
Kabut menyelimuti hutan yang luas dengan pohon yang menjulang tinggi, pohon-pohon besar tumbuh dengan kuat, binatang hutan hidup bebas. Begitu matahari mulai menampakan diri, cahayanya menerangi hutan memberi kehidupan.
Manusia tak dapat hidup dengan umur ratusan tahun tetapi di hutan Argon tersimpan makhluk yang hidup berusia ratusan tahun. Terus memasuki hutan Argon, menyeberangi sungai mendakati gunung, menuruni, menyeberangi sungai dan mendaki dua gunung. Menunggu kegelapan datang dan cahaya bulan maka kau akan menemukan mereka semua. Peri dan vampire hidup berdampingan, mereka memusuhi manusia. Perlu waktu beberapa hari untuk tiba di tempat tujuan.
Tiba di Azehela
Aku dan Yuza di sambut baik oleh mereka tetapi ada sebagian dari mereka mencurigai kami berdua. Tiba-tiba kami di kepung dan di tangkap oleh pasukan vampire dan peri. Mereka membawa kami berdua ke istana vampire. Menghadapkan pada yangmulia, Raja Arkares.
“ Hormatku yang mulia Arkares!” ucap kami berdua.
“ Kalian siapa? Berani sekali memasuki wilayah kami tanpa menunjukan diri kalian
pada kami. Kalian berdua peri, vampire atau sihir?” tanya Raja Arkares.
“ Yuza adalah penyihir, dan aku adalah Aresha” jawabku.
“Kau manusia? Manusia harus mati”
“Yuza datang kemari untuk membentuk pasukan dan sejarah sihir kembali dengan Ratu
Aresha” jawabku.
“Ratu Aresha, kami tak mengenalnya dalam sejarah”
“Ratu Aresha, putri Ratu Mora”
Mereka kaget dan mulai menyambut kami berdua dengan baik. Aku melihat sang pangeran istana di samping sang ratu. Acara penyambutan yang baik untuk kami berdua malam ini, dan di berikan tempat tinggal yang nyaman.
“Aku sangat bahagia melihatmu selamat dan berduka atas kematian Ratu Mora” ucap
Raja Affesta.
“Aku memahaminya dan mungkin itu adalah takdir. Aku melihat semuanya dan ibuku
telah mempersiapkan diriku”.
“Perkenalkan ini adalah putraku, namanya Pangeran Kazima” ucap Raja Oishima.
Aku menundukan kepala dan begitu juga dengannya.
“ Ini Pangeran Danes, putraku” ucap Raja Affesta.
Aku kembali menundukan kepala dan begitu juga dengannya.
“Kami berdua memerlukan penginapan dan sepertinya maksudku adalah rumah” kataku.
“Kamu bisa tinggal di istana kami, pilih salah satunya” jawab Raja Affesta.
“Tidak, aku hanya ingin rumah dan tinggal sendiri. Yuza tak akan bersamaku lagi
meski dia pengabdi setia ibuku. Dia akan pergi dan menuntut ilmunya dan juga
diriku”.
“Baiklah, biar adil dan sama-sama menangung. Kamu tinggal di asrama sekolah, kami
membangun sekolah bersamaan untuk membuat generasi kami lebih membaik”kata Raja
Affesta.
“Yuza, aku minta kamu pergi. Carilah rumah untukmu, dan berlatihlah”.
“Baik Aresha” jawab Yuza.
Kemudian Pangeran Kazima dan Danes mengantarku ke asrama sekolah. Dalam perjalanan.
“Senang melihatmu, Putri Aresha” ucap Danes.
“Panggil saja Aresha, aku juga senang bisa berkumpul dengan kalian semua. Kalian
berdua bisa menjaga rahasia?”
“Ya tentu saja bisa” jawab Danes dan Kazima.
“Aku ingin diperlakukan seperti yang lain, kita berteman”.
Mereka berdua tersenyum, lalu Danes berucap “ Ini kamarmu dan sampai jumpa besok, Aresha. Pakaianmu ada di dalam semua lengkap”.
“Terima kasih Danes dan Kazima”.
Danes dan Kazima pergi, aku masuk ke kamar. Kulihat kamar ini dengan warna cat yang
cerah. Kubuka lemari dan pakaian tersedia dengan rapi. Kubaringkan diriku di kasur. “ Uh legah sekali. Sekarang aku hanya perlu konsentrasi pada pelajaran. Tentang sihir, vampire dan peri”.
***
Pagi yang cerah, melangkahkan kaki melihat-lihat sekitar. Perempuan mengenakan
pakaian bebas pantas begitu juga dengan laki-laki. Beberapa orang mengamati
diriku, lalu seorang perempuan mendekati dan menyapaku “ Kamu murid baru? Kapan
datang? Apa kepala sekolah mengetahuinya? Oya perkenalkan namaku Lio”.
“Aku Aresha, ya kurasa. Tetapi Raja Affesta dan Oishima sudah mengizinkanku”.
“Oh begitu, mau kuajak jalan-jalan? Aku sekolah vampire”.
Dari belakang Lio, Danes yang berjalan bersama Kazima berucap “ Dia akan jalan-jalan
bersama kami. Kami sudah ada janji”.
“
Hey, kupikir kalian akan mengantarkanku sampai di sini saja”.
“
Tidak kami akan selalu menemanimu,”.
“
Lio, jangan coba-coba untuk menyakiti dirinya”bisik Kazima pada Lio. Lio pergi
tanpa sepatah kata.
“
Tak usah khawatir dia baik-baik saja. Vampir suka mengajak orang baru untuk
dihisap darahnya jadi jangan mudah terayu. Mereka adalah orang-orang yang akan
pergi ke negeri manusia untuk melakukan itu” ucap Danes.
“
Ayahmu yang mengutus mereka. Pelajar yang terpilih memiliki dua keberuntungan
ya! Di negeriku juga begitu dulu tetapi sekarang kacau, entah kemana mereka
semua pergi tanpa pemimpinnya”.
“
Mereka memiliki dua pilihan, satu membunuh dan bawa kemenangan atau dua memilih
menjadi mereka ( manusia ) lalu di bunuh” jelas Kazima.
“
__ADS_1
Pilihan yang bagus, ayahmu akan senang jika mereka memilih kemenangan. Jadi
kita mau kemana setelah ini?”.
“
Bagaimana mengantarmu mengikuti sihir, peri atau vampire. Silahkan pilih
Aresha!” usul Danes.
“
Sepertinya kalian tau banyak tentang tiga hal itu. Aku boleh masuk ke sihir
dulu biar mudah. Kalian mengantarkanku dan pergi”.
“
Ngak mau di temanin?” tanya Kazima.
“
Kalian punya kesibukan, ayolah jangan seperti itu. Ayah kalian pasti marah
besar nanti, jangan ya!”.
“
Baiklah, aku akan mengamatimu saja dari jauh”kata Kazima.
“
Begitu juga denganku” ucap Danes.
“
Kalian apa-apaan sih, kalian itu pangeran ngak pantas sama diriku. Ayo lah
bersikap yang baik, kita baru bertemu malam tadi”.
“
Ya mengapa tidak menemani orang baru untuk satu hari” kata Danes sambil kompak
dengan Kazima.
“
Heh, ayahmu di mana? Ayah kalian berdua?”.
“
Mengadakan rapat di istana Kazima” jawab Danes.
“
Terima kasih, Danes”.
Aku
cepat pergi ke istana Kazima, dan masuk mencari Oishima. Kulihat Arkares dan
Oishima sedang berbicara penting. Hanya ada mereka berdua di ruangan itu.
“
Aku ingin bicara pada kalian berdua! Sangat penting”
Oishima
dan Arkares menoleh dan melihat Aresha berada di tengah pintu.
“
Danes
dan Kazima pergi, kulangkahkan kakiku mendekati mereka. Pintu ruangan mendadak
tertutup.
“
Aku sudah mengambil ramuan awet muda pada Raja Affesta. Setelahnya aku tidak
mengetahuinya lagi. Kuharap diantara kalian ada yang mengirim seseorang untuk
melihat dirinya lagi. Aku ingin dia mati menderita dengan usia tuanya”.
“
Beberapa lulusan vampire telah kami kirim ke negeri manusia. Kamu yakinkan saja
pada kami, kamu bisa bersekolah di negeri ini dan tinggal” jawab Oishima.
“
Terima kasih banyak Oishima, aku sangat menghargainya. Tapi aku merasa asing di
negeri ini, Oishima. Banyak hal yang harus kupelajari demi ibuku, aku sangat
berterima kasih sekali lagi pada kalian berdua”.
“
Apa kamu bertemu dengan Danes? Apa dia mengajakmu jalan-jalan dan menjagamu?”
tanya Raja Arkares.
“
Ya seperti yang kamu lihat, mereka mengajakku. Terima kasih atas perhatiannya”.
Aku pergi meninggalkan mereka. Di luar kulihat Danes dan Kazima menunggu.
“
Sedang apa kalian berdua?” tanyaku.
“
Menunggumu!” jawab Kazima.
“
Seperti tak ada kerjaan saja”.
“
Memang kecuali menemanimu” tawa kecil Danes bersama Kazima. Kemudian aku,
Kazima dan Danes jalan-jalan di sekolah. Area latihan di hutan lebih sering di
gunakan seperti peri yang menggunakannya untuk berlatih bela diri dengan pedang
dan memanah. Vampir yang berlatih dengan kekuatan mereka.
Seorang
guru menyapa Danes “ Danes, siapa perempuan itu?”.
__ADS_1
“
Pak Roen, kenalkan ini Aresha. Putri Aresha” jawab Danes.
“
Putri Aresha senang bertemu denganmu” ucap Roen.
“
Senang bertemu denganmu juga pak, sepertinya Anda hebat dalam melatih mereka”.
“
Tidak juga, kadang aku gagal. Aku tidak bisa melindungi mereka saat pemburu
vampire memburu mereka” jawab Roen.
Kemudian
kami kembali berjalan-jalan dan beristirahat di kantin sekolah. Beberapa
kelompok orang memperhatikan kami. Kami dengar pembicaraan mereka.
“
Kau lihat siapa perempuan itu?”
“
Kudengar dari pembicaraan guru dan yang lain dia adalah Putri Aresha”
“
Putri Aresha, apa dia vampire atau peri? Sepertinya perempuan rendahan”
“
Lihat saja dia penampilannya bukan menunjukan vampire atau peri”.
“
Jika aku menjadi pangeran, aku akan malu besar bersama perempuan seperti itu”
“
Rendahan, cukup katakan kasar padanya. Murahan!”
Pangeran
Danes dan Kazima ingin sekali membalas mereka namun tangan mereka berdua di
pegang erat Aresha.
“
Biar aku saja!” ucapku. Kudekati mereka, “Maksud kalian apa bicara seperti
itu?”.
“
Ya maksud kami, kamu itu tak pantas berada di sini. Kau siapa? Manusia?”.
“
Mungkin suatu saat nanti kamu akan berhutang budi padaku. Aku bukan manusia,
ingat itu!”
“
Ya lalu kau apa? Vampir atau peri? Sedangkan kami tak pernah melihat dirimu
dari salah satu mereka. Penampilanmu bahkan seperti manusia”
“
Jadi hanya penampilan, baiklah. Kukatakan padamu ya!....” terhenti karena
Kazima berucap “ Dia pacarku, jadi jangan ganggu dia!”. Perempuan itu berhenti
bicara, Kazima menarik tanganku dan Danes mengikuti kami dari belakang. Mereka
diam-diam kesal karena pangeran idaman mereka telah di rebut oleh wanita lain.
“
Jangan bicara seperti itu! Ayolah anggap saja mereka tidak ada” ucap Kazima.
“
Memang kenapa Kazima?” tanyaku.
“
Aku hanya tidak ingin kamu jadi bermasalah dengan mereka, mereka suka mengajak
orang lain untuk bertarung”.
“
Ya apa yang di katakan Kazima benar, jangan seperti itu” sambung Danes.
“
Baiklah, baiklah… lalu aku harus bagaimana?”
“
Sebaiknya kamu jauhi mereka, aku pergi pergi dulu ya Aresha. Aku harus bertemu
dengan yang lain” ucap Kazima.
“
Aku juga, maaf ya Aresha” ucap Danes.
“
Baiklah tak apa”.
Danes
dan Kazima pergi meninggalkanku. Kemudian angin sepi datang kembali, berjalan
sendirian di sekolah ini. Melihat mereka berlatih dan bermain. Mereka semua
luar biasa, terlatih dengan baik. Memasuki ruang museum, kulihat lukisan besar
Ratu Mora yang terpanjang di jajaran Raja dan Ratu. Mendekati lukisan, dan
tersenyum. Melihat sejenak, dalam ingatanku ada luka yang belum sembuh meski
ramuannya telah kudapatkan.
“ Ibu, aku merindukanmu di sini. Apa ibu juga? Aku lelah bu, aku ingin bersama
ibu. Aku….”.
__ADS_1