
Keberadaan Alecia,
Dirinya dikirim kembali ke dunia masa lalu, ia harus menyelesaikan sesuatu yang akan mengubah takdirnya. Sesuatu yang salah harus dibenarkan, sesuatu yang membuat dirinya tidak akan dikutuk menjadi gadis pembawa sial seumur hidupnya. Kutukan itu akan sirna.
Di bawah cahaya bulan dan bintang yang bersinar dengan sedikit awan putih. Alecia berjalan sendirian di duni ini, di dunia yang tidak seharusnya orang seperti dia ke dunia masa lalu ini.
Tiba-tiba dirinya dikejutkan dengan suara teriakan seorang perempuan yang membuat Alecia segera mencari sumber suara itu, dimana dirinya melihat seorang perempuan hamil yang diserang oleh vampire. Alecia mengumpulkan kebaraniannya dan mencoba menyerang vampire itu dengan sihir. Tetapi kekuatan yang dipinjamkan padanya telah tidak ada, Alecia pun dengan cepat mencari batu dan melemparkannya pada vampire. Lemparan batu pertama tidak membuat vampire itu menjauh dari perempuan hamil, lalu Alecia terus mengambil batu dan melemparinya hingga vampire itu melihat ke arah Alecia.
Alecia tidak gemetar menghadapi vampire yang menoleh kepadanya, vampire itu dengan cepat menghampiri Alecia. Alecia dengan cepat memaling arah dan berlari, tetapi entah bagaimana vampire itu telah berhasil mengejarnya dengan cepat. Vampire itu berada di hadapan Alecia, Alecia melihat wajahnya. Alecia dibuat terkejut dengan siapa yang ia lihat. Vampire itu adalah Romeo.
“Romeo?” ucap Alecia.
Seketika memanggil nama itu, vampire yang diduga adalah Romeo menatap Alecia sesaat dan langsung pergi meninggalkannya. Alecia terdiam bisu melihatnya pergi. Hingga dirinya tersadar akan tugasnya kemari, ia pun segera menghampiri perempuan hamil itu dan melihat keadaanya. Beruntung Alecia datang tepat waktu sebelum vampire itu melukai wanita ini.
Alecia melihat wajah perempuan hamil ini yang sangat mirip dengannya. Alecia terkejut ketika melihat ada cairan yang keluar, Alecia panik dan ia segera mencari bantuan.
Alecia berusaha mencari bantuan, namun saat ini tidak ada mobil yang melintas dan jalanan ini sepi sekali. Hingga beberapa menit berlalu, Alecia melihat cahaya lampu dari kejauhan dan terdengar suara mobil. Dengan harapan dan tindakan nekatnya, Alecia menghalangi jalan dan membuat mobil itu berhenti. Alecia segera menghampiri pengemudi mobil, dan berucap “Maaf, bisakah kamu memberi tumpangan pada wanita itu? Ia harus dibawa ke rumah sakit sekarang.”
__ADS_1
“Ya tentu saja!” jawab pengemudi mobil adalah seorang pria. Orang ini segera keluar dari mobil dan bersama Alecia mendekati wanita hamil. Pria ini dibuat terkejut dengan apa yang ia lihat, perempuan hamil ini adalah istrinya sendiri.
“Sayang! Oh syukurlah aku bertemu denganmu, tolong bantu mengangkat istriku ke mobil” ucapny dengan kepanikan.
“Ya, ya tentu saja!” jawab Alecia.
Mereka berdua berusaha membawa perempuan hamil ini masuk ke dalam mobil. Alecia berusaha tetap di dekat perempuan hamil ini hingga menuju dan tiba di rumah sakit. Suami dari perempuan hamil ini segera menghentikan mobilnya di depan pintu rumah sakit, dan bergegas keluar memanggil suster dan petugas rumah sakit. Pertolongan segera tiba, suster dan petugas rumah sakit datang membantu mengeluarkan perempuan hamil ini lalu membawanya ke ruang rawat. Alecia dan pria ini selalu mengikuti kemana perempuan hamil ini pergi, hingga mereka tidak boleh ikut ke dalam ruangan.
Alecia dan pria ini menunggu di ruang tunggu tetapi pria ini tampak khawatir pada istrinya hingga membuat dirinya tidak tenang dan terus mondar-mandir. Alecia pun memperhatikan pria ini, ia mengingatkannya pada pak Chinshinsi. Wajah pria ini mirip dengan kepala akademi itu.
“M-maaf, apakah kamu adalah pak Chinshinsi?” tanya Alecia yang membuat pria itu terkejut. Ia baru sadar bahwa dirinya telah mengabaikan seseorang.
“Tidak, kita belum pernah bertemu tetapi bukankah Anda adalah kepala akademi Yexiao yang terkenal itu?”
Pak Chinshinsi melihat ke arah Alecia dengan wajah bingung, dan tersenyum seraya menjawab “Ya, itu berlebihan. Saat ini akademi itu biasa saja, dan akademi Buniv lah yang sangat hebat dan populer di kalangan anak remaja.”
“Tapi itu semua akan menjadi setera di beberapa tahun silam. Ngomong-ngomong seseorang yang akan lahir ini akan kamu beri nama apa?.”
__ADS_1
“Karena sebentar lagi dia akan lahir ke dunia ini, kami berdua sudah menyiapkan nama untuknya. Alecia De Flower dan kami akan memanggilnya dengan sebutan Delecia.”
“Oh begitu ya! Kenapa memberi nama itu?”
“Aku dan istriku ingin Delecia hidup seperti bunga yang tidak pernah layu dan selalu berdiri tegak meski suatu saat nanti kesedihan yang membuat dirinya tidak bisa berdiri lagi.”
“Apakah nama De Flower itu nama keluargamu?”
“Tidak, tidak. Tetapi itu adalaha nama yang diberikan oleh istriku.”
“Nama itu sangat cantik” ucap Alecia yang menoleh ke arah lain, ia tidak dapat membendung air matanya setelah mendengar arti nama itu, ia seperti ditakdirkan untuk berjuang sendiri. Namun Alecia segera menyeka air matanya setelah melihat seorang petugas rumah sakit mendorong troli yang berisi peralatan pembersih ruangan. Petugas itu sangat mirip dengan Martha. Ia terkejut, dan seakan-akan tidak percaya, Martha juga berada di tempat ini, ini seperti yang dikatakan oleh Lady dan yang lain, disini semua tampak jelas bahwa dirinya memang harus melindungi keluarga ini hingga bayi itu lahir.
Dari kejauhan Martha dan para vampire terus memperhatikan ruangan itu. Mereka berupaya mencari celah untuk masuk ke ruangan itu sebelum bayi dalam kandungan perempuan itu lahir ke dunia. Namun rencana mereka tampak mendapat penghalang. Seorang gadis yang telah menemani pria itu menaburkan sesuatu disaat pria itu lengah. Mereka yang mengincar darah perempuan hamil itu tidak memiliki kesempatan apapun sekarang, bahkan perempuan hamil yang sedang berusaha melahirkan itu telah diberikan perlindungan. Penantian Martha dan para vampire hancur berantakan. Hingga suara tangisan bayi itu terdengar jelas yang membuat Alecia tersenyum. Ia pun berdiri dan pria sekaligus suami dari wanita hamil terkejut melihat tubuh gadis yang telah menyelamatkan istrinya bercahaya.
“Kamu, apa yang terjadi padamu?”
Alecia berdiri dan perlahan-lahan air matanya jatuh membasahi kedua pipi. Ia tersenyum sembari berkata, “Maaf, sepertinya waktunya sudah habis ya! Terima kasih telah memberi nama itu, aku yakin anak perempuanmu akan menjadi anak yang kuat seperti keinginan dan harapanmu. Ia juga akan menjadi anak yang baik. Seperti bunga yang kamu harapkan. Sampai jumpa lagi, a-ayah!” perlahan-lahan seiring kata perpisahan, tubuh Alecia menghilang.
__ADS_1
Pak Chinshinsi tersenyum manis, entah bagaimana perasaanya yang saat ini menjadi sedih. Ia seperti telah kehilangan seseorang yang paling berharga di dalam hidupnya.
“Eueee...” suara tangisan bayi yang terdengar di telinga pak Chinshinsi berulang kali, tangisan bayi yang menyadarkannya. Ia kembali tersenyum bahagia.