
Keberadaan Alecia.
Air mata terus mengalir jatuh ke pipi tanpa henti, aku pun berusaha memberitahu suamiku. Namun telponnya tak pernah bisa terhubung dan dia sepertinya sedang sibuk. Hingga semuanya telah berakhir, dokter menyatakan kondisi terakhir putri kecilku. Dia harus menderita karna kesalahanku, karna aku memaksakan cintaku dan kini suamiku pun tidak ada disampingku. Semuanya telah hancur, dan yang kuperjuangkan selama ini sia- sia. Dokter pergi meninggalkanku, dan suster masih tetap disini.
Aku tidak tahu harus bagaimana lagi, semuanya benar- benar kacau. Kuberlari menuju putri kecilku yang dirinya hampir tertutup oleh sehelai kain. Kurangkul putriku dan kulihat wajahnya untuk terakhir kali. Dia tidak akan membuka matanya lagi, dan tak akan kudengar lagi dirinya memanggil diriku dengan sebutan “Mama”.
Pagi hari di cuaca mendung, langit tampak tak bersahabat. Cuaca mendung dengan iringan gerimis hujan yang perlahan- lahan turun membasahi bumi. Langit di buat seolah- olah menangis berduka cita atas kepergian putri kecilku.
Orang- orang membawa putri kecilku ke tempat peristirahatan terakhirnya. Mengkebumikan, lalu menaburkan bunga di atasnya. Mengingat hal terakhir tentang putri kecil. Orang- orang mencoba membuatku sabar dan teguh.
Semua orang pergi meninggalkanku. Bahkan suamiku, hingga sekarang ia tak kunjung pulang. Aku masih disini dan menemani putri kecilku. Kutaburkan bunga- bunga untuknya. Air mataku terus mengalir mengiringi duka cita.
“Sayang, maafkan mama. Mama belum bisa menjadi mama yang baik untukmu. Maafkan mama, karna ke egoisan mama kamu menjadi seperti ini. Tapi mama janji akan sering- sering kesini untuk menemanimu. Mama tidak akan membuatmu kesepian lagi. Maafkan mama, sayang.”
Langit semakin mendung, dan hujan semakin turun dengan derasnya. Tidak perlu waktu yang lama, tempat ini menjadi basah dan lembab. Kupikir derasnya hujan akan membasahi diriku disini yang masih menemani putri kecilku. Tetapi ternyata aku salah, hujan itu tidak mengenai diriku dan putri kecilku. Seperti ada sebuah lingkaran melindungi kami dari derasnya hujan yang turun.
Kuseka air mataku, kucoba melihat jauh tempat ini. Aku pikir kejadian ini aneh, dan tentu lah pasti ada seseorang tak jauh dari sini yang melindungi diriku. Benar saja, seperti dugaanku. Ya memang ada yang melindungi diriku.
__ADS_1
Seorang perempuan muda dengan mengenakan mantel berwarna biru berjalan mendekatiku. Ia berjalan di bawah derasnya hujan yang menguyur tempat ini. Aku melihat keanehan terjadi padanya, tubuhnya tak basah meski ia berjalan di bawah hujan.
Aku bahkan melihatnya hingga ke kaki, air hujan benar- benar tidak bisa menyentuh dirinya sedikit pun. Dan, perempuan muda itu adalah Lady Dandelion. Ia mendekati makam putriku.
“Putri kecil, semoga dirimu tenang disana. Kamu tak perlu mengkhawatirkan ibumu, aku akan menjaganya hingga ia bisa memperbaiki sifatnya” ucap Lady Dandelion sembari memegang nisan putriku.
“Mengapa kamu disini?” tanyaku.
“Hai, memang salah ya aku datang kemari? Aku juga ingin mengucapkan salam perpisahan pada putri kecilmu yang tak bersalah ini. Oya, dimana suamimu? Mengapa ia tidak menemanimu?”
Mendengar katanya, hati dan pikiranku tersadar.
“Hah, ya ampun! Apakah kamu tidak menyadari sesuatu tentang suamimu? Kamu lupa siapa dia? Bukankah aku pernah menceritakan tentang suamimu itu!”
“Ya, tapi aku yakin suamiku tidak seperti itu. Dia pasti sudah berubah!”
“Benarkah? Apa buktinya jika dia telah berubah? Apa dia ada disaat kamu berduka? Dia tidak ada kan? Apa kamu ingin melihat kenyataan hidupmu?”
__ADS_1
“Maksudmu apa?”
“Aku bisa menunjukan sesuatu yang sebenarnya padamu, ya asal kamu kuat saja melihat kenyataannya. Tapi aku bisa membantumu memperbaiki semuanya dan menghancurkan kutukan itu, juga balas dendam.”
“Apa maumu? Aku yakin semua itu ada bayarannya!”
“Benar, yang aku ingin kan kamu melakukan apa yang aku mau. Memperbaiki hubunganmu dengan klan vampir, dan membalas dendammu. Ya, begitu lah. Aku hanya ingin kamu tidak bersedih. Aku akan membantumu dan memperlihatkanmu apa yang terjadi sebenarnya pada suamimu. Aku akan membantumu, dan kamu harus menaruh sedikit kepercayaan padaku. Tidak lebih dariku, jangan terlalu percaya padaku!”
“Hah, baiklah. Perlihatkan kepadaku kebenaran tentang suamiku itu!”
Lady Dandelion tersenyum manis padaku, lalu ia mulai menggunakan kekuatannya untuk memperlihatkanku kebenaran tentang suamiku itu.
Sebuah keajaiban yang menabjubkan, air hujan yang jatuh di buat kembali melayang dan mengintari diriku dan Lady Dandelion. Lady Dandelion tersenyum manis, dan air itu terus mengintari kami berdua. Kecepatan air pun meningkat, aku dan Lady Dandelion seperti berada di dalam pusaran air. Aku pun tidak bisa melihat apapun, aku tidak bisa melihat pemakaman lagi. Hingga air yang mengintari kami berdua menjadi sebuah cahaya berkilau.
Perlahan- lahan air itu menghilang, dan aku merasakan tak lagi berada di pemakaman.
“Persiapkan dirimu untuk melihat apa yang suamimu lakukan. Ya mungkin ini berat tapi ini lah kenyataan” ucap Lady Dandelion.
__ADS_1
“Apa maksudmu?”
“Lihat saja nanti!” senyumnya padaku.