
Melihat wajah Roman dengan raut sedih, aku tak peduli dengannya dan langsung pergi ke kamar Roman. Roman yang melihat kepergian Violin, masuk ke kamar hanya bisa tersenyum dengan raut wajah sedih.
“Apa aku telah keterlaluan denganmu? Maaf ya…aku sungguh rindu kamu. Tuan Putri yang cantik”ucap Roman tersenyum. Ia masih ingat wajah seorang gadis yang dia sia-siakan, penyesalan masih menghantuinya. Tak seharusnya Roman mensia-siakan gadis itu, Roman seharusnya memberi perhatian padanya tapi kini semua itu sudah terlambat. Nasi sudah menjadi bubur, semua hanya tinggal kenangan. Sekarang berkat pembangkitan, istrinya hidup kembali namun harus menjadi gadis lain dan meninggalkannya karna terluka. Kini istrinya berreinkarnasi menjadi gadis lain yaitu Violin. Sekarang Roman hanya perlu menyakinkan bahwa ia akan menjadi suami terbaik dalam hidup Violin. Roman akan terus mencintai Violin sama seperti dulu, hanya kini semua berbalik.
Dulu Roman lah yang selalu dinantikan istrinya, Roman lah yang selalu di utaman sang istri. Sang istri mencintai Roman dengan tulus meski ia telah tahu bahwa Roman tak pernah mencintainya. Pernikahan ini hanya karna dendam. Tapi sekarang takdir berbalik, sekarang Roman ingin memperbaiki masa lalu itu hingga ia lah yang harus mengejar sang istri yang berreinkarnasi. Walau Roman sendiri tahu bahwa ia hanya mencintai kekasihnya, Romeo. Sekarang istrinya berreinkarnasi menjadi Violin. Kehidupan ini sangat berbeda, entah apakah cinta mereka kembali bersatu setelah dikhianati dan membohongi diri sendiri?. Semua bagaikan mimpi menjadi orang lain di dunia yang berbeda.
Di saat memeluk Violin, pikirannya adalah memeluk sang istri hanya saja sekarang ia telah berbeda. Waktu telah mengubah semuanya, menguji kesabaran untuk menanti istrinya kembali. Reinkarnasi lah yang telah mengubah kehidupan itu. Reinkarnasi memiliki peraturannya sendiri, dan jiwa-jiwanya tak akan jauh dari orang yang menantikan dirinya kembali. Hanya saja dua sifat ganda akan selalu disandangnya hingga kutukkan itu berakhir atau waktu memisahkan mereka. Mengubah dan memperbaiki masa lalu tidak lah mudah, apa lagi diri Roman yang sekarang bukanlah manusia. Roman adalah vampire, pangeran vampire yang terhormat. Meski memiliki kekayaan yang melimpah tetapi ia sama sekali tak memiliki senyum sangat berarti selain bersama sang istri. Hari-harinya hanya untuk menanti dan memperbaiki kesalahan, berharap istrinya akan segera kembali. Senyumnya yang manis hanyalah sebuah senyum tak bermakna, kecuali untuk sang istri. Kecuali untuk sang istri. Kecuali untuk sang istri. Ya kata itulah yang perlu di ingat, ia bukan pria yang mudah di goda dan bukan pula pria yang tidak suka wanita. Semua ini hanya untuk memperbaiki masa lalu dan untuk sang istri tercinta bukan untuk wanita lain.
Kelam, gelap dan penyesalan hanya ada di akhir yang tak akan mudah untuk diperbaiki.
Melangkahkan kaki memasuki kamar Roman, mengambil tas lalu memasukan buku bulan, charger dan ponsel ke dalamnya. Lalu merias diri di depan cermin rias, setelah terlihat cantik dan rapi aku bergegas menuju halaman depan dimana Roman telah menantiku.
Roman menungguku depan pintu mobil, lalu ia sendiri yang membuka kan pintu untukku lalu menutupnya kembali. Aku duduk di kursi depan, sementara ia sebagai pengemudi mobil sport ini. Mobil bewarna biru menawan. Meletakan tas di depan, di dekat kakiku lalu memasang sabuk pengaman. Setelah itu kami segera berangkat ke Vampire Love.
Tiba di perusahaan Vampire Love, kedatangan Roman denganku disambut oleh pegawai disana.
“Siang, Tuan Roman!”sapa mereka
“Siang, apa ayah ada di ruangannya?”jawab Roman
“Ya, dia ada di ruangannya”,
Kami pun bergegas menuju ruangan Pak Dir sekaligus adalah ayah Roman. Kami melewati ruang sekretaris, lalu mendapati satu ruangan yang tertutup. Roman pun mengetok pintu itu hingga mendapat jawaban dari dalam.
“Ya, silahkan masuk!”,
Aku dan Roman segera masuk ke ruangan, dan melihat ayah Roman sedang mengerjakan tugasnya. Ia segera menyingkirkan pekerjaanya begitu melihat Roman datang.
“Oh Roman dan Violin ya, silahkan duduk!”,
Kami pun duduk bersampingan dan berhadapan dengan Pak Dir.
“Ya, ada yang bisa saya bantu?”tanya Pak Dir
“Ayah, temanku menemukan tentang perusahaan kita. Violin mendapati pesan yang saya rasa mengancam kelangsungan perusahaan. Ayah harus mengklarifikasi ini pada media. Coba ayah lihat pesan ini. Pesan ini bisa menyebar di media social, Violin menemukannya di blog pribadinya”ucap Roman menjelaskan.
Aku pun segera mengelurkan ponselku, lalu memperlihatkan pesan itu pada Pak Dir. Pak Dir segera membaca pesan itu, ia pun mengerti apa maksud putranya sekarang.
“Kemarin aku dalam kesulitan uang, aku tidak punya apa pun setelah suamiku mengalami kebangkrutan. Bahkan rumah kami saja telah di ambil bank. Tapi setelah aku mendapat kabar dari temanku bahwa ada cara untuk menyelesaikan itu semua dengan cepat dan keuanganku pun akan cepat bertambah tanpa mengalami kebangkrutan. Dia adalah Pepuan, seorang ahli dalam bidang pengadaan keuangan. Uang Anda akan cepat kembali dalam waktu 5 hari. Berinvestasi dengan jumlah uang 100 ribu rupiah uang Anda akan kembali dalam 5 hari adalah Rp.1.000.000,00. Saya dulu juga pernah ragu, apakah ini penipuan atau tidak? Tapi setelah saya melihat testimony dari clien Pepuan. Akhirnya saya memberanikan diri dengan mengadakan uang saya 100 ribu rupiah, lalu saya tunggu dalam 5 hari. Uang saya benar-benar kembali dalam jumlah yang lebih banyak yaitu 1 juta rupiah. Saya pun akhirnya menambah pengadaan uang saya yaitu 1 juta dan saya tunggu dalam 10 hari. Uang saja kembali dalam 10 juta rupiah. Perlahan-lahan keuangan saya membaik, sekarang saya memiliki dua rumah, dua mobil, 5 sepeda motor, dan perusahaan saya berkembang pesat. Saya sekarang menjadi bagian dari perusahaan Vampire Love. Saya sungguh tak menduga akan sangat cepat mengubah hidup saya, sekarang saya sangat berterima kasih dengan Pepuan. Saya akan terus membagikan kisah ini kepada siapapun untuk mengubah hidup mereka. Kamu perlu bantuan? Hubungi saya di 08XXXXXXXXXXX.”
“Ya ampun, ini sangat gawat. Mereka mengatasnamakan perusahaan ini. Aku akan segera membuat laporan pada masyarakat bahwa berita ini bohong. Ya….Nona Violin, bisakah kamu temui sekretaris saya dan katakan bahwa ia harus membuat liputan?” ucap Pak Dir sambil memberikan ponselku.
Kuambil ponselku dari tangan Pak Dir lalu berucap “Ya tentu”. Aku pun segera pergi keluar.
Setelah Violin pergi, Pak Dir dan Roman berbicara dua mata. Pembicaraan yang serius terjadi.
“Apa maksudmu? Yang jelas itu tidak ada pengaruh”ucap Pak Dir
__ADS_1
“Apa kau ingin ada orang lain menuntut perusahaan kita? Kau lihat di pesan itu, seseorang melibatkan perusahaan kita. Aku ingin kamu membereskan semua ini. Cari orang yang dapat menyelesaikan ini”jawab Roman sambil menatap tajam Pak Dir. Roman menatapnya dengan menyertai perubahan pada mata. Ia mengubah dirinya menjadi vampire, matanya pun memerah yang membuat Pak Dir ketakutan setengah mati. Keringat dingin dan suara gemetar segera keluar dari diri Pak Dir. Ia mengambil tisu dan menyekanya.
“B-baik, T-tuan Roman”jawab Pak Dir gemetaran dan menyeka keringkat dingin yang terus keluar.
“Dan, bisakah kamu siapkan pakaian sekolah untuk Violin. Dia akan menginap di rumah kita selama beberapa hari?”
“T-tentu, itu sangat mudah. K-kurasa sekretarisku sudah mengidentifikasi dia. T-tapi T-tuan Roman, a-aku perlu bukti pesan itu u-untuk menyelesaikan khasus ini”,
“Baguslah, aku akan memberikan pesan itu. Tunngu saja sekretarismu akan mendapatkannya, dan beritahu sekolahku bahwa aku dan Violin ijin tidak masuk!”jawab Roman yang kemudian pergi keluar ruangan ayahnya.
Aku sedang berbicara dengan sekretaris Pak Dir, menyampaikan pesan Pak Dir untuknya. Begitu melihat Roman keluar dan mendekat, aku pun bertanya.
“Bagaimana?”
“Beres, berikan ponselmu dan tunjukan pesan itu padanya.”
Lalu kutunjukan pesan itu pada sekretaris dan ia mengambil gambar dari ponselnya.
“Ayo kita pulang!”ajak Roman pergi lebih dulu.
“Baiklah, sampai nanti!”jawabku lalu memberi salam perpisahan dengan sekretaris dan menyusul Roman yang pergi lebih dulu.
Sementara sekretaris Pak Dir hanya tersenyum manis, lalu ia mulai menghubungi Pak Dir memberi informasi dan menanyakan tugas dari Tuan Roman.
“Pak Dir, apa yang dikatakan Roman? Pak Dir baik-baik saja?”
“Tentu”jawab sekretaris. Mendengar suara Pak Dir sekretaris tahu kalau Pak Dir sedang tidak baik.
“K-kalau begitu, t-tolong belikan pakaian yang sesuai dengannya. Ia bersekolah di tempat yang sama dengan T-tuan Roman”,
“Baik, Pak Dir”
Komunikasi terputus, lagi Pak Dir terus menyeka keringat dingin dengan tisu. Perlahan-lahan gemetaran Pak Dir menghilang. Keringat dingin pun tidak lagi keluar, semua kering di bantu oleh AC. Kini Pak Dir merasa tenang sedikit.
“Ya ampun, kenapa aku selalu hampir gemetaran dan keluar keringat dingin disaat ia menunjukan dirinya yang sebenarnya? A-apa aku ketakutan? Tapi ia tuanku. Ia juga yang memiliki semua ini. Sekarang aku harus membuat pengumuman. Aku tak akan mensia-siakan ini”guman Pak Dir.
Lalu Pak Dir kembali menghubungi sekretarisnya, ia meminta bantuan sekretarisnya untuk membuat pengumuman tentang berita temuan itu. Lalu Pak Dir menghubungi kepala sekolah HS7 untuk memberitahu kepala sekolah bahwa Roman dan Violin ijin tidak masuk sekolah hari ini.
Aku dan Roman berjalan keluar dari tempat ini, kami menuju ruang depan. Menuju mobil yang terparkir. Sambil masuk ke mobil dan mengenakan sabuk pengaman, aku bertanya pada pria ini yang langsung mengajaku pergi. Ini tentu membuatku curiga padanya.
“Apa yang terjadi saat aku keluar ruangan Pak Dir?”tanyaku
“Tidak ada, hanya percakapan ayah dan anak”,
“Tidak ada masalah? Jika kamu punya masalah, kamu boleh bercerita denganku. Aku akan menyimpan semua itu dan berjanji tidak akan memberitahu orang lain”
“Tidak ada, Violin. Kamu mau kita kemana? Jalan-jalan?”
__ADS_1
“Apa kamu tahu tempat yang terbaik di kota ini? Aku dan dua temanku hanya mengunjungi wahana setiap akhir pekan atau pergi ke taman”,
“Kita ke taman, bagaimana?”,
“Boleh”jawabku dengan tersenyum manis.
Lalu Roman mulai mengemudi, dan kami pergi menuju taman. Perjalanan menuju taman, aku malah merasa aneh. Roman seperti membawaku ke rumahnya kembali. Jalan yang kami lewati adalah jalan yang sama menuju rumahnya. Bahkan kami telah melewati taman kota.
“Roman, bukankah kita sudah melewati taman kota?”tanyaku sambil menunjuk taman kota yang terlewati.
“Ya, kita tidak akan ke taman itu. Kita akan pergi ke taman yang lebih bagus”,
“Dimana taman itu?”
“Lihat saja, kamu akan tahu!” jawab Roman yang membuatku semakin penasaran.
Tak beberapa lama, Roman membelokan mobilnya dan memasuki gerbang. Rasa penasaranku terjawab dan aku langsung mengeluarkan ekspresi tidak suka. Roman membawaku pulang ke rumahnya. Aku menduga yang dia maksud dengan taman adalah tempat yang kukunjungi tadi. Taman belakang rumah.
Roman yang melihat ekspresi kesal diriku malah tersenyum manis. Kami tiba di halaman rumah, dan Roman menghentikan mobilnya. Ia segera turun sementara aku menahan diri karena kesal padanya. Roman berkeliling, dan ia mengetok kaca mobil memintaku untuk menurunkan kaca.
“Apa?”tanyaku dengan kesal
“Ayo turun! Aku akan menunjukan tempat yang belum kamu tau”jawab Roman
“Mundur kalau gitu”ucapku masih kesal.
Aku segera membuka pintu mobil, mengambil tas dan mengenakannya. Setelah itu aku pergi dengan Roman menuju tempat yang ingin ia tunjukan padaku. Melihat diriku masih kesal, Roman memegang tanganku. Ia menarikku untuk berjalan lebih cepat. Roman membawaku ke taman belakang rumah yang luas menuju sebuah rumah kecil yang berpintu satu. Biasanya rumah ini ada di pemakaman. Aku melihat rumah kecil satu pintu ini berpikir ini adalah tempat makam seseorang, ada ukiran bunga di sekitar pintu.
Roman pun segera membuka pintu dengan kunci yang di ambil di karpet lantai. Pintu terbuka, sekarang kegelapan terlihat menyelimuti ruangan ini. Rumah kecil satu pintu ini ternyata memiliki ruang bawah tanang. Roman segera menyalakan obor, lalu mengajakku ke bawah yang membuat diriku takut dan menahan diri.
“Aku takut!”ucapku menahan diri untuk tidak masuk.
Lagi, Roman memegang tanganku sambil tersenyum ia menjawab “Tidak apa-apa, kamu akan baik-baik saja kok. Tidak akan ada yang menyakitimu. Kupikir ini juga akan membuatmu aman. Ayo masuk, kita harus segera mengunci pintu agar Eren dan Akira tidak bisa masuk”,
“Apa kamu akan melindungiku?”,
“Tentu, kan aku sudah berjanji denganmu untuk melindungimu”
“Baiklah”jawabku yang akhirnya memberanikan diri untuk masuk. Begitu masuk, Roman segera mengunci pintunya dari dalam. Lalu ia mengambil obor yang menyala. Roman berjalan lebih dulu, ia lagi-lagi memegang tanganku. Ia membawaku ke ruang bawah tanah yang lumayan luas. Ruang bawah tanah yang dapat di sebut untuk memakamkan seseorang. Disini terdapat satu peti mati yang semakin membuatku takut.
“P-Peti mati siapa itu?”
“Tak usah takut, itu hanya peti mati. Kita bersembunyi disini hingga malam ke tiga berakhir. Eren dan Akira tak akan bisa mencium aroma tubuhmu dibawah tanah ini”jawab Roman sambil meletakan obor di dinding.
Obor itu lah yang menerangi ruangan ini. Semua dinding terbuat dari tanah dan batu. Sementara peti mati itu terbuat dari kayu yang diukir dengan bagus, kayunya pun terbuat dari kayu jati yang kuat. Roman membuka peti mati itu. Kini terlihat lah isi peti itu yang ternyata isinya kosong. Melihat ini membuat kulegah tapi ketakutan itu terus ada.
“Masuk, ayo masuk!”ajak Roman yang lagi-lagi membuatku ketakutan. Aku hanya bisa menaguk air liur, dan berguman dalam hati “Ya Tuhan, apakah ini akhirnya? Orang yang setengah kupercaya ini yang akan mengakhiri hidupku disini? Mengapa? Mengapa aku bodoh dan harus mengikutinya? Seharusnya aku lari saja tadi. Apa ia menginginkan aku mati?.”
__ADS_1
Bersambung….