
Dunia mimpi Xia, Xia melihat apa yang dilakukan oleh Aresha dan keempat gadis.
*Kata Aku diperankan oleh Aresha.
Glassland, tempat ini baik- baik saja dan tidak ada sesuatu yang terjadi. Xia sekarang kembali melihat sesuatu yang dilakukan oleh Aresha, sahabat yang diputuskannya.
Ke empat gadis itu pun mulai berdiri sejajar dengan temannya, mengambil posisi masing- masing. Sementara kau berhadapan dengan mereka seorang diri. Mereka mulai mengeluarkan kemampuan mereka yang ternyata mereka dari klan yang berbeda. Klan air, tanah, angin dan vampir.
Mereka menunjukan kemampuan mereka dan sangat tidak sabar untuk memenangkan taruhan ini.
“Sekarang mari kita selesaikan semua ini!” ucap salah satu dari keempat gadis itu.
Aku hanya bisa tersenyum manis, dan mengeluarkan kemampuanku sebagai pengendali air yang kupilih. Aku membuat air mengelilingi diriku agar aku bisa menangkis serangan mereka.
“Hanya orang bodoh yang mau melawan kami berempat, dan sepertinya ini akan menjadi momen terakhir bagimu!”
“Hah, lihat saja! Karena kamu telah mencari gara- gara dengan kami, kami akan membuatnya sama seperti ini untukmu!”
Tetapi saat ketiga temannya melangkah maju, salah satu dari mereka menghalanginya dan berucap “Hei, tunggu dulu!”
“Ada apa lagi? Aku tidak sabar untuk membuatnya menjadi seperti kita!”
“Hah, dasar kau! Tidak perlu buru- buru, kita memiliki kesempatan yang sama. Pertama biarkan aku menghajarnya lebih dulu, dan setelah aku baru lah kalian!”
“Hah, jadi menurutmu kita harus menunggu giliran?”
“Ya benar!” ucapnya sambil memperlihatkan senyum liciknya.
“Ya baiklah, kami akan menonton saja. Akan kuberi waktu lima menit untuk menghabisi gadis sialan itu!”
“Oke, tenang saja aku akan menyerangnya tanpa ampun!”
Kemudian ketiga temannya memilih menyingkir dari area ini, dan perempuan itu mulai menghadapiku. Ia memperlihatkan kehebatannya sebagai pengendali air. Ya dia pengendali air, dan sudah pasti dari klan air.
“Namaku adalah Yunba, aku pengendali air. Ya aku harap kamu mengingat namaku sebelum kamu mati, bukankah dengan begitu kamu akan sangat dendam padaku? Ya mungkin lebih tepatnya kamu iri denganku. Aku harap Xia juga sedikit menceritakan tentangku padamu!”
Seketika itu, ucapannya sangat membuatku terkejut. Aku pun mulai menyadari akan Xia pernah menceritakan tentang gadis yang pernah satu kamar dengannya dulu, dan gadis itu pergi meninggalkannya. Gadis itu lah yang membuat Xia selalu minder jika berteman, dan karna gadis itu lah Xia selalu di salahkan.
__ADS_1
Aku mulai menyiapkan diriku sepenuhnya untuk melawan gadis yang suka menyalahkan orang lain. Aku tidak memasang wajah tersenyum, aku hanya memasang wajah datar dengan rasa benci. Ya aku benci sekali dengan gadis ini, dia lah yang membuat Xia selalu bersedih.
Yunba mengendalikan air mengitari dirinya, ia melakukan hal yang sama seperti diriku.
“Hei, silahkan serang lebih dulu! Aku akan memberikan kesempatan padamu untuk menyerangku pertama kali!” ucapnya sembari mengambil ancang- ancang mempertahankan dirinya dari serangan yang datang.
Aku tersenyum sinir, gadis ini memang jahat, sombong, angkuh dan lupa akan dirinya melawan siapa.
Aku pun mulai mengarahkan tanganku ke depan, membagi air menjadi dua bagian dan mulai mengendalikan air. Melakukan serangan pertama ke arah Yunba. Pergerakan air yang cukup cepat itu ternyata sangat mudah dikendalikan kembali oleh Yunba hingga air menjadi lebih banyak mengelilingi dirinya. Ia mengendalikan air yang banyak.
Melihat seranganku mudah di tangkisnya, kini air di sekelilingku hanya tersisa sedikit. Tetapi aku mulai mendekatinya perlahan- lahan sembari mengubah air menjadi senjata panah.
Yunba menyadari akan lawannya semakin mendekat, ia tetap menunggu lawannya hingga sangat dekat.
Aku mulai mendekatinya, dan menyerangnya dengan seni bela diri. Saat menyerangnya, kugunakan elemen air untuk mencuri air yang ada padanya, dan yang kulakukan ini berhasil. Aku mencuri airnya sedikit yang tanpa ia sadari air miliknya telah berkurang.
Lalu Yunba mulai melontarkan anak panah ke arah lawannya.
“Syutt...!!” serangan anak panah bertubi- tubi mengarah padaku.
Aku secepatnya menghindari serangan Yunba padaku, aku berusaha menghindari serangannya melompat- lombat dan terus berusaha agar tidak terkena anak panah. Ya meski anak panah ini terbuat dari air bukan berarti tidak bisa melukai seseorang, anak panah ini sama tajamnya seperti anak panah sungguhan. Hanya saja jika telah terkena lawan air akan menusuk kulit dan lukanya bisa menjadi lebih dalam atau luas tergantung pada keinginan pengendalinya.
Puluhan anak panah telah tertancap di tanah, dan kembali menjadi air yang kemudian diserap oleh tanah.
Beruntung sekali diriku bisa menghindari serangan Yunba. Ya setelah serangan itu terjadi, aku mulai merasa gadis ini memang menyerang diriku dengan serius dan bukan main- main.
Lalu Yunba mulai melontarkan anak panah ke arah lawannya.
“Syutt...!!” serangan anak panah bertubi- tubi mengarah padaku.
Aku secepatnya menghindari serangan Yunba padaku, aku berusaha menghindari serangannya melompat- lombat dan terus berusaha agar tidak terkena anak panah. Ya meski anak panah ini terbuat dari air bukan berarti tidak bisa melukai seseorang, anak panah ini sama tajamnya seperti anak panah sungguhan. Hanya saja jika telah terkena lawan air akan menusuk kulit dan lukanya bisa menjadi lebih dalam atau luas tergantung pada keinginan pengendalinya.
Puluhan anak panah telah tertancap di tanah, dan kembali menjadi air yang kemudian diserap oleh tanah.
Beruntung sekali diriku bisa menghindari serangan Yunba. Ya setelah serangan itu terjadi, aku mulai merasa gadis ini memang menyerang diriku dengan serius dan bukan main- main.
“Hah, jadi apa hanya teknik menyerang dengan air seperti itu kah yang bisa kamu kendalikan? Huh bodoh sekali! Jika begitu, maka kamu akan mati dengan cepat disini!” ucap Yunba mulai mengendalikan air menjadi ribuan anak panah yang terlihat jelas.
__ADS_1
Ia mengubah teknik serangannya, dan kali ini panahnya akan menyerangku secara bersamaan. Yunba tersenyum manis, ia pun memulai serangannya.
Puluhan ribu anak panah segera mengarah padaku, aku hanya memiliki sedikit air dan segera mengubah air ini menjadi perisai untuk melindungi diriku.
Hujan panah pun terjadi, aku berusaha keras menahan perisai air ini untuk melindungiku.
“Dum...”
“Dum”
“Dum”
“Dum”, suara ribuan anak panah menyerang diriku.
Aku hanya bisa berlindung dan mempertahankan perisai ini sampai serangan anak panah berakhir.
Yunba yang melihat Aresha berlindung di perisai, ia pun mengubah anak panahnya menyerang satu sudut.
Aku melihat anak panah mulai berubah, kali ini aku menghadapi serangan satu sudut. Ya artinya anak panah itu akan menyerangku secara bersamaan dari satu titik. Aku merasa serangan kali ini akan lebih berbahaya dari serangan sebelumnya. Aku juga merasa perisai yang kumiliki ini tidak akan mampu menahan sekarangnya ini, aku mulai memikirkan bagaimana caranya untuk menghindari serangan panah satu arah dan mengalahkannya dengan cepat.
Aku tidak bisa memikirkan sesuatu, aku tidak punya rencana. Serangan panah satu arah ini pun mulai terjadi, dan secepat kilat ribuan anak panah mencoba menghancurkan perisai ini. Aku pun terus berusaha menahan perisai ini. Tetapi lama- kelamaan aku melihat ada beberapa titik yang mulai hancur, dan aku menduga tidak lama lagi ribuan anak panah itu menghancurkan perisai ini.
Tidak lama kemudian, perisai yang kubuat hancur berkeping- keping dan secepatnya aku melangkah mundur. Beruntung aku bisa menghindari serangan itu, jika tidak tamatlah riwayatku.
Yunba tersenyum manis, lalu ia berucap “Hah, apa kamu akan tetap menghindar? Aku tidak akan menghentikan serangan ini hingga kamu mengakui kesalahanmu dan menepati janjimu itu!”.
Sementara itu, ketiga temannya yang memperhatikan pertandingan ini hanya tersenyum manis dan mereka juga membicarakan Yunba melawan Aresha, atau disebut gadis sialan.
Aku yang mendengar ucapan gadis itu hanya tersenyum manis, dan berucap “Ini hanya permulaan, keluarkan saja kemampuan terhebatmu! Aku sama sekali tidak takut, dan aku tidak akan menyerah. Itu baru saja pemanasan, seranganmu sama sekali tidak melukai diriku!”
Yunba tersenyum sinis dan menjawab “Hah, bodoh! Sudah diberikan kesempatan, tapi kamu malah seperti itu! Lihat saja, aku akan membuatmu menyesal seumur hidupmu!”
“Oh, itu bagus!” jawabku segera mengambil ancang- ancang menghadapi serangannya.
Tanpa pikir panjang gadis itu pun mengeluarkan kemampuannya, ia kembali mengubah air menjadi anak panah yang jumlahnya tak terhingga. Ia mulai menyerangku dengan serangan satu arah.
Aku mengambil ancang- ancang, mengarahkan tanganku ke depan dan bersiap menghadapi serangannya dengan tangan kosong. Ya aku tak perlu air, tetapi aku akan mengendali kan air itu sebisa mungkin lalu membuatnya menyerang pengendalinya sendiri.
__ADS_1
Ribuan anak panah segera mengarah padaku, mereka bagaikan air hujan yang membasahi bumi. Menyerang secara satu arah dan membuatnya serangannya seperti jatuhan air hujan.
Aku pun segera mengendalikan anak panah air ini sebisa mungkin untuk tidak mencelakai diriku. Mengarahkan tangan ke depan, lalu menghentikan serangan dengan pengendalian air dan menghancurkan ribuan anak panah itu kembali menjadi air biasa.