Bride Of Vampire: The Revenge

Bride Of Vampire: The Revenge
Chapter 179


__ADS_3

“Ibu Oshaberi katakan kalau dia telah salah menilai kita, kita memang tidak melakukannya. Jadi Ibu Oshaberi minta maaf karna dulu pernah menghukum kita. Kamu masih ingat kan tentang hukuman berdiri di depan asrama sepanjang hari?”


“Oh waktu itu!”


“Ya, jadi apa kamu.....” terhenti karena melihat sekelompok gadis yang di perban wajahnya.


Sekelompok gadis yang telah menjahili Xia, dan sekarang mereka kena getahnya. Saat kami bertemu dengannya di jalan ini, tampak ke empat gadis itu sedang dalam masalah. Mereka menaruh wajah cemberut, dan salah satu dari mereka telah menangis, itu terlihat di matanya yang memerah.


Jalan yang kulewati bersama Xia adalah jalan yang sepi, sehingga ke empat gadis ini mulai membuat ulah lagi. Mereka berempat menghalangi jalan kami berdua.


“Hei! Mau kemana kamu? Mau melarikan diri, setelah mencari masalah dengan kami? Jangan harap bisa melarikan diri ya!” ucap salah satu dari mereka yang mendekati kami.


Lalu gadis lainnya mendekati kami, mereka membentuk lingkaran dan mengepung aku dan Xia.


“Wah, kayaknya kamu mau pergi ya? Apa Ibu Oshaberi memberimu hukuman berat juga?”


Xia ingin menjawab pertanyaan mereka, Xia melihat ke arahku untuk memberi kode tetapi aku menggelangkan kepala tanda tidak setuju dan agar Xia tetap tutup mulut.


“Oh, kamu bisu ya sekarang? Hei, jawab! Dasar gadis lemah!” ejeknya pada kami sembari mendorong tubuh Xia.


Xia hampir terjatuh akibat dorongan keras oleh gadis itu tetapi Xia menahannya hingga ia tetap berdiri tegak.

__ADS_1


Sementara itu di tempat ini bersamaan, dari kejauhan ketiga pengawas telah di arahkan untuk mengawasi ke empat gadis itu. Tetapi mereka hanya memperhatikan kejadian itu dari kejauhan.


“Wah, jadi benar mau melarikan diri? Urusan kita belum selesai! Mari kita bereskan” ucapnya menentang kami berdua.


Ya tampaknya ke empat gadis ini tidak jera- jera juga, mereka tetap saja jahat pada Xia. Mereka mulai mencoba mencari gara- gara dengan Xia. Tetapi aku tahu Xia tidak punya waktu untuk meladeni sikap mereka. Aku pun menyingkirkan tangan gadis yang suka mengoceh ini dari Xia.


Menyingkirkan tangannya dari Xia, dan berucap “Jika kamu tidak terima karna ulahmu sendiri, aku akan melawanmu! Tapi bebaskan Xia!”


“Wah, kamu berani juga? Ya baiklah, aku akan membebaskan Xia. Tapi kamu harus menghadapi kami berempat!”


Aku hanya bisa tersenyum manis dan menjawab, “Tentu saja, tapi aku harus mengantar Xia ke depan. Kalian ikut saja, lalu kita mulai menyelesaikan masalah ini yang membuatmu merasa tidak puas dengan keputusan Ibu Oshaberi!”


“Hah, apa kamu juga ingin melarikan diri? Jangan mempermainkan kami ya!”


“Hah, boleh juga! Tapi apa taruhannya?”


“Jika aku menang kalian akan menghubungi orang tua kalian berempat dan memberikan hukuman, bagaimana?”


Ke empat gadis itu saling pandang satu sama lain, dua gadis di antara mereka berempat tidak menyanggupi risiko itu. Tetapi dua di antara mereka menentang, dan menganggap remeh akan gadis yang ada di depannya ini.


“Ya boleh juga, tapi jika aku menang kamu harus keluar dari akademi ini! Dan juga Xia”

__ADS_1


“Hey, ini adalah taruhan kita! Xia tidak boleh di libatkan, kamu boleh mengatakan keinginan yang lain?”


“Hah, apa yang kamu punya? Kamu bukan siapa- siapa!”


Lalu salah satu temannya membisikan sesuatu di telinganya, “Bagaimana kalau dia jadi budak kita saja? Jadi budak seumur hidupnya! Dia pasti tidak berani atau menyesal seumur hidupnya!”


Kemudian atas dasar bisikan temannya itu, ia pun berucap “Jika kami berempat menang, kamu keluar dari akademi ini dan menjadi budak kami seumur hidupmu!”


Aku tersenyum manis, tampak sekali gadis ini sangat percaya diri untuk memenangkan taruhan ini. Ya menurutku hanya gadis bodoh yang mau taruhan denganku tanpa menilai siapa lawannya.


“Ya, aku setuju! Jadi ikut saja denganku, aku mengantar Xia dan kita mulai bertanding!”


Lalu salah satu dari mereka mengulurkan tangan, dan berucap “Setuju?”


Aku tersenyum manis, dan melihat Xia. Xia menggelengkan kepala, tanda ia tidak setuju dengan taruhan itu. Tapi aku tidak peduli apa akhir cerita ini. Aku pun menjabat tangannya, dan berucap “Setuju!.”


Xia yang melihat kesepakatan hanya bisa menarik napas panjang dan sangat mengkhawatirkan temannya ini. Lalu kami semua segara mengantar Xia ke pintu gerbang.


Sementara itu tiga pengawas yang mengawasi Xia dan teman- temannya telah beranggapan ke empat gadis itu telah minta maaf pada Xia dan Aresha.


“Yah, sepertinya tidak ada masalah! Jadi kita tidak perlu mengawasi mereka kan?”

__ADS_1


“Oh ya benar, mari kita pergi!”


Mereka bertiga pun segera pergi dan tidak lagi mengewasi Xia dan teman- teman. Mereka menganggap khasus dan tugasnya telah selesai.


__ADS_2