
Tagao tak pernah bertemu dengan Aresha setelah bertemu di desa hingga hari ini tepat acara ulang tahunnya. Acara begitu meriah dan tamu undangan yang banyak terutama gadis-gadis cantik baik dari kalangan biasa dan bangsawan.
Semua orang mulai berdansa sementara Raja Tagao hanya duduk di kursinya menunggu dan
berharap Aresha datang. Tapi mendadak para undangan dan Raja Tagao dikagetkan dengan kedatangan putri yang datang terlambat. Ia nampak terburu-buru dan segera merapikan pakaiannya setiba di ruang pesta.
Tagao segara turun dari tahtanya dan berjalan mendekati gadis itu. Ia tersenyum manis
dan berucap “ Datang terlambat putri?”,
Aku tersenyum melihat dia menyambut kedatanganku, “ Kupikir begitu tuan, bagaimana
kalau hamba pulang saja?”,
Kami pun saling tersenyum satu sama lain, “Tapi kamu tidak terlambat dalam acaraku”,
“Benarkah?”,
“Ya,
mau berdansa denganku tuan putri?”,
“Tentu
saja”,
Kemudian
kami berjalan ke tengah pesta dansa lalu berdansa dengannya. Suasana pun
kembali meriah, dan semua orang menanyakan siapa gadis yang datang terlambat
itu. Dalam pesta dansa, saat berdansa dengannya.
“Kenapa
kamu tak berdansa dengan wanita lain?”,
“Kamu
ingin aku lakukan itu?”,
“Kenapa
kamu menungguku dan terlihat murung saat aku tidak datang? Jangan bilang kamu
menungguku”,
Hanya
tersenyum manis, lalu kami berhenti berdansa. Tagao pun meminta perhatian semua
undangan pun melihat ke arah dirinya. “ Hadirin sekalian, tamu undangan dan
rakyatku. Perkenalkan wanita yang disampingku ini adalah istriku. Aku sangat
senang dia telah kembali padaku. Mari kita lanjutkan acara pesta ini,”ucap
Tagao.
Semua
orang pun bertepuk tangan dan mengucapkan selamat, dan pesta kembali berjalan
dengan meriah kembali.
Aku
dan Tagao pergi ke taman belakang istana, sebuah tempat yang indah. Dimana
tempat itu akan ditaburi banyak bintang dan sebuah labirin. Kami berdua
berjalan ke labirin dan berhenti di tengah-tengahnya. Disini hanya ada rumput
hijau nan indah. Kami duduk berdua memandang bintang di langit. Tagao meletakan
tangannya di bahu kiriku, dan aku menyandarkan kepala di pundaknya.
Ya
menatap bulan dan bintang hanya dengannya malam ini.
“Aresha,
kali ini apa kamu akan benar-benar akan tinggal bersamaku? Karna aku?”,
“Kenapa
kamu bertanya begitu?”,
“Aku
hanya ingin tahu”,
“Tidak,
aku akan pergi. Kamu bahkan belum mengejar diriku, kamu hanya menemukanku. Tapi
aku akan berhenti berlari dirimu. Berhenti untuk selamanya”,
Tagao
tersenyum manis dna memandangku,
“Benarkah?”,
“Ya,
kupikir ada seorang pria yang patut dipertahankan disini”,
“Sungguh?”,
“Ya,
apa kamu tak percaya padaku lagi? Atau kau mencintai wanita lain?”,
“Tidak,
bukan begitu. Aku hanya tak percaya ini kah akhirnya?”,
“Ya,
memilikku atas perjuanganmu sendiri”,
Tersenyum
satu sama lain dan mendekatkan wajah, bibir itu kembali mencumbu. Aku sangat
berharap kemesraan ini tak akan berakhir cepat. Aku sangat bahagia dan telah
menemukan jalan terbaik dari masalahku selama ini.
***
Pagi,
Tagao merasakan bahwa istrinya tak ada di sampingnya cepat bangkit dari tempat
tidur. Benar saja, Aresha telah tidak ada disampingnya. Ia pun cepat bergegas
pergi melihat diluar beranda. Ia berharap malam itu bukanlah mimpi sesaat.
Diriku
terus melihat ke atas pohon, melihat burung elang putih hinggap di ranting
pohon. Burung elang itu menatap diriku seolah-olah mengenali pemiliknya. Aku
pun merasa bahwa burung elang putih itu adalah milikku. Aku merasakannya sebab
aku merawatnya sejak kecil. Aku rasa itu dia, ya dia. Burung elang putih yang
kulepas untuk terbang bebas dan bernama White.
Tiba-tiba
dari belakang terdengar suara suamiku yang mendekat, “ kamu disini rupanya?
Burung elang yang cantik. Kamu mengenalnya?.”,
“Ya,
__ADS_1
dia aku rasa adalah White. Hewan peliharaanku di masa kecil”,
“Mau
kau pelihara dia lagi atau melepasnya?.”,
“Melepasnya,
dia akan bahagia jika begitu.”,
“Ya
baiklah. Kenapa wajahmu jadi nampak sedih?.”,
“Tidak,
aku tidak sedih.”.
“Kenapa
berbohong padaku? Katakan saja yang sebenarnya?.”,
“Bagaimana
ya cara mengatakannya padamu? Hem, lebih baik aku lari saja.”,
Tagao
yang melihatku menghindarinya secepatnya memegang tanganku dan membuatku sangat
dekat dengannya. Ia menatapku dengan tatapan tajam dan senyuman manis. Lalu
memeluk erat diriku, mengendongku seperti layaknya pengantin baru hingga ke
dalam istana.
“Aku
akan menunggumu di luar, jadi bersiaplah!”,
Aku
hanya tersenyum manis dengan ucapan terakhirnya, seorang dayang pun datang dan
berucap ,” Yang Mulia, saya sudah menyiapkan air mandi dengan bunga mawar yang
sangat banyak. Tuan bilang, Nyonya harus mandi yang wangi untuk penobatan
Nyonya hari ini”,
“Hah
penobatan apa?’,
“Penobatan
Nyonya sebagai ratu pertama dan terakhir”,
“Ya
ampun! Terima kasih ya atas informasi dan bantuannya”,
“Sama-sama
Nyonya, saya permisi dulu”,
“Eh,
tunggu dulu. Panggil aku Aresha, beritahu yang lainnya juga atau Ratu Aresha.
Aku tidak suka dengan sebutan nama yang lain”,
“Baik
Ratu Aresha”,
Kemudian
aku pergi mandi dengan ribuan bunga mawar yang wangi. Aku tidak menyangka akan
sangat perhatiannya dia padaku.
***
diriku sebagai seorang ratu berjalan dengan lancar, aku duduk di samping
dirinya dan orang-orang menyukai diriku. Aku sangat senang, dan bahagia
bersamanya. Tapi perlahan-lahan waktu berjalan kembali menguji kami dengan
laporan dari rakyat akan masalah-masalah yang mereka hadapi.
Masalah
itu di mulai dari khasus kejahatan, pencurian, pembajakan, kekeringan,
kelaparan, dan masalah misteri lainnya. Aku pun mulai merasa ada sesuatu yang
tak beres di sebuah masalah yang menimpa wilayahku. Kematian seseorang dengan
cakaran yang tajam. Bagiku itu bukanlah cakaran binatang buas yang sedang
mereka buru tetapi wolf. Aku menduga wolf bertanggung jawab penuh atas khasus
ini.
Aku
pun pergi sendirian untuk mencari wolf terutama Akira, aku yakin dia terlibat
dalam hal ini. Saat aku berjalan di tengah hutan sendirian, dan mendapati Akira
menghalangi jalanku.
“Aresha,
kupikir kita tidak akan bertemu lagi setelah kamu kembali dengan suamimu itu.
Bagaimana kabarmu?”,
“Baik,
tepat sekali kita bertemu disini. Ada yang ingin kutanyakan padamu.”,
“Apa?.”
“Apa
kau yang membunuh rakyatku dengan cakarmu itu?.”,
“Tidak,
aku tak melakukan itu”,
“Bagaimana
dengan anggotamu?.”,
“Mereka
tidak melakukan itu.”,
“Jangan
bohong padaku!.”,
“Aku
tidak berbohong, kamu bisa melihat kebenaran dimataku.”, Akira mendekatiku
dengan sangat dekat dan saat itulah kulihat dimatanya. Benar apa yang
dikatakannya, dia memang tak berbohong padaku. “ Baiklah kamu benar.”,
“Sudah
kubilang kan? Dimana Tagao? Apa kau disini sendirian?.”,
“Ya,
memang kenapa? Ada masalah?.”,
__ADS_1
“Huh,
dasar wanita. Kau tahu tidak wolf sedang berperang dengan wolf. Aku rasa wolf
lain yang melakukan itu pada rakyatmu. Jika kamu disini, nyawamu bisa dalam
bahaya.”,
“Lalu
apa aku harus diam saja di istana? Sementara rakyatku terluka.”,
“Tidak,
kenapa tak suamimu saja yang datang?.”,
“Dia
sedang ada di istana memikirkan bagaimana caranya untuk menyelesaikan masalah
in.”,
“Oh
begitu ya. Mau kuantar pulang?.”,
“Tidak,
aku bisa pulang sendiri.”,
Setelah
itu aku pulang sendiri tanpa diikuti siapapun. Kedatanganku ternyata telah di
tunggu oleh suamiku. Dia khawatir sekali, tetapi kucoba untuk menyakinkannya
bahwa aku baik-baik saja. Tagao sendiri telah menduga ada wolf lain yang
menyerang. Dengan sedikit bantuan penjelasan dariku, Tagao mulai memahami bahwa
memang benar ada wolf lain yang menyerang tetapi bukan anggota Akira.
***
Malam
hari saat semua tertidur lelap, aku memandang jauh dari beranda ini melihat
wilayahku. Suamiku pun mendekatiku memeluk erat tubuhku. Lalu dia merayuku agar
aku bermadu dengannya. Aku hanya menatapnya dengan senyuman manis, dan ia
membawaku ke kasur. Mencumbu dengan dirinya dan melakukan hubungan itu. Tetapi
mendadak matanya berubah menjadi warna merah. Itu menandakan ia haus, ia pun
segera menikmati darahku dan aku hanya merasakan rasa sakit itu.
Semakin
memegang erat tubuhku, dia meminum darahku nan segar. Aku hanya diam saja,
hingga rasa haus itu hilang. Ia baru menyadari bahwa dirinya di luar kendali
saat itu. Aku hanya tersenyum dan memegang erat tangannya. Aku tak
mempermasalahkan dia bagaimana, tetapi aku hanya berharap dia adalah cinta
terakhirku. Dalam kelelahan, kami tertidur. Dia terus memeluk erat tubuhku
tanpa henti sepanjang waktu hingga pagi datang.
***
Hari-hari
pun berlalu kami lewati bersama. Hingga suatu hari waktu datang kembali menguji
kami. Perang kembali melanda negeri kami. Suamiku telah berusaha mencegah
perang untuk tak terjadi. Tetapi nampaknya ia gagal untuk berdamai sebab yang
memimpin negeri musuh adalah Yoong, Raja Yoong yang dibiarkan hidup.
Kini
hanya bisa pasrah dan kami memilih untuk meminta rakyat kami pergi dari wilayah
ini ke tempat yang lebih aman. Semua memang berat akan menerima keputusan ini
tetapi ini demi kebaikan kami semua.
Di
istana, awalnya Tagao tidak mengijinkan diriku ikut berperang bersamanya tetapi
aku terus membujuk dirinya hingga ia mengatakan ya padaku. Kami akan melewati
masa-masa kelam bersama hidup atau mati itulah keputusan yang kami pilih.
Saat
malam menjelang, kami hanya menunggu waktu akan datang. Sesuatu yang besar,
akan datang pada kami. Kami meminta sebagian pasukan kami untuk menemani
kepergian rakyat sementara yang tersisa bersiaga di malam hari. Bulan telah
menyinari tempat ini.
Tagao
memandang wilayahnya dari beranda bersamaku, matanya memerah saat aku
melihatnya.
“Jika
aku tidak selamat, maka pergilah. Jangan kembali padaku”.
“Aku
tidak mau pergi meninggalkanmu begitu saja. Aku sudah mendapatkan apa yang aku
cari di dunia ini. Aku akan ikut bersamamu kemana pun kamu pergi. Kita
perjuangkan bersama”.
Tagao
menatap jauh wilayahnya untuk mencari tahu dimana sekarang musuhnya saat ini.
Saat itu juga ia melihat banyak wolf datang dari arah hutan Argon menuju
kemari.
“Aresha,
apa kamu punya janji dengan wolf?.”
“Tidak.”,
“Mereka
datang kemari!.”
“Lebih
baik kita sambut kedatangan mereka, lihat apa mereka akan menyerang atau
sebaliknya. Persiapkan pasukanmu”.
Tagao
pun meminta pasukannya untuk siap siaga, jangan ada yang melawan sebelum ada
perintah darinya.
Tak
lama kemudian wolf datang dan mendekat, mereka pun berubah menjadi manusia
__ADS_1
biasa. Tepat saat kedatangan mereka, pasukan Tagao tertidur. Mereka semua
tertidur.