyadari ada temannya yang tertinggal dijalanan.
“Zanko, aku rasa hanya ada tiga. Seorang gadis roker pendiam itu juga menghilang!”
“Hah, menghilang?”
“Ya, bagaimana ini?”
“Kita berpencar saja, beberapa sebagian kembali ke pintu masuk dan yang lain tetap maju ke depan!” saran Zanko.
Kemudian kelompok itu pun dibagi, Xia dan Eun ikut dengan mereka yang menuju pintu masuk. Sementara Zanko melanjutkan perjalanannya mencari petunjuk lainnya mengarah pada pintu keluar labirin.
__ADS_1
Saat beberapa langkah jauh dari kelompok, terdengar suara dengusan binatang buas dan suara yang mengerikan. Kedua kelompok itu menghentikan langkahnya, dan tak seorang pun mengeluarkan kata- kata. Telinga mereka mulai menajam mendengarkan suara binatang buas yang baru saja mereka dengar. Mereka pun kembali mendengar dengusan. Entah binatang apa, tetapi dengusan itu seperti sangat dekat dengan mereka semua hingga dedaunan sebagai labirin itu mengering seperti telah terbakar oleh api.
Tiba- tiba terdengar suara teriakan seseorang, suara teriakan seorang perempuan yang tidak lain adalah suara Zhe.
“Tolong!! Tolong aku, siapa saja. Tolong aku!”
Lalu terdengar suara Yunan, “Aaaa... Zhe!!!.”
Dua teriakan itu terdengar jelas, terdengar tak jauh dari keberadaan mereka. Mereka pun bergegas berlari ke sumber suara itu. Sumber suara itu berhenti di tengah labirian yang berjalan buntu. Beberapa tanaman yang menjadikan labirin telah hangus terbakar oleh api. Tetapi tidak ada Zhe dan Yunan disini. Tidak ada siapa disini, hanya kobaran api kecil yang kemudian lenyap begitu saja.
“Dimana Zhe?”, “Zhe.... Zhe!” teriak temannya yang mulai mengkhawatirkan Zhe.
“Yunan! Yunan! Ini kami, kamu dimana?” teriak teman- teman dari Buniv.
Tetapi tak ada jawaban. Zanko memperhatikan api yang membayar dedaunan di labirin ini sebelum padam, ia melihat api itu bukanlah api biasa melainkan api sihir. Tidak ada api yang mudah paham begitu saja kecuali api sihir yang telah dikendalikan oleh seseorang. Disini juga tidak ada hujan dan angin.
“Sebaiknya tetap bersama. Jangan ada yang berpencar!” ucap Zanko menyarankan.
“Bagaimana dengan Zhe?”
“Yunan! Dia tidak menjawab, bagaimana dengan Yunan?”
“Jangan khawatir, mereka berdua pasti baik- baik saja!”
“Baik- baik saja, katamu? Apa kamu tidak lihat apa yang baru saja terjadi? Mereka berdua berteriak, dengusan binatang buas dan api yang membakar teman ini! Dan kamu mengatakan ini baik- baik saja?” ucap teman Zhe yang mulai marah.
“Tenang lah! Kau lihat sendiri kan? Jika mereka terluka, bukankah sekarang mereka ada disini?”
__ADS_1