Bride Of Vampire: The Revenge

Bride Of Vampire: The Revenge
Episode 134


__ADS_3

Aksara mencoba untuk membuatku terus aman di belakang dirinya, sementara dirinya melawan pasukan Erista dengan sihir. Saat melindung aku melihat Aresha hampir dihabisi oleh Erista, secepatnya diriku mengambil pedang di tanah untuk menyerang Erista. Tapi Erista dengan cepat menyerangku. Ia benar-benar ingin menghabisi Aresha Tubuhku terlempar ke tanah, lalu aku bangkit kembali. Tagao yang melihat itu segera menyerang Erista. Tagao berhasil membuat Erista menjauh dari Aresha.


Tangan kanan Erista menyerang Tagao, sementara Erista kembali menyerang Aresha. Tapi langkahnya terhalang oleh Eriska yang sangat marah padanya. Eriska menyerang Erista dengan amarah hingga mudah dikalahkan. Erista kembali menyerang Aresha, dan aku melihat hal itu segera mengubah sasaranku menjadi Erista.


Aresha kembali melawan Erista, perkelahian antara dua penyihir ini sulit di halangi. Erista benar-benar ingin menghabisi Aresha. Kali ini Aresha harus benar-benar memfokuskan dirinya untuk segera mengakhiri semua ini.


Akibat perkelahian ini, kami semua hampir terkena sihir yang mereka gunakan untung saja kami cepat menghindar. Saat menghindri cahaya kekuatan sihir, seorang pasukan Erista berhasil membuat tanganku terluka. Darah segar mulai mengalir dan membuatku berlutut di tanah. Aksara yang melihat itu segera menyerang orang itu dan membunuhnya. Ia kembali dengan bersimbah darah di tangannya, bukan dari


Aksara melainkan darah orang itu. Aksara berlutut di depanku.


“Bertahanlah, semuanya akan segera berakhir!”ucap Aksara sambil membuka jubbah. Saat itulah Erista yang ingin menyerang Aresha mengubah targetnya setelah melihat Aresha yang lain terluka. Erista yakin jika wanita yang terluka itu adalah Aresha yang asli. Erista menyerang wanita berjubah itu.


Cahaya sihir warnah merah mengarah pada Aksara, aku yang melihat itu segera mendorong tubuhnya hingga diriku yang terkena cahaya merah itu. Aksara kaget dan segera mendekatiku. Aku merasakan kehadirannya saat ini, ia seperti mengucapkan sesuatu yang tak dapat kudengar.


Erista yang menyerang wanita berjubah membuat kesempatan, Aresha mengumpulkan semua tenaganya untuk menghabisi Erista. Erista pun tewas akibat serangan Aresha, cahaya sihir biru itu sangat mematikan. Tubuhnya pun berubah menjadi akar pohon hijau yang dengan cepat menjadi tua lalu menjadi debu. Sirna dibawa oleh angin.


Semua pasukan Erista pun berhenti menyerang, tubuh mereka dengan cepat menjadi debu. Teman-teman mulai mendekati Amora yang terbaring di tanah. Aksara terus menjaganya agar tetap melihat dirinya.

__ADS_1


Aresha segera mendekati Amora, ia secepatnya memberikan pertolongan dengan sihir penyembuhan. Ia meletakan tangannya di dada lalu mengalirkan penyembuhan. Cahaya biru memasuki tubuh Amora.


“Ini tak akan lama, sebaiknya kita bawa ia ke istana! Istana itu tak jauh dari sini” ucap Aresha


“Biaklah, sebaiknya kita gunakan kemampuan kita agar dengan cepat sampai disana!”saran Eriska.


Akhirnya semua pergi ke istana penyihir biru dengan kekuatan masing-masing. Aksara membawa tubuh Amora, kekuatan kegelapan begitu cepat menghilang dan telah berada di tempat lain menuju istana. Tagao mulai berubah dirinya menjadi kelelawar besar dan terbang. Aira berubah menjadi wolf dan mulai berlari dengan cepat. Aresha dan Eriska terbang layaknya seorang penyihir.


Begitu tiba di istana penyihir biru, Amora dibaringkan di kasur. Lalu Aresha menyiapkan beberapa obat-obatan dan Eriska mengobati Amora dengan cahaya sihir hijau. Aira, Tagao dan Aksara penuh harap akan Amora sembuh. Mereka menunggu kabar dari Eriska dan Aresha di dalam kamar. Semua pasukan Erista pun berhenti menyerang, tubuh mereka dengan cepat menjadi debu. Teman-teman mulai mendekati Amora yang terbaring di tanah. Aksara terus menjaganya agar tetap melihat dirinya.


Aresha keluar dan memberitahukan keadaan Amora pada mereka yang sedang menunggu.


“Baik, ia hanya perlu istirahat. Jangan terlalu khawatir kak, ia tak seperti yang kamu kira. Ia bukan wanita yang lemah meski kamu melihat dirinya dipenuhi kelemahan” senyum Aresha sambil pergi meninggalkan mereka.


***


Aku terbangun dan melihat diriku yang berada di kamar seseorang. Aku segera bangun tapi entah kenapa tubuhku terasa lemah sekali hingga membuatku tak bisa bangun. Aku berbaring dan hanya melihat langit-langit. Kumendengar seseorang masuk ke ruangan ini dan menoleh, kulihat Aksara masuk. Ia mendekatiku dan duduk di kursi dekatku.

__ADS_1


“Kau baik-baik saja? Jangan khawatir adikmu bilang kamu akan cepat sembuh”


Aku tersenyum dan tertawa kecil, “ Dia selalu begitu, dia tak mau membuat siapapun menjadi cemas!”


“Kamu tak mempercayai adikmu ya?”


“Tidak, aku percaya tapi ia akan selalu mengatakan begitu meski ia tahu bahwa orang itu akan mati esok” Aksara mulai sedikit cemas,


“Tidak, tapi ia wanita yang jujur. Jadi apa Eriska bebas sekarang?”


“Ya seperti yang kamu tau!”


“Dan kau janji akan memulangkanku ketika keadaan mulai aman kan?”


“Ya aku janji, aku akan memulangkanmu jika kamu sudah baikan”


Aku tersenyum, “ Ya tapi sebelum pulang aku harus menghilangkan ingatan adikku dari kepalaku ini. Semua ini membuatku sakit kepala”,

__ADS_1


“Ingatan?”


__ADS_2