
Ujian ability magie masih berlangsung.....
Dedaunan tua mengarah pada mereka semua yang bersamaan dedaunan muda juga ikut berjatuhan. Saat dedaunan jatuh, daun muda menyusul dan tak pernah terduga. Dedaunan muda itu adalah senjata hingga mereka tidak dapat menghindari senjata yang menyerang itu.
Seretan senjata daun muda itu mengenai kulit mereka semua hingga mengeluarkan darah. Mereka baru menyadari ketika darah keluar dari tubuh mereka. Eren dan anggota VA yang lainnya serta peserta ujian ability magie dari klan vampir, mereka semua melihat darah segar mengalir ke luar. Darah- darah yang keluar karena seretan daun muda yang menyerang mereka, Eren dan yang lainnya berubah menjadi vampir yang ganas lalu menyerang temannya sendiri. Mereka tidak bisa menahan rasa hausnya, mereka haus akan darah sekarang. Empat kelompok yang bukan dari klan vampir tidak bisa berbuat apa- apa, mereka di serang tanpa persiapan dan keganasan akan klan vampir. Mereka tidak bisa berbuat apa- apa, mereka menyerah dan dinikmati oleh klan vampir.
Darah segar yang begitu menggoda membuat semuanya lupa diri. Tidak ada yang bisa menolak darah segar disini.
Netta, Steven, Erega, dan Akira sangat menikmati darah segar manusia dari klan pengendali. Akira adalah hybrid dari campuran klan hybrid dan vampir. Ia menghisap darah korbannya tanpa menyisakan sedikit pun. Mereka benar- benar menikmatinya. Tidak seorang pun bisa melawan mereka. Tidak perlu waktu yang lama, korbannya mati kehabisan darah.
Tidak lama kemudian, para vampir itu telah kehilangan rasa haus mereka. Mereka pun kembali normal. Seketika itu juga mereka langsung menyadari akan perbuatan yang telah mereka lakukan. Mereka telah membunuh peserta ujian ability magie.
“A-apa? Apa yang telah kita lakukan?” ucap Netta sembari melihat tangannya sendiri. Tangannya penuh darah yang masih segar dan lezat. Ia pun membersihkan darah itu dengan mulutnya sendiri.
“Kita harus menyingkirkan mereka semua kan? Jangan ada yang tersisa!” ucap Eren sembari membersihkan darah di sekitar mulutnya.
Para vampir sekaligus pembunuh ini tidak pernah menyesali apa yang telah mereka lakukan. Mereka bergegas menguburkan jasad- jasad yang kering itu.
Dari kejauhan seseorang telah menjadi saksi atas apa yang mereka lakukan, ia tersenyum manis.
“Ya ampun! Mengerikan sekali! Tetapi ini sangat menarik, dan terima lah jebakan ini. Kalian sungguh menikmatinya kan?” ucapnya sembari tersenyum.
__ADS_1
Sisi lain, keberadaan Violin dan Roman.
Mereka telah kembali ke jalan dimana Roman berpisah dengan Eren. Roman masih ingat betul akan jalan ini memiliki tiga lorong yang bercabang. Tetapi sekarang hanya ada dua lorong.
Roman pun berjalan dan menghadap ke arah di mana dirinya dan Eren berpisah. Ia masih ingat betul akan jalannya. Tetapi sekarang semua itu telah berubah dalam sekejap. Lorong kepergian Eren telah menghilang. Kini hanya ada dua, satu jalan keluar dari lorong ini dan satu lorong moster tanaman pemakan serangga.
“Hah, dimana lorong? Bukannya ada disana? Benarkah Roman, seharusnya disana?” ucap Violin terkejut.
“Ya benar sekali! Sepertinya ada yang menjebak mereka. Hah, ya ampun apa yang harus kita lakukan? Aku tidak memiliki sesuatu untuk masalah seperti ini!” jawabnya sembari mendekati tembok tanah. “Sial, sial!” ucapnya lagi sembari memukulnya.
“Apa yang kamu lakukan tidak akan mengembalikan keadaan, sebaiknya kita keluar dari sini sebelum ada jebakan lainnya!”.
Kemudian keduanya segera menuju jalan keluar, kembali ke jalan tanah yang di lubangi oleh pengendali tanah.
Tidak beberapa lama kemudian, keduanya telah tiba di jalan keluar. Mereka pun segera naik ke atas permukaan tanah. Sekarang waktunya telah menjelang sore, burung- burung berkicau dan terbang mengarah ke matahari tenggelam. Suasana hening dan sepi terus menghantui.
“Harinya telah gelap! Siapa sangka cepat sekali malam tiba. Apa ini normal?” tanya Violin.
“Entahlah, tapi aku merasa legah setelah keluar dari sana.”
__ADS_1
“Hah, kamu memang seperti anak perempuan saja yang mengeluh terus!”
“Aku tidak begitu, diantara kita semua tidak pernah ada yang menduga bahwa lorong ini adalah jebakan! Menurutmu, apa mereka akan baik- baik saja?”
“Entahlah, tapi aku harap begitu!”
Tidak beberapa lama kemudian, keduanya telah tiba di jalan keluar. Mereka pun segera naik ke atas permukaan tanah. Sekarang waktunya telah menjelang sore, burung- burung berkicau dan terbang mengarah ke matahari tenggelam. Suasana hening dan sepi terus menghantui.
“Harinya telah gelap! Siapa sangka cepat sekali malam tiba. Apa ini normal?” tanya Violin.
“Entahlah, tapi aku merasa legah setelah keluar dari sana.”
“Hah, kamu memang seperti anak perempuan saja yang mengeluh terus!”
“Aku tidak begitu, diantara kita semua tidak pernah ada yang menduga bahwa lorong ini adalah jebakan! Menurutmu, apa mereka akan baik- baik saja?”
“Entahlah, tapi aku harap begitu!”
Keduanya pun bersama- sama melihat ke langit. Di langit telah ada cahaya yang indah, matahari yang tenggelam dan burung- burung berkicau.
__ADS_1
*Note: jika menemukan ada yang sama, di bab ini terulang lagi. beritahu saya di bab berapa. terima kasih