
Saat Xia seorang diri, ia mulai merenungi dirinya.
“Eun, Eun!. Kamu kenapa pergi meninggalkanku? Aku adalah Xia. Kamu kenapa pergi? Bukankah kamu sudah berjanji padaku untuk selalu ada di dekatku? Kenapa kamu.... mengkhianatiku? Eun... aku memang mengidolakan Zanko, tapi bukan berarti dia harus jadi milikku. Aku mencintaimu, Eun!. Eun, tidak bisakah kamu tetap disini bersamaku? Eun.... aku takut! Aku takut kehilanganmu, kumohon jangan tinggalkan aku disini. Xia yang bersamamu itu adalah orang jahat yang menjelma menjadi diriku. Eun, kumohon datang lah?” guman Xia seorang diri.
Xia mulai putus asa dengan keadaan dirinya sekarang, tidak ada seorang pun datang menolongnya. Di tempat ini, dia hanya seorang diri. Tidak ada siapapun, kesepian dan keheningan datang menemani dirinya.
Lalu kamu tebal datang kembali, entah apa yang terjadi tetapi kedatangan kabut tebal itu membuat diri Xia kembali pulih. Ia dapat berdiri kembali dan kulitnya kembali muda. Semua rasa sakit yang dideritanya telah hilang dalam sekejap.
Perlahan- lahan kabut kembali menghilang, kini Xia dapat melihat keadaan di sekitarnya. Ia tidak lagi berada di taman labirin, ia berada di tempat yang berbeda.
Ia kembali melihat dirinya sendiri yang sedang berjalan bersama Aresha. Sementara dirinya yang sekarang tak dapat dilihat oleh dirinya yang lain, yang berjalan bersama Aresha. Ini karena dia masih berada di dunia mimpi.
Xia sekarang melihat...
*Kata Aku diperankan oleh Aresha.
Jalan yang dilewati Aresha bersama Xia adalah jalan yang sepi, sehingga ke empat gadis ini mulai membuat ulah lagi. Mereka berempat menghalangi jalan kami berdua.
“Hei! Mau kemana kamu? Mau melarikan diri, setelah mencari masalah dengan kami? Jangan harap bisa melarikan diri ya!” ucap salah satu dari mereka yang mendekati kami.
Lalu gadis lainnya mendekati kami, mereka membentuk lingkaran dan mengepung Aresha dan Xia.
“Wah, kayaknya kamu mau pergi ya? Apa Ibu Oshaberi memberimu hukuman berat juga?”
Xia ingin menjawab pertanyaan mereka, Xia melihat ke arah Aresha untuk memberi kode tetapi aku menggelengkan kepala tanda tidak setuju dan agar Xia tetap tutup mulut.
“Oh, kamu bisu ya sekarang? Hei, jawab! Dasar gadis lemah!” ejeknya pada kami sembari mendorong tubuh Xia.
Xia hampir terjatuh akibat dorongan keras oleh gadis itu tetapi Xia menahannya hingga ia tetap berdiri tegak.
Sementara itu di tempat ini bersamaan, dari kejauhan ketiga pengawas telah diarahkan untuk mengawasi keempat gadis itu. Tetapi mereka hanya memperhatikan kejadian itu dari kejauhan.
“Wah, jadi benar mau melarikan diri? Urusan kita belum selesai! Mari kita bereskan” ucapnya menentang kami berdua.
Ya tampaknya ke empat gadis ini tidak jera- jera juga, mereka tetap saja jahat pada Xia. Mereka mulai mencoba mencari gara- gara dengan Xia. Tetapi aku tahu Xia tidak punya waktu untuk meladeni sikap mereka. Aresha pun menyingkirkan tangan gadis yang suka mengoceh ini dari Xia.
Aresha menyingkirkan tangannya dari Xia, dan berucap “Jika kamu tidak terima karena ulahmu sendiri, aku akan melawanmu! Tapi bebaskan Xia!”
“Wah, kamu berani juga? Ya baiklah, aku akan membebaskan Xia. Tapi kamu harus menghadapi kami berempat!”
Aresha hanya bisa tersenyum manis dan menjawab, “Tentu saja, tapi aku harus mengantar Xia ke depan. Kalian ikut saja, lalu kita mulai menyelesaikan masalah ini yang membuatmu merasa tidak puas dengan keputusan Ibu Oshaberi!”
“Hah, apa kamu juga ingin melarikan diri? Jangan mempermainkan kami ya!”
__ADS_1
“Oh, tidak. Ini adakah koper milik Xia, bukan milikku! Jadi tidak perlu khawatir, aku orang yang menepati janji. Bagaimana kalau kita taruhan?”
“Hah, boleh juga! Tapi apa taruhannya?”
“Jika aku menang kalian akan menghubungi orang tua kalian berempat dan memberikan hukuman, bagaimana?”
Ke empat gadis itu saling pandang satu sama lain, dua gadis di antara mereka berempat tidak menyanggupi risiko itu. Tetapi dua di antara mereka menentang, dan menganggap remeh akan gadis yang ada di depannya ini.
“Ya boleh juga, tapi jika aku menang kamu harus keluar dari akademi ini! Dan juga Xia”
“Hey, ini adalah taruhan kita! Xia tidak boleh di libatkan, kamu boleh mengatakan keinginan yang lain?”
“Hah, apa yang kamu punya? Kamu bukan siapa- siapa!”
Lalu salah satu temannya membisikan sesuatu di telinganya, “Bagaimana kalau dia jadi budak kita saja? Jadi budak seumur hidupnya! Dia pasti tidak berani atau menyesal seumur hidupnya!”
Kemudian atas dasar bisikan temannya itu, ia pun berucap “Jika kami berempat menang, kamu keluar dari akademi ini dan menjadi budak kami seumur hidupmu!”
Aku tersenyum manis, tampak sekali gadis ini sangat percaya diri untuk memenangkan taruhan ini. Ya menurutku hanya gadis bodoh yang mau taruhan denganku tanpa menilai siapa lawannya.
“Ya, aku setuju! Jadi ikut saja denganku, aku mengantar Xia dan kita mulai bertanding!”
Lalu salah satu dari mereka mengulurkan tangan, dan berucap “Setuju?”
Aku tersenyum manis, dan melihat Xia. Xia menggelengkan kepala, tanda ia tidak setuju dengan taruhan itu. Tapi aku tidak peduli apa akhir cerita ini. Aku pun menjabat tangannya, dan berucap “Setuju!.”
Sementara itu tiga pengawas yang mengawasi Xia dan teman- temannya telah beranggapan keempat gadis itu telah minta maaf pada Xia dan Aresha.
“Yah, sepertinya tidak ada masalah! Jadi kita tidak perlu mengawasi mereka kan?”
“Oh ya benar, mari kita pergi!”
Mereka bertiga pun segera pergi dan tidak lagi mengawasi Xia dan teman- teman. Mereka menganggap khusus dan tugasnya telah selesai.
Gerbang depan Akademi Yexiao.
Sebuah taksi telah menunggu di depan gerbang akademi ini, taksi yang telah dipanggil untuk menjemput Xia oleh Ibu Oshaberi. Keempat gadis menunggu jauh dari keberadaan kami berdua. Xia pun memasukan kopernya ke bagasi mobil, lalu ia bicara dengan sopir.
Setelah itu, Xia mendekatiku. Wajahnya tampak cemas saat kepergiannya ini.
“Aresha, kamu! Hah... kenapa kamu mengikuti kemauan mereka? Mereka itu kuat, aku takut sesuatu terjadi padamu. Bagaimana jika kamu kalah dan semua itu terjadi! Aku tentu tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri sebagai temanmu”
“Ah, apa yang kamu maksud? Jangan khawatir, sebaiknya kamu pulang dan temui keluargamu. Aku baik- baik saja, nanti setelah urusan ini selesai aku akan menghubungimu agar kamu tidak khawatir padaku!”
__ADS_1
“Ya tapi....”
“Tidak ada tapi- tapian, kamu sangat diperlukan di keluargamu, pulang dan temui keluargamu! Hal seperti ini bukan masalah kecil, dan semuanya akan baik- baik saja. Aku janji setelah semuanya selesai, dan apa pun hasil akhirnya, aku akan tetap menghubungimu!”
“Ya tapi, masalahnya aku belum punya nomor ponselmu!”
“Oh begitu ya, aku akan memberikan nomor ponselku padamu!” ucap Aresha yang kemudian memberikan nomor ponselku pada Xia.
Xia juga memberikan nomor ponselnya padaku, dan kami menyimpannya di handphone.
Namun Aresha pikir, setelah itu Xia akan berhenti cemas. Dugaanku itu masalah sebaliknya, dia malah semakin cemas dan tidak ingin pergi. Tetapi aku terus berusaha untuk membuatnya pergi.
“Tapi... jika seperti ini, aku tetap saja cemas! Aku tidak mau pergi!” ucap Xia yang membuatku kaget.
Gadis ini ternyata memiliki hati yang baik dan dia peduli dengan temannya yang dia sendiri tidak tahu siapa temannya yang sebenarnya.
Aresha tersenyum manis dan menyakinkan Xia untuk tetap pergi, Aresha berucap “Xia, tidak apa! Percaya saja padaku, aku akan menghubungimu setelah masalah ini selesai. Jangan khawatir!”
“Ya, kamu serius akan baik- baik saja?”
“Tentu, aku merasa lebih baik jika menyelesaikan masalah ini. Kamu pulanglah!”
Spontan gadis ini memeluk diri Aresha, ia tersenyum manis dan kemudian masuk ke mobil. Ia membuka kaca mobil dan melambaikan tangannya sembari mobil itu berjalan.
Mobil yang ditumpangi oleh Xia melaju di jalanan, dan Aresha tetap berdiri disini untuk memastikan Xia benar- benar telah pergi tanpa kembali. Aku hanya tidak ingin dia datang dan menghalangi diriku untuk menghabisi klan bawahan ini.
Kini, mobil itu telah menghilang dari pandanganku dan ke empat gadis itu mulai mendekati Aresha menagih janji yang telah dibuat.
“Jadi, apa kamu akan menyerah sekarang?” ucapnya dengan kesombongan.
“Hih, kita belum bertarung! Jadi aku tidak akan mengakui kekalahan!”
“Hah, baiklah. Sekarang kamu ingin kita bertarung dimana?”
“Menurutmu? Sebaiknya kamu punya empat yang aman!”
“Hah, mudah saja! Bagaimana kalau di Glassland? Disana tidak akan ada seorang pun yang akan menghalangi kita!”
“Wow, ide bagus!” ucap Aresha menyetujuinya.
Mendengar ide temannya itu, salah satu dari keempat gadis berucap “Tapi bagaimana caranya agar kita bisa kesana? Jika kita ke aula sekarang, mungkin Ibu Oshaberi akan menaruh rasa curiga!”
“Hah, itu tidak akan terjadi!” ucapnya membantah ucapan temannya sendiri.
__ADS_1
Aresha tersenyum manis, ya seperti sifatnya dia keras kepala. Aku pun terpaksa mengikuti kemana mereka pergi, mereka membawaku ke aula dan menuju Glassland yang di anggap mereka adalah dunia tanpa penghalang.
Xiang yang sekarang melihat kejadian itu, ia mengingat kejadian ini saat ia pergi meninggalkan Aresha. Ia pun melihat Aresha pergi ke Glassland bersama empat gadis itu. Xia pun mengikutinya meski ia sendiri tak terlihat oleh siapapun disini.