Bride Of Vampire: The Revenge

Bride Of Vampire: The Revenge
Episode 299


__ADS_3

Sementara itu setelah kepergian Sha meninggalkan Sofie. Sofie bicara dengan Romeo. Romeo duduk di dekat Sofie.


“Sayang, apa yang baru saja kalian bicarakan?” tanya Romeo sembari melihat ke arah Sofie.


“Apa kamu cemburu?”


“Ya, sepertinya!”


“Hah, kamu tidak perlu cemburu, aku dan dia hanya membahas bisnis. Dia memintaku untuk menjaga topeng emasnya lebih dulu selama dia menjalankan bisnisnya. Oh ya lebih tepatnya dia pergi. Dia juga sudah membayar topeng emas dengan berlian itu.”


“Membayarnya? Cash?”


“Tidak, dengan cek!”


“Hah, apa cek itu masih berlaku?”


“Ya tentu saja, jika tidak kita masih punya topeng emas dengan berlian itu. Tidak akan ada yang berani main curang kok disini. Kamu tenang saja semuanya dalam kendali.”


“Apa kamu yakin?”


“Ya, aku yakin.”


“Ya baiklah aku percaya denganmu. Apa dia membayar dengan total yang disebutkannya?”


“Ya benar, enam ratus juta.”


“Itu jumlahnya sangat banyak, mau kamu apakan uang itu?”


“Ya tentu saja untuk bisnis dan juga untuk pernikahan kita.”


“Oh, aku makin mencintaimu” ucap Romeo sembari memeluk Sofie. Ia memperlakukan Sofie dengan sangat baik.


Pesta mewah yang diadakan di hotel ini berjalan dengan lancar, para undangan sangat menyukai acara ini. Bukan hanya karna acara mewah ini di tempat yang tepat yakni adanya penginapan untuk para tamu tetapi juga karena fasilitas lainnya. Fasilitas itu sangat membantu semua tamu yang ada disini. Tempat penginapan, restoran, SPA, diskotik, ruang karaoke, dan bahkan bar. Semuanya adalah yang hampir dibutuhkan oleh para undangan disini.


Zhia, perempuan cantik nan anggun itu terlihat sangat dekat dengan Seto Briand. Ia benar- benar perempuan penggoda.

__ADS_1


“Kamu memang hebat, membuat acara semegah ini dan juga desain topeng emas yang bagus. Aku bahkan tidak menduga akan ada seorang pria yang mau membelinya dengan harga selangit” ucap Zhia sembari memegang lengan Seto Briand.


“Ya, itu bukan apa-apa. Aku bahkan bisa melakukan apapun yang kamu minta.”


“Benarkah? Tapi.... apa kamu sudah punya kekasih?”


“Aku tidak punya, kekasihku yang dulu telah meninggalkanku sendirian. Dia pergi dengan pria lain.”


“Hah, maaf! Maafkan aku. Aku tidak bermaksud.....”


“Tidak masalah, sekarang aku sangat senang bisa bertemu denganmu. Aku rasa kamu adalah milikku!”


“Oh ya ampun! Aku malu sekali.”


“Zhia, maukah kamu bersamaku? Aku akan memberikanmu apa saja yang kamu mau.”


“Ya tentu saja aku mau. Apakah kamu menyewa kamar hotel disini?”


“Ya tentu, kamarku nomor 200. Bagaimana denganmu?”


“Ya tentu, kabari aku jika kamu mau main ke tempatku ya?”


“Ya tentu saja, kalau begitu berikan nomor ponselmu?” ucap Zhia sembari memberikan ponselnya pada Seto Briand.


Seto Briand pun tersenyum manis, ia segera mengambil ponsel Zhia lalu mengetikkan nomor ponsel miliknya dan menyimpannya. Setelah itu, Briand mengembalikan ponselnya pada Zhia.


“Ini, aku harap kamu tidak sungkan untuk menghubungiku jika ada masalah. Aku pasti akan membantumu.”


“Ya, tentu akan kuingat” ucap Zhia menyimpan ponselnya kembali, lalu berucap lagi “Kamu tahu orang yang membeli topeng emas dengan berlian itu siapa?”


“Tidak, aku tidak tahu.”


“Aku akan memberitahumu, dia adalah kakakku. Aku tinggal di kalangan yang memiliki harta berlimpah. Ya saking banyaknya uang kami hanya bisa menghabiskannya membeli barang- barang limited edition saja. Rumah kami cukup jauh dari sini, tapi jika kamu mau berkunjung aku akan memberi alamatnya padamu.”


“Benarkah? Kamu dan pria itu tidak mirip sama sekali!”

__ADS_1


“Oh ya ampun, tentu saja tidak mirip. Itu karena dia mirip dengan ayah, sementara aku mirip dengan ibuku.”


“Ya, tapi kamu tetap terlihat cantik”ucap Briand menggoda Zhia.


“Hah, bicara disini membuatku lelah. Bisakah kita bicara di tempat lain? Aku ingin sekali duduk di tempat duduk yang empuk. Apa kamu punya tempat yang bagus untuk kita?”


Briand tersenyum manis, ia memikirkan sebuah tempat yang cocok.


“Ya, aku punya. Ikutlah denganku? Aku akan membawamu ke tempat yang bagus dan kita bisa bicara berdua tanpa ada yang mengganggu.”


“Sungguh? Oh aku sangat senang!”


Briand tersenyum, ia pun menarik tangan Zhia. Dengan penuh semangat, Zhia dan Briand pergi meninggalkan tempat ini. Keduanya bergegas menuju lift.


Di depan lift, Briand dan Zhia menunggu pintu lift terbuka. Sekarang lift telah digunakan oleh seseorang untuk menuju ke lantai ini. Sembari menunggu, Briand diam- diam mengamati Zhia dari atas hingga bawah. Pandangannya pun kembali lagi melihat dari bawah hingga ke atas lagi, dan berhenti di dada yang begitu menonjol. Saat Briand memperhatikan Zhia, Zhia tersadar akan pria di sampingnya telah memperhatikannya.


“Ada apa, Briand? Apa ada sesuatu yang salah padaku?” tanya Zhia sembari melihat ke arah Briand.


Mendengar apa yang dikatakan Zhia, Briand pun berhenti berpikir hal kotor. Ia tersenyum manis, lalu kembali melihat ke depan dan menjawab “Ya, aku hanya berpikir agak membosankan di dalam lift beberapa saat. Kamarku ada di lantai atas, cukup tinggi dan agak lama. Ketika aku ingin ke kamarku itu, aku seperti berada di jalan yang panjang tanpa ujung. Apa tidak masalah untukmu? Kamar nomor 200 itu sangat lama dalam lift loh!.”


“Ah, ya benar. Apa yang dikatakanmu ada benarnya. Itu akan membosankan. Bagaimana kalau kita bermain dalam lift?”


“Bermain? Bermain apa?”


“Hem.... apa aku harus menjelaskannya padamu? Permainannya adalah permainan anak kecil. Main batu gunting kertas, jika kalah hukumannya adalah harus menuruti perintah orang yang menang. Setuju?”


Permainan itu begitu sederhana, main batu gunting kertas selayaknya anak kecil. Tetapi permainan ini sangat bagus, Briand telah memikirkan sesuatu yang sangat bagus dan ia harus memikirkan bagaimana caranya agar selalu menang dari gadis ini.


“Ya baiklah, aku setuju. Jadi jika menang, orang yang menang akan memberikan perintah pada orang yang kalah dan orang yang kalah harus menuruti semua perintah yang diberikan. Begitu kan?”


“Ya benar sekali. Apapun itu. Setuju?”


“Setuju!”


Kemudian Zhia dan Briand saling berjabat tangan satu sama lain. Briand pun memikirkan rencana liciknya.

__ADS_1


Tidak beberapa lama kemudian, pintu lift terbuka dan beberapa orang keluar dari lift. Lalu Zhia dan Briand masuk ke lift. Pintu Lift mulai tertutup, dan Briand menekan tombolnya menuju lantai yang dituju untuk menuju kamar nomor 200. Lift pun mulai berjalan menuju lantai tujuan. Hanya ada Zhia dan Briand dalam lift ini, hanya ada mereka berdua.


__ADS_2