Bride Of Vampire: The Revenge

Bride Of Vampire: The Revenge
Episode 207


__ADS_3

Kini, gapura dan tempat pertandingan telah selesai di buat. Di dunia Glasland kehancuran tidak akan menjadi masalah yang besar selagi tempat ini tidak menimbulkan efek buruk pada dunia nyata. Tetapi bukan berarti pula keamanan dunia Glasland tidak perlu di jaga. Tentu harus dijaga, semua orang tidak mau sesuatu yang buruk terjadi dan lebih baik waspada dan tetap menjaga. Oleh karna itu lah semua orang yang memiliki hubungan dengan dunia Glasland harus lah saling menjaga satu sama lain, ya walau pun masih ada perbedaan di antara semua klan.


Tidak jauh dari tempat itu, seorang gadis telah duduk manis di bawah pohon nan rindang. Di tangannya telah ada buku tentang sihir, ia pun tampak mencermati tiap kata yang di dapatnya dari buku. Sekali- kali ia melirik jauh ke arah tempat pertandingan yang telah selesai di buat. Gadis itu hanya tersenyum manis melihat kekompakkan klan. Gadis itu adalah Aresha.


Keberadaan Aresha,


Kebetulan sekali, hari ini adalah hari yang beruntung hingga aku bisa menyaksikan aksi yang penuh keajaiban itu. Kuhentikan diriku membaca buku, dan melihat jauh tempat pertandingan yang baru di buat itu. Aku melihat Zanko juga ada disana bersama teman- teman pengawas lainnya.


“Anak laki- laki itu ya? Dia pria yang di sukai Xia kan? Aku tidak tahu kenapa Xia menyukainya. Tapi pria itu sepertinya memiliki sifat yang dingin, dia tidak suka dekat gadis – gadis. Eh, bukannya itu baik ya? Tapi bagaimana Xia bisa menenangkan hatinya jika dia memiliki sifat seperti itu? Entahlah” pikirku pada diri sendiri.


Dari kejauhan kulihat juga kedatangan Ethan ke tempat itu. Kedatangannya tampak di sambut baik oleh semua klan. Dia tampak bersahabat dengan orang- orang disini. Saat aku memperhatikan mereka semua dari sini, tidak sengaja tingkahku telah menarik perhatian seseorang. Aku pun mulai menyadarinya begitu Ethan melihat ke arahku. Secepatnya aku kembali fokus membaca, dan mencoba untuk tenang. Saat aku melihat Ethan, aku selalu saja merasakan getaran dalam diriku. Aku mencoba membuat diriku tenang, aku berharap ini akan segera berakhir.


Tapi jantungku semakin berdetak cepat, aku terus mencoba melawan diriku. Menenangkan diriku sendiri.


Namun, tiba- tiba seseorang berucap, “Hai, apa kabar? Sudah lama disini?” ucap Ethan yang membuatku kaget dan hampir dibuat jantungan.

__ADS_1


“Aaaaa.....” teriakku yang spontan langsung memukul wajah Ethan dengan buku. Pukulanku tepat sasaran hingga membuat Ethan terjatuh.


“Awww....! Kamu kenapa memukulku?” ucap Ethan sembari mengusap wajahnya dengan kedua tangan.


Wajahnya memerah karna pukul dengan buku. Aku pun segera menjatuhkan bukuku dan mendekati Ethan.


“Maaf, maaf. Kamu tidak apa- apa?”


Ethan segera berdiri dari jatuhnya, aku pun segera berdiri dan mengambil bukuku lalu mendekati Ethan yang mengoceh padaku.


“Ah ya maaf, aku tidak bermaksud memukulmu. Kamu membuatku kaget, karna aku kaget aku jadi memukulmu!”


“Kamu sedang membaca apa sih?” tanya Ethan padaku sembari melirik buku yang pegang, Ethan pun merebut bukuku dari tannganku.


Sembari memperhatikan buku milikku, ia berucap “Oh buku ini, elemen api. Kamu dari elemen air, mengapa membaca buku elemen api?”

__ADS_1


“Ya, terserahku saja. Aku mau membaca buku elemen mana pun tidak masalah kan? Aku tertarik dengan elemen api. Apa itu tidak boleh?”


“Tidak, bukannya begitu. Mengapa tidak membaca buku tentang elemen klan vampir? Apa kamu tidak tertarik dengan klan vampir? Aku bisa mengajarimu!”


“Tidak, aku tidak tertarik dengan klan vampir!” ucapku segera merebut buku milikku dari tangan Ethan, lalu pergi meninggalkannya.


Ethan yang mendapat respon seperti itu mulai sedih, dirinya tidak menyangka akan mendapat penolakan dari gadis itu. Ethan kecewa, tetapi ia tak patah semangat untuk mendekati gadis itu. Ethan pun menyusul kepergiannya dan berupaya terus berjalan di sampingnya.


Ethan berjalan di sampingku, aku tidak terpikir pria ini akan menyusul diriku. Ya kupikir dia akan pergi, tapi nyatanya tidak dan membuat diriku semakin salah tingkah. Jatungku berdekat lebih cepat, tapi wajahku tidak memerah. Ya itu karna aku sendiri tidak mengerti apa yang aku rasakan saat ini, entah ini cinta atau perasaan yang  lain.


“Hei, kamu mau pergi kemana?” tanya Ethan padaku.


“Ah, apa urusanmu? Aku mau pergi kemana pun bukan urusanmu.”


“Ya memang, tapi tidak bisakah kamu tidak cuek begitu padaku. Memang apa salahku? Apa aku telah berbuat salah padamu? Soal yang tadi, ya baiklah. Aku yang salah. Maafkan aku, kamu memang berhak untuk belajar apapun.”

__ADS_1


“Ya aku memaafkanmu!” mempercepat langkah kaki hingga Ethan menyusul diriku.


__ADS_2