
Erega pun menjawab, “Baik! Baiklah semua, dengarkan saya! Kita akan membentuk formasi....” jelasnya pada seluruh anggotanya.
Setelah memberi arahan, Jimwa dan istrinya kembali ke ruang kerjanya. Saat itu lah Alecia yang beri misi melihat kedatangan Jimwa dan Martha. Ini lah saatnya Alecia beraksi.
Jimwa dan Martha masuk ke ruang kerja, Martha menutup pintunya lagi dan Jimwa segera duduk di kursi kerjanya.
“Sampai kapan terus seperti ini?” ucap Martha.
“Apa maksudmu?” tanya Jimwa sembari membuka berkas kerjanya.
“Ya maksudku, sampai kapan kamu keras kepala? Alika itu juga putriku. Bagimana kalau dia tahu kalau kamu membela Alecia dari pada dia?!”
“Hah, masalah itu lagi? Sudah kukatakan padamu kan, bagaimana pun dia juga putriku. Aku berhak untuk membantunya. Kamu tahu sendiri kan? Dia sedang berada di rumah sakit dengan putrinya yang harus menerima kutukan itu! Apa aku sebagai ayahnya hanya diam saja?”
“Tapi Alika juga putriku, tingkahmu itu bisa melukai Alika!.”
__ADS_1
“Tapi Alecia juga putriku, aku tidak mau kehilangannya. Aku tidak mau di terluka lagi. Kau tahu sendiri sifat Romeo yang banjingan itu! Dia menyia- nyiakan Alecia. Aku tidak mau melihat Alecia sedih, aku tidak mau!”
Berdebatan itu terdengar jelas di telinga Alecia, Alecia tidak menyangka jika ayahnya membela dirinya di depan ibu tirinya itu. Alecia tidak menyangka ayahnya masih peduli dengannya. Perlahan- lahan air mata Alecia jatuh membasahi pipi. Saat seperti ini Alecia mulai sadar, dirinya di pertengahan konflik. Perdebatan ayah dan ibu tirinya ada benarnya. Semua ini juga salah dirinya. Tidak seharusnya ia memaksakan cinta pada Remeo yang tidak sepenuhnya dikenal.
“Apa maksudmu?” tanya Jimwa sembari membuka berkas kerjanya.
“Ya maksudku, sampai kapan kamu keras kepala? Alika itu juga putriku. Bagimana kalau dia tahu kalau kamu membela Alecia dari pada dia?!”
“Hah, masalah itu lagi? Sudah kukatakan padamu kan, bagaimana pun dia juga putriku. Aku berhak untuk membantunya. Kamu tahu sendiri kan? Dia sedang berada di rumah sakit dengan putrinya yang harus menerima kutukan itu! Apa aku sebagai ayahnya hanya diam saja?”
“Tapi Alika juga putriku, tingkahmu itu bisa melukai Alika!.”
Berdebatan itu terdengar jelas di telinga Alecia, Alecia tidak menyangka jika ayahnya membela dirinya di depan ibu tirinya itu. Alecia tidak menyangka ayahnya masih peduli dengannya. Perlahan- lahan air mata Alecia jatuh membasahi pipi. Saat seperti ini Alecia mulai sadar, dirinya di pertengahan konflik. Perdebatan ayah dan ibu tirinya ada benarnya. Semua ini juga salah dirinya. Tidak seharusnya ia memaksakan cinta pada Remeo yang tidak sepenuhnya dikenal.
Alecia kembali mendengarkan perbincangan Martha dan Jimwa.
“Ya, ya aku mengerti perasaanmu” ucap Martha sembari mendekati suaminya, “Kamu terus saja memperhatikan putrimu. Jika kamu merasa semua ini tidak adil terhadap Alecia, lebih baik kamu membawa dia pulang. Aku tidak mau terus membuatnya sedih. Temui dia, dan bawa di pulang. Jelaskan padanya tentang suaminya. Kamu melihat Romeo bersama wanita lain kan?”
__ADS_1
“Ya, apa kamu serius? Kamu serius mengijinkanku membawanya kembali pulang?”
“Ya tentu saja, aku serius! Bawa dia pulang, temani dia. Bagaimana pun dia, dia adalah putri kita. Aku akan menjelaskannya pada Alika. Aku yakin Alika bisa memahami semua ini.”
“Baiklah, aku akan pergi! Terima kasih istriku” ucap Jimwa sembari mendekati istrinya lalu memeluk dan mencium kening Martha.
Martha hanya tersenyum manis, lalu suaminya itu pergi.
Alecia yang melihat Jimwa mendekat, dirinya pun segera pergi dari sana. Dirinya segera kembali ke asrama. Alecia berjalan sembari menghapus air matanya.
“Aaaakh....Kenapa? Kenapa semua ini harus terjadi padaku? Bodoh! Bodoh!” ucap Alecia sembari menangis di sepanjang jalannya menuju asrama.
Alecia yang berjalan menunduk itu tak pernah di sangka dirinya menjadi penarik perhatian seorang pria. Seorang pria yang juga bagian dari anggota VA. Dia adalah dari klan wolf. Diam- diam pria itu mengikuti Alecia dari belakang hingga ke asrama.
Alecia masuk ke kamar asramanya, dia tinggal seorang diri di kamar asrama ini. Dia tidak memiliki teman sekamar. Di kamar ini, Alecia mencoba menenangkan perasaannya yang kacau dan hancur.
Alecia duduk di kasurnya sembari memikirkan dirinya dan perbincangan yang dia dengar.
__ADS_1
“Ayah, maafkan aku! Aku sangat egois hingga tidak memikirkan ayah. Maafkan aku! Aku akan memperbaiki kesalahanku. Aku tidak akan menyia- nyiakan kesempatan ini. Aku janji” ucapnya membuat janji dengan dirinya sendiri.
Seorang pria yang mengikuti Alecia hanya bisa berhenti tak jauh dari kamar Alecia. Pria itu hanya melihat jauh kamar dengan pintu tertutup itu. Beberapa anak perempuan yang kebetulan melintas di jalan itu pun berhenti. Mereka melihat idolanya ada disini seorang diri, mereka pun menghampiri dan mengajaknya bicara.