
Di pagi buta terlihat seekor kuda berlari cepat dengan seseorang diatas pungungnya. Mengarah pada sebuah desa
yang masih terselimuti kabut malam. Dari arah cahaya matahari terbit, orang itu turun dari kuda dan mendekati sebuah rumah. Ya, rumah ketua desa. Mengetok pintunya hingga tiga kali. Tak lama kemudian seseorang membuka pintu dan menyambut kedatangannya. Pintu rumah itu kembali tertutup. Cahaya dari dalam
rumah itu membuat kita dapat melihat dari luar jendela, beberapa orang mendekati berbicara padanya. Gemercik air dari embun menetes dari atas turun ke tanah, daun-daunan mulai menegakkan tubuhnya hingga bunga-bunga bermekaran.
“ Kakak, dimana Zuya?”
“ Dia masih ada disana, nanti siang dia datang. Dimana Aresha?”
“ Aku minta maaf, aku tak bisa menjaganya. Dia pergi entah kemana. Dia pernah katakan padaku, jika kakak tak segera pulang dia pergi dari desa ini”
“ Tidak ini mungkin salah kakak
juga, ini bulan madu kami berdua. Tapi kakak malah pergi meninggalkan dirinya”
“ Lalu bagaimana dengan permintaan
Aresha, kak?”
“ Aku akan mengabulkan
permintaannya”
“ Tapi kak, permintaan Aresha itu
berbahaya”
“ Kamu jangan khawatir, aku bisa
mengatasinya”
Angin bertiup hingga membuat
kedinginan jika terkena kulit. Namun tidak bagi warga desa ini, angin pagi tak
akan membuat mereka kedinginan sebab cahaya matahari telah datang menerangi
desanya. Tagao naik kepunggung kuda dan mulai berpamitan.
“ Takara, kamu disini saja. Aku akan
menjemput Aresha di kastil Afela, aku yakin dia disana”
“ Hati-hati ya kakak, kirimkan
salamku untuk Aresha”
“ Iya, kamu juga hati-hatinya. Jika
Zuya datang cepat kekasil ya”
“ Ya kak”
Tagao pergi meninggalkan adiknya dan
juga desa ini untuk menemui Aresha di kastil Afela. Namun ketika Tagao tiba di
kastil Afela, Tagao tak menemukan Aresha. Tagao juga telah bertanya pada
pengawal dan pelayan, tak satu pun dari mereka bertemu dengan Aresha. Kemudian
Tagao mencari Aresha diluar kastil Afela hingga kehutan. Saat itulah Tagao
menemukan sebuah gebuk dan juga mayat seorang pria. Setelah memeriksa mayat itu, Tagao meninggalkan tempat ini. Terus
mencari Aresha hingga malam datang dan semakin gelap. Tagao kembali pulang ke
kastil Afela sambil mencari mangsa di jalan.
***
Malam ini aku kembali mempengaruhi
Moru hingga aku bisa bersama istri-istrinya merencanakan pelarian kami.
“ Setelah aku cek makanan digudang,
aku rasa bulan ini kita tak akan pergi kepasar untuk membeli anggur biru”
“ Hah, bagaimana kita bisa pergi
jika seperti ini”
“ Apa ad aide lain?”
“ Bagaimana kalau kita mengali
tanah, setidaknya membuat lobang hingga menembus dinding. Tapi kita harus
bekerja sama”
“ Huh, kamu. Itu sudah kita lakukan
tapi gagal”
“ Terus apa yang kita lakukan?”
“ Hanya rencana dengan anggur biru
yang kita punya”
“ Bagaimana kalau kamu jalan-jalan
dengan Moru dan mengajak kami juga. Itu mungkin kesempatan bagus buat kita,
jalan-jalan kepasar membeli barang dan juga anggur biru”
Kulihat mereka dengan tatapan dingin
dan berucap “ Baiklah, apa rencana ini pernah dilakukan?”
“ Pernah tapi kami tak tega
meninggalkan istri mudanya, jika dia juga tak pergi dan kami pergi maka dia
akan mendapat hal buruk dari Moru. Kami tak tega, dan kami memutuskan
mengagalkan rencana ini”
“ Mungkin dengan ide ini dan idemu,
Aresha. Jika mengabungkannya akan berjalan dengan lancar”
“ Ya betul”
“ Aku setuju”
“ Baiklah kita coba!”
***
Moru terbangun dan melihat Aresha
tak ada disisinya. Moru cepat mencari Aresha dengan wajah marah tapi Moru kembali
tenang ketika melihat Aresha menyajikan sarapan pagi dimeja bersama
istri-istrinya yang lain.
Kulihat Moru datang dengan wajah
marah dan berubah menjadi senang.
“ Pagi, suamiku. Kamu sudah bangun,
sarapan pagi bersama yuk!” ajakku.
“Aku kekamar dulu, mandi lalu
sarapan”
“ Ya, baiklah. Aku tunggu kamu
disini ya”
“ Ya”
Moru pergi meninggalkan tempat ini,
aku dan istri-istri yang lain tersenyum manis karena rencana kami berjalan
dengan mulus. Tak lama kemudian Moru datang dan duduk dikursi. Kemudian aku
mulai mengambilkan makanan untuknya. Moru terlihat senang sekali. Ketika Moru
__ADS_1
telah menelan beberapa sendok makanan, aku berucap “ Sayang, hari ini aku mau
beli beberapa barang. Bolehkan?”
Moru menghentikan makannya dan
menjawab “ Ya tentu saja boleh”
“ Tapi aku juga ingin mengajak
wanita yang lain, boleh kan?”
“ Tentu saja boleh tapi mereka tak
boleh membeli apapun, hanya kamu yang boleh berbelanja sepuasnya”
“ Terima kasih banyak, suamiku”
***
Keramaian menjadi keheningan
seketika aku dan Moru menginjakkan kaki di pasar ini. Mereka melihat kearah
kami berdua. Mereka tak secara langsung memperhatikan kami, aku melihat ada
rasa takut pada Moru dimata mereka. Kuhentikan langkahku lalu berucap “
Suamiku, boleh aku menyuruh wanita-wanita ini untuk membeli anggur biru?”
“ Silahkan saja”
Kemudian istri-istri Moru mulai
melaksanakan yang aku perintah sesuai rencana. Lalu aku ajak Moru membeli
perhiasan, kain sutra dan beberapa barang mahal. Sementara itu istri-istri Moru
membeli anggur biru dengan pengawalan ketat. Setelah itu kami kembali
berkumpul, berjalan keluar dari keramaian pasar. Saat itulah aku tak sengaja
bertemu dengan Tagao, dia melihat diriku berjalan dengan laki-laki lain. Ketika
keramaian terjadi lagi, aku kehilangan penglihatan pada Tagao. Kemudian kami kembali naik kereta kencana dan
pulang ke rumah.
Tagao terus mengikuti kepergian
Aresha diam-diam dari kejauhan dengan kudanya.
Tiba dirumah, pengawal mulai
menangkat barang-barang yang kubeli masuk ke rumah. Istri-istri Moru mulai membagi
buah anggur biru diam-diam dan menyelipkannya dipakaian. Kemudian membawa masuk
sisa anggurnya.
***
Menjelang sore, aku ikut membantu
istri-istri Moru memasak makanan untuk makan malam. Namun ketika aku mengambil
bahan makanan digudang. Tiba-tiba pintunya tertutup hingga membuatku kaget dan
menoleh kebelakang.
“ Huh, kupikir apa hanya angin”,
kembali melihat kedepan, aku langsung dikagetkan oleh kehadiran Tagao hingga
membuatku berteriak.
Istri Moru yang mendengar berucap “
Ada apa Aresha?”
Kulihat Tagao, dia meletakan jari
tangannya dimulut sebagai tanda aku harus diam dan berpura-pura tak ada apapun
yang terjadi di sini. “ Aku hanya kaget,
“ Oh, itu kan gudang. Terserah kamu
mau ambil apa untuk Moru”
“ Ya”
Tagao mendekati diriku dengan sangat
dekat dan berucap “ Apa yang kamu lakukan disini?”
“ Aku ditahan oleh laki-laki itu,
dan mereka juga. Kamu mengapa ada disini? Bagaimana kamu bisa masuk kemari?”
“ Kamu tak harus tau kan bagaimana
caranya. Jadi siapa namanya?”
“ Nama siapa yang kamu tanyakan?”
“ Laki-laki yang dipasar tadi, yang
bersamamu dengan homantis”
“ Huh, itu yang menahanku disini.
Aku jadi istrinya. Nama dia adalah Moru”
“ Kamu selingkuh?”
“ Enak saja, kamu yang selingkuh.
Kamu kemana aja selama ini?”
“ Aku pergi kan memenuhi permintaan
kamu”
“ Huh, lalu apa kamu penuhi?”
“ Ya aku penuhi. Kita pergi dari
sini ya!”
“ Ngak bisa Tagao”
“ Kenapa?”
“Aku diculik lalu dijual ke Moru,
begitu juga dengan 24 wanita yang bersamaku tadi. Bisa bantu kami keluar kan?”
“ Ya tentu saja”
Tiba-tiba Moru mendobrak pintunya
namun untungnya Tagao segera berubah menjadi kelawar dengan cepat.
“ Kamu bicara dengan siapa?”
“ Tidak, ada hanya bicara sendiri”
“ Jangan bohong!”
“ Ya aku tidak bohong”
Tiba-tiba Moru langsung menarik
rambut dan membawaku ke ruang bawah tanah. Dimana ruangan ini banyak sekali
pisau pemotong daging dan darah yang berserakan.
“ Kamu tau ruangan ini, untuk apa?”
Dengan rintih kesakitan aku menjawab
“ Tidak, aku tak tau”
“ Ini adalah tempat dimana aku akan
__ADS_1
memotong lehermu dan menjadikanmu santapan malamku”
“ Lepaskan aku, Moru. Kumohon!”
“ Melepaskanmu? Tidak akan”
Kemudian Moru mengikat diriku dengan
tali, aku mencoba meronta-rontak dan segera saja kugunakan sihirku untuk melepaskan
diri darinya. Ketika lepas, aku coba melawannya dengan sihir namun Moru lebih
kuat diluar dugaanku hingga diriku kembali terikat diatas meja.
Moru mengambil pisau yang tergantung
didinding lalu memainkannya di tangan. Tiba-tiba pengawal Moru memanggilnya di
atas. Mendengar panggilan di atas, Moru meletakan pisaunya kembali dan berucap
“ Sepertinya, ada suatu diatas ya! Wah, makan malam yang besar. Kau tunggu
disini ya! Jangan kemana-mana”. Moru pergi keatas, saat itulah kusempatkan
diriku untuk melepaskan diri dari ikatan. Namun apa daya, dirinya telah
mengikat dua tangan dan kakiku dengan kuat.
Sesuatu terjadi diatas, terdengar
dengan jelas ada sesuatu yang terjadi. Hingga membuat jantungku berdebar-debar.
Ketika pintunya terbuka, Tagao datang untuk menyelamatkanku. Tagao melepaskan
ikatannya, aku bangun dan berdiri.
“ Maaf terlambat!” ucap Tagao.
“ Ya tak apa, terima kasih sudah
membantuku”
Kemudian aku dan Tagao pergi keatas.
Aku terkejut atas apa yang aku lihat. Puluhan pengawal, Takara dan Zuya ada
disini. Moru, membungkuk dengan senjata yang siap membunuhnya dikepala. Takara
langsung memeluk diriku dan berucap “ Kamu baik-baik saja kan? Apa ada yang
terluka?”.
“ Tidak ada, hanya saja aku bingung
mengapa kalian bisa di sini? Maksudku menemukanku!”
“ Ya, Tagao yang memanggil kami
untuk kemari membantunya”
Kemudian aku berjalan mendekati
istri-istri Moru dan berucap “ Kalian sekarang bebas”
“ Ya, terima kasih banyak Ratu
Aresha”
“ Panggil Aresha saja, kita kan
teman”
“ Aresha, terima kasih banyak”
“ Sekarang kalian mau kemana?”
“ Kami akan pergi ke laut”
“ Laut?”
“ Ya, disanalah tempat kami yang
sebenarnya. Dan Moru juga akan ikut bersama kami. Kami akan menghukumnya
sebagaimana perjanjian yang kami buat bersama, dia bukan manusia”
“ Kalian sebenarnya siapa?”
“ Kami putri duyung dan dia suami
kami. Dia harus merasakan bagaimana sakitnya dijadikan menu hidangan makan
malam hanya untuk awet muda. Sekali lagi terima kasih banyak, Aresha”
“ Sama-sama”
Kemudian istri-istri Moru mengiring
Moru ke sungai. Mereka menceburkan diri berubah menjadi duyung dan seketika itu
juga Moru langsung dicabik-cabik oleh mereka dengan kuku yang tajam. Moru
dijadikan santapan oleh mereka.
Takara dan Zuya pergi meninggalkan
rumah ini bersama pangawal, sementara aku dan Tagao berjalan kaki berdua
dibawah cahaya bulan.
“ Tutup matamu, kita akan pergi ke
ribuan bunga. Bagaimana?”
“ Mana mungkin kita akan pergi
kesana, tempat itu tepat dimana kita berkemah kan!”
“ Ya, coba saja”
Kemudian Tagao memegang diriku
dengan erat begitu juga dengan diriku. Tak beberapa lama kemudian Tagao
memintaku untuk membuka mata. Kulihat tempat ini, banyak bunga.
“ Bagaimana kau bisa melakukannya?”
“ Permintaan terakhirmu, kamu
katakan pada Zuya kalau kamu akan menerima. Benar-benar menerima diriku jika
aku memenuhi permintaanmu”
“ Ya, mungkin”
“ Mungkin?”
“ Hah, mungkin aku akan menerimamu
mungkin juga tidak”
“ Tapi aku sudah melakukan apa yang
kamu mau!”
“ Ya, kalau aku pergi mengapa aku
sekarang masih bersamamu”
Tagao tersenyum dan memeluk erat
diriku.
“ Bisa kita pulang!”
“ Tentu saja, kamu boleh buka matamu
tak perlu memejamkannya lagi”
Tagao mulai berlari dengan cepat,
aku hanya berpegang erat ditubuhnya. Melihat perpohonan yang dilalui dengan
cepat. “ Kecepatan ini hanya dimiliki oleh vampire. Apa sekarang kamu menjadi
__ADS_1
vampire, Tagao? Heh, kupikir kamu tak akan melakukannya. Sekarang kamu akan
hidup abadi bersamamu namun tidak selamanya bersama”.