Bride Of Vampire: The Revenge

Bride Of Vampire: The Revenge
Episode 88


__ADS_3

Aku terbangun dari mimpi indah ketika seseorang mengetok pintu kamar ini 3 kali. Aku cepat membuka pintunya,


kulihat Tagao di depan pintu. Lalu dia masuk dan berucap “ Maaf aku tak meminta ijin padamu”.


            Kubuka mataku lebar-lebar, tersenyum, berucap “ Tak apa sayang, aku mengerti kamu sibuk sekali hari ini”.


Kemudian  aku kembali tidur bersama Tagao.


***


            Pagi, setelah sarapan bersama. Pengawal datang dan berucap “ Ratu Aresha, ada seseorang mengantarkan bunga untuk Anda. Dia sedang menunggu nona di gerbang!”.


            Aku berdiri dan berucap “ Terima kasih. Tagao, aku pergi dulu ya!, lalu mencium suamiku dan pergi.


            “ Sebaiknya kamu menyusulnya” ucap Zuya.


            “ Baiklah” jawab Tagao.


            Di depan gerbang kulihat Aira sedang menunggu dengan bunga mawar di keranjangnya. Ketika melihatku, Aira memberikan bunga padaku dan berucap “ Ratu Aresha, aku membawakanmu bunga mawar”.


Aku mengambil bunga dari tangannya, “ Terima kasih banyak”.


Dari belakangku, Tagao berucap “ Siapa dia?”.


Aku menoleh kebelakang dan melihat Tagao jalan mendekat, memegang pundakku.


            “ Oh, dia. Dia adalah orang yang aku bayar untuk mengantarkan bunga mawar setiap pagi untukku mulai hari ini”.


            “ Mengapa tak meminta padaku?”


            “ Kupikir kamu sibuk dengan tugas kerajaan, jadi aku memintanya pada orang lain”


            “ Aku bisa membagi waktuku untukmu, Aresha. Aku suamimu, apapun akan kulakukan untukmu!”


            “ Hah, ya kamu memang suamiku. Tapi jangan lupakan juga tugas kerajaanmu. Bukankah kamu lebih suka pergi tanpa ijinku”


            “ Kamu masih marah karena aku tak meminta ijin padamu? Aku sudah minta maaf”.


            “ Apa hanya dengan minta maaf masalahnya selesai? Jika kamu memang benar-benar menyesal, buktikan padaku penyesalanmu itu. Kamu pergi saja dulu, nanti kita bertemu lagi”.


            Aira yang mengenakan kerudung hingga Tagao tak mengenalinya itu pergi. Kemudian aku berjalan menuju istana bersama Tagao. Dari dalam istana, Zuya dan Takara berjalan keluar menghampiri kami.


            “ Aresha, aku mau mengajakmu jalan-jalan hari ini” ucap Takara.


            “ Ya boleh”


            Takara mengajakku bicara sementara Zuya mengajak Tagao pergi, Takara mencoba mengecoh diriku agar tak mempedulikan kepergian Tagao.


            “ Takara, sebaiknya kamu juga pergi!”


            “ Apa maksdumu, Aresha?”


            “ Tagao mengajak Zuya pergi bukan?


Mengapa kamu tak bersama mereka? Aku sudah tidak sanggup lagi menjadi istri


seperti ini. Sejak kamu menikah dengan Zuya, semuanya telah berubah. Menjauhlah


dariku!”.


            “ Tak ada yang berubah Aresha,


kakakku masih mencintaimu sepenuh hatinya”


            “ Dia tak akan mencintaiku, tak akan


pernah”


            “ Ayolah Aresha, maafkan kakakku.


Mereka pergi untuk tugas kerajaan”


            “  Baiklah, aku maafkan. Tapi jangan ganggu aku, aku ingin sendirian”.


            “ Kamu serius?”


            “ Ya”, Takara pergi meninggalkanku.


Ketika itulah aku langsung mengambil kuda lalu pergi menuju istanaku yang telah


hancur.


***


            Istana Raja Oishima. Tagao, Zuya,


Kazima dan Oishima berkumpul dalam satu ruangan membicarakan pemberontakan yang


telah dilakukan wolf.


            “ Kumpulkan semua pasukan untuk


menyerang wolf dan mempertahankan tempat ini” perintah Oishima pada pasukannya,


“ Semua penyihir telah menjalani hukumannya, wolf tak akan mendapat bantuan


besar lagi”, lanjutnya.


            “ Sebentar lagi bulan purnama akan


datang, ini kesempatan peri untuk membunuh wolf dengan sinar bulan, dan vampire


akan menemukan kekuatan terbesarnya. Kita dapat dengan mudah menyerang wolf,


hanya saja . Sayangnya wolf juga memiliki kekuatan atas sinar bulan. Kita hanya


perlu keberuntungan” ucap Kazima.


            Tagao meminta pada panglima


perangnya untuk menyiapkan pasukan yang sangat banyak untuk berperang melawan

__ADS_1


wolf. Raja Oishima menyiapkan banyak pasukan. Sebelum menyerang mereka semua


dipersiapkan dengan baik.


***


            Lihatlah kehancuran, tak ada yang


tersisa. Istana yang hancur, dan hanya kenangan yang tertinggal. Aku menangis


menatapi apa yang didepanku. Sebuah kenangan indah, ibu dan teman-teman yang


memanggil namaku. Tiba-tiba seekor burung hantu berbulu putih hinggap di pohon


dan berucap “ Hay, Ratu Aresha. Aku Wild, burung hantu Ratu Mora. Aku ingin


memberi kabar padamu. Penyihir yang bersamamu, membelamu telah mati di tangan


Raja Oishima. Mereka dituduh atas penghiatan. Mereka memang berkhianat, Aresha.


Wolf mulai menguasi sebagian hutan Argon dan menyebar luas. Zuya dan Tagao juga


menghianatimu begitu juga dengan Takara”.


            “ Apa lagi yang kamu tau, Wild?”


            “ Wolf akan segera mengantikan


posisi Tagao dan juga Oishima. Wolf perang melawan mereka berdua. Tak ada


penyihir lagi dengan kekuatan sepertimu kecuali Zuya, tapi dia perlahan-lahan


kekuatannya menghilang”.


            “ Hem, Oishima menghianatiku juga.


Jadi selama ini mereka bekerja sama”. Kemudian burung hantu, Wild terbang.


Kukenakan kerudung hitam, lalu pulang ke istana. Kulewati  desa, dan pintu gerbang istana. Tiba-tiba


seorang pengawal berucap “ Maaf, buka kerudungmu”. Kulakukan perintahnya.


Pengawal itu menundukan kepala dan berucap“ Ratu Aresha!”.” Berdiri lah, tak


apa. Aku bangga padamu. Setidaknya kamu benar-benar menjalankan tugasmu”


jawabku. Kemudian kulanjutkan langkahku ke istana.


***


            Hutan Argon, Peri dan manusia satu


baris meneriakan kata serang begitu juga dengan wolf dan sihir. Mereka saling


menyerang, membunuh satu sama lain. Aira mencari Tagao dalam perang, Aira ingin


membunuh Tagao agar Aresha menjadi miliknya. Ketika kekalahan terlihat di peri


Zuya. Kazima tewas di tangan Aira. Wolf kembali mengaum kemenangan. Burung  hantu, Wild hinggap disalah satu pohon.


Penyihir yang melihat burung hantu Ratu Mora langsung membunuhnya dengan sihir.


            “ Apa yang kamu lakukan?” tanya Aira


            “ Membunuh burung hantu Ratu Mora,


dia akan memberikan kabar pada Aresha nanti”


            Aira tak menangapi, Aira berubah


menjadi wolf dan berlari menuju istana Tagao. Sebelum masuk desa ke istana,


Tagao berubah menjadi manusia dan mengenakan kerudung. Aira menghampiri


pengawal dan berucap “ Apa Ratu Aresha ada?”.


            “ Ada, kamu mau apa?”


            “ Aku ada janji dengannya”


            “ Baiklah, akan kupanggilkan”.


                                                                                    ***


            Kutemui Aira yang sedang menungguku


didepan gerbang istana.


            “ Kupikir kamu ada berjanji


denganku” ucap Aira.


            “ Kamu masih ingat ya ucapanku tadi


pagi?”


            “Ya, bagaimana aku bisa lupa


bukankah baru tadi pagi kamu ucapkan itu”


            “ Ya baiklah”.


            Aku dan Aira jalan-jalan diluar


istana.  Aira membuka kerudung dan


berucap “ Suamimu mana?”.


            “ Dia sedang pergi, kenapa?”


            “ Tidak ada apa-apa cuman tanya”

__ADS_1


            “ Kupikir kamu ingin bertemu


dengannya”


            “ Lain kali saja”


                                                                                    ***


            Duka kembali menyelimuti peri atas


kematian Kazima dalam perang. Raja Oishima sedang berduka mendalam. “ Kekuatan


mereka semakin besar saja, apa yang harus kita lakukan” ucap Zuya.


            “ Tidak ada, kalian pulanglah


keistana. Tak perlu lagi memikirkan perang ini, semuanya akan baik-baik saja”


jawab Oishima.


            “ Bagaimana aku bisa mengatakan


semua ini baik-baik saja, Oishima. Sudah banyak yang kita korbankan, apa kau


menyerah”.


            “ Aku bukannya menyerah tapi akan


lebih baik jika aku hanya mempertahankan istana ini. Dan kalian mempertahankan


istana dan kekuasan kalian sendiri”.


            “ Baiklah, jika itu maumu. Akan kami


laksanakan, Raja Oishima” jawab Tagao. Tagao dan Zuya pulang ke istana,


meninggalkan Oishima dalam duka.


***


            Menjelang sore, aku barulah pulang.


Aira mengantarkanku sampai pintu gerbang istana.


            “ Sampai jumpa lagi, Aresha”


            “ Ya, sampai jumpa. Besok bawakan


aku bunga ya!”


            “ Ya, akan lebih banyak


untukmu”,  Aira mengenakan kerudung dan


pergi.


            Kulangkahkan kaki masuk ke istana.


Kulihat Takara sedang menemani ibunya. Takara melihatku dan berucap “ Aresha,


kamu sudah pulang. Ayo sini!”. Kuhampiri Takara dan ibunya, lalu duduk


disamping Takara.


            “ Ada apa?”


            “ Masak-masak yuk! Aku dan ibu mau


masak-masak buat makan malam nanti”


            “ Oh, ya baiklah”.


            Aku, Takara dan ibu berjalan ke


dapur dan memasak. Setelah itu kami hidangkan makanan di meja dan menunggu Zuya


dan Tagao datang. Tak beberapa lama kemudian Tagao dan Zuya datang. Mereka


membersihkan diri lalu datang menghampiri untuk makan malam. Saat makan, ibu


berucap “ Makan malam ini sangat istimewa. Masakan Aresha, Takara dan juga


ibu”.


            “ Benarkah? Pantas saja enak sekali”


puji Zuya.


            “ Ya, aku suka. Besok masak lagi ya


Aresha”


            “ Tidak!”


            Tagao berhenti makan dan berucap“


Kenapa?”


            “ Aku sudah kenyang, aku masuk kamar


dulu!”.


            Melihat  Aresha pergi dan ngambek, Tagao menyusulnya.


Masuk kamar dan berbaring di kasur lalu tidur. Tagao melihat Aresha tidur


berucap “ Maafkan aku, aku pergi lagi tanpa ijin”. Aku mendengar ucapannya,


namun tidak menjawabnya. Aku tidur mencoba melupakan Tagao, hanya ingin


melupakannya.

__ADS_1


__ADS_2