
Suaminya terbangun dari tidurnya, ia langsung mendekap istrinya penuh kehangatan. Tetapi perasaan pria itu, ia sedang menahan luka yang sangat dalam. Ia tidak bisa menyalahkan siapa pun, ini lah jalan yang ia pilih meski penyesalan selalu menghampiri. Pria itu mengecup kening istrinya, lalu pergi begitu saja tanpa sepatah kata yang terucap.
Tidak lama kepergian suaminya, ia memaksa dirinya untuk bangun dan menerima kenyataan hidupnya yang pahit. Ia segera pergi menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya.
Setiap langkahnya, ia merasakan betapa beratnya beban hidup yang dipikul. Ia merasakan pernikahan dirinya dengan Romeo bukanlah pernikahan yang baik. Ia mempersiapkan dirinya untuk pergi bertemu dengan seseorang yang telah saling berjanji untuk bertemu pagi ini di cafe tak jauh dari rumah sakit ini.
Berbekal cermin kecil, ia merias dirinya secantik mungkin. Setelah merias dirinya, ia mendekati putri kecilnya yang terbaring lemah di kasur.
“Sayang, mama pergi dulu sebentar. Mama akan membuatmu hidup bahagia. Jadi tunggu lah sebentar, mama pasti akan membuatmu bahagia di dunia ini!” ucapnya sembari mengecup kening putri kecilnya.
Setelah itu Alecia pun pergi, ia segera bergegas menuju cafe tak jauh dari rumah sakit ini. Ia pergi seorang diri.
Setiba di cafe, dirinya kebingungan siapa yang ia temui. Di cafe ini, pagi ini sangat lah banyak pengunjung. Ia tidak tahu bagaimana orang yang membuat janji dengannya. Ia pun berdiri dengan terdiam sembari memperhatikan tiap pengunjung yang datang dan pergi.
Dari kejauhan, seorang perempuan mengenakan mantel berwarna biru memanggil pelayan. Perempuan itu tersenyum manis dan diam- diam ia menunjuk ke arah Alecia yang berdiri mematung.
Pelayan itu tersenyum manis dan menganggukan kepala, lalu ia pergi mendekati Alecia.
Setiba di cafe, dirinya kebingungan siapa yang ia temui. Di cafe ini, pagi ini sangat lah banyak pengunjung. Ia tidak tahu bagaimana orang yang membuat janji dengannya. Ia pun berdiri dengan terdiam sembari memperhatikan tiap pengunjung yang datang dan pergi.
__ADS_1
Dari kejauhan, seorang perempuan mengenakan mantel berwarna biru memanggil pelayan. Perempuan itu tersenyum manis dan diam- diam ia menunjuk ke arah Alecia yang berdiri mematung.
Pelayan itu tersenyum manis dan menganggukan kepala, lalu ia pergi mendekati Alecia.
Keberadaan Alecia.
Diriku tersenyum manis dan terus memperhatikan banyaknya pengunjung yang datang dan pergi di cafe ini.
Tiba- tiba saja seorang pelayan menghampiriku.
Ia berucap, “Maaf, apakah benar nona adalah Nona Alecia?”
“Nona telah di tunggu oleh seorang perempuan, dia duduk di kursi dengan meja nomor 6!” ucapnya sembari menunjuk ke arah perempuan dengan meja nomor 6.
Mataku segera terarah pada tunjukan pelayan ini, aku melihat perempuan memakai mantel berwarna biru sedang duduk manis menikmati minuman seorang diri.
Aku pun berucap, “Terima kasih”
“Ya, sama- sama nona!” jawab pelayan segera pergi. Pelayan itu kembali bekerja.
__ADS_1
Aku pun segera mendekati meja nomor 6, dengan keraguan aku menatap perempuan itu. Ia masih muda, dan cantik rupawan. Aku pun tidak mengenalnya, tetapi entah mengapa ia menawarkan sesuatu yang tak mungkin bagiku. Namun aku merasa tawarannya sangat membantu dalam kehidupanku.
Perempuan bermantel biru itu melihat ke arahku, ia memiliki wajah yang mempesona. Ia berucap padaku, “Silahkan duduk, Alecia” senyumnya padaku.
Aku pun segera duduk, aku duduk berhadapan dengan perempuan ini.
“Sebelum kita membicarakan hal penting, kamu mau pesan apa? Aku yang akan membayar!”
Tawarannya padaku membuatku semakin ragu, aku pun menolaknya meski aku memang sedang lapar tapi menjaga rasa hormat itu lebih penting karna ia orang yang baru kukenal.
“Ah, tidak. Aku tidak lapar. Bisakah kita langsung ke perbincangan?”
Perempuan cantik itu menatapku, ia mengaduk- aduk minumannya dengan sedotan dan tersenyum manis padaku.
“Ah, maaf ya? Aku sudah memesan banyak makanan untukmu. Kamu tak perlu malu- malu, ya meski kita tak saling mengenal tapi aku ingin menawarkan sesuatu yang baik dan berguna untukmu. Ah ya, sekarang usia putrimu berapa tahun? Bagaimana kondisinya?”
Pertanyaan perempuan itu padaku membuat perasaanku seolah- olah tercabik- cabik, pertanyaan itu membuatku teringat pada putri kecilku yang terbaring lemah di rumah sakit sekarang ini. Perlahan- lahan mataku pun mengeluarkan air mata, namun aku mencoba menahannya hingga membuat mataku memerah.
Perempuan itu tersenyum manis padaku, spontan ia langsung menyondorkan sekotak tisu yang ada di depannya padaku.
__ADS_1
“Ambil! Aku tahu kondisi anakmu, apa ia seorang putri? Pasti ia akan menjadi anak yang paling bahagia sedunia ini memiliki ibu yang tangguh dan tegar sepertimu!”