Bride Of Vampire: The Revenge

Bride Of Vampire: The Revenge
Episode 97


__ADS_3

          Tagao tak pernah bertemu dengan Aresha setelah bertemu di desa hingga hari ini tepat acara ulang tahunnya. Acara begitu meriah dan tamu undangan yang banyak terutama gadis-gadis cantik baik dari kalangan biasa dan bangsawan.


Semua orang mulai berdansa sementara Raja Tagao hanya duduk di kursinya menunggu dan


berharap Aresha datang. Tapi mendadak para undangan dan Raja Tagao dikagetkan dengan kedatangan putri yang datang terlambat. Ia nampak terburu-buru dan segera merapikan pakaiannya setiba di ruang pesta.


          Tagao segara turun dari tahtanya dan berjalan mendekati gadis itu. Ia tersenyum manis


dan berucap “ Datang terlambat putri?”,


          Aku tersenyum melihat dia menyambut kedatanganku, “ Kupikir begitu tuan, bagaimana


kalau hamba pulang saja?”,


          Kami pun saling tersenyum satu sama lain, “Tapi kamu tidak terlambat dalam acaraku”,


          “Benarkah?”,


          “Ya,


mau berdansa denganku tuan putri?”,


          “Tentu


saja”,


          Kemudian


kami berjalan ke tengah pesta dansa lalu berdansa dengannya. Suasana pun


kembali meriah, dan semua orang menanyakan siapa gadis yang datang terlambat


itu. Dalam pesta dansa, saat berdansa dengannya.


          “Kenapa


kamu tak berdansa dengan wanita lain?”,


          “Kamu


ingin aku lakukan itu?”,


          “Kenapa


kamu menungguku dan terlihat murung saat aku tidak datang? Jangan bilang kamu


menungguku”,


          Hanya


tersenyum manis, lalu kami berhenti berdansa. Tagao pun meminta perhatian semua


undangan pun melihat ke arah dirinya. “ Hadirin sekalian, tamu undangan dan


rakyatku. Perkenalkan wanita yang disampingku ini adalah istriku. Aku sangat


senang dia telah kembali padaku. Mari kita lanjutkan acara pesta ini,”ucap


Tagao.


          Semua


orang pun bertepuk tangan dan mengucapkan selamat, dan pesta kembali berjalan


dengan meriah kembali.


          Aku


dan Tagao pergi ke taman belakang istana, sebuah tempat yang indah. Dimana


tempat itu akan ditaburi banyak bintang dan sebuah labirin. Kami berdua


berjalan ke labirin dan berhenti di tengah-tengahnya. Disini hanya ada rumput


hijau nan indah. Kami duduk berdua memandang bintang di langit. Tagao meletakan


tangannya di bahu kiriku, dan aku menyandarkan kepala di pundaknya.


          Ya


menatap bulan dan bintang hanya dengannya malam ini.


          “Aresha,


kali ini apa kamu akan benar-benar akan tinggal bersamaku? Karna aku?”,


          “Kenapa


kamu bertanya begitu?”,


          “Aku


hanya ingin tahu”,


          “Tidak,


aku akan pergi. Kamu bahkan belum mengejar diriku, kamu hanya menemukanku. Tapi


aku akan berhenti berlari dirimu. Berhenti untuk selamanya”,


          Tagao


tersenyum manis dna memandangku,


          “Benarkah?”,


          “Ya,


kupikir ada seorang pria yang patut dipertahankan disini”,


          “Sungguh?”,


          “Ya,


apa kamu tak percaya padaku lagi? Atau kau mencintai wanita lain?”,


          “Tidak,


bukan begitu. Aku hanya tak percaya ini kah akhirnya?”,


          “Ya,


memilikku atas perjuanganmu sendiri”,


          Tersenyum


satu sama lain dan mendekatkan wajah, bibir itu kembali mencumbu. Aku sangat


berharap kemesraan ini tak akan berakhir cepat. Aku sangat bahagia dan telah


menemukan jalan terbaik dari masalahku selama ini.


***


          Pagi,


Tagao merasakan bahwa istrinya tak ada di sampingnya cepat bangkit dari tempat


tidur. Benar saja, Aresha telah tidak ada disampingnya. Ia pun cepat bergegas


pergi melihat diluar beranda. Ia berharap malam itu bukanlah mimpi sesaat.


          Diriku


terus melihat ke atas pohon, melihat burung elang putih hinggap di ranting


pohon. Burung elang itu menatap diriku seolah-olah mengenali pemiliknya. Aku


pun merasa bahwa burung elang putih itu adalah milikku. Aku merasakannya sebab


aku merawatnya sejak kecil. Aku rasa itu dia, ya dia. Burung elang putih yang


kulepas untuk terbang bebas dan bernama White.


          Tiba-tiba


dari belakang terdengar suara suamiku yang mendekat, “ kamu disini rupanya?


Burung elang yang cantik. Kamu mengenalnya?.”,


          “Ya,

__ADS_1


dia aku rasa adalah White. Hewan peliharaanku di masa kecil”,


          “Mau


kau pelihara dia lagi atau melepasnya?.”,


          “Melepasnya,


dia akan bahagia jika begitu.”,


          “Ya


baiklah. Kenapa wajahmu jadi nampak sedih?.”,


          “Tidak,


aku tidak sedih.”.


          “Kenapa


berbohong padaku? Katakan saja yang sebenarnya?.”,


          “Bagaimana


ya cara mengatakannya padamu? Hem, lebih baik aku lari saja.”,


          Tagao


yang melihatku menghindarinya secepatnya memegang tanganku dan membuatku sangat


dekat dengannya. Ia menatapku dengan tatapan tajam dan senyuman manis. Lalu


memeluk erat diriku, mengendongku seperti layaknya pengantin baru hingga ke


dalam istana.


          “Aku


akan menunggumu di luar, jadi bersiaplah!”,


          Aku


hanya tersenyum manis dengan ucapan terakhirnya, seorang dayang pun datang dan


berucap ,” Yang Mulia, saya sudah menyiapkan air mandi dengan bunga mawar yang


sangat banyak. Tuan bilang, Nyonya harus mandi yang wangi untuk penobatan


Nyonya hari ini”,


          “Hah


penobatan apa?’,


          “Penobatan


Nyonya sebagai ratu pertama dan terakhir”,


          “Ya


ampun! Terima kasih ya atas informasi dan bantuannya”,


          “Sama-sama


Nyonya, saya permisi dulu”,


          “Eh,


tunggu dulu. Panggil aku Aresha, beritahu yang lainnya juga atau Ratu Aresha.


Aku tidak suka dengan sebutan nama yang lain”,


          “Baik


Ratu Aresha”,


          Kemudian


aku pergi mandi dengan ribuan bunga mawar yang wangi. Aku tidak menyangka akan


sangat perhatiannya dia padaku.


***


diriku sebagai seorang ratu berjalan dengan lancar, aku duduk di samping


dirinya dan orang-orang menyukai diriku. Aku sangat senang, dan bahagia


bersamanya. Tapi perlahan-lahan waktu berjalan kembali menguji kami dengan


laporan dari rakyat akan masalah-masalah yang mereka hadapi.


          Masalah


itu di mulai dari khasus kejahatan, pencurian, pembajakan, kekeringan,


kelaparan, dan masalah misteri lainnya. Aku pun mulai merasa ada sesuatu yang


tak beres di sebuah masalah yang menimpa wilayahku. Kematian seseorang dengan


cakaran yang tajam. Bagiku itu bukanlah cakaran binatang buas yang sedang


mereka buru tetapi wolf. Aku menduga wolf bertanggung jawab penuh atas khasus


ini.


          Aku


pun pergi sendirian untuk mencari wolf terutama Akira, aku yakin dia terlibat


dalam hal ini. Saat aku berjalan di tengah hutan sendirian, dan mendapati Akira


menghalangi jalanku.


          “Aresha,


kupikir kita tidak akan bertemu lagi setelah kamu kembali dengan suamimu itu.


Bagaimana kabarmu?”,


          “Baik,


tepat sekali kita bertemu disini. Ada yang ingin kutanyakan padamu.”,


          “Apa?.”


          “Apa


kau yang membunuh rakyatku dengan cakarmu itu?.”,


          “Tidak,


aku tak melakukan itu”,


          “Bagaimana


dengan anggotamu?.”,


          “Mereka


tidak melakukan itu.”,


          “Jangan


bohong padaku!.”,


          “Aku


tidak berbohong, kamu bisa melihat kebenaran dimataku.”, Akira mendekatiku


dengan sangat dekat dan saat itulah kulihat dimatanya. Benar apa yang


dikatakannya, dia memang tak berbohong padaku. “ Baiklah kamu benar.”,


          “Sudah


kubilang kan? Dimana Tagao? Apa kau disini sendirian?.”,


          “Ya,


memang kenapa? Ada masalah?.”,

__ADS_1


          “Huh,


dasar wanita. Kau tahu tidak wolf sedang berperang dengan wolf. Aku rasa wolf


lain yang melakukan itu pada rakyatmu. Jika kamu disini, nyawamu bisa dalam


bahaya.”,


          “Lalu


apa aku harus diam saja di istana? Sementara rakyatku terluka.”,


          “Tidak,


kenapa tak suamimu saja yang datang?.”,


          “Dia


sedang ada di istana memikirkan bagaimana caranya untuk menyelesaikan masalah


in.”,


          “Oh


begitu ya. Mau kuantar pulang?.”,


          “Tidak,


aku bisa pulang sendiri.”,


          Setelah


itu aku pulang sendiri tanpa diikuti siapapun. Kedatanganku ternyata telah di


tunggu oleh suamiku. Dia khawatir sekali, tetapi kucoba untuk menyakinkannya


bahwa aku baik-baik saja. Tagao sendiri telah menduga ada wolf lain yang


menyerang. Dengan sedikit bantuan penjelasan dariku, Tagao mulai memahami bahwa


memang benar ada wolf lain yang menyerang tetapi bukan anggota Akira.


***


          Malam


hari saat semua tertidur lelap, aku memandang jauh dari beranda ini melihat


wilayahku. Suamiku pun mendekatiku memeluk erat tubuhku. Lalu dia merayuku agar


aku bermadu dengannya. Aku hanya menatapnya dengan senyuman manis, dan ia


membawaku ke kasur. Mencumbu dengan dirinya dan melakukan hubungan itu. Tetapi


mendadak matanya berubah menjadi warna merah. Itu menandakan ia haus, ia pun


segera menikmati darahku dan aku hanya merasakan rasa sakit itu.


          Semakin


memegang erat tubuhku, dia meminum darahku nan segar. Aku hanya diam saja,


hingga rasa haus itu hilang. Ia baru menyadari bahwa dirinya di luar kendali


saat itu. Aku hanya tersenyum dan memegang erat tangannya. Aku tak


mempermasalahkan dia bagaimana, tetapi aku hanya berharap dia adalah cinta


terakhirku. Dalam kelelahan, kami tertidur. Dia terus memeluk erat tubuhku


tanpa henti sepanjang waktu hingga pagi datang.


***


          Hari-hari


pun berlalu kami lewati bersama. Hingga suatu hari waktu datang kembali menguji


kami. Perang kembali melanda negeri kami. Suamiku telah berusaha mencegah


perang untuk tak terjadi. Tetapi nampaknya ia gagal untuk berdamai sebab yang


memimpin negeri musuh adalah Yoong, Raja Yoong yang dibiarkan hidup.


          Kini


hanya bisa pasrah dan kami memilih untuk meminta rakyat kami pergi dari wilayah


ini ke tempat yang lebih aman. Semua memang berat akan menerima keputusan ini


tetapi ini demi kebaikan kami semua.


          Di


istana, awalnya Tagao tidak mengijinkan diriku ikut berperang bersamanya tetapi


aku terus membujuk dirinya hingga ia mengatakan ya padaku. Kami akan melewati


masa-masa kelam bersama hidup atau mati itulah keputusan yang kami pilih.


          Saat


malam menjelang, kami hanya menunggu waktu akan datang. Sesuatu yang besar,


akan datang pada kami. Kami meminta sebagian pasukan kami untuk menemani


kepergian rakyat sementara yang tersisa bersiaga di malam hari. Bulan telah


menyinari tempat ini.


          Tagao


memandang wilayahnya dari beranda bersamaku, matanya memerah saat aku


melihatnya.


          “Jika


aku tidak selamat, maka pergilah. Jangan kembali padaku”.


          “Aku


tidak mau pergi meninggalkanmu begitu saja. Aku sudah mendapatkan apa yang aku


cari di dunia ini. Aku akan ikut bersamamu kemana pun kamu pergi. Kita


perjuangkan bersama”.


          Tagao


menatap jauh wilayahnya untuk mencari tahu dimana sekarang musuhnya saat ini.


Saat itu juga ia melihat banyak wolf datang dari arah hutan Argon menuju


kemari.


          “Aresha,


apa kamu punya janji dengan wolf?.”


          “Tidak.”,


          “Mereka


datang kemari!.”


          “Lebih


baik kita sambut kedatangan mereka, lihat apa mereka akan menyerang atau


sebaliknya. Persiapkan pasukanmu”.


          Tagao


pun meminta pasukannya untuk siap siaga, jangan ada yang melawan sebelum ada


perintah darinya.


          Tak


lama kemudian wolf datang dan mendekat, mereka pun berubah menjadi manusia

__ADS_1


biasa. Tepat saat kedatangan mereka, pasukan Tagao tertidur. Mereka semua


tertidur.


__ADS_2