Bride Of Vampire: The Revenge

Bride Of Vampire: The Revenge
Episode 160


__ADS_3

Tidak lama kemudian, guru pengajar pun datang dan pelajaran kembali di mulai. Aku dan Xia kembali mendengarkan penjelasan guru. Guru kali ini terlihat ramah, ia bahkan mengajari kami tidak hanya dengan teori tetapi juga dengan mempraktekannya secara langsung. Sebagai perwakilan salah satu dari kami akan melakukannya.


Salah satu dari kami memberanikan diri maju ke depan, dan melakukan seperti yang dilakukan oleh guru yakni mengubah air menjadi senjata. Ya mengubah air menjadi senjata itu adalah hal yang mudah. Lalu mengubahnya menjadi es, ya air yang tadinya tidak bisa melukai sekarang dapat melukai siapa saja. Ia memiliki mata yang tajam seperti layaknya pedang.


Setelah berhasil melakukan itu, kami semua bertepuk tangan meriah untuknya. Ya terdengar pula suara pujian dari teman- teman yang lain.


“Yaa... kamu hebat! Kamu memang hebat!”


“Ya, sangat mengagumkan!”


Tiba- tiba saat pujian itu berlangsung, sorot mata dari anak perempuan melihat ke arah Xia. Ia berucap pelan tetapi dapat di dengar oleh Xia.


“Tidak sepertimu, gadis lemah!”


Xia yang mendengar itu hanya tersenyum sinis, ia tampak biasa saja dengan ocehan temannya itu.


Beberapa jam berlalu, pelajaran pun berhenti.


Kami semua segera keluar dari kelas, dan berjalan menuju tempat masing- masing. Malam masih menemani kami hingga kami masih punya kesempatan untuk jalan- jalan. Ya ini bukan karena sihir melainkan karna guru kami mempercepat kepulangan kami.

__ADS_1


Aku dan Xia berjalan ke toilet. Kami segera masuk dan melihat diri kami di depan cermin. Xia merapikan pakaiannya begitu juga dengan diriku. Tetapi aku menatap tajam cermin itu tanpa tersenyum sedikit pun.


Beberapa jam berlalu, pelajaran pun berhenti.


Kami semua segera keluar dari kelas, dan berjalan menuju tempat masing- masing. Malam masih menemani kami hingga kami masih punya kesempatan untuk jalan- jalan. Ya ini bukan karena sihir melainkan karna guru kami mempercepat kepulangan kami.


Aku dan Xia berjalan ke toilet. Kami segera masuk dan melihat diri kami di depan cermin. Xia merapikan pakaiannya begitu juga dengan diriku. Tetapi aku menatap tajam cermin itu tanpa tersenyum sedikit pun.


Xia yang melihat diriku pun mulai merasa aneh, ia berucap “Aresha, apa kamu baik- baik saja?”


Aku yang menatap tercermin tertegun dari lamunan setelah Xia berucap padaku, aku pun sengeja menjawabnya “Ya ada apa?”


Aku menatap cermin kembali, lalu melihat ke arah Xia dan tersenyum manis.


“Tidak, aku tidak baik!”


Xia langsung kaget, dan ia mendekatiku menyentuh keningku. Ia merenggutkan wajahnya setelah merasa bandanku tidak panas. Ia menjauhi selangkah dan berucap “Kamu tidak sakit. Ada apa? Apa kamu memiliki masalah?”


“Ya, ada. Tapi tidak apa, bukan masalah besar”

__ADS_1


“Hey kenapa begitu? Bukankah kita teman! Kalau kamu adalah temanku, kamu harus menceritakan masalah itu juga padaku!”


“Ya, tapi ini bukan masalah besar. Kadang teman juga tidak harus ikut campur urusan pribadi kan?”


“Ah, jadi urusan pribadi? Ya tentu saja tidak!” jawabnya sembari mencuci tangan dan mengeringkannya.


Aku pun segera mencuci tanganku dan kembali menatap cermin yang bersih tanpa noda itu. Semua bayanganku terlihat di cermin, semuanya tampak indah tetapi aku mengkhawatirkan sesuatu.


“Apa kamu sudah selesai?” tanya Xia padaku sembari melihat diriku yang terus menatapi cermin.


“Ya sudah” jawabnya sambil tersenyum.


Lalu aku dan Xia segera keluar dari toilet ini, menutup kembali pintunya. Keheningan pun segera mengisi ruangan itu lagi. Tetapi di depan cermin yang kosong itu sebuah bayangan telah muncul. Di depan cermin telah memperlihatkan seorang perempuan berdiri seorang diri dengan pakaian mantel yang indah. Ia tersenyum manis dan tangannya mulai mengarah ke depan. Menggerak- gerakan jarinya seperti sedang meremas, dan seketika itu juga kaca itu pecah berkeping- keping hingga perempuan itu tak terlihat lagi.


Berjalan bersama Xia menuju taman akademi, langkah kami terhenti begitu melihat perkumpulan anggota pengawas akademi ini. Mereka semua berada disini, ya tetapi tidak semuanya. Di taman ini ada pengawas Roman, Violin, Hastin, Razel dan dua orang yang belum kukenal.


Aku sama sekali tidak tertarik dengan pengawas itu, tetapi Xia tampaknya tertarik dengan salah satu pengawas yang belum kukenal itu. Ia terlihat terdiam saat melihatnya, ya pengawas yang belum kuketahui namanya itu adalah seorang pria. Aku pun pergi meninggalkan Xia, membiarkannya menikmati pemandangan yang membuat matanya menjadi lebih segar itu.


Aku segera menuju tempat yang lebih baik, tempat yang tenang namun masih berada di taman ini. Aku mendekati pohon besar yang rindang dan duduk disana seorang diri. Lampu taman yang berada di dekat pohon ini menerangi diriku.

__ADS_1


“Hah, apakah aku bisa hidup lebih baik? Aku tidak tahu harus bagaimana, tapi mengulang waktu itu adalah kesalahan besar. Jadi apa aku harus mundur?” gumanku pada diri sendiri sembari memikirkan kehidupanku yang dulu.


__ADS_2