Bride Of Vampire: The Revenge

Bride Of Vampire: The Revenge
Episode 341


__ADS_3

Akademi Yexiao,


Kekacauan yang terjadi membuat Roman dan Violin bergegas bergerak.  Hani dan Gisel tetap bertahan di aula, mereka memperhatikan teman-teman yang lain tergeletak di lantai. Semua orang jatuh pingsan kecuali beberapa orang lainnya bahkan guru-guru akademi juga ikut jatuh pingsan kecuali Ibu Oshabery. Hanya ada mereka berdua di ruang aula ini, pintu aula telah terbuka lebar dan angin berhembus masuk. Dua gadis ini duduk bersandar di dinding, duduk bersampingan sembari melihat mereka yang tidak berdaya.


“Hani, apakah kamu merasakan sesuatu yang aneh? Aku merasa sangat haus!” ucap Gisel.


“Ya benar, aku juga. Rasanya mereka semua terlihat enak!” jawab Hani.


Gisel menganggukan kepala, tersenyum manis dan menjawab “Ya benar, ini membuatku teringat dengan kita dulu bersama Violin. Di musim panas, kita harus berebutan es krim. Itu enak sekali!.”


Hani mengingat kejadian masa lalu sebelum mereka berubah menjadi gadis vampire, “Ya benar, tetapi sekarang Violin tampak berubah. Aku menyadari ia adalah gadis yang istimewa dan dihormati oleh semua orang.”


Gisel berucap, “Ya, kamu benar. Tetapi ia hampir melupakan kita, atau kita yang semakin jauh dengannya.”


Hani menjawab, “Jauh? Itu tidak mungkin. Kita mengambil jalan yang sama. Aku, kamu dan Violin. Kita adalah vampire, kan?”


“Tetapi saat kita tahu dia adalah vampire. Apakah kamu tidak menyadari Violin yang suka memperhatikan sesuatu yang kecil dengan Violin sekarang? Ia bahkan mendapatkan gelar sebagai penyihir biru. Aku merasa curiga jika ia bukanlah Violin yang kita kenal” ucap Gisel mencurigai teman dekatnya sendiri.


Hani menarik nafas panjang, dan menghembuskannya seraya berucap “Hah, ya benar. Sebenarnya saat ia mencegah kita menjadi vampire apa yang terjadi? Kejadian itu seperti ia telah tahu tetapi ia mendadak lupa. Kamu ingat saat ia datang ke kastil drakula?”


Gisel menganggukkan kepala, “Ya tentu, dimana saat itu ia menolak kita. Persahabatan kita di ujung tanduk.”


“Ya, saat itu ia bertemu dengan Roman dan Ethan, Marta, Rasi.....siapa lagi ya? Ya aku hanya mengingat itu. Hanya disana aku mengingat bahwa itu memang Violin. Sekarang entah perasaanku saja atau kamu juga merasakannya bahwa yang disini bersama kita bukanlah Violin” duga Hani.


“Ya, aku setuju dengan pendapatmu. Ia bahkan tidak lagi menyukai es krim coklat buatanku, ia bahkan tidak mengingat taman bunga dan taman danau” sambung Gisel.


Perlahan-lahan Hani meneteskan air matanya, ia merindukan sahabatnya meski sahabatnya di luar tempat ini, tetapi Hani merasakan itu bukanlah Violin. Air mata jatuh membasahi kedua pipinya, perasaan terluka. Gisel yang melihat Hani menangis segera memeluk sahabatnya.


Dalam pelukan Gisel berucap, “Tenanglah, dimanapun Violin berada ia pasti baik-baik saja sekarang.”


Hani melepaskan pelukan Gisel, air matanya terlihat jatuh membasahi pipi. Hani menyeka air matanya dan berucap “Itu tidak akan pernah....tidak akan pernah seperti yang kamu katakan. Itu tidak seperti yang kamu katakan....aku selalu bermimpi buruk setiap malam, aku kehilangannya. Ia akan pergi meninggalkan kita, Gisel. Violin akan menghilang.”


Seketika itu tangis Hani pecah di ruang aula ini, ia tidak bisa menahan perasaanya. Ia tidak bisa mempercayai sebuah kata begitu saja meski dari perkataan Gisel sendiri. Gisel kembali memeluk erat Hani. Gisel juga merasakan kesedihan di hatinya, ia telah mencoba menolak mentah-mentah mimpi buruk kehilangan Violin. Ia tidak menduga mimpi ini juga dialami oleh Hani.


“Gisel, kita harus mencarinya. Bisakah kita menemukannya kembali?” ucap Hani dengan suara pelan.

__ADS_1


“Maaf, Hani. Maafkan aku! Sekarang kita tidak bisa melakukan apapun. Kita tidak memiliki petunjuk dimana ia sekarang. Kita tidak tahu apa yang terjadi pada Violin.”


“Gisel.....aku sungguh minta maaf, apakah Violin akan memaafkan kita? Karena kita tidak bisa menjaga dirinya seperti dia menjaga kita?”


“Entahlah....tetapi aku berharap meski tidak sekarang, mungkin  suatu saat nanti kita akan bertemu lagi dengan Violin. Aku berharap begitu dan berharap ia bahagia disana.”


Gisel melihat keluar, pintu aula yang terbuka lebar itu memperlihatkan kegelapan menguasai tempat ini. Ibu Oshabery datang memasuki ruang aula, ia tampak tersenyum dan mendekati dua vampire yang masih bertahan di aula ini yakni Hani dan Gisel. Ibu Oshabery duduk disamping Hani, lalu mengarahkan pandangan pada semua orang yang tidak berdaya itu.


Ibu Oshabery tahu Hani dan Gisel telah bersedih, ia pun berucap “Dengarkan aku baik-baik, ada memiliki sebuah cerita yang menyentuh hati, kemarahan dan keegoisan.....” ibu Oshabery mulai bercerita mengenai seseorang tanpa menyebutkan namanya.


Sementara itu di hutan terlarang, hutan Argon. Keberadaan Aresha.


Kepala akademi Yexiao datang menemui seseorang. Aku tersenyum manis melihat seseorang yang telah ditunggu tiba di tempat ini. Ia segera menghampiri kami, menghampiri aku dan Alecia.


“Waktunya tinggal sedikit, cepat bicaralah!” ucapku segera pergi meninggalkan mereka berdua.


Zhia, Sha dan Lady pun menjauh dari lingkaran, mereka mendekati diriku.


“Akhirnya ia datang!” ucapku.


“Saat kita mengirimnya ke masa lalu, aku ingin kalian melakukan sesuatu pada orang yang memang harus di hajar!”


“Baik, nona muda.”


Kami memperhatikan apa yang dibincangkan oleh Alecia dan ayahnya, tetapi kami tidak dapat mendengar apa yang mereka katakan. Tetapi tampaknya dua orang itu saling memahami satu sama lain. Pak Chinshinsi berlutut di depan Alecia dan Alecia tampak menangis. Seorang gadis harus membawa beban yang sangat berat untuk dipikul seorang diri, dan seseorang dengan keegoisan merebut kebahagian kehidupan orang lain. Ya itu adalah Alecia dan Alika. Tetapi tidak sepenuhnya ini salah Alika, tetapi ini adalah takdir yang tidak seharusnya terjadi pada keluarga ini.


Pak Chinsinshi menyesali apa yang telah ia lakukan, tetapi tidak sepatutnya ia mendapatkan hukuman seperti ini. Alecia telah memaafkan dirinya atas tindakannya. Alecia memeluk erat dirinya dan mengobati luka yang dalam, yang selama ini ia simpan seorang diri.


“Ayah, ayah jangan sedih lagi. Aku akan menyelamatkan ibu dan mengubah takdir kita. Aku akan memastikan bahwa ia tidak akan terlahirkan di dunia ini” ucap Alecia  dengan wajah yang dipenuhi air mata.


Pak Chinshinsi menyeka air mata yang jatuh membasahi kedua pipi Alecia, dan tersenyum “Ya, aku yakin kamu akan melakukannya dengan sangat baik. Anakku, jaga ibumu baik-baik. Aku percaya padamu, kamu pasti bisa mengubah dunia ini menjadi lebih baik.”


Lalu Pak Chinshinsi pergi menjauh dari Alecia, Lady, Sha, dan Zhia mulai kembali mendekati lingkaran. Mereka bertiga menggunakan kekuatan untuk mendirikan ketiga kristal di udara dan aku telah siap mengirim gadis ini ke masa lalunya dimana ia belum dilahirkan ke dunia ini.


“Waktumu tidak banyak Alecia, namun kamu akan terasa lambat di masa lalu. Waktumu hanya 5 menit. Mungkin aku bisa mengirimmu ke masa lalu setidaknya 5 jam. Kamu sudah siap?” ucapku.

__ADS_1


“Ya, aku siap!” jawab Alecia.


“Kalian bertiga telah siap?” tanyaku pada Zhia, Lady dan Sha.


“Kami siap, nona Aresha!” jawab mereka serentak.


Aku tersenyum dan mulai memfokuskan diri untuk mengirim Alecia ke masa lalu. Gerhana matahari total telah tiba, ketiga kristal mulai memancarkan cahaya mereka. Membentuk segitiga dengan warna biru, merah hitam, dan putih. Seketika itu lah Lady, Sha dan Zhia segera menjauh dari lingkaran begitu terbentuk. Sementara diriku tetap bertahan disini. Mereka bertiga membawa pergi pak Chinshinsi dari sini.


“Ayo kita pergi, disini bahaya!” ucap Lady.


Pak Chinshinsi segera ikut bersama mereka bertiga, mereka berlindung di pepohonan tempat dimana tanaman rambat yang dibuat oleh Lady berada.


Aku mulai memejamkan mata, perlahan-lahan angin kencang mulai mengisi area ini bersamaan dengan awan hitam. Ketiga kristal itu mengeluarkan cahaya yang semakin terang dan lenyap seketika itu juga. Alecia telah menghilang, ia telah pergi ke masa lalu. Diriku tampak tidak melakukan apapun disini jika hanya dilihat sekilas bahkan dari belakang. Namun Alecia, aku yakin ia telah melihat sosok aku yang sebenarnya. Aku segera pergi meninggalkan tempat ini, dan berjalan selangkah mendekati mereka yang bersembunyi di balik pohon.


“Syett....!”


Pak Chinshinsi terkejut, ia hampir terjatuh. Dirinya dikejutkan dengan kehadiran Aresha yang seperti hantu.


“Hallo, urusan telah selesai disini. Mau membuat kue kejutan?” ucapku tersenyum.


Lady, Sha dan Zhia berdiri dengan tegak, mereka hampir tidak bisa bernafas. Ketika mendengar perkataan nona Aresha, mereka barulah dapat bernafas.


“Hah, ya! Nona Aresha, nona Arseha membuat kami terkejut” ucap Lady.


Aku tersenyum manis, “Jika begitu, mari kita lihat apa yang terjadi di akademi. Aku tunggu kalian di sana!” jawabku segera pergi.


Chinshinsi, Lady, Sha dan Zhia memperhatikan langkah nona Aresha yang dalam semenit telah pergi meninggalkan tempat ini.


“Kamu lihat, kekuatannya tidak terlihat mata!” ucap Zhia.


“Ya, ia lebih tepatnya seperti hantu. Aku tidak melihatnya menginjakkan kaki ke tanah” ucap Pak Chinshinsi.


Sontak Zhia, Lady dan Sha tertawa kecil.


“Mari kita pulang, dan lihat apa yang terjadi pada mereka yang telah membuat masalah besar pada keluarga ratu penyihir matahari” ucap Lady.

__ADS_1


“Waktunya bermain!” ucap Sha.


__ADS_2