
Keduanya pergi meninggalkan Akademi Yexiao berjalan kaki menuju sebuah cafe terdekat tempat ini. Mereka berjalan dengan kekuatan mereka layaknya seorang vampir, hingga sejauh apapun tempat itu akan tetap terasa dekat. Dua gadis vampir yang berpenampilan layaknya gadis biasa dengan senyum yang ramah namun akan berubah menjadi gadis yang mengerikan jika ada yang berani mengganggunya.
Sebelum itu keberadaan Aresha dan Xia.
“Gisel!” panggilnya dengan suara keras, namun ia terhenti berucap ketika melihat dua orang perempuan telah ada di depan temannya, Gisel. Ia pun mendekati Gisel, dan terkejut begitu melihat salah satu dari dua orang itu mirip dengan Violin.
“Gisel, siapa dia?”
Gisel berhenti menulis, ia pun berucap pada kami berdua.
“Jadi namamu Aresha?” tanya Gisel padaku.
“Ya namaku Aresha”
“Kamu murid baru itu kan?”
“Ya benar”
“Apa kamu memiliki seni bela diri yang baik? Aku harap kamu mulai dari sekarang mempersiapkan dirimu untuk ujian ability magie ini”
“Ya tentu, aku sudah mempersiapkan diriku sebelum ke akademi ini. Terima kasih atas perhatiannya, Gisel!”
“Ya sama- sama”
__ADS_1
“Kalian berdua sudah terdaftar, jadi kalian hanya perlu menunggu waktunya. Ya seperti biasa, sebelum ujian ability magie di mulai seseorang yang mengikuti ujian itu akan di panggil”
“Ya, kalau begitu terima kasih. Kami permisi dulu!” ucap Xia mengakhiri.
“Ya!”
Aku dan Xia pun segera keluar dari tempat ini, kami berdua pergi dari tempat ini.
Pergi meninggalkan ruangan pengawas ujian ability magie, saat itulah aku dan Xia berselisihan dengan seorang perempuan yang mirip denganku. Perempuan yang pernah kutemui di taman kota tanpa senjata. Perempuan yang menjadi rahasia dalam hidupku. Tetapi aku harus merelakan masa lalu itu demi membuat hidupnya menjadi lebih indah tanpa diriku.
Saat itu juga beberapa orang memperhatikan diri kami yang berselisihan, orang- orang mengatakan bahwa diri kami adalah kembar tetapi aku menolak ucapan mereka.
“Hey lihat bukankah itu Violin?”
“Gadis lemah?”
“Ya gadis lemah! Apa kamu lupa beberapa waktu yang lalu gadis itu lah yang pertama kalah dalam ujian ability magie bahkan membuat teman sekamarnya pergi dan mulai membencinya. Dia tidak bisa melakukan apa pun!”
“Oh, ya aku masih ingat. Iya benar juga ya mana mungkin Violin yang kuat berteman dengan gadis lemah. Hahaha....”
Keduanya pun mulai tertawa lepas hingga terdengar ke telinga kami berdua. Kami pun secepatnya berlalu. Kami berdua segera kembali ke ruang kelas.
Beberapa langkah lagi, aku dan Xia akan segera tiba di ruang kelas. Dari luar kelas telah terdengar ini telah terdengar suara canda teman- teman di dalam kelas. Kami pun mulai melangkahkan kaki memasuki ruang kelas, suara canda itu mulai berhenti menjadi senyap dan tatapan tajam mengarah pada kami berdua. Mendekati bangku masing- masing, dan aku segera duduk di bangkuku sendiri.
__ADS_1
Sementara Xia, ia menatapi mejanya. Seseorang baru saja mencorat- coret mejanya, menuliskan kata yang tidak pantas untuk di baca ataupun di dengar. Xia hanya bisa terdiam, dan ia mulai duduk di bangkunya. Xia pun mengambil tisu dalam tasnya lalu membersihkan coretan yang tidak berguna itu.
Aku melihat Xia membersihkan mejanya, wajahnya tampak suram. Ia mungkin sedang mengalami masalah, ia sangat berbeda begitu memasuki ruang kelas ini dirinya seperti menahan beban yang berat. Dia begitu ceria di luar, tapi disini ia seperti mendapat pukulan bertubi- tubi.
Aku yang berada di dekatnya pun segera berucap, “Xia, kali ini kita pasti bisa mengalahkan semuanya! Menurutmu bagaimana?”
Xia berhenti membersihkan mejanya, ia meletakan tisunya di atas meja lalu melihat ke arahku. Ia memperlihatkan senyumnya yang sebenarnya aku pun tahu ia engan tersenyum.
Xia berucap padaku, “Ya tentu saja, aku akan berusaha keras kali ini!”
Aku pun membalas senyumannya, aku tahu ia sedang terluka tetapi bukan saatnya ikut mencela orang lain. Gadis ini memang lemah tapi aku percaya ia bisa melampaui dirinya sendiri.
“Nanti pagi kita latihan lagi, aku akan mengajarimu banyak hal”
“Oh, benarkah? Sungguh?” ucapnya dengan mata berbinar- binar.
“Ya tentu saja, kamu adalah temanku dan kita satu tim. Jadi aku juga akan mempersiapkan dirimu untuk menghadapi lawanmu. Kita tidak perlu siapapun lawanmu, kamu harus mengalahkannya!”
“Ya itu benar!”
Tidak lama kemudian, guru pengajar pun datang dan pelajaran kembali di mulai. Aku dan Xia kembali mendengarkan penjelasan guru. Guru kali ini terlihat ramah, ia bahkan mengajari kami tidak hanya dengan teori tetapi juga dengan mempraktekannya secara langsung. Sebagai perwakilan salah satu dari kami akan melakukannya.
Salah satu dari kami memberanikan diri maju ke depan, dan melakukan seperti yang dilakukan oleh guru yakni mengubah air menjadi senjata. Ya mengubah air menjadi senjata itu adalah hal yang mudah. Lalu mengubahnya menjadi es, ya air yang tadinya tidak bisa melukai sekarang dapat melukai siapa saja. Ia memiliki mata yang tajam seperti layaknya pedang.
__ADS_1