Bride Of Vampire: The Revenge

Bride Of Vampire: The Revenge
Episode 20


__ADS_3

          Menyerang empat vampir, tapi aku terlempar jauh karena ku pukulan salah satu vampir. Darah


keluar dari mulutku, tapi tidak dapat menghentikan diriku untuk membalas


perbuatan mereka pada dua temanku. Berdiri dan kembali menyerang, tapi entah


kenapa dalam kesempatan yang sempit sekali mereka melarikan diri. Mereka pergi


dan secepatnya kudekati dua sahabatku itu.


          Yoong


mendekati dan memeriksa keadaan mereka, “ Ini semua salahmu, kenapa kamu sampai


ditawan mereka?.”


          “Kenapa


kamu menyalahkanku?”,


          “Memang


ini salahmu, aku sudah bilang padamu untuk menjauh bukan?,” tatapnya tajam.


          “Dasar


pria egois!”,


          “Sudah,


sudah jangan bertengkar. Bagaimana keadaan Zimma dan Miguel, Yoong?,” tanya


Lee.


          “Tidak


baik, aku takut untuk mengatakan ini. Mereka kehilangan kesadaran,” jawab


Yoong.


          Kupegang


tangan Zimma dan Miguel, lalu mengalirkan penyembuhan pada mereka. Hal itu tidak


pernah disadari oleh yang lain. Setelah itu aku berdiri dan pergi menjauh dari


mereka tanpa sepatah kata. Pergi dari sana, pulang menuju apartemen.


          Tak


beberapa lama setelah kepergian Alika, dan Yoong, Lee, serta Kim ingin membawa


Miguel dan Zimma ke rumah sakit. Tiba-tiba saja mereka sadar dan dapat berdiri.


          “Apa


yang terjadi? Apa kalian baik-baik saja? Dimana vampir-vampir menjengkelkan


itu?,”tanya Zimma.


          “Hah,


iya. Aku sedikit merasa aneh tadi,”sambung Miguel.


          Yoong,


Lee dan Kim menaruh rasa haru, lalu mereka memeluk erat dua sahabatnya.


          “Kalian


kenapa?,”tanya Zimma,


          “Ya,


heran deh,”sambung Miguel.


          “Kami


pikir kami akan kehilangan kalian berdua setelah kejadian ini,”ucap Lee.


          “Memang


apa yang terjadi pada kami?,”tanya Miguel.


          “Aku


rasa tubuh kalian ada beberapa yang patah dan kondisi tak sadarkan diri, koma”,


          “Tak


mungkin, kami baik-baik saja”,


          Miguel


dan Zimma menunjukan diri mereka baik-baik saja dengan cara melompat-lompat.


Melihat hal ini mereka percaya bahwa dua sahabatnya baik-baik saja tapi ini


adalah sebuah keajaiban.


***


          Apartemen


Tanima, kembali memandang jendela luar tepat mengarah pada apartemen Orchid.


Aku kembali melihat pria yang kemarin dan aku mencoba untuk tidak kaget, tetapi


saat aku melihat ke lantai 3 tepat di atas kamar pria itu. Aku melihat seorang


pria yang tak asing bagiku dan membuatku kaget. Aku benar-benar tidak percaya


dia ada disana atau aku hanya kepikiran dia?. Secepatnya aku menjauh dari


jendela dan memutuskan untuk tidur saja. “ Mungkin aku lelah atau kepikiran


dia? Atau…hahaha…tidur sajalah,”gumanku memutuskan.


***


          Roman


telah berada di Apartemen Orchid nomor 32 lantai 3 dimana dari sana ia dapat


melihat lantai 2 Apartemen Tanima. Ia terus berusaha mencari keberadaan Alika


yang dikatakan Martha bahwa dia ada disana. Tapi sudah 30 menit Roman


memandangi apartemen itu tak juga menemukannya.


***


          Pagi

__ADS_1


hari, semua orang digemparkan akan keberadaan orang yang dinantikan


kehadirannya. Ada banyak wartawan telah menunggu orang itu membuka pintu, ya


kejadian itu ada di Apartemen Orchid lantai 3 tetapi mereka tidak tahu kamar


nomor berapa. Oleh sebab itu mereka semua menunggu di tangga darurat, depan


lift dan jalan menuju kamar.


          Roman


yang mendapatkan kabar bahwa keberadaannya telah diketahui oleh wartawan pun


perlahan-lahan membuka pintu dan melihat mereka yang sedang menunggu. Roman tak


kehabisan akal saat ini, ia menghubungi kepala apartemen ini untuk meminta


bantuan.


          Tak


beberapa lama kemudian seorang pria datang dengan pakaian serba tertutup,


petugas pembersih kamar. Ia masuk ke kamar Roman. Orang itu ternyata adalah


kepala apartemen ini. Secepatnya Roman mengganti pakaiannya dengan pakaian pria


itu, memasukan pakaian lain ke kantong plastic sampah yang bersih. Sementara


kepala apartemen berganti pakaian selayaknya penampilan Roman.


          “Saya


minta maaf atas ketidaknyamananya selama Tuan tinggal disini”,


          “Ya,


terima kasih telah membantuku juga. Tolong berjalan ke lantai atas dan


berlari lah lalu bersembunyi”,


          “Baik


Tuan, akan saya laksanakan”,


          Roman


berjalan keluar tanpa dicurigai oleh wartawan, ketika itu juga secara bersamaan


kepala apartemen berjalan lalu berlari ke lantai atas. Hal itu membuat wartawan


curiga dan berlari menyusulnya. Mereka berteriak bahwa Roman sedang berlari ke


lantai atas. Roman yang mendengar hal itu hanya tersenyum manis.


          Setelah


berhasil menghindari wartawan, Roman mengganti pakaiannya dan mengenakan mantel


hitam serta masker wajah hitam agar tidak dikenali banyak orang. Roman berjalan


dengan santai mencari Alika. Dari kejauhan Roman melihat seseorang yang tak


asing baginya. Ia pun berjalan mendekati orang tersebut.


*Alika


hari biasa, aku mencari sarapan di café dekat sini. Menikmati teh hangat dan kue


sebagai sarapan pagi. Tetapi tiba-tiba seorang pria mendekat, dia duduk di


kursi depanku.


          “Hay,


bagaimana kabarmu?”,


          Aku


bingung tiba-tiba saja pria ini langsung menyapaku, kenal juga nggak.


          “Kamu


lupa ya sama aku?”,


          “ Bawel


nih cowok, siapa sih dia? Kenal juga nggak,”gumanku dalam hati.


          Roman


yang mendengar ucapan Alika hanya tersenyum manis, ia dapat mendengar ucapan


gadis itu sekarang meski dalam hati sebab Martha telah memberikan cincin ini


padanya.


          “ Aku


kemari untuk mencarimu”,


          “Namamu


siapa ya? Aku gak kenal sama kamu tau!”seruku.


          “R…O…M…A…N…Roman”,


          Aku


kaget seketika itu juga mendengar jawabannya, “ Duh….dia ada didepanku. Aku


harus gimana?”


          “Jangan


khawatir aku gak akan maksa kamu kok, aku datang untuk kamu”,


          “Kenapa


kamu keluar dari Buniv?”,


          “Aku


datang untukmu, aku menerimamu apa adanya. Aku sungguh mencintaimu”,


          “Tapi


aku gak percaya cinta, Roman”,


          “Maka


aku akan membuat kamu percaya pada cinta”,

__ADS_1


          “Heh,


aku tak tidak pernah percaya sampai kapan pun”,


          “Kenapa?”,


          “Sebab


rasa sakit itu sudah sangat sakit”,


          “Kamu


mencintai Romeo?”,


          “Tidak,


dia adalah milik Alecia selamanya”,


          “Itu


tak benar, aku tahu yang sebenarnya. Tapi jika kamu mengijinkan aku dan


memberikan kesempatan lagi. Aku janji tidak akan menyia-nyiakanmu”,


          “Heh,


aku tidak seperti yang kamu harapkan. Aku tidak mengenalmu bahkan Romeo. Aku


tidak menyukai kalian, jadi buat apa kamu berharap padaku”,


          “Sebab


tidak ada satupun wanita yang dapat mengisi hatiku, kecuali dirimu. Aku dapat


merasakannya jika di dekatmu”,


          “Hah,


cinta lagi. Aku kan sudah bilang, aku gak mengerti tentang cinta”,


          “Maka


aku akan membuatmu mengerti apa itu cinta”,


          “Kau


tahu Roman, aku hidup sendirian di dunia ini. Jadi aku tidak memerlukan cinta


seperti orang yang telah membunuh ibuku dan memanfaatkan hal itu hanya untuk


gadis yang tidak tahu rasa terima kasih”,


          “Aku


sangat berterima kasih padamu, karena ibumu dia hidup kembali meski aku tidak


memilikinya tapi aku bisa memilikimu”,


          Berjalan


menjauh dari Roman, tapi nampaknya pria itu malah mengikuti kepergianku.


          “Alika,


berikan aku kesempatan untuk mengisi hatimu. Sekali saja!,”mohonya. Roman


menghalangi jalanku, lalu berlutut di depanku hingga semua orang mengalihkan


pandangannya pada kami berdua.


          “Baiklah,


aku berikan kesempatan untuk terakhir kalinya,”jawabku.


Pria itu kembali berdiri dan memeluk erat diriku.


Semua orang yang melihat bertepuk tangan. Aku membenci keramaian, akhirnya


pergi dari sana dan menarik tangan Roman untuk berlari. Aku berhenti berlari di


sebuah taman yang cukup sepi lalu mencari kursi kosong untuk duduk. Setelah


menemukannya, aku duduk begitu juga dengan Roman. Ia duduk disampingku. Saat


ini perasaanku benar-benar kacau setelah mengatakan untuk memberikan kesempatan


padanya untuk mengisi hatiku yang kosong.


          “Apa


kamu sungguh-sungguh memberikan aku kesempatan itu, Al?”,


          “Tidak,


aku tidak sungguh-sungguh”, pergi meninggalkannya begitu saja. Sementara Roman


hanya mengamati kepergian gadis itu. Sepanjang perjalanan aku hanya menundukan


kepala saja. Tapi entah mengapa air mataku tak dapat dibendung lagi.


          “


Aku….aku tidak bisa. Aku hanya gadis biasa, lagi pula aku tak pantas dengan


siapapun di dunia ini. Kenapa Roman memohon padaku? Aku bahkan tak pernah mengenalnya


bahkan aku tak pernah mencintai Romeo. Aneh! Dia tahu yang sebenarnya? Apa itu


benar? Aku tak pernah cerita pada siapapun”gumanku dalam hati.


***


          Roman


duduk di bangku taman sendirian, lalu dirinya didatangi oleh beberapa pria yang


berpakaian rapi mengajaknya pergi dari sana. Roman merasakan apa yang dirasakan


Alika sekarang. Sebuah mobil warna hitam nan mewah telah menunggu tak jauh dari


sana, Roman masuk ke mobil lalu seorang pria menutupnya dari luar. Mobil


berjalan pelan.


          “Kita


ke kantor, aku akan menjawab pertanyaan pers disana”,


          “Baik


Tuan Roman!”.


***

__ADS_1


__ADS_2