Bride Of Vampire: The Revenge

Bride Of Vampire: The Revenge
Episode 172


__ADS_3

Saat kami hendak masuk ke akademi, tiba- tiba seseorang bicara pada kami berdua.


“Ehem.... dari mana saja kalian? Kalian punya urusan yang penting loh dengan Ibu Oshaberi!” ucapnya.


Kehadiran orang itu membuat kami terkejut. Kami segera mencari sumber suaranya yang berada di samping pagar. Aku dan Xia melihat pria itu yang menyandarkan dirinya di tembok pagar. Aku hanya tersenyum manis, sementara Xia tampak malu- malu. Ya dia telah di tunggu oleh pengawas yang di idolakannya sehingga hal seperti ini membuat jantungnya berdebar lebih cepat. Ya, Xia jatuh cinta padanya.


“Apa? Memang ada masalah apa? Kami tidak membuat masalah apapun!”


“Ah, ya ampun! Ya memang benar sekarang masih ada orang yang berlindung di balik kesalahannya. Tenang saja, sebaiknya kalian ikut denganku. Semua orang menunggumu di ruangan Ibu Oshaberi. Jangan khawatir, kalian tidak akan di hakimi!” ucapnya mulai berjalan ke samping Akademi Yexiao.


Aku dan Xia mulai mengikuti langkahnya dari belakang. Kami mengelilingi Akademi Yexiao, dan masuk dari pintu kecil yang ternyata kami berada di taman kecil Akademi Yexiao yang di tumbuhi bunga- bunga dan tanaman obat.


Kami terus mengikuti pria ini, ya sementara Xia terus saja memandangi pria itu dengan perasaan malunya. Ia bahkan berlindung di belakang diriku. Pria itu membawa kami ke ruangan pengawas asrama,  ruangan kerja Ibu Oshaberi.


Pria itu mengetok pintu, dan begitu terdengar jawaban dari dalam. Kami segera masuk. Tidak di sangka, di ruangan ini ada beberapa orang telah disini. Ada sekelompok gadis yang pernah mengusili Xia dengan wajah di perban. Melihat kedatangan kami, mereka semua memberi jalan dan kami langsung berhadapan dengan Ibu Oshaberi.


Ibu Oshaberi menatap kami tanpa senyuman, ia tampak berubah sikapnya tapi entah karna apa. Tapi yang jelas aku senang sekali melihat sekelompok gadis itu terluka. Ya aku rasa mereka telah menemukan karmanya.

__ADS_1


Aku dan Xia duduk berhadapan dengan Ibu Oshaberi, sementara pria yang membawa kami kemari berdiri di samping ke dua temannya yang juga pengawas.


Ibu Oshaberi mengambil polpen dan kertas, dan meletakannya di atas meja. Lalu ia berucap “Aresha, Xia. Kalian dari mana?”


Xia yang melihat situasi seperti ini mulai menyangka dirinya berada dalam masalah, dugaannya semakin menjadi kuat setelah melihat ke empat gadis yang menyakitinya itu juga berada di sini dengan wajah yang di perban.


Tidak ada jawaban dari kami berdua, aku hanya diam membisu dan begitu juga dengan Xia. Xia tampak mengelurkan keringat dingin di keningnya.


Ibu Oshaberi kembali bertanya, “Aresha, Xia. Kalian dari mana?”


“Maaf, aku dan Aresha sedang jalan- jalan. Apakah ada masalah, Ibu Oshaberi?” jawab Xia sembari mencoba membuat dirinya tenang dalam menghadapi Ibu Oshaberi.


“Kalian jalan- jalan? Apakah kalian mau melarikan diri dari masalah?!” ucap Ibu Oshaberi dengan suara keras hingga suaranya memenuhi ruangan ini.


Xia terdiam, ia menunduk dan ketakutan. Ia hampir dibuat menangis tetapi ia mencoba menahan air matanya untuk tidak jauh ke pipi. Xia tidak ingin terlihat lemah sekarang.


“Ibu Oshaberi, apa masalahnya? Ketentuan sekolah ini tidak pernah melarang seorang pun pergi di siang hari kecuali ia berasal dari kelas reguler!” ucapku menatapnya dengan tersenyum.

__ADS_1


“Ya benar, tetapi kami tidak mengajarkan seorang pun untuk lari dari masalahnya!”


“Apa maksud ibu? Kami berdua tidak pergi dari masalah apapun. Apa ada masalah?”


“Oh, kalian berdua pura- pura? Oh ya Tuhan! Mengapa aku harus punya murid seperti kalian!” ucapnya dengan ekspresi menyesal.


“Ibu Oshaberi, jika ibu seperti itu kami tidak akan tahu masalah apa yang kami perbuat. Jadi tolong jelaskan, jika Ibu Oshaberi memang guru kami!”


Ibu Oshaberi berhenti mengeluh, ia pun melihat ke arahku. Menatapku mencurigai diriku.


Ibu Oshaberi  berucap dengan keras hingga suaranya kembali memenuhi ruangan ini, “Kamu, kamu selalu bicara? Apa kamu punya pembelaan dalam masalah ini? Jika punya katakan!.”


Aku tersenyum manis. Sementara Xia yang mendengar ucapan Ibu Oshaberi mulai mengambil langkah untuk melindungi temannya. Xia tidak ingin Aresha di salahkan dalam masalah ini.


Aku yang menyadari Xia memegang tanganku, aku pun menoleh ke arahnya. Ia tampak ketakutan tetapi juga berani melindungiku dari masalah ini. Ya dia bisa di sebut nekad.


“Tidak apa Xia, kita tidak tahu apa masalahnya! Kamu jangan khawatir, kita pasti bisa menyelesaikan masalah ini. Ya setidaknya setelah mereka memperlakukan kita seperti ini, kita bisa meminta mereka menambah hukumannya!” ucapku pada Xia, lalu aku berucap pada Ibu Oshaberi “Ibu Oshaberi, tolong jelaskan masalahnya! Jika Ibu Oshaberi tidak menjelaskan maka tidak akan ada solusinya di antara kita.”

__ADS_1


__ADS_2