Bride Of Vampire: The Revenge

Bride Of Vampire: The Revenge
Episode 87 Dendam dalam Penyerangan


__ADS_3

Tagao dan Zuya bertemu Oishima, Danes dan Kazima di istana peri. Di ruang singgasana, mereka semua membuat


rencana.


            “ Wolf telah memberontak, mereka di luar batas. Jumlah mereka semakin banyak, jika terus begini semuanya akan hancur. Kita harus bergerak, menyerang lebih awal sebelum mereka lebih cepat


lagi” ucap Oishima.


            “ Aku akan membantu penyerangan


ini”ucap Tagao.


            “ Ya aku juga” sambung Zuya.


            “ Baiklah, rencananya kita akan


mengepung istana mereka. Mereka sama kuatnya di siang hari atau malam. Manusia


dan peri akan menyerang di sore lalu vampire setelah matahari tenggelam” ucap


Oishima.


            “ Ya”


            “ Putraku Kazima, akan memimpin


perang ini mewakiliku. Kamu bersedia Kazima?”


            “ Ya ayahanda, saya bersedia”


            Tagao mulai mengumpulkan pasukan


begitu juga dengan peri dan vampire. Tagao dan Zuya juga berlatih dan


mempersiapkan diri.


***


            Di tepi danau, aku dan Aira duduk


dibawah pohon.Aira membuka kerudungnya. Kusandarkan kepala dipundaknya. “ Apa


aku bisa hidup dengan orang yang aku cintai?”.


            “ Apa yang kamu maksud? Tentu saja


bisa, mengapa tidak? Hidup hanya sekali mengapa tak mengambil kebahagian”


            “ Hidup dengan siapa? Aku tak


mencintai siapapun? Andi aku bisa merasakan cinta itu”


            “ Ibu bilang, jika kita kehilangan


seseorang dan merasakan kehilangannya maka kita mencintai orang itu”


            “ Hah, semoga aku tak kehilanganmu”


            “ Kau takut kehilanganku, kenapa?”


            “ Mungkin aku jatuh cinta padamu,


bagaimana denganmu?”


            “ Aku….”


            Kupandang dirinya dari samping dan


dia mulai memandang diriku. Mendekatkan diri dengannya dan bercumbu. Merasakan


gairah dengan sang pencinta dan mencinta. Melepaskan pelukan dan pergi dari


tempat itu kembali ke istana bersamanya. Dia hanya mengantarkanku sampai pintu


gerbang lalu dia pergi entah kemana.


            Kulangkahkan kaki menuju kamar


mencari Tagao, namun aku tak menemukannya. Takara bicara padaku, “ Dia sedang


pergi bersama suamiku”.


             “ Dia pergi tanpa ijin dariku!”.


            “ Ya tanpa ijin, sepertinya ada


masalah lagi pada pemerintahannya”.


            “ Aku tak peduli, dia selalu saja


seperti ini. Jika ada masalah mengapa tak mengajakku?”


            “ Mungkin dia takut kamu terluka”


            “ Kupikir dia akan mencariku, lalu


meminta ijin. Hah, aku merasa menyesal menerimanya”

__ADS_1


            “ Jangan katakan itu Aresha! Ayolah


maafkan dia hanya karena dia tak meminta ijin padamu”


            “ Hah, berapa kali kalian harus


membohongiku. Dia tak pernah pamitan denganku”


            “ Baiklah saat dia kembali aku akan


mengatakan ini. Dia harus meminta ijin padamu”


            “ Ya sebaiknya seperti itu”, pergi


masuk kamar dan mengunci pintunya kemudian pergi tidur.


            ***


            Sebelum matahari tenggelam pasukan


Tagao dan peri mulai menyerang istana yang dikuasai wolf diam-diam. Wolf yang


berjaga di sekitar istana mencium bau peri dan manusia. Mereka mulai bergerak


dan berpencar menyerang manusia dan peri.


            Terdengar suara teriakan dari


manusia dan peri, perintah untuk menyerang begitu juga dengan wolf. Suara auman


yang keras. Ketika itu juga Aira mengaum memerintahkan menghabisi peri dan


manusia tanpa ampun. Matahari mulai tenggelam perlahan-lahan, dan vampire mulai


menyerang membantu peri dan manusia. Danes menyerang wolf dengan amarah.


Sekelompok wolf yang menyerang dirinya dapat dibunuhnya dengan cepat. Ketika


itu sebuah kemenangan datang pada peri, manusia dan vampire yang melawan wolf.


Namun sayang penyihir dari berbagai negeri datang untuk membantu wolf. Wolf


kembali bergerak maju melawan, Tagao, Zuya, Danes dan Kazima bergerak


mundur.  Mereka mulai melarikan diri ke


hutan sementara pasukannya melawan mati-matian dalam kepungan wolf. Aira dan


sebagian pasukannya mengejar mereka dengan dibantu oleh beberapa penyihir. Berlari


dan mengedap-edap di pepohonan menghindar dari kejaran wolf.


Kamu harus membawa mereka berdua pergi dari hutan ini kembali ke istana”


perintah Danes.


            “ Bagaimana denganmu? Aku tak akan


pergi tanpamu, sobat”


            “ Jangan pedulikan aku, aku


baik-baik saja”, Danes mengeluarkan tiga botol kecil berisi ramuan, “ Minumlah


ramuan ini. Kalian pergilah tanpa aku, biar aku saja yang menghadapi mereka”.


            “ Tidak, Danes. Jika aku pergi


tanpamu bagaimana akhinya nanti”.


            “ Dengar kata-kataku ini Kazima,


jika aku mati dirimu masih bisa diandalkan untuk mempertahankan wilayah kita.


Ingat lah jika mereka berhasil menguasai semua wilayah ini, kita semua dalam


bahaya besar. Kehidupan tak akan seimbang jika tak ada diantara kita yang


hidup. Pergilah…”


            Dengan berat hati Kazima pergi


bersama dua sahabatnya dari hutan, sambil berlari Kazima meminum ramuan itu. Ya


sebuah ramuan yang mampu menghilangkan aroma badan. Wolf memiliki penciuman


yang tajam hingga selalu tepat menenuman sasarannya namun dengan meminum ramuan


ini, mereka tak akan bisa menemukannya. Danes dengan gagah menghadang musuh


didepannya dengan sebilah pedang panjang. “ Aku rela mati demi membela


negeriku, membalas kematian ayahku dan demi orang yang aku cintai, Aresha. Aku


akan segera datang padamu, ayah” ucap Danes. Tak beberapa lama kemudian, dari


kejauhan terlihat burung-burung berterbangan dengan cepat kearahnya. Menandakan

__ADS_1


wolf sedang berlari cepat kearahnya. Dari semak, meloncatlah seekor serigala


besar lebih besar dari pada manusia. Wolf, ya serigala itu disebut wolf jelmaan


Aira. Kehadiran wolf yang disusul dengan wolf yang lain beserta penyihir di


belakang. Namun Aira berucap “ Biar aku saja melawannya, satu lawan satu itu


lebih adil. Dia akan menyusul ayahnya dengan cepat. Bukankah begitu Danes?”.


Wolf yang lain dan peri mengejar yang lain. Wolf menggunakan penciumannya namun


tak menemukan jejak mereka. Kemudian penyihir mengunakan kekuatannya untuk


mencari jejak, namun kekuatan sihir pada diri mereka berkurang seketika.


Sementara itu Aira dan Danes.


            “ Kau tak layak untuk bicara dengan


peri suci, wolf kegelapan”


            Aira mengintari Danes, “ Ayahmu juga


katakan itu sebelum ajal menjemput. Tenang saja, aku akan mempercepat kematian


peri yang hidup ribuan tahun hanya dengan tanganku ini”. Danes mulai menyerang


Aira, begitu juga sebaliknya Aira menyerang Danes. Mereka saling membunuh satu


sama lain, ya salah satu dari mereka akan mati atau hidup dengan kehormatan


bagi bangsanya masing-masing. Aira memiliki kuku yang panjang dan tubuh yang


kuat, gerakan yang lincah dapat dengan cepat mengalahkan lawannya. Danes hanya


dilahirkan sebagai putra yang lincah dan cepat dari pada wolf. Aira mencakar


tubuh Danes hingga Danes terlempar jauh, tubuhnya tepat mengenai pohon besar.


Pedang di tangan Danes pun jatuh tak jauh dari dirinya berada.  Danes tak berdaya, wolf berjalan mengambil


pedang dan menancapkannya ke tubuh Danes. Danes mati di tangan Aira, Aira mulai


mengaum sekuat-kuatany. Bagi wolf yang lain, auman Aira adalah kabar baik dan


buruk. Wolf dan peri yang mengejar Tagao, Zuya dan Kazima kembali ke tempat


tadi. Mereka melihat Danes mati terbunuh tertancap pedang di perut. Kemudian


Aira mengajak mereka untuk kembali ke istana.


            Tagao, Zuya dan Kazima telah tiba di


istana peri membawa kabar buruk, kemunduran mereka dari penyerangan.


            “ Penyihir telah menghianati kita


semua, maka mereka juga harus mendapatkan akibatnya. Cari penyihir yang berani


bersembunyi diwilayah kita, bunuh mereka. Pengal kepalanya dan kumpulkan, kita


bawa ke hutan Argon. Tunjukan kepada mereka, bahwa kita tak main-main” perintah


Oishima. Maka dengan cepat perintah itu dilaksanakan. Penyihir yang tinggal


diwilayah manusia di tangkap hidup-hidup dan dibawa kemari. Semua penyihir


dimasukan ke dalam penjara bawah tanah, menunggu giliran hukuman mati di pacung


kepalanya oleh algojo.


            Tagao dan Zuya kembali ke istana.


Tagao langsung dihampiri adiknya dan mengatakan apa yang harus dikatakan. “


Aresha, sangat membencimu. Dia bilang kamu harus meminta ijin padanya jika


ingin pergi. Dia tak peduli apapun urusanmu, yang terpenting padanya adalah


kamu berpamitan. Jangan buat dia kecewa kakak, bukankah kakak sangat


mencintainya?”


            “ Ya sangat, tapi jika aku meminta


ijin. Dia tak akan mengijinkan aku pergi”


            “ Kakak pernah mencobanya?”


            “ Belum”


            “ Kalau begitu cobalah dari sekarang, tak ada salahnya meminta ijin pada istrinya sendiri. Kakak tau, dia


sangat kecewa pada kakak. Hubungan ini terjalin seperti tak berguna, seperti tidak ada hubungan apapun. Dia seorang wanita kak, memiliki perasaan cemas pada suaminya!”


            “ Ya baiklah, aku akan meminta ijin padanya mulai dari sekarang”

__ADS_1


            “ Aku senang jika kakak seperti itu”.


__ADS_2