Bride Of Vampire: The Revenge

Bride Of Vampire: The Revenge
Episode 39


__ADS_3

Tiba di High School 7 atau disebut dengan HS7, berjalan beriringan dengan Hani. Aku melihat dan teringat akan seorang pria berjalan dengan wanita didepanku, aku seperti mengenalnya.


“Jangan diharaukan, mereka memang begitu”,


“Haha, lagi pula dia ngak cuman satu kok di dunia ini”tawaku melepas kesedihan yang mendadak menghampiri.


“Nah itu baru Violinku!”seru Hani.


Berjalan melewati mereka tanpa mengingat apa yang telah terjadi dimasa laluku. Menuju ruang kelas, Hani menujukan dimana aku duduk. Ia tahu bahwa aku sedikit lupa. Namun tiba-tiba seseorang perempuan memanggil Hani dari luar.


“Violin, aku pergi dulu menemui temanku. Sampai nanti ya!”,


“Ya!”senyumku,


Menatap kosong ruangan ini, hanya ada aku disini. Aku tidak begitu ingat apa yang telah terjadi pada tubuh ini tetapi aku ingat siapa diriku ini. Aku berharap ada kehidupan baru setelah pergi untuk meninggalkan masa pahit itu. Aku berharap masih ada yang menungguku didepan nanti.


***


Gisel adalah nama anak perempuan yang memanggil Hani tadi di ruang kelas, ia sahabat Hani.


“Dia baik-baik aja kan?”tanya Gisel.


“Ya tentu saja dia baik, memang kenapa?”,


“Kupikir tadi dia melihat Demian dan Angel jalan berdua, aku takut dia marah dan …”jelas Gisel.


“Tenang saja, dia sudah berubah. Mungkin sejak kejadian itu dia…”,


“Apa benar begitu?”,


“Ya Gisel”,


“Apa aku boleh menemuinya? Ia tak akan marah padaku kan?”,


“Tidak, dia tidak akan marah”,


“Apa benar begitu?”,


“Hah, dia tak pernah berniat marah pada kita. Ia telah tahu yang mana yang benar dan tidak. Aku sahabatnya sangat senang dia telah kembali. Aku sangat khawatir padanya setelah kejadian itu menimpanya”,


“Hah, ya aku juga. Aku merasa bersalah ketika memperlihatkan yang sebenarnya padanya”,


“Tapi tindakanmu benar, dia harus tahu sebelum terlambat”,


“Ya, nanti ajak dia ke taman danau ya? Aku ingin bicara padanya nanti sore di sana, mau kan?”,


“Oke, aku mau. Tapi bawain aku eskrim ya?”,


“Hah, lo mah kalau ada maunya cepat! Iya nanti aku bawain yang besar buat kita semua”,


“Hem, jadi ngak sabar buat sore nanti”,


“Ya, kalau begitu kita ke kelas yuk! Violin pasti menunggu kamu!”,


“Ya tentu”senyum Hani.


Gisel dan Hani berjalan menuju ruang kelas yang sama tetapi tidak beriringan.


Kulihat Hani datang bersama temannya, rupanya temannya itu satu kelas denganku juga. Kucoba berpikir siapa teman Hani ini, pasti ada sesuatu yang tersembunyi. Beberapa lama mencoba mengingat, akhirnya aku tahu siapa nama teman Hani itu.


Teman Hani itu juga temanku, Gisel. Dia yang membujukku untuk melihat pacarku, Demian alias mantan berpacaran dengan Angel, pacar baru si playboy.


Kulambaikan tanganku dan berucap “ Gisel!”,


Gisel hanya tersenyum manis tanpa menjawab, Hani datang mendekatiku. Ia memang duduk sebangku denganku.


“Han, ada apa dengan Gisel? Kok ngak menjawab panggilanku?”,


“E, kamu tahu sebelum kamu koma. Kamu kenapa?”,


“Iya aku ingat”,


“Gisel merasa bersalah karena sudah memberitahu padamu yang sebenarnya. Kamu sedih banget saat itu, jadi Gisel ngak mau kamu sedih lagi. Ia merasa bersalah!”,


“Seharusnya Gisel tak perlu seperti itu padaku, aku yang salah dan Gisel benar. Demian adalah cwok playboy dan Angel, cwek kaya sombong. Hah, andai saja aku dulu tak terbawa emosi ya! Pasti ngak akan terjadi”,

__ADS_1


“Sudah lah, Gisel cuman takut kamu marah lagi sama dia dan kamu melakukan hal yang diluar dugaan. Nanti sore aku jemput kamu di rumah, kita ke taman danu. Disana banyak bunga, kudengar juga banyak cogannya”,


“Hah, urusan cogan elo emang mulai dulu nyamber kayak ikan duluan. Tapi sepertinya aku setuju dengan ajakanmu. Aku ingin melihat seseorang menungguku atau tidak disana”,


“Kamu punya cwok?”,


“Itu rahasia, Gisel ajak bawa eskrim coklat besar ya. Aku mau, lama ngak makan eskrim besar buatan ibunya”,


“Oke! Tenang aja semua terencana”,


 


 


Tak beberapa lama kemudian pelajaran pun di mulai. Ruang kelas ini mengingatkanku saat ujian dimasa lalu. Seorang pria tampan mengawasi saat ujian, dan jiwa raga ini tak sepenuhnya milikku.


***


Jam istirahat, kantin HS7.


Kulihat kembali mantan alias pria playboy cap undang sungai bersama Angel. Hani pikir aku cemburu hingga dia selalu mencoba mengalihkan pandangan dan mengajakku bicara.


“Violin, nanti sore kamu pake sepedamu kan?”,


“Em, ya”,


“Aku duluan ke taman bunga gimana?”,


“Ah lo, ngajak atau mau nyusup duluan makan eskrim Gisel?”,


“Hehe…”,


“Ajak Gisel gabung gih? Aku mau menelpon seseorang dulu…”,


Hani mulai mendekati Gisel buat gabung, Gisel datang sambil membawa makanan sementara aku menghubungi seseorang dengan nomor telpon yang kuingat. Berharap nomor telpon itu masih aktif.


Menekan nomor telpon, dan mulai menghubungi, menunggu beberapa saat. Ketika mulai terhubung dan seseorang berucap “ Hallo, ini dengan siapa?”. Segera kumatikan telpon itu dan tersenyum manis. Kemudian menyimpan handphone dalam saku baju. Aku tersenyum manis dan berpikir ia masih menungguku.


“ Gisel, gimana kabarmu?”,


“Kenapa canggung gitu sama aku?”,


“Ngak apa-apa kok”,


“Sudahlah ngak usah canggung, kita sahabatankan?”,


“Iya sahabat”,


“Aku memaafkan dan aku minta maaf, ngak seharusnya aku emosian sama kamu. Eh kira-kira apa yang telah dilakukan Angel sama kalian selama aku pergi? Kalian sering di bully?”,


Hani dan Gisel hanya diam saja, lalu Hani sedikit mengubah topic pembiraan bermaksud memberitahuku.


“Violin, kamu ingat ngak sih siapa anak itu?”,


“Ngak!”,


“Dia anak direktur perusahaan besar, anak orang kaya. Jika macam-macam sama dia, orang tuanya akan datang. Orang tuanya bisa melakukan apa saja untuk anaknya”,


“Lalu?”,


“Karna itu semua orang ngak berani sama dia,”terang Gisel


“Oh gitu, kalian pernah mendengar keajaiban ngak? Kesialan seseorang yang suka bully temannya lebih parah dari pada orang yang dibully loh. Jadi kalau kalian yang memiliki semuanya, apa yang akan kalian lakukan pada dia?”,


“Eh, kalau aku sih tumpahin minuman ke bajunya yang sok cantik itu”,


“Iya, kalau aku kepeleset aja tuh udah cukup bikin ketawa kok”,


Ucapan mereka seperti keajiban. Ketika Angel berdiri tiba-tiba Demian yang berada didepannya menumpahkan minuman. Angel nampak kesal dan marah, ketika ia ingin pergi baru saja selangkah Angel kepeleset jatuh ke lantai dan semua orang menertawakannya. Demian Ran, atau dipanggil Ran atau Demian itu segera berdiri dan menolong Angel.


“Kamu baik-baik aja?”,


“Apanya yang baik? Sakit tau!”, bentak Angel sambil pergi dan menahan rasa malu itu.


*Mejaku,

__ADS_1


“Wah kebetulan banget, kok bisa ya?,”tanya Hani


“Mungkin kebetulan aja”,


“Benar kata Violin”,


“Eh, kalian berdua ngak marah lagi kan? Ngak marah kan?”,


“Ya ngak lah, ngak kok. Apa yang ditunjukan Gisel padaku itu benar. Memang aku harus tahu yang sebenarnya”,


Kami saling tersenyum satu sama lain.


***


Bus sekolah bukan bus kampus jadi aku dan Hani menunggu jemputan. Hani biasanya dijemput oleh ibunya sama sepertiku. Tetapi tiba-tiba ada pesan singkat masak.


“Violin, ini mama. Mama ngak bisa jemput, ada meeting agak lama jadi mama minta teman mama jemput kamu. Namanya Seto, dia menjemput kamu pake mobil. Kamu kekantor mama sepulang dari sana”,


“Iya ma, aku lihat dia kok!”,


Seorang pria berpakaian rapi datang,


“Kamu Violin kan?”,


“Iya, ada apa?”,


“Mamamu meminta saya menjemputmu, ayo kita berangkat!”,


“Hah, apa namamu Seto?”,


“Iya itu nama panggilanku”,


“Oke, Hani aku duluan. Atau mau nebeng kita juga?”,


“Ah, ngak usah. Aku dijemput mama kok udah, itu dia. Eh benar dia jemputanmu?”,


“Iya benar lah, tenang aja. Dia teman mama kok”,


“Oke”,


“Aku pergi dulu ya”,


“Ya!”,


Berjalan dan masuk ke mobil, lalu pergi menuju kantor mama. Ya mamaku bekerja sebagai staff admin diperusahaan besar kota ini. Gajinya lumayan besar sih, ya cukup untuk kami berdua.


Sepenjang perjalanan,


“Violin, kamu mau kita mampir ke toko eskirim dulu?”,


“Ngak usah, entar sore aku dan teman-teman bakalan makan eskrim”,


“Em, bagaimana sekolahmu hari ini?”,


“Baik seperti biasanya”,


“Apa kamu punya masalah disekolah?”,


“Tidak ada”,


“Kudengar hobimu membaca, baca buku apa?”,


“Novel”,


“Genre?”,


“Romance, fantasi, vampir, wolf”,


“Wah, sama donk. Saya juga suka vampir dan wolf. Apa yang kamu suka dari vampir?”,


“Tidak ada, dia makhluk yang menjengkelkan”,


“Kenapa begitu?”,


“Sebab vampir itu hanya khayalan saja, tidak ada di dunia nyata”,

__ADS_1


“Ya kamu benar”


__ADS_2