
Sore hari dibawah langit yang cerah dengan angin yang sejuk. Sesuai janji, aku pergi ke taman danau dengan sepeda. Mengayuh sepeda dengan kecepatan sedang dan menikmati kesejukan sore hari. Angin yang menghembus membuat jiwaku tenang.
Ting…ting…tok…, bunyi handphone milikku. Ada pesan singkat masuk dari Hani. Tapi aku tidak berhenti di jalan hanya untuk membaca pesan dari Hani. Aku menduga ia mengirim pesan berisi “ Aku sudah tiba di taman danau bersama Gisel”.
Ketika tiba di gerbang taman danau, kuhentikan mengayuh sepeda dan mengerek sepeda sambil memetik bunga-bunga. Ya utamanya sih aku suka bunga mawar, seperti di taman danau ini banyak bunga terutama bunga mawar. Sebenarnya sih, dilarang memetik bunga di area ini tapi orang-orang ngak ngelihat jadi metik dech.
Berjalan menuju tempat biasa ketemu teman-teman saat melintasi danau, aku malah melihat seorang pria yang ngak asing. Pria itu menatap danau sendirian, ia duduk di tepi danau. Tanpa kuduga aku malah ngak sengaja melihat pria itu menjatuhkan air matanya.
“Eh, dia..apa dia sedang nangis? Dia kan cowok?,”gumanku. Aku pun segera berhenti, dan menghampirinya sambil membawa bunga di tangan. Duduk disamping pria itu.
“Hey, apa kamu baik-baik saja? Kamu nangis ya? Ini ambil, bunga ini untukmu,”ucapku sambil memberikan bunga mawar padanya.
Bukannya ia mengambil bunganya malah memeluk erat diriku, aku malah dibuat bingung olehnya.
“Hiks, aku pikir kamu ngak akan kembali padaku. Aku sangat merindukanmu,”ucap pria itu.
“Eh, maksudmu apa?”,
Pria itu melepas pelukannya dan mengambil bunga dari tanganku. Ia tersenyum manis dan ia dengan cepat mengubah rasa sedihnya menjadi bahagia.
“Ya, maafkan aku. Aku memang agak ceroboh, mungkin karena aku memang belum bisa melupakannya. Tapi aku sangat mencintainya”,
“Em, ngak apa-apa. Aku mengerti, kita belum kenalan kan? Kenalkan namaku Violin. Namamu siapa?”,
“Roman, sedang berkenalan denganmu”,
“Roman, jadi kamu ditinggal pacarmu ya? Eh, bukannya aku mau ngebahas. Tapi ngak baik jika cwok sedih gitu. Jika dia memang pacarmu, dia bakalan sedih ngelihat kamu seperti ini. Jadi ayo tunjukan ekspresi bahagiamu?”,
Roman tersenyum manis,
“Nah gitu donk! Eh, aku lupa. Aku harus pergi, sampai jumpa lagi Roman. Jangan sedih ya?”,
Roman hanya tersenyum manis melihat kepergian Violin.
Tak lama Violin pergi, Roman di hampiri oleh Akira. Akira adalah sahabat Roman.
“Menunggu Alika lagi ya? Huh, tadi aku ketemu Rasi. Dia bilang ramalannya kembali di mulai. Bukan ramalan sih tepatnya, tapi ia menemukan surat. Surat yang diisinya sebuah petunjuk untuk menemukan Alika. Mungkin sih sekarang dia bukan bernama Alika, tapi orang lain”,
“Sungguh? Kok Rasi belum kasih tau ke aku ya?”,
“Ya dia kan baru menemukannya, jadi belum sempat kasih tau ke kamu. Apa lagi kamunya yang ke sini sendirian, dan ngak kasih tau mau pergi kemana”,
“Ya benar, tadi aku ketemu cwek loh!”,
“Lalu?”,
“Lalu kenapa kita ngak pergi dari sini? Bantu pindahan, kita mau pindah kan? Aku ngak suka kalau pers nanyain mau kemana? Memang mereka siapanya kita? Sorot terus, aku juga perlu ketenangan kan?”,
“Hah, memang. Siapa suruh jadi anak CEO?”,
“….”
***
Terlihat di keranjang sepeda, handphoneku telah menerima 5 pesan dari Hani. Tiba di tempat biasa, aku cepat turun dari sepeda dan menemui mereka. Mereka sedang asik menimati eskrim coklat buatan mama Gisel.
“Ah, gue telat. Mana jatah gue nih? Gue mau…,”ucapku cepat duduk di kursi bermeja bundar.
“Itu didepan loh!,”jawab Gisel,
“Eh, kamu gimana caranya bisa ketemu sama cogan itu?,”tanya Hani,
“Cogan mana?”,
“Lah pura-pura ngak tau lagi! Itu loh cogan yang lo foto”,
“Hah, oh itu. Memang kenapa sama dia?”,
“Bukan sama dia, Violin. Tapi bagaimana sama kita? Kita penasaran gimana caranya kamu bisa foto dia?,”sahut Gisel,
“Oh gitu, kalian penasaran banget ya?”,
“Iya!,”jawab mereka serentak,
“Oke dech dikasih tau, itu aku ke kantor mama dan kebetulan ada dia saat kita bicarain tuh anak jadi kufoto dech. Emang kenapa dengan dia?”,
__ADS_1
“Dia ganteng banget!”,
“Lalu?”,
“Pinter, dan kaya juga”,
“Gitu aja?”,
“Iya, kayaknya dia pria yang romantic dan masih jomblo”,
“Itu kan dugaan kalian aja, tadi aku ketemu dia lagi loh di sini”,
“Hah, beneran? Dimana? Kita kesana yuk!”, dua temanku mulai tergesa-gesa dan mencari Roman.
“Dia udah pergi, di dekat danau tadi”,
“Yah…kenapa ngak kasih tau ke kita?”,
“Iya”,
“Violin juga kenapa ketemu terus sama dia? Jodoh ya?”,
“Ah, udah lah jangan bahas dia lagi. Jadi kita mau ngapain kesini?”,
“Eh, ia jadi sampai lupa”,
“Jadi, gini loh Violin. Kamu ngak marah lagi kan sama Gisel?”,
“Ya enggaklah, Gisel kan sahabat aku dan Hani juga”,
“Lalu Demian Ran gimana?”,
“Bodo amat sama dia, kan aku udah tau kalau dia cuman mau memanfaatkan diriku. Jadi buat apa berharap sama dia lagi? Ada banyak cwok di dunia ini utamanya sih Roman”,
“Hah, elo suka sama Roman juga? Hue…pantesan elo ketemu terus sama dia”,
“Haha, ngak kok cuman bercanda. Itu cuman kebetulan”,
“Ah mana ada bercanda, paling-paling lama-lama cinta mati sama dia. Tapi gue relain untuk teman gue ini”,
“Iya aku juga”,
“Iya silahkan”,
“Em…enak banget. Memang jagonya dech mama Gisel buat eskrim, pantesan banyak yang ngantri di toko”,
“Hehe, maklum tokonya kecil jadi banyak antri Violin”,
“Hehe, ia gue tau kok makanya tokonya dibesarin biar kita bisa nongkrong disana”,
“Iya nanti dech itu juga rencana papa kok”,
“Bell…asik, entar gue kunjungi untuk jadi pelanggan pertama,”senyum Hani,
“Enak saja, aku yang jadi pelanggan pertama!”,
“Aku…”,
“Aku…”
Gisel pun melerai diriku dengan Hani yang berdebat menjadi pelanggan pertama.
“Sudah, sudah. Kalian berdua jadi pelanggan pertama kok, nanti aku sediain kursi dan meja special buat kalian berdua”,
“Sungguh?”tanya kami berdua,
“Iya, kan kalau pembukaan pasti ada tempat special tuh buat tamu. Jadi kalian nanti dapat kursi dan meja special”,
“Wah, terima kasih Gisel”,
“Janji ya?”,
“Iya”
“Eh, kira-kira Roman udah jauh ngak ya dari sini?,”tanya Hani,
__ADS_1
“Uh, bahas cowok lagi. Kenapa sih kamu, Hani?”,
“Hehe, soalnya gue pengen banget ngelihat dia dari dekat”,
“Huh, besok dia kan masuk sekolah. Kenapa ngak sabaran?”,
“Hehe, ia dech gue sabar aja”,
“Hahaha gue heran padamu, Hani. Tumben ngak sabaran banget buat ketemu cogan itu,”ucap Gisel,
“Iya, maaf”
***
Di rumah saat makan malam bersama mama,
“Ma, mama serius mau membuka rumah kos disini?”,
“Iya Violin, apa kamu keberatan?”,
“Engak, cuman aku takutnya…”,
“Jangan mikir yang ngak-ngak, pilihan Pak Dir itu pasti orang baik”,
“Iya dech Ma, memang berapa sih mama buka biaya kos di rumah kita?”,
“Lumayan besar sih, tapi sama aja kok seperti tempat biaya kos ditempat lain”,
“Hah, 500 ribu perbulan?”,
“Ya seperti itu, Pak Dir juga buat bonus. Dia beri mama uang tipnya, lumayan kan?”,
“Hah, mama seperti itu”,
Tiba-tiba disela pembicaraan kami, seseorang mengetok pintu. Aku pun segera pergi untuk melihat siapa yang bertamu. Mmebuka pintu perlahan-lahan dan aku melihat seorang pria yang ngak asing telah berada di depanku.
“Roman? Kamu tahu dari mana rumahku disini?”,.
“Kamu tau dari mana juga namaku?”,
“Huh, teman-teman bicarain kamu termasuk Hani dan Gisel, sahabatku. Murid baru di HS7 kan?”,
“Iya, kamu tahu. Ini rumah kos kan? Rumah Vionerina?”,
“Hah, iya. Eh, apa kamu yang….”, mama berteriak dari dalam rumah,
“Violin, siapa yang datang?”,
“Kamu yang mengkos disini?”,
“Iya, memang kenapa?”,
Aku pun menjawab pertanyaan mama tadi dengan berteriak, “ Tamu mama!”,
Mendengar jawabanku, mama segera pergi ke depan dan menyambut tamu itu dengan hangat.
Aku segera kembali ke meja makan sementara mama mengantarkan dia ke kamarnya.
“Jadi, boleh saya tau namamu?”,
“Namaku Roman, apa tadi itu putrimu?”,
“Iya, dia putriku. Anak satu-satunya, maaf jika dia kasar padamu tadi”,
“Dia tidak kasar padaku tadi, maaf aku datangnya malam”,
“Iya ngak apa-apa, mau ikut makan malam? Kami baru saja hendak makan malam, jadi ikutlah. Jangan malu-malu!”,
Roman meletakan tas di kasur lalu pergi bersama mama menuju ruang makan.
***
__ADS_1