Bride Of Vampire: The Revenge

Bride Of Vampire: The Revenge
Episode 195


__ADS_3

Salah satu pengawas yang masih berada di halaman akademi adalah Zanko. Ia mengamati jauh tempat ini, suasana hening dan sepi itu membuat tatapannya semakin tajam. Tetapi ia merasa ada sesuatu yang aneh disini, sesuatu yang telah hilang darinya.


“Ah, dia ya? Sejak tadi, aku tidak melihatnya. Apa dia pergi? Ya mungkin benar yang di katakan teman- teman. Dia pergi! Hah, sayang sekali ya sekarang! Sekarang tidak akan ada orang yang sepertimu” ucapnya sembari melihat ke bulan yang bersinar terang.


 


Dalam ketenangan dan kedamaian itu, tanpa seorang pun menyadarinya ada bahaya yang mengancam Akademi Yexiao. Tidak hanya itu, ancaman itu berlaku bagi semua klan. Ancaman dari dunia masa lalu.


Rumah sakit Kota Malvado,


Berjalan menuju lorong rumah sakit, melewati beberapa kelokan dan memasuki lift, lalu menuju lantai dua dan berjalan lagi menuju beberapa kelokan jalan hingga tiba di sebuah ruangan yang sepi.


Terlihat dari kaca pintu, di dalam sebuah ruangan seorang perempuan telah menunggu anak kecil yang terbaring di kasur. Anak kecil yang malang, dia adalah anak perempuan yang cantik, usianya hanya beberapa tahun. Sejak dia dilahirkan di dunia, dia telah menanggung semua dosa orang tuanya. Gadis kecil itu terbaring lemah, ia selalu memejamkan matanya. Alat infus selalu tertancap di kulitnya dan tulang yang masih kecil. Ia tidak pernah membuka matanya beberapa tahun ini, dan perlahan- lahan tak pernah ada yang menduga akan usianya semakin bertambah dengan kondisi yang lemah. Tak seorang dokter pun bisa menyembuhkannya, tapi gadis kecil ini tetap bertahan dengan di bantuan alat pemberian oksigen, dan patient monitor yang terus mengeluarkan bunyi dengan parameter yang terus naik- turun.

__ADS_1


Ibu dari gadis kecil itu tampak menangis, air matanya telah membasahi kedua pipinya. Matanya pun telah merah. Air matanya telah kering, hanya tangis darah yang tersisa. Hatinya penuh kekecewaan, dan dendam. Di hatinya, ia telah membenci seseorang di masa lalunya yang telah membuat hidupnya menderita sejak pernikahannya di hari itu.


“Anakku, maafkan ibu. Ini semua salah ibu, ibu tidak bisa menjadi ibu yang terbaik untukmu. Tapi ibu janji, jika kutukan itu terus ada ibu akan menghancurkannya untukmu. Tidak seharusnya kamu menanggung semua ini, gadis iblis itu lah yang membuat kita menderita. Dia.... ibu janji akan membalas semuanya untukmu!” ucapnya sembari menggengam tangan putrinya.


Perasaan yang tercabik- cabik, ia tidak bisa menyesali apa yang telah ia perbuat selama ini. Ia hanya bisa berharap waktu memberikan kesempatan lagi padanya untuk memperbaiki kesalahannya.


Ibu dari gadis kecil itu tampak menangis, air matanya telah membasahi kedua pipinya. Matanya pun telah merah. Air matanya telah kering, hanya tangis darah yang tersisa. Hatinya penuh kekecewaan, dan dendam. Di hatinya, ia telah membenci seseorang di masa lalunya yang telah membuat hidupnya menderita sejak pernikahannya di hari itu.


“Anakku, maafkan ibu. Ini semua salah ibu, ibu tidak bisa menjadi ibu yang terbaik untukmu. Tapi ibu janji, jika kutukan itu terus ada ibu akan menghancurkannya untukmu. Tidak seharusnya kamu menanggung semua ini, gadis iblis itu lah yang membuat kita menderita. Dia.... ibu janji akan membalas semuanya untukmu!” ucapnya sembari menggengam tangan putrinya.


Perasaan yang tercabik- cabik, ia tidak bisa menyesali apa yang telah ia perbuat selama ini. Ia hanya bisa berharap waktu memberikan kesempatan lagi padanya untuk memperbaiki kesalahannya.


“Sayang, istirahat lah! Besok dia pasti akan terbangun” ucapnya sembari menepuk pundak istrinya yang melamun.

__ADS_1


Perempuan muda itu tertegun, ia menoleh ke samping tepat dimana suaminya berada dan menjawab “Kamu sudah pulang?! Kamu membawa apa hari ini?”


“Aku membawa makanan dan minuman yang enak, ya aku harap kamu menyukainya!”


“Ya, tidak masalah bagiku jika kita hanya memakan roti lagi!”


“Maaf ya, aku tidak bisa menjadi suami yang baik untukmu!” ucapnya sembari memegang tangan istrinya.


“Tidak, kamu sudah menjadi suami yang sangat baik untukku. Kamu tidak pernah pergi meninggalkanku sampai saat ini!”


Suami dari perempuan itu duduk di kursi menemani anak perempuannya yang terbaring lemah. Sementara perempuan itu duduk di kursi ruang tamu. Ia membuka kantong belanjaan yang dibeli oleh suaminya. Mengeluarkan beberapa makanan, ya seperti yang di ucapan dirinya tadi makan dengan roti lagi.


Semejak menjadi manusia, hidupnya berubah drastis bahkan dari segi ekonomi. Harta, rumah dan uang yang selama ini mereka miliki telah habis untuk membiayai pengobatan putri mereka. Tak ada yang tersisa, dan kini mereka hanya tinggal di rumah yang kecil. Suaminya pun tak lagi bekerja di kantor perusahaan besar, dia di pecat dan sekarang hanya bisa bekerja sebagai petani.

__ADS_1


Kehidupan yang dulu penuh bergelimang harta, hanya bisa menjadi kenangan dan sekarang semuanya telah hilang. Ya, menjadi manusia dan merasakan kesedihan yang dirasakan oleh gadis yang mengutuk dirinya.


__ADS_2