Bride Of Vampire: The Revenge

Bride Of Vampire: The Revenge
Episode 52


__ADS_3

Kastil Drakula,


Roman hanya menatap kepergian Violin, Ethan pun menyusul Violin.


“Eren, Akira. Sebaiknya kalian segel atau ajarkan dua kekasih kalian itu. Ia bisa saja menghambisi gadis itu. Ia nampak tak takut untuk datang kemari demi sahabatnya. Kita harus mencari tahu dimana sahabatnya itu”ucap Roman.


“Hah, Violin. Maafkan kami…”ucap Gisel menangis,


Hani segera memeluk Gisel, sementara dua kekasihnya tak bisa berbuat apa-apa. Mereka mencoba berpikir bagaimana caranya mengembalikan persahabatan mereka.


Eren pun segera menarik tangan Gisel pergi menuju ruangan, iringi Akira yang menarik tangan Hani.


“Gisel, maafkan aku. Karna aku persahabatan kalian hancur, maka dengan terpaksa aku harus mensegel kekuatan kamu. Tapi kita akan tetap bersama”ucap Eren


“Ya hanya itu satu-satunya cara agar persahabatan kalian kembali”,


“Benarkah?”ucap Gisel berhenti menangis,


“Ya, jadi berhentilah menangis”senyumnya.


Eren dan Akira mulai menyegel kekuatan Gisel dan Hani. Mereka kembali seperti manusia.


“Sekarang kita pergi menemui temanmu itu, kita harus membujuknya”senyum Akira pada Hani.


“Ya, aku sangat legah bisa kembali”.


***


Ethan mengiringi langkahku yang berjalan pulang menuju kota,


“Kamu sedang marah? Temanmu akan baik-baik saja, mungkin temanmu itu hanya bercanda”,


“Apa? Bercanda? Kau pikir aku akan menerima temanku seperti itu. Aku hanya tidak ingin temanku terluka seperti cerita vampire lainnya. Apa lagi aku pernah mendengar bahwa ada  pemburu vampire”,


“Ya, aku sebenarnya tidak begitu membenci mereka. Aku hanya ingin temanku kembali”,


“Apa kau juga akan terus berjalan seperti ini untuk sampai ke rumah?”,


“Tentu saja tidak, aku akan mencari bus atau taksi”,


“Ya baiklah, aku ikut denganmu”,


“Tentu, senang bertemu denganmu lagi”


Di tepian jalan, aku dan Ethan menunggu bus beberapa saat. Enam menit menunggu, bus datang dna kami segera naik. Duduk di dekat jendela dan Ethan disampingku. Bus mulai berjalan, bus ini menuju kota tempat tinggalku.

__ADS_1


“Ethan, boleh aku tanya sesuatu padamu”tanyaku sambil memangku erat kotak barang.


“Ya apa?”,


“Kamu waktu itu datang menyelamatkanku, kamu sedang apa?”,


“Maksudmu?”,


“Ya maksudku, kamu sedang apa? Mengapa tahu aku ada disana, kau tidak mengikutiku kan?”,


“Tidak, aku mendengar teriakanmu jadi aku segera datang. Kebetulan aku jalan-jalan juga di tempat itu”,


“Jalan-jalan?”,


“Ya, aku menemui seseorang di Buniv”,


“Oh begitu, syukurlah jika kamu tidak mengikutiku”senyumku.


***


Bus berhenti di halte tak jauh dari rumahku,


“Ethan, sampai jumpa lagi”ucapku.


“Hah, akhirnya aku mendapatkanmu lebih dulu. Aku akan terus mengikutimu, lihat apakah temanmu akan muncul nanti”senyum Ethan.


***


Setiba di rumah, aku segera membuka pintu dan masuk ke kamar. Meletakan kotak barang milik temanku itu di atas meja belajar. Mences handphone, lalu duduk di kursi. Membuka kotak barang, melihat isinya yang tak lain adalah buku catatan warna biru biru muda dengan gambar bulan ditengahnya dengan kunci bentuk bulan sabit, bunga mawar biru yang masih segar, dan beberapa barang dan kartu alamat.


Mengambil buku catatan, lalu berupaya membukanya.


“I….hhh, ya ampun susah sekali di buka. Ini buku apa sih? Ya ampun, gini nih jadinya kalau punya teman media social yang minta diambilan barangnya. Uh, kenapa juga aku harus ngambil barang miliknya”gumanku mengeruntu lalu meletakan kembali buku itu dalam kotak, dan mengambil buku alamat.


“Disini alamatnya di Rumah Anggrek, taman pinggir, taman danau. Hem…maksudnya apa ya? Semua alamat itu tertuju pada taman, satu taman ya taman kota. Ada apa sih disana? Baiklah aku akan kesana”.


Kembali duduk di kursi, menyalakan handphone. Melihat jam yang tertera di handphone.


Sebuah pesan telah masuk,


Pangeran Rahasia, “ Kamu dimana? Sudah pulang?”,


“Maumu apa? Aku sudah di rumah”,


“Hah, bagus kalau gitu. Jangan lupa masak makanan buat aku, aku akan segera pulang. Jadi makanan itu harus sudah ada di meja makan”,

__ADS_1


“Apa? Enak saja, aku bukan istri kamu tau. Dan kamu itu cuman numpang tinggal, CEO”,


“Jadi begitu, maka aku akan membuatmu menjadi istriku. Lihat saja nanti”,


“Apa? Kau gila atau sedang sakit? Pangeran, kau tahu aku masih pelajar dan aku tidak bisa memasak juga karena tidak ada bahan makanan di rumah. Kau pikir aku punya uang untuk membeli bahan makanan. Mengapa kau tidak datang kemari dengan membawa bahan makanan agar aku bisa memasaknya untukmu. Kau tahu, temanmu telah menghancurkan hidupku dan sekarang kamu datang menghancurkan hidupmu. Kau keterlaluan!”,


Emosiku memuncak dan tak membalas pesan yang masuk lagi. Handphone itu tak tersentuh walau banyak pesan masuk.


***


Roman yang sedang dalam mobil menuju rumah Violin tersenyum manis sambil menyimpan handphonenya dalam saku.


“Hah, lihat bagaimana kamu bisa mengadukan diriku pada temanmu. Aku ingin temanku keluar dan menemuiku”senyumnya.


Roman meminta sopir pribadinya untuk mampir ke Toko Raksasa Besar, ia segera turun dari mobil dan berbelanja bahan makanan sendiri. Kehadirannya membuat orang-orang segera bergegas melayaninya sepenuh hati dan gadis-gadis mencoba mencuri perhatiannya.


Roman mempercepat belanja bahan makanan di bantu dengan pelayan toko, lalu menuju kasir tanpa peduli gurauan gadis-gadis.


“Hah, repot sekali. Maaf nona, bisa bawakan belanjaannya ke mobil saya?”ucap Roman sambil membayar belanjaan.


“Tentu Tuan Roman, kami sedang senang hati akan melakukannya”,


Roman pun berjalan di depan sementara pelayan kasir berjalan di belakang. Mereka menuju mobil Roman, pelayan kasir memasukan belanjaan di bagasi.


“Terima kasih nona”


“Sama-sama, Tuan Roman”,


Roman pun masuk ke mobil dan pergi meninggalkan toko raksasa besar.


***


Membaringkan tubuh dikasur empuk, terlintas pikiranku tentang dua sahabatku.


“Hani, Gisel. Maafkan aku, aku ngak bermaksud menyakiti perasaan kalian. Aku hanya tidak ingin kalian terluka seperti vampire lainnya. Aku janji tidak akan memberitahu siapapun tentang diri kalian. Kalian adalah temanku selamanya. Tapi sepengetahuku, vampire itu bukanlah manusia abadi dengan kebahagian. Mereka menyimpan kepedihan, dan menjadi vampire itu adalah kesedihan bukan kebahagian. Apalagi bertemu dengan mereka. Sebagai manusia yang lemah, bertemu vampire. Kita adalah mangsa, bukan menganggap vampire itu adalah jodoh!”


Suara ketokan pintu dan bunyi bel rumah membuatku tertegun dari lamunan, aku segera bergegas menuju pintu depan rumah dan membukanya. Kulihat Roman datang bersama beberapa pelayannya.


Roman langsung masuk ke rumah, dan aku segera memberi jalan, duduk di sofa sambil melihat pelayan-pelayan itu membersihkan dapur, meletakan bahan makanan dan membersihkan rumah, kecuali kamarku.


Tanpa di duga, Roman menadangiku.


“Sekarang, kamu bisa memasak untukku kan?”ucapnya dengan senyum sinis.


“Oh my gods, baiklah tak masalah”ucapku

__ADS_1


__ADS_2