
Sementara Eren dan yang lainnya terus berjalan tanpa arah.
“Eren, apa kamu yakin mereka kemari?” tanya Steven bertingkah seperti anak perempuan.
“Yosh! Tentu saja. Apa kamu takut?” jawab Eren dengan cool.
“Hah, terserah kamu saja! Yang jelas tempat ini sepi, dan aku belum pernah kemari!”
“Ya disini memang sepi!” ucap Netta.
Mereka terus berjalan hingga melewati banyaknya pepohonan dan tanaman liar, mereka semua seperti berada di dalam hutan belantara.
Peserta ujian ability magie yang berjalan paling belakangan mendadak di serang oleh sesuatu, dan menyeretnya ke dalam semak belukar. Mereka yang telah di serang tak terdengar berteriak sekali pun, semua keadaan dibuat seperti tidak ada yang terjadi.
Semakin mereka melangkah jauh, semakin banyak yang menghilang di belakang. Mereka tak pernah menyadarinya, hingga seseorang dari peserta ujian ability magie menoleh ke belakang.
“Hei! Menurutmu bagaimana dengan tempat ini?” tanyanya sembari menoleh kebelakang.
Ia merasa bahwa dirinya bukanlah orang yang terakhir berjalan, ia masih ingat kalau di belakang dirinya masih ada satu kelompok. Tapi sekarang dirinya adalah orang yang terakhir, orang yang berjalan paling belakang.
Ia pun berucap dengan suara keras, “Eren, berhenti!.”
Eren yang mendengar teriakan itu pun segera berhenti, dan ia langsung menoleh ke belakang.
__ADS_1
“Ya ada apa?” tanya Eren.
Peserta ujian ability magie yang berjalan paling belakangan mendadak di serang oleh sesuatu, dan menyeretnya ke dalam semak belukar. Mereka yang telah di serang tak terdengar berteriak sekali pun, semua keadaan dibuat seperti tidak ada yang terjadi.
Semakin mereka melangkah jauh, semakin banyak yang menghilang di belakang. Mereka tak pernah menyadarinya, hingga seseorang dari peserta ujian ability magie menoleh ke belakang.
“Hei! Menurutmu bagaimana dengan tempat ini?” tanyanya sembari menoleh kebelakang.
Ia merasa bahwa dirinya bukanlah orang yang terakhir berjalan, ia masih ingat kalau di belakang dirinya masih ada satu kelompok. Tapi sekarang dirinya adalah orang yang terakhir, orang yang berjalan paling belakang.
Ia pun berucap dengan suara keras, “Eren, berhenti!.”
Eren yang mendengar teriakan itu pun segera berhenti, dan ia langsung menoleh ke belakang.
“Ya ada apa?” tanya Eren.
“Apa maksudmu?”
“Aku merasa ada yang hilang, kamu tahu siapa?”
“Entahlah! Tidak ada!”
“Tapi aku merasa ada yang aneh. Tadi aku bicara dengan beberapa orang di belakang, tapi sekarang mereka menghilang!”
__ADS_1
“Hah, benarkah?” tanya Netta sembari mengingat siapa saja yang bersamanya.
“Oh ya benar! Aku ingat. Disini ada sembilan kelompok, sekarang ada berapa?” ucap Eren.
“Baiklah, mari kita hitung! Ayo ke kelompok masing- masing, aku akan mulai menghitung!” ucap Steven.
Peserta ujian ability magie pun mulai ke kelompoknya masing- masing. Kini hanya ada 5 kelompok. Eren pun terkejut dan mulai menyadari memang ada yang hilang.
“Ya benar, memang ada yang hilang. Seingatku bukankah tadinya kita membawa 9 kelompok, tapi mengapa tersisa lima kelompok saja?”
“Jangan- jangan memang ada yang......!” ucap Steven menoleh ke belakang, jalan yang mereka lewati.
“Semuanya! Siagakan diri kalian!” teriak Eren mengambil posisi siap menyerang siapa saja.
Eren terus melihat ke belakang, jalan yang mereka lewati sebelumnya. Semuanya pun bersiaga, dan membentuk lingkaran untuk saling melindungi satu sama lain.
Saat bersamaan, angin berhembus cukup kencang hingga dedaunan tua di pohon berjatuhan. Dedaunan yang berjatuhan itu mengarah pada mereka semua hingga dibuat seperti sedang di musim semi. Tapi kenyataannya ini bukanlah musim semi.
“Tetap waspada semuanya! Mungkin ini adalah serangan musuh!” ucap Steven memberikan peringatan.
“Ya baiklah!” jawab semua peserta ujian ability magie.
Dedaunan tua mengarah pada mereka semua yang bersamaan dedaunan muda juga ikut berjatuhan. Saat dedaunan jatuh, daun muda menyusul dan tak pernah terduga. Dedaunan muda itu adalah senjata hingga mereka tidak dapat menghindari senjata yang menyerang itu.
__ADS_1