
“Dimana Aksara? Apa ia belum pulang?”
“Belum tuan putri!”
“Hah…”duduk di kursi dan dayang-dayang berlutu. Aku
memperhatikan mereka, di ruang depan ini masih ada kursi kosong jadi aku pun
berucap, “ Kalian duduk di kursi!”, mereka tidak mengikuti perintahku.
“Maaf tuan putri kami tak layak duduk bersama tuan putri!”
“Hah, ayolah duduk di atas. Aku tidak suka jika kalian
duduk di bawah atau aku yang akan duduk di bawah!”
Mendengar hal itu mereka segera duduk di kursi.
“Aku harus menyebut kalian apa? Sebenarnya aku ingin
jalan-jalan melihat diluar. Aku tak suka terus disini. Aku ingin bertanya pada
kalian semua dan kalian harus menjawabnya dengan jujur. Pertama, apakah Aksara
telah memiliki selir atau ratu?”,
Dayang-dayang memandang satu sama lain lalu salah satu
dari mereka berucap, “ Belum tuan putri, sepengetahu kami Aksara tidak memiliki
selir mau pun ratu di istana”,
“Baiklah, kedua apakah Aksara itu raja yang dapat di
percaya?”,
Kembali mereka saling memandang, “ Ya tuan putri, kami
percaya kepada Raja Aksara”,
“Ketiga, kenapa aku tak boleh keluar dari tempat ini?”,
“Tuan Aksara meminta kami untuk menjaga tuan putri, kami
yakin perintah tuan Aksara adalah demi keamanan tuan putri”,
“Hah ya baiklah. Sebenarnya aku bingung sekali bagaimana
menyikapi sahabatku ini”,
Tiba-tiba
Aksara datang bersama seorang perempuan yang membawa pedang di belakangnya, ia
melihat dayang-dayang duduk di kursi. Dayang-dayang yang melihat Aksara segera
turun dan kembali duduk di lantai.
“Kenapa kalian kembali duduk di lantai?” tanyaku,
“Maaf kan kami tuan putri!”
Aku pun segera berdiri dan mendekati Aksara, “ Dia
siapa?”,
__ADS_1
“ Dia adalah orang yang akan menjagamu kemana pun kamu
pergi, jadi kamu bebas pergi tanpa harus menunggu kedatanganku lagi”,
“Apa itu juga termasuk mengantarku pulang ke negeriku?”,
Aksara terseyum manis, “ Tidak!”
“Hah, sudah kuduga. Kenapa kamu tak membiarkanku pulang
Aksara?,”ucapku kesal.
“Itu tak mungkin, sebab Eriska masih akan mengejarmu.
Aku tak mau kehilanganmu”,
“Dan aku tak suka seperti ini. Tapi jika iya orang yang
akan menjagaku, apa ia bisa melindungiku dari Eriska?”
“Tuan putri, aku akan melindungiku sepenuh jiwa ragaku.
Bahkan aku rela mati demi melindungi tuan putri”jawabnya,
“Siapa namamu?”
“Nama hamba Eddera, tuan putri”,
“Hah, baiklah. Aku menerima Eddera”,
Aksara pun pergi tanpa sepatah kata, ia pergi
meninggalkan kastil ini dan diriku. Kepergiannya membuatku kesal sekali, ia
mencoba menahanku di dunia ini. Aku benar-benar tidak suka dengan sikapnya ini.
apa? Menyebalkan sekali!,”gumanku.
Tapi
kepergian Aksara membuatku bisa bebas, aku bisa pergi kemana pun aku suka tapi
Eddera akan selalu mengikutiku. Sore ini aku berjalan menuju desa dekat dengan
istana Royal Blood. Aku mengikuti langkah Eddera, dan setiba di desa aku segara
melihat-lihat hal yang menarik.
***
Aira
menyamar menjadi rakyat biasa, ia yakin dengan begitu dirinya dapat bertemu
dengan Aresha. Kebetulan harapan Aira terkabul, ia mendapati Aresha tetapi
Aresha sedang ditemani oleh pengawal pribadi. Aira yakin jika pengawal itu di
perintah oleh Aksara. Aira harus mencari cara untuk membuatnya dapat bertemu
dengan Aresha hanya berdua saja tanpa ada pengawal pribadi.
***
Melihat pertunjukan jalanan dan
__ADS_1
pedagang pernak-pernik perhiasan adalah kesukaanku. Aku kagum sekali melihat
pertunjukan dan perhiasan yang dijual. Aku kembali berjalan dan melihat tenda
peramal. Segera saja aku masuk tetapi ketika Eddera masuk, langkahnya
terhalangi oleh penjaga.
“Maaf nona, hanya satu orang saja yang boleh masuk!”
“Tapi aku ini pengawal tuan putri, jadi aku harus
masuk!”
“Maaf nona, ini aturannya!”,
Aku pun mendekati Eddera dan berucap, “ Tak apa Eddera,
aku akan baik-baik saja. Tunggu saja di luar, aku akan berteriak minta tolong
jika aku dalam bahaya!”,
“Baiklah kalau begitu!”
Aku melanjutkan masuk ke tenda, dan terlihatlah seorang
pria peramal dengan bola kristalnya di meja. Aku dipersilahkan duduk dan
berhadapan dengannya.
“Tuan putri yang cantik, apa yang bisa hamba bantu?”,
“Maaf, aku bukan seorang putri. Panggil saja Aresha”,
“Aresha, apa yang bisa saya bantu untukmu?”,
“Aku ingin kamu membaca takdirku, tapi juga
memberitahuku bagaimana cara aku pulang ke negeri asalku”,
“Baiklah Aresha, letakkan tanganmu di bola kristal ini”,
Aku pun meletakan tanganku di bola kristal, lalu pria
peramal itu mulai membaca sesuatu di mulutnya. Kemudian ia memejamkan mata.
Saat itu lah Aira muncul di belakang pria peramal. Pria peramal itu membuka
matanya dan berucap, “ Maafkan aku Aresha!”.
Aku melihat kemunculan Aira kaget, dan ingin pergi tapi
ia dengan cepat mengarahkan pedang ke leherku.
“Coba saja pergi, aku akan membunuhmu seketika itu
juga!”
“Kenapa kamu lakukan ini padaku?”,
“Aku harus bagaimana? Kamu akan pergi dan berteriak lalu
wanita di luar itu akan membawamu pergi”,
“Hah, sebenarnya aku tak akan lakukan itu jika kamu
__ADS_1
menyingkirkan pedang ini dariku!”,
“Sungguh?”