
***Aresha**
Baru saja berjalan meninggalkan pintu gerbang utama akademi Yexiao, sebuah mobil berhenti tepat di sampingku. Seseorang membuka pintu kaca mobil depan, dan terlihatlah seorang pria yang tidak lain adalah Ethan.
“Hai, mau kemana?” sapanya padaku.
Aku berhenti berjalan dan melihat Ethan yang ada di dalam mobil, lalu kembali berjalan tanpa berkata sepatah kata pun. Ethan tersenyum manis, ia pun segera turun dari mobilnya dan menyusul kepergian gadis itu.
“Hai, kamu mau kemana? Bolehkah saya antar kamu?” ucap Ethan yang berjalan disampingku.
Aku tersenyum, dan menjawab “Aku akan pergi ke beberapa tempat. Tidak ada gunanya tetap disini, tidak dihargai sama sekali dan lebih baik membiarkan saja. Lagi pula jika ada orang lain menyalahkanku yang tidak membantu, aku akan menjawab ‘Aku tidak punya klan!’” ucapku.
“Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan apa yang dikatakan oleh pria itu!” ucap Ethan yang ragu-ragu untuk merangkul gadis disampingnya ini.
“Kamu ingin mengantarku kan? Bisakah antar aku ke sebuah tempat?”
“Ya tentu saja, tunggu lah!” ucap Ethan sangat senang. Ia bergegas pergi ke mobilnya dan mulai mengemudikan mobil.
Tidak lama kemudian Ethan kembali, dan ia membukakan pintu mobil depan untukku.
“Masuklah!” ucap Ethan.
Aku pun segera masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya kembali. Mobil ini pun mulai melaju. Sembari mengemudikan mobil, Ethan berucap “Kita mau kemana?”
“Bisakah kita pergi ke cafe?”
Ethan tersenyum manis dan berpikir Aresha diam-diam mengajaknya berkencan. Ia merasa apa yang dikatakan oleh nyonya perpustakaan kota memang benar, bahwa seseorang telah kembali ke dunia ini.
“Cafe yang mana yang akan kita kunjungi?” tanya Ethan.
“Cafe Flower!” ucapku.
__ADS_1
Kemudian Ethan mulai mengemudikan mobilnya, melaju di jalanan.
“Aresha, kamu tinggal dimana?”
“Hah, kenapa tiba-tiba ingin tahu rumahku?”
“Apakah aku tidak boleh tahu dimana rumahmu?”
Aku menggelengkan kepala, “Tapi aku akan menepati janji padamu, kita akan jalan-jalan kan? Lagipula aku tidak ikut ujian ability magie dan tidak ada yang bisa aku lakukan!”
“Jadi kamu menepati janji? Secara mendadak?”
“Ya benar, apa itu tidak boleh? Oh jangan-jangan kamu sibuk ya?”
“Tidak, aku bisa kok menemani kamu hari ini. Apakah kita kencan?”
Sontak diriku tertawa kecil, “Hahaha....itu lucu sekali! Sejak kapan aku mengatakan ini kencan? Kita cuman jalan-jalan ok?.”
*Cafe Flower
Aku dan Ethan segera memasuki cafe Flower. Aku sengaja memilih tempat duduk yang tidak jauh dari keberadaan dekat dengan Romeo dan Alecia Dandelion. Aku disini hanya untuk mengamati dua orang ini hingga seorang pelayan datang menghampiri kami.
“Selamat datang di cafe Flower, nona dan tuan mau pesan apa?” ucap seorang pelayan sembari memberikan buku menu.
Aku membuka buku menu yang diberikan oleh pelayan. Ada banyak pilihan menu di tempat ini.
“Aku ingin memesan minuman dingin, coklat cafe ice jeruk mangga berry alpukat apel” ucapku mengucapkan satu minuman. Pelayan mencatat menu yang kupesan.
“Aku kentang tomat emas dan jus tomat red” ucap Ethan.
Pelayan kembali mencatat menu yang kemudian pergi meninggalkan kami. Aku selalu mengarahkan pandangan pada Romeo dan Alecia Dandelion.
__ADS_1
“Kamu melihat siapa sih?” ucap Ethan melihat ke belakang dirinya, dan ia terkejut melihat Roman juga ada di tempat ini. Lalu kembali berucap, “Apa kamu mengenal pria itu?”
“Tidak, aku tidak mengenalnya.”
Ethan memasang wajah cemberut, ia berpikir Aresha tertarik dengan pria itu yakni Romeo.
“Kenapa kamu tidak melihat pria tampan yang ada di depanmu ini saja?”
“Hah, memang sejak tadi aku tidak melihat pria tampan di depanku ini ya? Apa mungkin pandanganku ini terlalu jauh ya? Aku tidak berani melihat yang di depanku sih!” ucapku sembari mengalihkan pandangan ke belakangnya.
Ethan tersenyum, ia baru tahu jika Aresha tidak berani memandang wajahnya. Sifat Aresha ini membuat dirinya teringat pada pertemuan pertama dirinya dengan seorang putri bangsawan di keadaan Ethan yang terburuk.
“Kenapa? Tetapi bukankah tadi kamu melihat ke arahku juga?”
“Ya, tadi. Apa kamu sendiri tidak keberatan berteman denganku yang tidak punya klan ini?” ucapku melihat Ethan dengan senyum manis.
“Tuh berani melihatku!” kesalnya yang membuatku tertawa kecil.
Kami terus berbincang hingga menu yang kami pesan tiba. Pelayan meletakan menu yang kami pesan di atas meja. Aku yang sejak tadi memperhatikan Alecia bersama Romeo. Aku melihat mereka saling berpegangan tangan. Aku tersenyum melihatnya, rencananya berjalan mulus dan Lady Dandelion juga ada disini. Ia berhasil mendapatkan banyak gambar romantis mereka berdua.
Tapi sesuatu tidak terduga olehku juga terjadi padaku. Sesuatu itu adalah menaruh harapan yang sangat kubenci dalam hidupku. Ethan mencoba memegang erat tanganku di atas meja ini, aku selalu menjauhkan tanganku dari tangannya. Wajahku tetap tersenyum sementara hatiku berkata kesal.
“Bisakah kamu menjauhkan tanganmu dari tanganku?” ucapku dengan pelan.
“Bagaimana ya? Bukankah ini kencan pertama kita?!” ucap Ethan.
“Hah ya ampun! Sejak kapan aku akan mengakui ini kencan kita? Hah ya ampun!” ucapku sembari memegang kening kepala.
Ethan justru menatapku dengan menyangga wajahnya dengan kedua tangan dan tersenyum. Ia terlihat tampan dan cute.
“Apakah kamu menolak berkencan denganku? Pria tampan dan cute ini?” ucapnya yang membuatku tersenyum.
__ADS_1