
Pagi, siapa yang tidak kaget dengan kemunculan tiga
orang di pagi hari? Mereka adalah tamu tak diundang. Tagao, Aira dan Eriska
datang. Mereka menungguku di luar. Aku yang baru membuka pintu kaget melihat
kedatangan mereka.
“Kalian sedang apa disini?,”tanyaku.
“Kamu tahu sendiri kan, selagi cristal itu masih ada
padamu tentu kami akan menjagamu kemana pun kamu pergi!,”jawab Eriska.
“Dan tidak termasuk aku pergi ke sekolah! Disana tidak
ada apa-apa dan aku baik-baik saja”,
“ Kami akan tetap menjagamu!”,
“Baiklah, tapi boleh aku tau siapa diantara kalian
wolf?”,
Aira pun tersenyum manis yang menandakan dirinya lah
wolf. Setelah aku tahu siapa yang wolf akhirnya kubiarkan saja mereka
mengikutiku hingga ke sekolah. Jalan kaki adalah pilihannya.
“Kenapa kamu jalan kaki? Bukannya sekolah jauh ya?”,
“Jika aku jadi kalian aku akan tetap jalan kaki kemana
pun!”,
Tiba-tiba diperjalanan tanpa diduga Aksara datang dengan
mobilnya, dan berhenti tepat di samping kami.
“Hay, Aresha! Mau ikut denganku?”,
Mereka bertiga nampak memperhatikan Aksara sejenak,
“Ya boleh!”,
Tapi Aira menghalangi langkahku, “ Dia tidak akan ikut
denganmu!”,
“Aira, dia temanku! Kenapa tidak boleh?”,
“Bukankah seperti yang kamu tahu bahwa kita telah
berjanji dan janji itu harus dilaksanakan,”senyumnya.
“Baiklah, Aksara maafkan aku. Aku tidak bisa ikut
denganmu, tapi lebih baik kamu ke sekolah dulu. Bukannya kamu ada kegiatan pagi
hari ya?’,
“Oh iya benar, baiklah sampai jumpa di kelas!”, Aksara
berlalu.
“Kenapa aku tidak boleh ikut dengan temanku?”,
“Ia bukan temanmu!”,
“Ia temanku!”,
“Bukan!”,
“Tapi ia sekelas denganku”,
“Tapi ia tidak seperti yang kamu duga, ia bukan manusia.
__ADS_1
Ia seorang dengan aura kegelapan”,
“Hah, menyebalkan sekali! Apa kalian tidak lihat kalian
sendiri apa?”,
“Aku adalah wolf”,
“Aku vampir”,
“Aku penyihir”,
“Tapi kami bukan dari kegalapan”,
“Apa bedanya?”,
“Bedanya kegelapan apa dengan kalian?”,
“Kami tidak jahat!”,
“Tidak jahat? Lalu apa menurut kalian membunuh manusia
yang tidak bersalah itu tidak jahat?”, Aku pun segera melanjutkan langkahku
tanpa banyak bicara lagi dengan mereka. Aku tahu jika terus bicara mereka akan
terus membela diri mereka tanpa rasa bersalah.
Setiba di
sekolah aku segara pergi ke loker sementara mereka bertiga pergi entah kemana,
mereka hanya mengantarku sampai pintu gerbang sekolah. Di loker aku mengamati
teman-teman perempuan mereka nampak sangat senang telah mendapat bunga dari
Aksara. Saat menutup pintu loker, tiba-tiba Aksara langsung berada di
sampingku.
“Pagi!”,
“Dimana temanmu tadi?”,
“Pergi menghilang”,
“Ajaib?”,
“Tidak, itu mengesalkan pergi tanpa pamit”,
“Ya, menurutmu bagimana?”,
“Bagaimana apanya?”,
“Yang baru saja kamu lihat!”,
“Lumayan membuat mereka bahagia”,
“Apa kamu juga ingin seperti mereka?”,
Menatap Aksara sejenak, lalu berucap “ Tidak!”,
“Kenapa?”,
“Aku tidak mau memperebutkan satu orang lelaki yang ada
didepanku, akan lebih baik menjadi teman saja yang bisa menjagaku”,
“Benar, sekarang kita kekelas yuk!”,
__ADS_1
“Emang tadi kamu ngak kekelas?”,
“Ngak, aku ngobrol dengan anak perempuan lainnya”,
“Ya boleh saja, asal jangan menaburkan cinta palsu untuk
mereka. Aku kasihan pada mereka jika kamu berani-berani menyakiti mereka. Aku
akan memukulmu!”,
“Em, jangan begitu. Aku tidak akan begitu, aku senang
pada mereka karna mereka menyukaiku dan senang padaku”,
“Ya baiklah”,
Aku dan Aksara pergi ke kelas. Sepanjang perjalanan anak
perempuan yang melihat kami tersenyum manis. Kini aku merasa mereka tidak akan
dendam padaku.
Setiba di kelas, aku duduk di kursi sementara Aksara
duduk di samping diriku.
“ Apa kamu melihat tatapan mereka?,”tanya Aksara.
“Iya aku melihat!”,
“Mereka terlihat senang ya!,”senyum manis Aksara.
“Ia benar!”,
“Dan sekarang pun tidak akan ada yang bisa menganggu
kamu juga. Aku merasa Wen tidak akan menganggumu sebab ia tahu bahwa kamu
adalah temanku”,
“Ya, terima kasih”.
***
Sementara itu, di atas menara jam. Tagao, Aira dan
Eriska memperhatikan Aresha dari kejauhan yang bicara dengan Aksara.
“Menurutmu apa Aresha akan percaya jika aku mengatakan
bahwa pria itu jahat?,”tanya Eriska.
“Tidak, dia tidak akan percaya sebab dia adalah teman
satu-satunya disana!”,
“Bagaimana kalau kita menjadi temannya!”,
“Hah, dia tidak terlihat sebagai orang yang mudah
percaya pada orang lain”,
“Benar!”,
Kita hanya perlu menunggunya pulang sekolah lalu
menjaganya kembali.
“Benar, dan aku tidak sabar untuk mendapatkan kekuatan
itu!,”ucap Aira.
Sementara itu, di atas menara jam. Tagao, Aira dan Eriska memperhatikan Aresha dari kejauhan yang bicara dengan Aksara.
__ADS_1