
Pagi, kekuasaan telah diambil alih oleh wolf yang dipimpin Aira. Rakyat, pengawal dan semua keluarga kerajaan
dikumpulkan di depan istana. Kecuali Takara, dia sebagai jaminan untuk Tagao menyerahkan tahtanya pada Aira. Jika tidak, Takara akan dibunuh.
Didepan rakyat, Tagao berucap “ Rakyatku sekalian, hari ini Aira yang ada disampingku akan mengantikan tahtaku
sebagai raja. Jika ada yang keberatan tinggalkan tempat ini!”.
Semua orang diam membisu, lalu Tagao memberikan mahkota yang dikenakannya pada Aira. Aira mengenakan mahkota. Begitu mengenakan dan telah diangkat menjadi raja, semua rakyat diminta untuk menghormatinya. Setelah menghormati Aira, rakyat pulang ke ruang masing-masing. Keluarga kerajaan kembali masuk ke istana, dan pengawal kembali berjaga.
Di ruang singgasana, tanganku masih terikat tali merah dengan Aira. Aira duduk di kursi sebagai raja, dan aku
selalu berada disampingnya.
“ Tahan, dia seperti semula” ucap
Aira. Dua pasukan Aira mendekati Tagao, siap membawanya pergi ke tahanan.
“ Aira, bukankah perjanjiannya bukan
seperti ini. Kamu akan membebaskan kami semua, termasuk Aresha setelah
kuberikan tahtaku padamu” jawab Tagao.
“ Ya, tapi semua itu tidak selancar
yang kau harapkan. Aku belum mendapatkan semuanya darimu, bagaimana kalau sekarang
kamu menceraikan Aresha yang ada disampingku ini?”
“ Tidak, aku tidak akan menceraikan
istriku karena ini”
Aira memegang tali merah yang ada
ditangannya, hingga mengeluarkan kilauan.
Seketika itu, tanganku yang terikat
tali merah terasa sakit dan keluar darah. Aku terlutut karena sakit, dan darah
yang menetas jatuh.
Tagao, tak tega melihat istrinya
kesakitan dan berucap “ Baiklah, tapi aku harus bicara berdua dengannya”.
“ Baiklah, silahkan saja”, Aira
kembali memegang tali merah, “ Aresha, pergilah mendekati suamimu itu. Ucapkan
kata-kata terakhir dalam perpisahan kalian ini”.
Tali merah yang mengikat tanganku
dan Aira dapat memanjang hingga aku bisa berjalan mendekati Tagao. Memeluk erat
Tagao, meski tanganku masih terasa sakit dan darah yang terus menetes. Lalu
berucap “ Kamu tak apa, Aresha? Jangan sedih Aresha, semua akan baik-baik saja.
Jika kita berjodoh, suatu saat nanti kita akan dipertemukan kembali. Aku
terpaksa harus menceraikanmu demi keselamatanmu, Aresha”.
“ Tapi kamu tak harus lakukan ini,
Tagao”
Aira mendengar apa yang kami
bicarakan berdua, lalu berucap “ Dia harus lakukan itu jika ingin dirimu
selamat begitu juga dengan Takara”.
“ Aku menceraikanmu, Aresha. Aku
sungguh minta maaf”
Kupeluk Tagao untuk terakhir
kalinya, lalu melepasnya. Kemudian Tagao dibawa ke ruang tahanan. Aira menarik
tali merah hingga kembali berubah ke pajang tali semula. Aku kembali berdiri
disampingnya.
“ Jangan katakan kamu sedih hanya
karena ini, bukankah kamu sangat membenci suamimu?” ucap Aira.
“ Tapi aku tidak bisa jauh darinya,
aku telah memaafkannya”
“ Benarkah? Kalau begitu aku punya
tawaran baik untukmu. Jadilah istriku, maka aku akan membebaskan mantan
suamimu, Takara dan Zuya”
“ Jika aku menolak!”
__ADS_1
“ Jika kamu menolak, maka mereka
akan ada di tiang gantung atau aku akan memotong kepala mereka sendiri. Jika
kamu menerima, aku akan mengasingkan mereka setidaknya mereka masih hidup”
“ Apa aku harus menjawabnya
sekarang?”
“ Ya, sebaiknya begitu lebih baik”
“ Kamu tahu, Aira!. Aku benar-benar
tidak bisa, tapi apa yang akan kau tawarkan jika aku jadi istrimu? Aku tidak
tertarik akan tahta”.
“ Aku akan menawarkan cinta tanpa
kebohongan untukmu, dan menjadikanmu ratu di istanaku. Bagaimana?”
“ Baiklah, tapi aku ingin bicara
dengan mantan suamiku dulu. Ada banyak hal yang ingin aku bicarakan dengannya”
Kemudian Aira melepaskan ikatan tali
merah dari tanganku lalu berucap “ Pergilah menemui suamimu itu”.
Aku cepat berlari menemui Tagao di
ruang tahanan. Kulihat dia duduk dengan menundukan kepala.
“ Tagao, aku ingin bicara padamu!”
Begitu mendengar suara Aresha, Tagao
menoleh ke depan. Berjalan mendekati Aresha dan berucap “ Aku minta maaf karena
tak bisa melindungimu dan menjadi suami yang baik bagimu”.
“ Tidak, kamu tak harus minta maaf
padaku. Aku akan menjadi istri Aira, tapi ada hal yang harus kamu ketahaui.
Jika kita memang berjodoh dan ditakdirkan untuk bersama. Mungkin suatu saat
nanti kita akan dikumpulkan kembali. Aku lakukan ini demi kamu, Takara dan Zuya.
Jika aku tak menikah dengannya, dia akan membunuh kalian. Aku tidak mau
kehilanganmu, Tagao”.
besi, Tagao memegang tanganku lalu berucap “ Ya, aku akan selalu menunggu. Aku
akan tetap mencintaimu sampai kapanpun, Aresha”
Kuberikan senyum manisku untuk
terakhir kalinya, “ Setelah ini, pergilah. Jangan kembali, aku tidak mau
kehilanganmu”, lalu kulepaskan tangan dari Tagao dan pergi. Kutemui kembali Aira diruang singgasana. Aira
masih duduk di kursi.
“ Ikat tanganku dengan tali merah”
perintahku, Aira mengikat tali merah ditanganku.
“ Jadi apa keputusanmu?” tanya Aira.
“ Ya aku akan menjadi istrimu, tapi
kamu harus janji tidak akan membunuh mereka”
Aira berdiri, memegang tanganku. “
Ya tenang saja, aku akan tepati janjiku”, Aira memeluk erat diriku. Kulepaskan
pelukan Aira, “ Jadi, aku ingin kamu bebaskan mereka dulu. Aku ingin kamu
lakukan itu sebagai bukti bahwa kamu tak akan mengingkari janjimu padaku”.
“ Baiklah, mudah saja”, Aira
berjalan mendekati seorang penyihir. Membisikan sesuatu ditelinga penyihir,
lalu penyihir itu pergi. Aira mendekat, “ Mari kita lihat kehpergian mereka!”.
“ Aku tak ingin melihatnya, aku
percaya padamu bahwa kamu tidak akan mengingakari janjimu padaku”.
“ Ya baiklah. Bisa kah kamu menghiasi
dirimu untukku?”
“ Jangan mulai genit, akan kulakukan”, pergi meninggalkan Aira.
***
Tagao, Takara dan Zuya dibawa
__ADS_1
penyihir dan wolf ke hutan tanpa penghuni jauh dari kehidupan manusia. Mereka
diasingkan, ada rasa tidak terima dalam diri mereka. Namun Takara menganggap
semua ini adalah balasan dari kebohongan yang telah mereka lakukan pada Aresha.
Dalam pengasingkan, Takara mengalami keguguran dan bayinya meninggal. Takara
mengalami pendarahan dan meninggal, dimakamkan dalam pengasingan. Zuya sangat
berduka atas kepergian Takara. Entah mengapa Tagao dan Zuya kembali diburu
penyihir dan wolf. Zuya dibunuh oleh penyihir. Anehnya dalam penyerangan ini ketika Zuya tewas, penyihir dan
wolf tak memburu Tagao. Mereka hanya
mengincar Zuya. Dalam duka, Tagao sangat
bersedih.
Dalam diri Tagao, ada darah peri dan
vampire yang bercampur dalam darah manusia. Tagao tidak mau terlalu larut dalam
kesedihan, Tagao mencoba bangkit kembali. Tagao membuat rencana besar-besaran
untuk menyerang wolf, mengumpulkan orang-orang yang setia mengabdi padanya.
Menjadikan vampire, dan mengajari menyesuaikan diri. Menemui teman-temannya
yang bersedia membantu dirinya, mengumpukkan semua pasukan.
***
Kulihat dari jendela dibawah Aira
sedang berbicara dengan penyihir di halaman istana. “ Penyihir, yang salah
membuat keputusan besarnya. Menghianati ratunya, jadi selama ini telah banyak
penyihir jahat dibalik kejayaan ibuku? Baiklah, darah murni penyihir bangsawan
lebih kuat dari pada penyihir berdarah murni biasa. Lihat saja akibat apa yang
telah kalian lakukan” gumanku. Berjalan keluar kamar menuju Aira yang sedang
berbicara dengan penyihir. Begitu melihat diriku, para penyihir pergi.
“ Aira, aku ingin pergi ke air
terjun untuk menenangkan diriku. Kamu mau ikut?”
“ Ya, boleh juga. Aku ikut”.
Kemudian Aira mengambil kuda
kesayangannya. Aira mempersilahkan
diriku naik lebih dulu, baru lah Aira naik setelah aku. Aira memegang erat
tubuhku, “ Aku tidak mau kamu sampai terjatuh dan terluka”. Aku hanya diam tak
menangapi ucapannya, kemudian kami pergi menuju air terjun dengan diiringi
pasukan wolf.
Begitu sampai di air terjun Aira
langsung turun dari kuda begitu juga denganku. Berjalan menuju jatuhnya air,
masuk ke dalam. Ya tepat dimana air itu jatuh menjadi air terjun didalamnya ada
goa. Goa untuk pemandian, membentuk sebuah kolam yang kedalamannya sedada orang
dewasa. Goa ini selain membentuk sebuah kolam juga ada tepian, dimana kita bisa
menginjakkan kaki untuk melepaskan pakaian atau sembunyi dari kejaraan
orang-orang. Kulepaskan pakaianku, lalu menyeburkan diri ke kolam. Airnya sejuk
sekali. Berenang menuju tengah-tengahnya, dan kembali ketepian. Berulang kali
melakukannya, hingga aku dikejutkan dengan kehadiran Aira yang mendadak ada
didepanku.
“ Nyamanya berenang sendirian, kamu
mengajakku kemari hanya karena ingin bersantai sendiri”
“ Tidak, maaf aku lupa mengajakmu
berenang”
“Sebagai akibatnya kamu akan
kutangkap”, Aira hendak menangkap diriku, aku cepat menghindar darinya. Dia
mengejarku, dan berhasil menangkapku. Memeluk erat diriku, kutatap wajahnya.
Dia dekatkan wajahnya padaku dengan sangat dekat, dia menciumku. Kupeluk erat
dirinya, aku mengerti besar cintanya padaku.
__ADS_1