
Sebelumnya...
Seketika itu Violin setengah takut, ia menelan ludahnya sendiri bahkan matanya semakin membulat dan jantungnya berdebar kencang.
“A-apa yang akan kamu lakukan?”
“Tentu saja melakukan sesuatu yang disukai oleh laki- laki! Menurutmu apa?”
“E-entahlah! Dimana Hani dan Gisel?” ucap Violin mengubah topik perbincangan sembari menjauhkan tubuh Roman dari dirinya.
“Hah, entahlah! Aku tidak tahu kemana mereka pergi, yang jelas mereka tidak tertangkap oleh monster itu!”
Violin melihat ke tanah, ia tidak sengaja melihat empat jejak kaki.
“Apa mungkin itu jejak kaki mereka berdua?” tanyanya sembari menunjuk ke tanah dimana jejak kaki itu.
“Ya aku rasa!”
“Kita akan mencarinya! Ayo Roman!” ucapnya berjalan lebih dulu tetapi Roman hanya diam saja. Ia tak melangkah selangkah pun.
Violin merasa Roman berdiam diri, Violin pun segera mendekati Roman dan menatap matanya.
“Ada apa? Apa ada sesuatu? Mengapa menatapku begitu?”
“Aku punya sesuatu untukmu, sebuah pertanyaan! Aku harap kamu menjawabnya dengan jujur”
“Ya baiklah, apapun pertanyaannya akan kujawab. Jadi apa?”
“Ini masih ujian ability magie, dan kita beberapa minggu ini sibuk mempersiapkan semuanya. Tetapi semuanya telah diluar kendali. Aku sangat berterima kasih sekali padamu atas semuanya!”
__ADS_1
“Hanya itu? Apa hanya itu yang ingin kamu bicarakan?”
“Ya tentu saja, memang kenapa? Sebaiknya kita jalan! Kita bisa membicarakan beberapa hal sambil jalan kan? Aku mengkhawatirkan dua vampir baru itu!” ucap Violin sembari berjalan lebih dulu.
Roman pun menatapnya sesaat, lalu ia mengikuti langkah gadis itu dari belakang.
“Roman, jadi apa tanggapanmu?”
“Soal apa?”
“Yang baru saja kau katakan!”
“Apa maksudmu?”
“Ya maksudku masuk akademi ini. Bukankah kita memiliki segalanya?”
“Ya, tetapi hidupku akan lebih baik nantinya jika menempuh pendidikan. Apa kamu tidak suka itu?”
“Ya, benar”
“Kenapa?”
“Aku tidak bisa terus menunggumu kan?”
“Hahaha... kamu tenang saja, setelah misi ini selesai bukankah pernikahan kita akan berjalan. Aku hanya ingin mengantarkan Hani dan Gisel, menemani mereka setidaknya. Aku hanya tidak mau mereka tahu soal siapa yang ada di raga ini!”
__ADS_1
“Hah, ya aku mengerti!.”
Mereka berdua terus mengikuti jejak kaki itu hingga menghilang di lorong begitu saja. Violin dan Roman pun berhenti.
“Sekarang bagaimana?”
“Entahlah, jejak kakinya hilang begitu saja!”
“Bagaimana kalau kita kembali ke jalan sebelumnya, ya maksudku kita ke arah lorong kiri. Tempat Eren dan yang lainnya pergi!” saran Roman.
“Baiklah. Apa mungkin Hani dan Gisel berubah menjadi kelelawar lalu terbang? Mereka terbang kemana ya?”
“Hah, ya karena hanya ada satu jalan maka sudah pasti mereka terbang ke depan!”
“Oh ya benar! Ayo jalan!”
“Ya, ya baiklah!”
Tidak pernah ada yang menyadari jika Hani dan Gisel telah menghilang, jejak kaki itu hanya sampai disana. Sementara itu di lorong kiri, keberadaan Eren dan yang lainnya.
Dalam perjalanan mereka, mereka menemukan tempat yang indah. Lorong yang mereka jalani berakhir menemukan tempat yang menakjubkan. Siapa sangka lorong ini terhubung dengan sebuah hutan dan tidak seorang pun yang menyadarinya bahwa mereka semua telah masuk ke Glassland.
Begitu memasuki tempat itu, mereka seperti berada di tempat yang sama. Tidak ada yang menyadari akan keberadaan mereka. Tetapi kedatangan mereka diam- diam telah diamati oleh seseorang dari kejauhan. Ia tersenyum manis dengan rambutnya yang panjang terurai.
“Wah, sepertinya jebakan ini berhasil! Ya semua sudah masuk kemari, mari kita adakan pesta yang meriah!” ucapnya sembari tersenyum manis.
__ADS_1