Bride Of Vampire: The Revenge

Bride Of Vampire: The Revenge
Episode 319 Dunia Mimpi Martha Part. 1


__ADS_3

Sementara itu keberadaan Martha.


Dia telah tertidur lelap bersama suaminya, Jimwa. Saat tidur dirinya mengalami mimpi. Mimpi itu telah dimulai.


Kabut tebal datang menyelimuti Martha, dan membawa hawa dingin hingga Martha terbangun. Ia terbangun dari tidur di tempat tidurnya. Ia melihat kabut tebal yang menyelimuti dirinya dengan hawa dingin yang begitu sejuk.


“Hacih... dingin! Ini dingin sekali. Kenapa disini ada kabut, Jim...!” ucap Martha memanggil Jimwa.


Tidak ada jawaban dari suaminya, Jimwa. Marta pun menoleh ke samping dimana suaminya tidur, tetapi ia tidak menemukan suaminya, suaminya tidak ada di dekatnya sekarang.


“Jim...Jim... kamu dimana?” teriak Martha memanggil suaminya.


Tidak ada jawaban dari suaminya, Jimwa. Kabut tebal dengan suhu dingin masih menyelimuti dirinya. Martha mulai kedinginan, ia pun menarik selimutnya berharap tubuhnya kembali hangat.


Tubuh Martha menggigil kedinginan, ia pun menggosok- gosokan kedua tangannya berupaya membuat suhu hangat untuk tubuhnya.


Tetapi semakin dirinya membuat kehangatan semakin dingin rasanya. Martha pun memutuskan untuk beranjak dari tempat tidurnya. Ia berjalan tanpa arah dan berusaha mengingat tempat ini seperti di rumahnya.


Martha mengingat rumahnya, ia harus berjalan dan mencari saklar lampu.


“Ya ampun, dimana saklar lampu ini. Bukankah seharusnya ada disini? Dimana- dimana saklarnya?” ucap Martha mulai resah.


Tiba- tiba tangan Martha menyentuh sesuatu, ia merasa benda itu. Ia merasa benda ini tidak lain adalah saklar lampu yang dicarinya. Ia pun menekan saklar lampu sehingga lampu menyala.


Seketika lampu menyala, kabut tebal dan suhu dingin yang dirasakan oleh Martha menghilang. Kini Martha dikelilingi oleh cahaya.


Martha menarik napas lega, ia berucap “Huh, akhirnya. Perasaanku dingin sekali sejak tadi, selalu saja seperti ini. Apa aku harus pergi ke dokter? Ini seperti mimpi buruk!” guman Martha yang kemudian berpaling. Ia terkejut melihat seseorang telah duduk di sofa ruang tamu, ia sendiri tidak menyangka akan berjalan sampai kemari.


“Aaa... kamu. Kamu siapa?” ucap Martha kaget sembari melangkah mundur hingga tubuhnya terhenti menyentuh tembok.


Orang yang duduk di sofa ruang tamu itu mengenakan jubah hingga wajahnya tak terlihat, tetapi ia tampak tersenyum manis pada Martha. Tanpa diduga orang ini membuka jubahnya hingga wajahnya terlihat. Martha kembali dibuat terkejut, ia seperti melihat hantu.


“Kamu.... han....!” ucap Martha kaget setengah mati.

__ADS_1


“Hai, aku bukan han... atau hantu. Senang bertemu denganmu, Martha. Bagaimana kabarmu?” ucapnya.


“Kamu... kamu bukan hantu?”


“Ya tentu saja, aku bukanlah hantu. Apa aku seperti hantu? Aku juga sama sepertimu, loh!”


Martha mengingat rumahnya, ia harus berjalan dan mencari saklar lampu.


“Kamu... kamu masih hidup?” tanya Martha sembari mendekati orang itu.


Martha mengenalnya, dia memiliki wajah yang mirip dengan Alika.


“Alecia?” ucap Martha mencoba mendekat dengan perasaan takut.


“Menurutmu? Oh ya, aku kemari karena ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu loh. Nah, silahkan duduk. Anggap saja rumah sendiri!” senyumnya.


Dalam ketakutan, Martha pun sontak dibuat kaget lagi olehnya.


“Aaa... ini rumahku tahu! Kenapa seenaknya memerintah orang?!”


Martha duduk di sofa, mendengar apa yang dikatakan oleh orang yang disangkanya Alika membuat dirinya kesal.


“Apa maksudmu? Ini tidak lucu tahu!”


“Ya benar, memang tidak lucu. Apa menurutmu, aku ini mirip dengan Alecia?”


“Ya, kamu memang mirip dengannya.”


“Ah, ya benar ya. Aku datang hanya ingin bertanya, siapa saja yang terlibat dalam membangkitkanku?”


“Oh itu ya. Itu kan sudah pasti, Romeo, dan Roman. Tetapi aku, Rasi, Martha, dan Jimwa juga terlibat. Kenapa kamu bertanya soal itu?”


“Ya, aku hanya ingin tahu. Aku tidak mau menyia- nyiakan orang yang sudah membantuku. Apa ada lagi yang terlibat?”

__ADS_1


“Tidak ada, hanya itu saja.”


“Bagaimana dengan Alecia? Apakah dulu Alecia sangat diperlakukan dengan baik?”


“Ya tentu saja, bahkan Jimwa. Dia memperlakukan Alecia seperti anaknya sendiri, sekarang dia sangat sedih. Ia ingin bertemu dengan Alecia. Hanya saja dia takut Alecia akan membencinya.”


“Oh begitu ya. Apa kamu tahu kabar tentangnya akhir- akhir ini?”


“Dia? Aku tidak tahu, tapi aku yakin dia bahagia bersama Romeo.”


“Bagaimana kamu seyakin itu mengatakannya? Bagaimana kalau keyakinanmu memudar setelah melihat kenyataanya?”


“Maksudmu apa?”


“Romeo telah menceraikan Alecia, dan anak dari pernikahan mereka telah mati. Romeo mengkhianati pernikahan mereka, ia memilih wanita lain yang kaya raya”


“Hah, itu tidak mungkin. Mereka berdua saling mencintai satu sama lain.”


“Bagaimana jika itu mungkin? Apa yang akan kamu lakukan? Beritahu Jimwa atau menyimpannya sendiri?”


“Itu, itu pilihan yang sangat sulit. Aku tidak mau ia terus bersedih, tapi aku juga tidak mungkin menutupi hal seperti ini. Tapi aku akan memberitahunya perlahan- lahan, aku ingin sekali menemui Alecia. Kau tahu dia tinggal dimana sekarang?”


“Ya tentu saja, dia tinggal di rumah yang lusuh. Pria itu memperlakukannya dengan sangat buruk, ia menyalahkan Alecia dan tidak pernah mau menjaga putrinya ketika masih hidup. Ia terus membohongi Alecia. Jadi menurutmu, hukuman apa yang pantas untuk pria itu?”


“Hukuman? Menghukumnya dengan hal yang sama, itu akan menjadi hukuman terbaik untuknya”


Perempuan yang disangka Alika itu tersenyum manis, lalu berucap “Ya baiklah, itu ide yang bagus. Oh ya, aku juga ingin bertanya. Ini soal perempuan yang kalian korbankan untuk diriku. Apakah kalian berusaha menyelamatkannya sebelum ia meninggal?”


“Itu, ya itu tidak mungkin. Untuk apa menyelamatkannya, yang terpenting kamu kembali. Hanya itu yang kami inginkan!”


Perempuan yang disangka Alika itu memasang wajah datar, ia tak lagi tersenyum bahkan tertawa. Ia menggenggam tangannya, menahan rasa kesal dan marah.


“Lalu apa yang terjadi padanya? Apa kamu memikirkan tentang keluarganya?”

__ADS_1


“Em, tidak. Aku rasa ia tidak punya keluarga. Tidak ada yang menjemputnya di rumah sakit itu loh. Tapi ia dimakamkan dengan baik. Ia juga manusia dan layak diperlakukan dengan baik. Oh ya, terakhir, ia dimakamkan di pemakaman.”


*Terima kasih sudah membaca, mohon dukungannya dan tinggalkan jejak kalian. komentar, like dan share. Sekecil apapun dukungan kalian sangat berharga bagi saya.


__ADS_2