Bride Of Vampire: The Revenge

Bride Of Vampire: The Revenge
Episode 169


__ADS_3

Ketiga pria itu saling tatap satu sama lain, lalu salah satu darinya memberanikan diri dengan berucap "Maaf Ibu Oshaberi, bagaimana mungkin Xia melakukan semua ini? Sementara dia tidak ada di kamar. Ya tapi tidak masalah, kami akan melakukan penyelidikan pada Xia"


"Ya itu bagus, mulailah bekerja!"


Sisi lain keberadaan Xia.


Setelah berhasil menghancurkan cermin itu, Xia secepatnya mencari Aresha. Ya Xia ingat apa yang di katakan oleh Aresha bahwa cermin itu akan membawa dirinya bertemu dengan Aresha.


Xia berada di sebuah gang jalanan kota, ia pun keluar dari gang dan mulailah terlihat keramaian. Saat itulah ia melihat Aresha berada di seberang jalan bersama seorang pria memakai mantel bewarna coklat. Pria itu terlihat jelas wajahnya, ia tampan. Xia memperhatikan keduanya dari kejauhan.


Xia menunggu hingga Aresha sendirian disana, ia memperhatikan mereka berdua. Xia merasa perbincangan keduanya tampak serius dan berulang kali Aresha tersenyum manis dan pria itu menundukan kepalanya.


Tidak beberapa lama kemudian, sebuah mobil berhenti tepat di depan Aresh dan pria itu hingga menghalangi pemandangan Xia. Xia mencoba mencari tahu apa yang terjadi disana, ia berusaha mencari celah agar tetap bisa melihat Aresha. Xia pun mulai menyeberangi jalan, tetapi Xia tidak berada di tempat yang tepat untuk menyeberangi jalan hingga langkah Xia berulang kali terhalang oleh mobil yang melaju di jalanan.


Mobil yang menghalangi pemandangannya pun pergi saat Xia hampir mencapai seberang jalan. Saat itu lah dirinya bisa melihat Aresha yang berdiri sembari memperhatikan mobil yang telah pergi.


Keberadaan Aresha.


Mobil itu kini telah pergi, dan aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan hingga menghilang dari pandanganku.


Tiba- tiba seseorang memanggil namaku dari belakang.


“Aresha!” teriaknya memanggil namaku.


Aku mengenal suara itu yang tidak lain adalah suara Xia. Aku pun segera menoleh ke arah belakang dan melihat Xia yang berlari menghampiriku.


“Eh, Xia. Ada apa? Mengapa kamu disini?”


Xia merenggutkan wajahnya, ia tampak kesal dan menjawab “Memang salahnya jika aku menemuimu?”


“Ah tidak- tidak! Bukan begitu maksudku! Bagaimana kamu tahu kalau aku ada disini?”

__ADS_1


“Ya, apa kamu lupa pada cermin yang kamu berikan padaku?”


Mendengar ucapan Xia, aku pun teringat akan cermin yang kuberikan padanya. Ya tentu saja aku masih ingat akan cermin itu. “Oh cermin itu, apa kamu sudah memecahkannya?”


“Ya tentu saja!”


“Bagus! Hari ini kita mau kemana? Aku tidak jadi mampir ke perpustakaan kota hari ini!”


“Eh, kenapa? Apa karna aku?!”


“Tidak, bukan karna kamu kok!”


“Lalu kenapa?”


“Bukan karna apa- apa, jadi kita mau kemana hari ini?”


“Ya bagaimana kalau kita ke taman kota?”


“Ya juga sih, lalu kita kemana?”


“Mau makan?”


“Boleh! Kamu yang traktirkan?”


“Hah, tidak bisa! Aku belum punya uang, tapi jika kamu mau aku bisa membayarkanmu sebagian!” senyumku.


“Oh, tentu saja! Itu juga boleh kok” jawabnya membalas senyumanku.


Lalu aku dan Xia segera pergi mencari tempat makan yang enak. Sementara aku tahu ada seseorang yang mengamati diriku dari kejauhan, aku menyadarinya semejak aku bicara dengan pria itu. Bukan hanya Xia yang mengamatiku melainkan ada orang lain.


Aku dan Xia memilih tempat makan yang biasa saja, kami pun segera masuk dan memilih tempat yang baik. Tidak perlu waktu yang lama, seorang pelayan datang dan kami mulai memesan menu makanan dan minuman. Setelah itu pelayan itu pergi.

__ADS_1


Tempat ini cukup ramai untuk kami berdua. Di tempat ini pengunjung datang dan pergi secara bergantian, seolah- olah tempat ini tidak pernah sepi.


Sembari menunggu makanan dan minuman yang di pesan. Aku dan Xia ngobrol.


“Ah, aku terselamatkan hari ini! Terima kasih ya, Aresha sudah menolongku?” ucap Xia membuka perbincangan.


Tetapi dirinya merasa tidak di perhatikan oleh Aresha, Xia melihat sorot mata Aresha yang tertuju pada televisi. Televisi itu memperlihatkan tayangan berita utama hari ini.


“Penemuan jasad seorang pria dengan di sekujur tubuhnya, polisi telah menyatakan bahwa ini adalah pembunuhan. Polisi akan terus menyelidiki khasus ini, polisi telah meminta warga sekitar segera melaporkan jika merasa ada anggota keluarganya yang hilang.”


Xia menyentuh tanganku, dan aku mulai mengalihkan padanganku padanya.


“Ya, ada apa Xia?” tanyaku.


“Hah, kamu! Aku bicara kamu malah asik sendiri!”


“Hahahah.... jangan marah, aku tertarik dengan berita itu”


“Oh, apa karna kita tidak punya televisi di asrama ya?”


Aku tersenyum manis dan menganggukan kepala, lalu berucap “Jadi apa yang ingin kamu bicarakan?”


“Ya, bukan apa- apa. Terima kasih telah menolongku, berkat cermin yang kamu berikan aku terselamatkan!”


“Ah tidak masalah, aku adalah temanmu. Itu bukan hal yang berat bagiku!”


“Ya, tapi jika tidak ada kamu. Aku pasti sudah berakhir!”


“Sudahlah!”


“Ah iya, tadi aku melihatmu bicara sama pria tampan. Dia siapa? Pacarmu ya?”

__ADS_1


__ADS_2