
Aku yang menyadari Xia memegang tanganku, aku pun menoleh ke arahnya. Ia tampak ketakutan tetapi juga berani melindungiku dari masalah ini. Ya dia bisa disebut nekad.
“Tidak apa Xia, kita tidak tahu apa masalahnya! Kamu jangan khawatir, kita pasti bisa menyelesaikan masalah ini. Ya setidaknya setelah mereka memperlakukan kita seperti ini, kita bisa meminta mereka menambah hukumannya!” ucapku pada Xia, lalu aku berucap pada Ibu Oshaberi “Ibu Oshaberi, tolong jelaskan masalahnya! Jika Ibu Oshaberi tidak menjelaskan maka tidak akan ada solusinya di antara kita.”
Ibu Oshaberi terdiam, lalu ia melihat ke arahku dengan tetapan dingin dan menjawab “Kau lihat ke empat gadis yang ada di belakangmu?”
Spontan aku dan Xia menoleh ke belakang, dan kembali melihat Ibu Oshaberi. Serentak, kami berdua menganggukan kepala.
“Mereka katakan bahwa Xia lah yang menyerang mereka! Jadi, tolong jelaskan apa yang terjadi? Xia juga melarikan diri dari masalah ini, buktinya ia tidak ada di kamar dan ia bersamamu. Apa kalian berdua berencana untuk melarikan diri dari masalah? Tolong jawablah dengan jujur!”
“Xia bersamaku sejak tadi, bagaimana mungkin dia melarikan diri?”
Xia melakukan pembelaan, “Ibu Oshaberi, aku memang bersama Aresha sejak tadi. Aku memang tidak ada di kamar. Aku tidak melarikan diri. Bagaimana mungkin aku menyerang mereka?”
“Begini, mereka berada di kamarmu, Xia. Mereka bilang kamu sengaja mencelakai mereka. Apakah itu benar?”
__ADS_1
“Ibu, saya memang tidak ada di kamar sejak pagi. Saya pergi menemui Aresha, saya tidak tahu sama sekali jika mereka masuk ke kamar saya. Saya juga mengunci kamar saya, bagaimana mereka bisa masuk ke kamar? Saya benar- benar tidak tahu apa yang terjadi!” jelas Xia.
Tiba- tiba dari salah satu gadis yang wajahnya di perban itu berucap, “Xia, kamu benar- benar gadis pembawa sial! Berani- berani ya kamu melakukan semua ini! Kamu, kamu jangan pura- pura tidak tahu! Ini semua ulahmu, dan kamu harus bertanggung jawab!.”
Spontan Ibu Oshaberi yang mendengar itu pun langsung memukul mejanya hingga membuat kami semua kaget, dan perempuan itu terdiam.
“Hey, siapa yang memintamu untuk bicara? Saya sudah katakan untuk tetap diam dan mendengarkan penjelasannya!”
Bukannya diam dan melemah saja, perempuan itu bersikeras dan malah bicara. Ia berucap, “Tapi dia tidak mengaku, dia bohong!”
“Diam! Saya tidak memintamu untuk bicara!” ucap Ibu Oshaberi. Lalu Ibu Oshaberi berucap lemah lembut pada Xia, “Xia, kamu tidak bohong kan?”
Xia menganggukkan kepala, bertanda dia tidak berbohong.
Tetapi tampanya penjelasan Xia itu tidak mudah di terima oleh Ibu Oshaberi begitu saja, ia pun bertanya lagi.
__ADS_1
“Xia, kamu tahu kan apa hukuman untuk orang jahat dan suka berbohong di akademi ini?”
Xia menjawab, “Ya tentu saya tahu!”
“Bagus, jadi apa hukumannya?”
“Hukuman terberat adalah keluar dari Akademi Yexiao, dan pelakunya tidak akan di terima di akademi mana pun. Kecuali ia menunggu satu tahun lagi”
“Benar, ya seperti itulah. Jadi jelaskan padaku, apakah kamu sengaja melukai mereka? Jika kamu mengaku maka saya akan mengurangi hukuman beratmu!”
Begitu Xia mengucapkan itu, ke empat gadis itu kaget mendengarnya. Dalam hati mereka mulai merasakan ketakutan kecil yang mulai membesar. Tetapi sifat sombong dan angkuh itu telah membutakan hati mereka hingga menjadi sifat keras kepala.
“Ibu, saya benar- benar tidak melakukannya. Saya tidak melukai siapa- siapa. Memang mereka terluka di sebabkan apa selama saya pergi? Saya tidak ada di kamar, begitu juga dengan Aresha. Kami berdua pergi, dan pintu telah saya kunci. Bagaimana mungkin mereka bisa masuk ke kamar saya?”
Aku yang mendengar penjelasan Xia itu segera menambahkan, “Apa yang di ucapkan Xia benar, Ibu Oshaberi. Saya bersama dia, jadi bagaimana mungkin itu terjadi? Sebaiknya Ibu Oshaberi juga memikirkan hal ini baik- baik, karna kejadian itu bukan pertama kali tetapi ia kedua kalinya. Ya sepertinya pelakunya sudah di temukan juga. Ibu Oshaberi masih ingat tidak waktu ibu menghukum kami karena kamar kami berantakan?”
__ADS_1
Ibu Oshaberi mengingat kejadian itu, ia pun menjawab “Ya tentu, pertama kalinya kamu di hukum sebagai murid baru!”