Bride Of Vampire: The Revenge

Bride Of Vampire: The Revenge
Episode 85


__ADS_3

Di pagi buta terlihat seekor kuda berlari cepat dengan seseorang diatas pungungnya. Mengarah pada sebuah desa


yang masih terselimuti kabut malam. Dari arah cahaya matahari terbit, orang itu turun dari kuda dan mendekati sebuah rumah. Ya, rumah ketua desa. Mengetok pintunya hingga tiga kali. Tak lama kemudian seseorang membuka pintu dan menyambut kedatangannya. Pintu rumah itu kembali tertutup. Cahaya dari dalam


rumah itu membuat kita dapat melihat dari luar jendela, beberapa orang mendekati berbicara padanya. Gemercik air dari embun menetes dari atas turun ke tanah, daun-daunan mulai menegakkan tubuhnya hingga bunga-bunga bermekaran.


            “ Kakak, dimana Zuya?”


            “ Dia masih ada disana, nanti siang dia datang. Dimana Aresha?”


            “ Aku minta maaf, aku tak bisa menjaganya. Dia pergi entah kemana. Dia pernah katakan padaku, jika kakak tak segera pulang dia pergi dari desa ini”


            “ Tidak ini mungkin salah kakak


juga, ini bulan madu kami berdua. Tapi kakak malah pergi meninggalkan dirinya”


            “ Lalu bagaimana dengan permintaan


Aresha, kak?”


            “ Aku akan mengabulkan


permintaannya”


            “ Tapi kak, permintaan Aresha itu


berbahaya”


            “ Kamu jangan khawatir, aku bisa


mengatasinya”


            Angin bertiup hingga membuat


kedinginan jika terkena kulit. Namun tidak bagi warga desa ini, angin pagi tak


akan membuat mereka kedinginan sebab cahaya matahari telah datang menerangi


desanya. Tagao naik kepunggung kuda dan mulai berpamitan.


            “ Takara, kamu disini saja. Aku akan


menjemput Aresha di kastil Afela, aku yakin dia disana”


            “ Hati-hati ya kakak, kirimkan


salamku untuk Aresha”


            “ Iya, kamu juga hati-hatinya. Jika


Zuya datang cepat kekasil ya”


            “ Ya kak”


            Tagao pergi meninggalkan adiknya dan


juga desa ini untuk menemui Aresha di kastil Afela. Namun ketika Tagao tiba di


kastil Afela, Tagao tak menemukan Aresha. Tagao juga telah bertanya pada


pengawal dan pelayan, tak satu pun dari mereka bertemu dengan Aresha. Kemudian


Tagao mencari Aresha diluar kastil Afela hingga kehutan. Saat itulah Tagao


menemukan sebuah gebuk dan juga mayat seorang  pria. Setelah memeriksa mayat itu, Tagao meninggalkan tempat ini. Terus


mencari Aresha hingga malam datang dan semakin gelap. Tagao kembali pulang ke


kastil Afela sambil mencari mangsa di jalan.


                                                                                    ***


            Malam ini aku kembali mempengaruhi


Moru hingga aku bisa bersama istri-istrinya merencanakan pelarian kami.


            “ Setelah aku cek makanan digudang,


aku rasa bulan ini kita tak akan pergi kepasar untuk membeli anggur biru”


            “ Hah, bagaimana kita bisa pergi


jika seperti ini”


            “ Apa ad aide lain?”


            “ Bagaimana kalau kita mengali


tanah, setidaknya membuat lobang hingga menembus dinding. Tapi kita harus


bekerja sama”


            “ Huh, kamu. Itu sudah kita lakukan


tapi gagal”


            “ Terus apa yang kita lakukan?”


            “ Hanya rencana dengan anggur biru


yang kita punya”


            “ Bagaimana kalau kamu jalan-jalan


dengan Moru dan mengajak kami juga. Itu mungkin kesempatan bagus buat kita,


jalan-jalan kepasar membeli barang dan juga anggur biru”


            Kulihat mereka dengan tatapan dingin


dan berucap “ Baiklah, apa rencana ini pernah dilakukan?”


            “ Pernah tapi kami tak tega


meninggalkan istri mudanya, jika dia juga tak pergi dan kami pergi maka dia


akan mendapat hal buruk dari Moru. Kami tak tega, dan kami memutuskan


mengagalkan rencana ini”


            “ Mungkin dengan ide ini dan idemu,


Aresha. Jika mengabungkannya akan berjalan dengan lancar”


            “ Ya betul”


            “ Aku setuju”


            “ Baiklah kita coba!”


                                                            ***


            Moru terbangun dan melihat Aresha


tak ada disisinya. Moru cepat mencari Aresha dengan wajah marah tapi Moru kembali


tenang ketika melihat Aresha menyajikan sarapan pagi dimeja bersama


istri-istrinya yang lain.


            Kulihat Moru datang dengan wajah


marah dan berubah menjadi senang.


            “ Pagi, suamiku. Kamu sudah bangun,


sarapan pagi bersama yuk!” ajakku.


            “Aku kekamar dulu, mandi lalu


sarapan”


            “ Ya, baiklah. Aku tunggu kamu


disini ya”


            “ Ya”


            Moru pergi meninggalkan tempat ini,


aku dan istri-istri yang lain tersenyum manis karena rencana kami berjalan


dengan mulus. Tak lama kemudian Moru datang dan duduk dikursi. Kemudian aku


mulai mengambilkan makanan untuknya. Moru terlihat senang sekali. Ketika Moru

__ADS_1


telah menelan beberapa sendok makanan, aku berucap “ Sayang, hari ini aku mau


beli beberapa barang. Bolehkan?”


            Moru menghentikan makannya dan


menjawab “ Ya tentu saja boleh”


            “ Tapi aku juga ingin mengajak


wanita yang lain, boleh kan?”


            “ Tentu saja boleh tapi mereka tak


boleh membeli apapun, hanya kamu yang boleh berbelanja sepuasnya”


            “ Terima kasih banyak, suamiku”


            ***


            Keramaian menjadi keheningan


seketika aku dan Moru menginjakkan kaki di pasar ini. Mereka melihat kearah


kami berdua. Mereka tak secara langsung memperhatikan kami, aku melihat ada


rasa takut pada Moru dimata mereka. Kuhentikan langkahku lalu berucap “


Suamiku, boleh aku menyuruh wanita-wanita ini untuk membeli anggur biru?”


            “ Silahkan saja”


            Kemudian istri-istri Moru mulai


melaksanakan yang aku perintah sesuai rencana. Lalu aku ajak Moru membeli


perhiasan, kain sutra dan beberapa barang mahal. Sementara itu istri-istri Moru


membeli anggur biru dengan pengawalan ketat. Setelah itu kami kembali


berkumpul, berjalan keluar dari keramaian pasar. Saat itulah aku tak sengaja


bertemu dengan Tagao, dia melihat diriku berjalan dengan laki-laki lain. Ketika


keramaian terjadi lagi, aku kehilangan penglihatan pada Tagao.  Kemudian kami kembali naik kereta kencana dan


pulang ke rumah.


            Tagao terus mengikuti kepergian


Aresha diam-diam dari kejauhan dengan kudanya.


            Tiba dirumah, pengawal mulai


menangkat barang-barang yang kubeli masuk ke rumah. Istri-istri Moru mulai membagi


buah anggur biru diam-diam dan menyelipkannya dipakaian. Kemudian membawa masuk


sisa anggurnya.


                                                                        ***


            Menjelang sore, aku ikut membantu


istri-istri Moru memasak makanan untuk makan malam. Namun ketika aku mengambil


bahan makanan digudang. Tiba-tiba pintunya tertutup hingga membuatku kaget dan


menoleh kebelakang.


            “ Huh, kupikir apa hanya angin”,


kembali melihat kedepan, aku langsung dikagetkan oleh kehadiran Tagao hingga


membuatku berteriak.


            Istri Moru yang mendengar berucap “


Ada apa Aresha?”


            Kulihat Tagao, dia meletakan jari


tangannya dimulut sebagai tanda aku harus diam dan berpura-pura tak ada apapun


yang terjadi di sini. “  Aku hanya kaget,


            “ Oh, itu kan gudang. Terserah kamu


mau ambil apa untuk Moru”


            “ Ya”


            Tagao mendekati diriku dengan sangat


dekat dan berucap “ Apa yang kamu lakukan disini?”


            “ Aku ditahan oleh laki-laki itu,


dan mereka juga. Kamu mengapa ada disini? Bagaimana kamu bisa masuk kemari?”


            “ Kamu tak harus tau kan bagaimana


caranya. Jadi siapa namanya?”


            “ Nama siapa yang kamu tanyakan?”


            “ Laki-laki yang dipasar tadi, yang


bersamamu dengan homantis”


            “ Huh, itu yang menahanku disini.


Aku jadi istrinya. Nama dia adalah Moru”


            “ Kamu selingkuh?”


            “ Enak saja, kamu yang selingkuh.


Kamu kemana aja selama ini?”


            “ Aku pergi kan memenuhi permintaan


kamu”


            “ Huh, lalu apa kamu penuhi?”


            “ Ya aku penuhi. Kita pergi dari


sini ya!”


            “ Ngak bisa Tagao”


            “ Kenapa?”


            “Aku diculik lalu dijual ke Moru,


begitu juga dengan 24 wanita yang bersamaku tadi. Bisa bantu kami keluar kan?”


            “ Ya tentu saja”


            Tiba-tiba Moru mendobrak pintunya


namun untungnya Tagao segera berubah menjadi kelawar dengan cepat.


            “ Kamu bicara dengan siapa?”


            “ Tidak, ada hanya bicara sendiri”


            “ Jangan bohong!”


            “ Ya aku tidak bohong”


            Tiba-tiba Moru langsung menarik


rambut dan membawaku ke ruang bawah tanah. Dimana ruangan ini banyak sekali


pisau pemotong daging dan darah yang berserakan.


            “ Kamu tau ruangan ini, untuk apa?”


            Dengan rintih kesakitan aku menjawab


“ Tidak, aku tak tau”


            “ Ini adalah tempat dimana aku akan

__ADS_1


memotong lehermu dan menjadikanmu santapan malamku”


            “ Lepaskan aku, Moru. Kumohon!”


            “ Melepaskanmu? Tidak akan”


            Kemudian Moru mengikat diriku dengan


tali, aku mencoba meronta-rontak dan segera saja kugunakan sihirku untuk melepaskan


diri darinya. Ketika lepas, aku coba melawannya dengan sihir namun Moru lebih


kuat diluar dugaanku hingga diriku kembali terikat diatas meja.


            Moru mengambil pisau yang tergantung


didinding lalu memainkannya di tangan. Tiba-tiba pengawal Moru memanggilnya di


atas. Mendengar panggilan di atas, Moru meletakan pisaunya kembali dan berucap


“ Sepertinya, ada suatu diatas ya! Wah, makan malam yang besar. Kau tunggu


disini ya! Jangan kemana-mana”. Moru pergi keatas, saat itulah kusempatkan


diriku untuk melepaskan diri dari ikatan. Namun apa daya, dirinya telah


mengikat dua tangan dan kakiku dengan kuat.


            Sesuatu terjadi diatas, terdengar


dengan jelas ada sesuatu yang terjadi. Hingga membuat jantungku berdebar-debar.


Ketika pintunya terbuka, Tagao datang untuk menyelamatkanku. Tagao melepaskan


ikatannya, aku bangun dan berdiri.


            “ Maaf terlambat!” ucap Tagao.


            “ Ya tak apa, terima kasih sudah


membantuku”


            Kemudian aku dan Tagao pergi keatas.


Aku terkejut atas apa yang aku lihat. Puluhan pengawal, Takara dan Zuya ada


disini. Moru, membungkuk dengan senjata yang siap membunuhnya dikepala. Takara


langsung memeluk diriku dan berucap “ Kamu baik-baik saja kan? Apa ada yang


terluka?”.


            “ Tidak ada, hanya saja aku bingung


mengapa kalian bisa di sini? Maksudku menemukanku!”


            “ Ya, Tagao yang memanggil kami


untuk kemari membantunya”


            Kemudian aku berjalan mendekati


istri-istri Moru dan berucap “ Kalian sekarang bebas”


            “ Ya, terima kasih banyak Ratu


Aresha”


            “ Panggil Aresha saja, kita kan


teman”


            “ Aresha, terima kasih banyak”


            “ Sekarang kalian mau kemana?”


            “ Kami akan pergi ke laut”


            “ Laut?”


            “ Ya, disanalah tempat kami yang


sebenarnya. Dan Moru juga akan ikut bersama kami. Kami akan menghukumnya


sebagaimana perjanjian yang kami buat bersama, dia bukan manusia”


            “ Kalian sebenarnya siapa?”


            “ Kami putri duyung dan dia suami


kami. Dia harus merasakan bagaimana sakitnya dijadikan menu hidangan makan


malam hanya untuk awet muda. Sekali lagi terima kasih banyak, Aresha”


            “ Sama-sama”


            Kemudian istri-istri Moru mengiring


Moru ke sungai. Mereka menceburkan diri berubah menjadi duyung dan seketika itu


juga Moru langsung dicabik-cabik oleh mereka dengan kuku yang tajam. Moru


dijadikan santapan oleh mereka.


            Takara dan Zuya pergi meninggalkan


rumah ini bersama pangawal, sementara aku dan Tagao berjalan kaki berdua


dibawah cahaya bulan.


            “ Tutup matamu, kita akan pergi ke


ribuan bunga. Bagaimana?”


            “ Mana mungkin kita akan pergi


kesana, tempat itu tepat dimana kita berkemah kan!”


            “ Ya, coba saja”


            Kemudian Tagao memegang diriku


dengan erat begitu juga dengan diriku. Tak beberapa lama kemudian Tagao


memintaku untuk membuka mata. Kulihat tempat ini, banyak bunga.


            “ Bagaimana kau bisa melakukannya?”


            “ Permintaan terakhirmu, kamu


katakan pada Zuya kalau kamu akan menerima. Benar-benar menerima diriku jika


aku memenuhi permintaanmu”


            “ Ya, mungkin”


            “ Mungkin?”


            “ Hah, mungkin aku akan menerimamu


mungkin juga tidak”


            “ Tapi aku sudah melakukan apa yang


kamu mau!”


            “ Ya, kalau aku pergi mengapa aku


sekarang masih bersamamu”


            Tagao tersenyum dan memeluk erat


diriku.


            “ Bisa kita pulang!”


            “ Tentu saja, kamu boleh buka matamu


tak perlu memejamkannya lagi”


            Tagao mulai berlari dengan cepat,


aku hanya berpegang erat ditubuhnya. Melihat perpohonan yang dilalui dengan


cepat. “ Kecepatan ini hanya dimiliki oleh vampire. Apa sekarang kamu menjadi

__ADS_1


vampire, Tagao? Heh, kupikir kamu tak akan melakukannya. Sekarang kamu akan


hidup abadi bersamamu namun tidak selamanya bersama”.


__ADS_2