
Aku terbangun dari mimpi indah ketika seseorang mengetok pintu kamar ini 3 kali. Aku cepat membuka pintunya,
kulihat Tagao di depan pintu. Lalu dia masuk dan berucap “ Maaf aku tak meminta ijin padamu”.
Kubuka mataku lebar-lebar, tersenyum, berucap “ Tak apa sayang, aku mengerti kamu sibuk sekali hari ini”.
Kemudian aku kembali tidur bersama Tagao.
***
Pagi, setelah sarapan bersama. Pengawal datang dan berucap “ Ratu Aresha, ada seseorang mengantarkan bunga untuk Anda. Dia sedang menunggu nona di gerbang!”.
Aku berdiri dan berucap “ Terima kasih. Tagao, aku pergi dulu ya!, lalu mencium suamiku dan pergi.
“ Sebaiknya kamu menyusulnya” ucap Zuya.
“ Baiklah” jawab Tagao.
Di depan gerbang kulihat Aira sedang menunggu dengan bunga mawar di keranjangnya. Ketika melihatku, Aira memberikan bunga padaku dan berucap “ Ratu Aresha, aku membawakanmu bunga mawar”.
Aku mengambil bunga dari tangannya, “ Terima kasih banyak”.
Dari belakangku, Tagao berucap “ Siapa dia?”.
Aku menoleh kebelakang dan melihat Tagao jalan mendekat, memegang pundakku.
“ Oh, dia. Dia adalah orang yang aku bayar untuk mengantarkan bunga mawar setiap pagi untukku mulai hari ini”.
“ Mengapa tak meminta padaku?”
“ Kupikir kamu sibuk dengan tugas kerajaan, jadi aku memintanya pada orang lain”
“ Aku bisa membagi waktuku untukmu, Aresha. Aku suamimu, apapun akan kulakukan untukmu!”
“ Hah, ya kamu memang suamiku. Tapi jangan lupakan juga tugas kerajaanmu. Bukankah kamu lebih suka pergi tanpa ijinku”
“ Kamu masih marah karena aku tak meminta ijin padamu? Aku sudah minta maaf”.
“ Apa hanya dengan minta maaf masalahnya selesai? Jika kamu memang benar-benar menyesal, buktikan padaku penyesalanmu itu. Kamu pergi saja dulu, nanti kita bertemu lagi”.
Aira yang mengenakan kerudung hingga Tagao tak mengenalinya itu pergi. Kemudian aku berjalan menuju istana bersama Tagao. Dari dalam istana, Zuya dan Takara berjalan keluar menghampiri kami.
“ Aresha, aku mau mengajakmu jalan-jalan hari ini” ucap Takara.
“ Ya boleh”
Takara mengajakku bicara sementara Zuya mengajak Tagao pergi, Takara mencoba mengecoh diriku agar tak mempedulikan kepergian Tagao.
“ Takara, sebaiknya kamu juga pergi!”
“ Apa maksdumu, Aresha?”
“ Tagao mengajak Zuya pergi bukan?
Mengapa kamu tak bersama mereka? Aku sudah tidak sanggup lagi menjadi istri
seperti ini. Sejak kamu menikah dengan Zuya, semuanya telah berubah. Menjauhlah
dariku!”.
“ Tak ada yang berubah Aresha,
kakakku masih mencintaimu sepenuh hatinya”
“ Dia tak akan mencintaiku, tak akan
pernah”
“ Ayolah Aresha, maafkan kakakku.
Mereka pergi untuk tugas kerajaan”
“ Baiklah, aku maafkan. Tapi jangan ganggu aku, aku ingin sendirian”.
“ Kamu serius?”
“ Ya”, Takara pergi meninggalkanku.
Ketika itulah aku langsung mengambil kuda lalu pergi menuju istanaku yang telah
hancur.
***
Istana Raja Oishima. Tagao, Zuya,
Kazima dan Oishima berkumpul dalam satu ruangan membicarakan pemberontakan yang
telah dilakukan wolf.
“ Kumpulkan semua pasukan untuk
menyerang wolf dan mempertahankan tempat ini” perintah Oishima pada pasukannya,
“ Semua penyihir telah menjalani hukumannya, wolf tak akan mendapat bantuan
besar lagi”, lanjutnya.
“ Sebentar lagi bulan purnama akan
datang, ini kesempatan peri untuk membunuh wolf dengan sinar bulan, dan vampire
akan menemukan kekuatan terbesarnya. Kita dapat dengan mudah menyerang wolf,
hanya saja . Sayangnya wolf juga memiliki kekuatan atas sinar bulan. Kita hanya
perlu keberuntungan” ucap Kazima.
Tagao meminta pada panglima
perangnya untuk menyiapkan pasukan yang sangat banyak untuk berperang melawan
__ADS_1
wolf. Raja Oishima menyiapkan banyak pasukan. Sebelum menyerang mereka semua
dipersiapkan dengan baik.
***
Lihatlah kehancuran, tak ada yang
tersisa. Istana yang hancur, dan hanya kenangan yang tertinggal. Aku menangis
menatapi apa yang didepanku. Sebuah kenangan indah, ibu dan teman-teman yang
memanggil namaku. Tiba-tiba seekor burung hantu berbulu putih hinggap di pohon
dan berucap “ Hay, Ratu Aresha. Aku Wild, burung hantu Ratu Mora. Aku ingin
memberi kabar padamu. Penyihir yang bersamamu, membelamu telah mati di tangan
Raja Oishima. Mereka dituduh atas penghiatan. Mereka memang berkhianat, Aresha.
Wolf mulai menguasi sebagian hutan Argon dan menyebar luas. Zuya dan Tagao juga
menghianatimu begitu juga dengan Takara”.
“ Apa lagi yang kamu tau, Wild?”
“ Wolf akan segera mengantikan
posisi Tagao dan juga Oishima. Wolf perang melawan mereka berdua. Tak ada
penyihir lagi dengan kekuatan sepertimu kecuali Zuya, tapi dia perlahan-lahan
kekuatannya menghilang”.
“ Hem, Oishima menghianatiku juga.
Jadi selama ini mereka bekerja sama”. Kemudian burung hantu, Wild terbang.
Kukenakan kerudung hitam, lalu pulang ke istana. Kulewati desa, dan pintu gerbang istana. Tiba-tiba
seorang pengawal berucap “ Maaf, buka kerudungmu”. Kulakukan perintahnya.
Pengawal itu menundukan kepala dan berucap“ Ratu Aresha!”.” Berdiri lah, tak
apa. Aku bangga padamu. Setidaknya kamu benar-benar menjalankan tugasmu”
jawabku. Kemudian kulanjutkan langkahku ke istana.
***
Hutan Argon, Peri dan manusia satu
baris meneriakan kata serang begitu juga dengan wolf dan sihir. Mereka saling
menyerang, membunuh satu sama lain. Aira mencari Tagao dalam perang, Aira ingin
membunuh Tagao agar Aresha menjadi miliknya. Ketika kekalahan terlihat di peri
Zuya. Kazima tewas di tangan Aira. Wolf kembali mengaum kemenangan. Burung hantu, Wild hinggap disalah satu pohon.
Penyihir yang melihat burung hantu Ratu Mora langsung membunuhnya dengan sihir.
“ Apa yang kamu lakukan?” tanya Aira
“ Membunuh burung hantu Ratu Mora,
dia akan memberikan kabar pada Aresha nanti”
Aira tak menangapi, Aira berubah
menjadi wolf dan berlari menuju istana Tagao. Sebelum masuk desa ke istana,
Tagao berubah menjadi manusia dan mengenakan kerudung. Aira menghampiri
pengawal dan berucap “ Apa Ratu Aresha ada?”.
“ Ada, kamu mau apa?”
“ Aku ada janji dengannya”
“ Baiklah, akan kupanggilkan”.
***
Kutemui Aira yang sedang menungguku
didepan gerbang istana.
“ Kupikir kamu ada berjanji
denganku” ucap Aira.
“ Kamu masih ingat ya ucapanku tadi
pagi?”
“Ya, bagaimana aku bisa lupa
bukankah baru tadi pagi kamu ucapkan itu”
“ Ya baiklah”.
Aku dan Aira jalan-jalan diluar
istana. Aira membuka kerudung dan
berucap “ Suamimu mana?”.
“ Dia sedang pergi, kenapa?”
“ Tidak ada apa-apa cuman tanya”
__ADS_1
“ Kupikir kamu ingin bertemu
dengannya”
“ Lain kali saja”
***
Duka kembali menyelimuti peri atas
kematian Kazima dalam perang. Raja Oishima sedang berduka mendalam. “ Kekuatan
mereka semakin besar saja, apa yang harus kita lakukan” ucap Zuya.
“ Tidak ada, kalian pulanglah
keistana. Tak perlu lagi memikirkan perang ini, semuanya akan baik-baik saja”
jawab Oishima.
“ Bagaimana aku bisa mengatakan
semua ini baik-baik saja, Oishima. Sudah banyak yang kita korbankan, apa kau
menyerah”.
“ Aku bukannya menyerah tapi akan
lebih baik jika aku hanya mempertahankan istana ini. Dan kalian mempertahankan
istana dan kekuasan kalian sendiri”.
“ Baiklah, jika itu maumu. Akan kami
laksanakan, Raja Oishima” jawab Tagao. Tagao dan Zuya pulang ke istana,
meninggalkan Oishima dalam duka.
***
Menjelang sore, aku barulah pulang.
Aira mengantarkanku sampai pintu gerbang istana.
“ Sampai jumpa lagi, Aresha”
“ Ya, sampai jumpa. Besok bawakan
aku bunga ya!”
“ Ya, akan lebih banyak
untukmu”, Aira mengenakan kerudung dan
pergi.
Kulangkahkan kaki masuk ke istana.
Kulihat Takara sedang menemani ibunya. Takara melihatku dan berucap “ Aresha,
kamu sudah pulang. Ayo sini!”. Kuhampiri Takara dan ibunya, lalu duduk
disamping Takara.
“ Ada apa?”
“ Masak-masak yuk! Aku dan ibu mau
masak-masak buat makan malam nanti”
“ Oh, ya baiklah”.
Aku, Takara dan ibu berjalan ke
dapur dan memasak. Setelah itu kami hidangkan makanan di meja dan menunggu Zuya
dan Tagao datang. Tak beberapa lama kemudian Tagao dan Zuya datang. Mereka
membersihkan diri lalu datang menghampiri untuk makan malam. Saat makan, ibu
berucap “ Makan malam ini sangat istimewa. Masakan Aresha, Takara dan juga
ibu”.
“ Benarkah? Pantas saja enak sekali”
puji Zuya.
“ Ya, aku suka. Besok masak lagi ya
Aresha”
“ Tidak!”
Tagao berhenti makan dan berucap“
Kenapa?”
“ Aku sudah kenyang, aku masuk kamar
dulu!”.
Melihat Aresha pergi dan ngambek, Tagao menyusulnya.
Masuk kamar dan berbaring di kasur lalu tidur. Tagao melihat Aresha tidur
berucap “ Maafkan aku, aku pergi lagi tanpa ijin”. Aku mendengar ucapannya,
namun tidak menjawabnya. Aku tidur mencoba melupakan Tagao, hanya ingin
melupakannya.
__ADS_1