
Ethan berjalan di sampingku, aku tidak terpikir pria ini akan menyusul diriku. Ya kupikir dia akan pergi, tapi nyatanya tidak dan membuat diriku semakin salah tingkah. Jatungku berdekat lebih cepat, tapi wajahku tidak memerah. Ya itu karna aku sendiri tidak mengerti apa yang aku rasakan saat ini, entah ini cinta atau perasaan yang lain.
“Hei, kamu mau pergi kemana?” tanya Ethan padaku.
“Ah, apa urusanmu? Aku mau pergi kemana pun bukan urusanmu.”
“Ya memang, tapi tidak bisakah kamu tidak cuek begitu padaku. Memang apa salahku? Apa aku telah berbuat salah padamu? Soal yang tadi, ya baiklah. Aku yang salah. Maafkan aku, kamu memang berhak untuk belajar apapun.”
“Ya aku memaafkanmu!” mempercepat langkah kaki hingga Ethan menyusul diriku.
“Hei, tunggu! Aku belum selesai bicara padamu” ucapnya padaku hingga membuatku berhenti melangkah dan menghalangi dirinya.
“Yap, ada apa lagi? Apa ada sesuatu yang penting, yang harus kita bicarakan?”
“Ya... ah....baiklah- baiklah. Maukah kamu jalan- jalan bersamaku?” ucapnya memberanikan diri mengajak gadis yang ada di depannya ini. Ethan mengalahkan keraguannya.
Spontan aku langsung menundukan kepala ke bawah, dan berucap “Maaf, lain waktu saja” aku kembali melihat Ethan. Mendengar penolakan dariku, aku melihat wajahnya yang mulai pucat dan sedih. Aku tahu pria ini pasti kecewa karna kutolak ajakannya.
Aku tidak tega membuatnya sedih, jadi kukatakan “Maaf ya, kamu mengajakku di waktu yang salah. Bagaimana kalau kita jalan- jalannya setelah ujian ability magie berakhir? Ya kamu harus tahu kalau aku sibuk mempersiapkan diri. Kamu mengerti kan? Setuju?”
Mendengar penjelasan itu, kulihat wajah Ethan kembali cerah. Ia tersenyum manis padaku, dan spontan mengelus- elus rambutku.
__ADS_1
“Ya tentu, aku akan menghargai alasanmu. Kupikir kamu bekerja keras untuk maju di ujian ability magie. Kalau begitu kamu harus berlatih dengan semangat. Aku akan mendukungmu!” senyumnya padaku.
“Ya, akan kuanggap kamu setuju. Sampai jumpa lagi!” ucapku segera mengakhiri pertemuan ini. Aku segera berjalan menuju asrama, pergi meninggalkannya.
Siapa sangka di balik penolakan itu ada senyum indah di wajah kami berdua. Aku tersenyum manis melihat pria itu tak bersedih. Ya setidaknya dia tidak menunjukan raut wajah sedih dan kecewanya.
“Ya, sepertinya aku tidak sia- sia. Aku tidak akan menyia- nyiakan kesempatan ini, aku akan mencaritahu siapa dirimu. Aku pikir tidak ada salahnya mencoba saran nyonya perpustakaan kota kan?” ucapnya pada dirinya sendiri.
Mendengar penjelasan itu, kulihat wajah Ethan kembali cerah. Ia tersenyum manis padaku, dan spontan mengelus- elus rambutku.
“Ya tentu, aku akan menghargai alasanmu. Kupikir kamu bekerja keras untuk maju di ujian ability magie. Kalau begitu kamu harus berlatih dengan semangat. Aku akan mendukungmu!” senyumnya padaku.
“Ya, akan kuanggap kamu setuju. Sampai jumpa lagi!” ucapku segera mengakhiri pertemuan ini. Aku segera berjalan menuju asrama, pergi meninggalkannya.
Siapa sangka di balik penolakan itu ada senyum indah di wajah kami berdua. Aku tersenyum manis melihat pria itu tak bersedih. Ya setidaknya dia tidak menunjukan raut wajah sedih dan kecewanya.
“Ya, sepertinya aku tidak sia- sia. Aku tidak akan menyia- nyiakan kesempatan ini, aku akan mencaritahu siapa dirimu. Aku pikir tidak ada salahnya mencoba saran nyonya perpustakaan kota kan?” ucapnya pada dirinya sendiri.
Roman yang melihat Ethan sendirian pun mendekatinya, Roman telah memperhatikan Ethan sejak dirinya mendekati gadis itu. Roman tersenyum manis.
“Ah, ya ampun! Ternyata pangeran tak di akui ini juga pernah jatuh cinta ya!” ucapnya sembari menertawakan Ethan.
__ADS_1
“Apa maksudmu?” tanya Ethan menatapnya sinis.
Saat seperti itu, tiba- tiba dari atas langit Violin muncul dan langsung memukul Roman hingga Roman terjatuh.
“Apa? Kamu punya cwek lain?” tanya Violin dengan emosi.
Roman yang terjatuh ke tanah pun segera mencoba memenangkan Violin,
“Tidak, tidak. Bukan begitu. Yang punya pacar baru itu bukan aku, tapi Ethan!”
Seketika itu juga Violin berhenti marah, ia bersikap tenang dan memandang Ethan. Seperti biasa, pria itu selalu bersikap dingin.
“Hei, Ethan!” ucap Violin sembali menatap tajam pria itu.
Ethan yang mendapat tatapan tajam itu melangkah mundur, ia tidak mau mencari masalah dengan vampir perempuan seperti Violin ini. Ethan tahu jika ia mencari masalah dengan Violin, tidak akan ada lagi kata maaf. Violin akan menghabisi dirinya hingga jadi berkeling- keping.
“Ya tidak juga, bukan pacar!” jawab Ethan ragu- ragu.
“Ah, ya ampun! Dari wajahmu itu sudah terlihat bahwa kamu akan menyerah. Memang gadis mana yang kamu dekati?” tanya Violin terus memandingi pria itu hingga ia setengah ketakutan.
“A...aku pergi dulu ya? Sampai jumpa lagi!” jawab Ethan mengakhiri perbincangan.
__ADS_1